
Arsy menunduk di depan kedua orang tuanya yang sengaja Saka ajak datang, lebih tepatnya diundang datang ke luar negeri, di rumah sewa yang Arsy tinggali sendiri.
Katakan mereka itu memang tidak bisa menjadi contoh pasangan yang baik bagi Arsy, tapi namanya orang tua, tetap akan menjadi orang tua dan tak akan pernah tergantikan.
Demi mengurus masa depan anak mereka dan Saka berhasil meyakinkan dua orang itu, mereka mau datang untuk memberikan restu akan niat serius Saka. Dia undang ke sini sekalian melihat tempat tinggal yang akan mereka tempati bila sudah menikah nantinya, Saka menunjukkan keseriusan yang tiada tara dan membuat mereka tak bisa menolak, terlebih lagi Arsy, selama dia tinggal di sini mana tahu dia kalau calon suaminya itu menyiapkan semua ini.
"Papa kan tahu kalau aku itu suka kerja, jadi aku sudah bilang ke Abang buat kerja di sini, lagian Abang sibuk, aku bosan di rumah saja!"
"Hush, kamu ini, Saka kerja itu ya buat kamu, dia kerja letih, pulang ke rumah mau ada kamu, ke mana dia tugas kamu bisa ikut, kok kamu mau kerja, terus yang ikutin dia kalau ke luar kota atau negeri siapa? Kamu tidak belajar dari kesalahan kita apa?" papa segera bertindak.
Arsy menunduk lagi, dia mencebikkan bibirnya, begitu lucu di mata Saka hingga dia gemas sendiri akan tingkah dan bantahan calon istrinya itu, semua keluarganya di sini sudah kenal siapa Arsy, bukan dia yang mengenalkan, melainkan sepupu yang ada di sini, mereka bawa Arsy ke rumah dan mengenalkan sampai terkenal.
Menantu kedua ayah Aksara yang bisa membuat rumah lebih ramai dari adanya Shafiyah, kehadiran Arsy akan menjadi kekuatan baru, sedangkan Aisyah di sana sebagai peredamnya, menantu paling pertama dan lembut penuturannya.
"Abang, jadi aku boleh kerja atau tidak?" kembali, dia bosan di rumah saja, terlebih lagi kalau suaminya kerja. Tapi, kalau dia hamil pun, itu akan kembali di rumah, Saka mana mau istrinya bekerja dalam kondisi hamil. "Kalau Abang tidak memberikan aku izin, baiklah, tidak masalah, aku tidak akan memaksa, aku mau di rumah menjadi istri yang baik dan penurut seperti yang Abang mau, lalu aku-" bla, bla, bla, masih ada lagi kelanjutannya dan hanya membuat Saka senyum-senyum, sementara kedua orang tua Arsy yang kelabakan akan sikap anaknya itu, memalukan mereka saja. "Abang, sekarang putuskan apa yang Abang mau!"
Saka masih tersenyum, dia takjub akan gadis di depannya ini, Arsy meluapkan egonya, tapi masih bisa bertanya enaknya bagaimana, bertanya apa pendapat Saka.
"Kamu ini masih tanya, jangan egois!" mama menimpali, gemas pada anaknya.
Saka hela nafas sejenak, lalu dia menjawab, "Kamu di rumah, aku jamin tak akan bosan karena kita hanya di rumah sesekali saja, selebihnya harus ikut aku ke sana ke mari, hidup kita berasa di jalan, Arsy. Jadi, kesimpulannya kamu tidak bisa bekerja, aku butuh kamu!"
Butuh kamu, hemm, Arsy merasa dibuat terbang karena ucapan calon suaminya itu, baru ini ada yang benar-benar membutuhkannya, orang tuanya saja terserah Arsy, baru ketika melihat keseriusan Saka, mereka gentar dan menyerah.
Saka tidak menawarkan soal harta, tapi kesiapan, menjadi istrinya bukan hal yang mudah, harus tahan banting dan mau ikut dia melalang buana, terlebih lagi jauh dari orang tua.
"Papa sama Mama kalau mau tinggal di sini juga tidak masalah, aku akan sangat senang sekali," ujar Saka.
"Nak, kamu saja sama Arsy, kita sudah tua dan enak di kampung halaman, lagian kami tidak mau sampai merepotkan kalian, mana sejarah kami itu kelam, kami tidak mau membawa dampak buruk bagi kalian. Tapi, nanti nikahnya di rumah sana kan, ya?"
__ADS_1
Saka mengangguk, setelah menikah nanti barulah dia akan kembali ke luar negeri membawa serta Arsy, sebelum menikah akan dia pulangkan Arsy ke rumah aslinya.
Gadis itu sebenarnya keberatan, dia sudah terbiasa jauh dari orang tua dan malas bila dipaksa harus bersama orang tua lagi, tinggal bersama mereka rasanya banyak akan tekanan, walau sekarang mereka sudah mengaku berubah, tidak semudah itu dia katakan untuk mau.
"Hei, bisa sabar sebentar kan, Arsy. Mereka orang tuamu, kondisi apapun itu mereka orang tuamu, tidak sepatutnya menjauh atau kesal, apalagi mereka bilang sudah berubah, kembali bersama, waktunya kamu bakti, siapa tahu dengan ini nanti kita dapat barokahnya setelah menikah, hem ....."
"Abang serius mau nikahin aku kan ya? Tidak memulangkan aku, terus di sini Abang bisa seenaknya kenalan, kan?"
Saka berdecih, dia tertawa kecil lalu kembali ke wajah seriusnya
"Kalau aku mau, setiap kota dan negara, bisa aku ajak kenalan banyak gadis di sana, buktinya bersamamu, bertemu denganmu, kurang bukti apa lagi?"
"Emm, Abang beneran tadi bilang yang butuh aku buat ke mana-mana?"
Saka mengangguk, memang itu yang dia katakan dan akan dia lakukan, bukan sekadar bualan, dia butuh Arsy ada di sisinya dalam kondisi apapun, dia sudah cukup lelah berpergian seorang diri di sini, berdua akan lebih baik.
Malu-malu Arsy mengangguk, tapi decakan Saka membuatnya sadar, sejak kapan Arsy bisa malu-malu, dia kan apa adanya, mau sorak-sorak pun akan turun ke lapangan.
"Ssst, nanti saja kalau sudah menikah bilang sayang, sekarang disimpan dulu!" balas Saka.
"Ih, aku tidak tahan tahu, sekarang saja bilang sayangnya, ya, aku sayang kamu, Aabaaaaaang!"
Plak!
Kedua orang tua Arsy hanya bisa menepuk keningnya dan bergeleng, mungkin karena mereka terlalu lepas sampai Arsy menjadi pribadi yang begini, tapi dirasa cocok juga dengan Saka yang cenderung diam, Arsy seperti radio berjalan untuk Saka.
Setelah mereka berbincang akan masalah pernikahan itu dan Saka mendapatkan restu dari kedua orang tua Arsy, mau tidak mau Arsy harus melepaskan calon suaminya itu
Saka harus kembali bekerja, mengingat jadwalnya tak menentu di sini, Nakula butuh bantuannya dan itu tak bisa ditunda lagi.
__ADS_1
"Kamu itu jangan halangi suamimu kerja loh ya nanti!" mama mulai memberikan pelajaran pada Arsy. "Semangati dia, jangan kasih tunjuk wajah murung, yang ada di jalan dia suntuk dan cari yang lain!"
Arsy menoleh, dia lihat wajah mendung pada mamanya itu, pasti penuturan itu tak lepas dari masa lalu yang menjadi titik balik dari kedua orang tua Arsy, dia lebarkan tangannya, sudah lama tak mendekat pada wanita satu ini.
"Iya, Ma. Aku janji tidak akan mengabaikan bang Saka nanti setelah menikah, akan aku jaga dan ikat!"
Hiks, ibunya menangis.
***
"Sukses, Ka, pendekatan sama calon mertua?" tanya Nakula, baru saja mereka bekerja bersama dan cukup melelahkan, banyak yang harus dia pelajari dan selidiki.
Saka mengangguk, dia kembali tersenyum begitu mengingat akan Arsy, bagaimana gadis itu memberikan luapan ego lalu setelahnya mau menurut, bisa dia bertemu gadis mudah dan ringan seperti itu.
"Yang sulit bukan mertuanya, tapi Arsy nya, ahahahahah, tahu kan dia bagaimana setelah kamu ke sini dan sempat tahu dia sama timnya?" balas Saka, Nakula mengangguk, memang aktif sama seperti istrinya. "Berjalan lancar sih, alhamdulillah, tinggal setelah ini urus surat sama anter Arsy pulang, dia tidak akan kerja lagi setelah nikah, biar bisa ikut aku keliling. Kamu kan bisa ajak Sofi, Ak!"
Nakula terkekeh, "Maunya ajak dia, tapi kayaknya lebih baik dia di sana, ayah lebih butuh dia, cuti nikah sudah aku lihat bagaimana ayah membutuhkan Sofi, hiburannya cuman si Sofi, jadi aku tinggal saja, lagian aku di sini juga tidak menetap sepertimu dan Arsy, aku cuman datang seperti Bas, Ka." Jelas Nakula.
Ya, interaksi ayah yang sedih kalau jauh dari Shafiyah, Nakula tak mau kehadirannya membuat salah satu dari mereka merasa begitu kehilangan, dimasa tua, siapa lagi yang diharapkan kalau bukan seorang anak, Nakula jadikan ini bentuk bakti istrinya pada sang ayah.
Saka sepakat akan hal itu, hadirnya Shafiyah selalu menjadi obat bagi ketenangan hati ayah mereka.
"Maaf ya."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, untuk apa coba, ini masalah orang tua, yang dia juga sudah jadi orang tuaku, kalau nanti suaminya Nabila pengertian begitu, jelas aku senang juga karena ayah dan ibu tidak akan kesepian. "
Saka tersenyum, dia tepuk bahu Nakula, tak salah adiknya menikah dengan pria selembut ini, Aisyah versi laki-laki kalau orang bilang, pengertiannya bisa sampai pada hati orang yang bersanding dengannya.
Baskara dan Saka sempat ragu Nakula bisa bergabung dengan mereka yang cenderung keras di lapangan, nyatanya lewat kelembutan pun semua bisa diatasi juga.
__ADS_1
"Oiya, sudah tahu anaknya Bas itu cowok?"
"Ya ampun, Ak. Padahal tadi aku mau kasih selamat loh, lupa belum aku kirim pesan, pasti dia tungguin itu!" Saka tepuk keningnya, dia segera mengetik dan mengirim pesan pada kakaknya. "Sensi ini dia pasti, ahahahah."