
Tuk, tuk ....
Perjalanan pulang dihabiskan Aisyah dengan memejamkan mata, dia benar-benar kelelahan sejak semalam, dengkuran halusnya dan wajah yang lelap sudah cukup menegaskan seberapa lelah Aisyah saat ini.
Baskara usap pipi lembut dan kenyal itu, dia tusuk-tusuk seraya memainkan, kalau dulu dia betah dan terbiasa akan suasana sepi, saat ini sudah tidak, mungkin sejak kata cinta itu terucap, dia jadi benci sepi.
"Hemmmm," bergumam malas diganggu.
Baskara masih menusuk pipinya, sesekali di jalan sepi, Baskara miring sedikit hingga bisa mendaratkan kecupan di pipi itu, malam sampai siang rasanya masih belum cukup juga.
"Kaaaaakkk," rengek Aisyah sambil menepis tangan suaminya. "Hemmmsss ..." kembali tidur lagi, menoleh ke jendela.
"Bangun, katanya mau beli roti bakar, jadi tidak?"
"Hemmnsss!"
"Jadi tidak, orangnya buka itu, atau aku suruh tutup saja hari ini?"
Aisyah langsung membuka matanya, jangan sampai sang suami membuat keributan di jalanan sini, mereka juga bukan petugas negara yang biasanya bertugas begitu, yang ada Aisyah malu.
Senyumnya melebar seiring dengan senyum Baskara, warna kaca yang gelap menjadi titik keberuntungan Baskara di sini, dia bisa mencium Aisyah sebelum turun.
"Kenapa? Mereka tidak bisa melihat itu, A-isyah."
"Tapi, Ais bisa, di rumah saja nanti Ais kasih yang banyak ciumnya!" melebarkan kedua tangan sebelum jatuh ke depan Baskara, menengadah meminta uang. "Sudah ini cukup, Kak, sudah!"
"Bawa sana, kalau butuh lagi kan kamu masih ada pegangan!"
"Kan kalau ke luar sama kamu, jadi enak minta saja, wek!"
Ck, istrinya itu sudah berani dan pandai meledeknya sekarang, Baskara raup wajahnya, banyak yang berubah setelah mereka saling mengatakan cinta dan malam penuh cinta itu terjadi, Aisyah lebih percaya diri ketika dia pandang, bahkan berani memimpin dirinya yang jelas tunduk.
"Uang untuk istri semua, dompet punya istri, hati punya istri, mata sampai kaki punya istri. Semuanya punya A-isyah, kaya sekali dia sekarang, huh!" Baskara rebahkan kursinya, dia nikmati lagu-lagu yang tak pernah dia putar sama sekali di mobil itu sambil menunggu Aisyah kembali. "Lihat, dia itu memang kok menarik perhatian, aku turun saja!"
Brak!
Beberapa orang yang mengantri sontak berjengit, ada yang mau kabur saking terkejutnya, beruntung Baskara memakai baju santai, setidaknya mereka masih menduga Baskara itu angkatan yang libur bertugas.
__ADS_1
Dia berjalan dan berdiri di samping Aisyah, "Sudah pesan?"
"Sudah, Kakak di mobil saja!"
"Kamu saja yang di mobil, daritadi banyak yang lihatin kamu itu," bisiknya.
"Lihatin Ais?" Aisyah sekilas mencuri pandang.
Tidak, yang ada para ibu-ibu dan gadis di antrian ini melirik suaminya, pembeli pria hanya ada tiga, lebih banyak perempuannya.
"Aku yang cemburu ke Kakak, biar aku temani di sini, aku gandeng begini!" Aisyah selipkan satu tangannya ke lengan Baskara. "Lihat-lihat, aku dor!" ancamnya menggerutu.
Sesekali Baskara tarik tangannya, dan itu membuat Aisyah semakin kuat menahan lengannya, tak mau dilepaskan sampai antrian selesai dan masih tetap Aisyah yang maju mengambilnya.
Tadi, waktu aku pesan yang melayani ibu-ibunya, waktu kasih dan ada kakak, ganti Mbaknya, minta dikremes!
Baskara amati wajah dan gerak bibir kecil itu, mobilnya belum melaju, sengaja dia perlambat.
"Coba sini, suapi aku!" pinta Baskara.
"Tidak mau."
"Tidak, ini bekas mbaknya itu, Kakak dilarang makan!" Aisyah lahap satu dan membelakangi Baskara.
"A-isyah begitu, ya tidak apa-apa sih, tapi nanti sampai rumah langsung aku gendong terus-"
"Iya, makan ini, Kak. Aku suapin ya!" capek, Ais mau rebahan. "Kakak cerewet sekarang, banyak omong, omong terus!"
"Ahahahahhaha." Baskara cubit hidung Aisyah.
Akan jauh berbeda saat mereka hanya berdua dan di sekitar Baskara ada orang lain, perubahan mimik wajah juga cara bicara Baskara tampak jelas, seolah dia tak mau orang lain tahu bagaimana ketika dia berlemah lembut bersama Aisyah, begitu juga berlaku pada Aisyah, tidak ada yang tahu kalau dia mengatur Baskara dalam segala hal, apa yang ada di dalam hatinya, itu yang dia katakan.
***
"Masa begitu, Yah?" ibu geregetan ingin melihat kedekatan kedua anaknya itu. "Bas pegang pinggangnya Ais, sungguh?"
Ayah mengangguk, tidak mungkin dia berbohong, basa-basi saja malas.
__ADS_1
"Besok Ibu mau ke rumahnya saja, mau introgasi Ais, Ibu ajak Sofi ya?"
"Hem, terserah. Cuman ingat, jangan bawa namaku, nanti Sofi bilang itu kata ayah, mampus nama baikku!" jawab ayah bersyarat.
"Ahahahahah, Sofi itu kan sayang sama kamu. Dia tadi begitu tahu Bas yang kamu ajak ke tempat tembak sempat marah, tapi yang jualan es buah langganan bibik itu lewat, hilang ayah-ayahnya, ahahahahah. Anak kamu itu!"
"Memangnya anak siapa lagi?" ayah menaikan satu alisnya, menukik pada ibu. "Anak siapa?"
Ibu gelitik saja, tidak ada anak siapa-siapa di sini, semua jelas anak ayah Aksara, keturunan pria berkuasa di sampingnya ini, mau selingkuh bisa mati ditempat dia.
Keesokan harinya,
Tamu tidak Aisyah sangka akan berkunjung ke rumahnya, beruntung ada ibu dan Shafiyah yang baru saja tiba, dia tidak bingung dan canggung sekalipun dia kenal dengan istri sepupu Baskara itu.
"Faris sama Rendi mana, Ren?" tanya ibu. "Kalian ke sini kok berdua saja sih, janjian sama Bas?"
Reno dan istrinya melangkah masuk, memeluk dan bersalaman hangat.
"Janjian mendadak tadi, Te. Dia masih perjalanan katanya, tahunya aku sampai duluan." oh iya, anaknya. "Si kembar di rumah, yang dibawa bukan yang kembar, ahahahah."
"Kamu ini, masuk sini!" ibu rangkul istri Reno, membawanya masuk bersama.
Aisyah menyambut sama hangatnya, tentu dengan kebiasaan Aisyah sendiri, dia dapatkan pelukan dari istri Reno yang dulu bila dia menikah dengan Sena, tentu dia akan menjadi kakak ipar dari wanita anak tiga ini.
"Bas bagaimana, dia sudah tidak marah-marah, kan?" tanya Disa-istri Reno.
Aisyah tertawa kecil, "Marah kalau di luar rumah, kalau di dalam tidak kok. Si kembar apa kabar, Mbak?"
"Duuuhh, jangan ditanya itu bagaimana, rumah sudah jadi ring tinju, kalau berantem sama lakinya heboh sudah, mamanya pusing tujuh keliling!" menjawab sambil tertawa. "Orang-orang pada iri dapat kembar, ya ampun kalau mereka tahu dua anak krucil di rumah, darah tinggi, sampai aku bilang gini ... kalau kalian berantem terus, mama titipin om Bas! Eh, langsung diam, sama papanya tidak takut, Bas cuman bawa nama saja mereka takut-"
"Dis, sssttt ... batreinya full ini, Is!" Reno minta istrinya duduk. "Dia kalau soal Bas bisa sampai kayak jalan tol, puanjang!"
Aisyah tertawa lagi, rata-rata pembawaan wanita di keluarga suaminya memang begitu, ringan sekali saat bertemu, banyak yang mereka bahas.
"Eh, itu kakak pulang, aku ke depan dulu ya," ujar Aisyah tersenyum lebar, buru-buru ke depan.
Semua menganga melihatnya, perubahan mereka jelas mengejutkan banyak orang.
__ADS_1
"Memang kalau Ais ke depan, bakal diapain sama Bas, Mas?" tanya Disa.