Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Bahasa Rindu


__ADS_3

"Abaaaang, bales pesennya Arsy, pliisssss!"


Kesal, kebanyakan kasus pernikahan dengan pasangan yang sibuk adalah jatuhnya pada sang penggoda hingga lupa rumah.


Berbeda dengan Arsy, dia tahu dan menjamin kalau suaminya tak akan berbelok pada pancingan penggoda, tapi lain dari itu dan menyesakkan perlahan.


Bolehkah dia katakan kalau Saka itu selain kaku, juga cuek?


Ya, Saka suaminya itu kalau sudah bekerja akan lupa segalanya, mungkin saat belum menikah masih banyak yang bisa Arsy lakukan hingga dia tak mati bosan, bertemu Saka sebagai pelengkap saja.


Kali ini, setelah menikah, dia merasa seakan bosan terus saja ingin membunuhnya, tak ada satu pun pesan dari sang suami selain saat pria itu baru saja tiba, selebihnya tak ada.


Aku bisa mati penasaran dia lagi apa dan sama siapa, terus dia makan apa, terus lagi dia masih sehat wal afiat atau nggak, terus dia itu inget aku nggak sih? inget punya istri nggak?


Arsy gulung-gulung di karpet bulu ruang tengah rumah barunya, lemari yang dipesan sudah datang kemarin dan dia pun sudah selesai menata baju-baju itu sampai rapi, bisa dia katalan mengulang dua kali, tapi pesan suaminya tak kunjung ada.


Sudah tiga hari tak ada kabar, Arsy meraba dadanya yang mulai tak aman akan sesak, ini memang pekerjaan suaminya, hanya saja setidaknya bisa satu butir kabar dia dapatkan, dan itu tak ada.


"Udah, mikir positif aja, Sy. Kan, abangmu itu sibuk terus kalau dia hubungi kamu, dia jadi tegang, nggak konsen kerja, kasihan malah!" Arsy bermonolog dengan dirinya sendiri. "Tapi, Arsy kangen sama abang loh, Arsy nggak kuat lama-lama, ini udah nikah, plis!"


Lagi, maid sampai geleng kepala, memang tak semua wanita bisa tahan dengan tipe pria seperti Saka, tapi bila Saka memilih Arsy seharusnya wanita itu kuat, atau Saka yang memang berlebihan kadar cueknya? Entahlah.


Brak!


"Non, butuh apa?" kaget begitu Arsy memukul meja makan.


"Bibik tahu nggak obat anti bosen apa?"


"Non, renang aja gimana?"


"Renang, kan Arsy lagi datang bulan, nggak bisa, Bik!" Arsy merengek persis pada ibunya saja.


Maid itu mencoba berpikir lagi, ke luar bersama sepupu yang ada hanya membuat Arsy semakin rindu, terbukti kemarin ketika Arsy pulang dari pertemuannya bersama salah seorang sepupu yang sudah berkeluarga, wajahnya mendung dan banyak petirnya, dia menangis semalaman karena ingin berdua seperti sepupunya itu.

__ADS_1


Nihil, dia tak menemukan solusinya.


"Masak aja, bikin kue, Non?"


"Nggak minat, nggak ada yang makan juga, abang nggak di rumah. Emangnya selama Bibik ikut di keluarganya abang, semua pada sibuk banget gitu ya? Kalau iya, Arsy dong yang nggak sabar, hem?"


Maid itu terkekeh. "Semua sibuk, Non. Makanya pada pandai buat kue, karena kalau di rumah tuan-tuan lagi nggak ada, buat kue aja sampe kembung, pelampiasan di sini. Non mau coba?"


"Mau sih, tapi lagi kesel sama abang yang cuek!"


"Tuan emang gitu, Non. Tapi, setahu saja tuan itu mikir tipenya, dia pasti kepikiran Non, cuman ya nggak bisa diteruskan daripada pengen pulang, gitu."


Arsy sontak melompat, dia tekan bahu maid itu. "Gitu ya, dia nahan kangen ya?"


Maid itu mengangguk, mungkin kalimat ini bisa melegakan hati nonanya, dan satu senyuman terukir di sana.


***


Saka pijat pelipisnya, dia baru saja mempunyai waktu untuk melenggang sedikit dari kepadatan pekerjaan yang ada, kedua bahu itu terasa sakit sekali, ingin rasanya dipijat atau dicengkram sang istri.


Banyak sekali pesannya, dia masih sakit perut? Atau udah enakan? Masih deres nggak datang bulannya? Eheheheh, pesennya banyak, ngomel semua isinya, dasar!


Mata Saka melebar begitu melihat sang istri asik menikmati percikan air di kolam renang yang dia rasa sangat asing, tampak cantik mempesona dengan kearifan lokal yang mampu membuatnya tergila-gila.


"Di mana ini?"


Saka geser ikon hijau yang mendadak mengganggu pemandangannya, wajah Arsy sontak berubah menjadi seram begitu wajah kakaknya muncul di sana.


Pembagian tugas kembali sebelum Saka pulang, dua hari akan dipenuhi kepadatan dan anggap saja malam ini sebagai jatah tenangnya, senyum tipis itu akhirnya terpajang.


Ingin dia balas pesan sang istri, tapi bila sekali saja mereka bertukar pesan, Saka yakin tak akan bisa menahan dirinya untuk segera pulang dan hal itu sangat Saka hindari.


Sabar, Sayang ... dua hari lagi kita bakal ketemu dan semua waktu buat kamu, ngomong-ngomong kok jadi kangen banget, kamu makin cantik aja, awas kalau pulang belum mandi besar, aku guyur!

__ADS_1


Saka terpingkal-pingkal sendiri, malam ini dia nikmati kesendirian di tengah lelah tanpa ada satu orang teman pun, pikirannya mulai ingat akan wajah sang ayah, matanya berkaca-kaca menandakan rindu yang tak terbendung.


Sampai kapanpun dan sekeras apapun, dia tak akan bisa menjadi sama dengan ayahnya yang dulu berjuang sendiri sebagai anak tunggal lelaki, dia pasti hebat.


Arsy, Abang kangen sama kamu, pengen kamu temenin ... tapi, kalau Abang hubungi kamu sekarang, bisa-bisa besok dua hari Abang nggak bisa kerja lama.


Benar apa yang dikatakan maid di rumah sana, mungkin baginya hanya melegakan hati Arsy yang kalut setelah ditinggal Saka tiga hari sampai bisa bertahan lima hari ini dalam tenang bersama maid, tapi nyatanya memang Saka sendiri pun juga menanggung beban rindu yang sama.


Dia pejamkan matanya, merasakan kehadiran Arsy di sini, memeluk dirinya sendiri menggapai kehangatan, Saka tersenyum tipis membayangkan bila semua pesan Arsy itu berbentuk voice note, dia yakin istrinya itu mengomel dari malam sampai pagi.


Abang kangeeennn ....


"Sabar, Saka!" Saka tegaskan pada dirinya sendiri. "Besok waktu pulang langsung meluk dia sampe puas, buat dia keramas tiap tiga jam sekali kalau bisa, biar cepat jadi anak gemas!" dia berbaring lagi, mencoba memejamkan mata sekali lagi.


Nihil!!


Saka ambil ponsel yang tergeletak tak berharga itu, gemetaran mau menghubungi sang istri, takut terjebak rindu dan tak fokus bekerja.


Telpon, nggak, telpon, nggak, telpon, nggak, telpon, nggak!


Tidak, Saka letakkan kembali sembarangan, tak lama ponsel itu bergetar, tampaknya ikatan batin mereka cukup kuat, nama Arsy muncul di sana.


Apa ada?


Saka melirik jam dindingnya, menimbang sebentar sebelum akhirnya dia geser ikon hijau itu karena saking penasaran dan cemas.


"Ya, Sayang?"


"Abang, ini beneran Abang? Abang angkat telpon aku?" berguling-guling tidak karuan.


Saka tersenyum, debaran jantungnya mulai normal, tak menggebu seperti tadi.


"Abaaaaaaaang, Arsy nggak lagi mimpi, kan?"

__ADS_1


"Enggak, Sayang. Beneran ini, Abang kangen sama kamu."


__ADS_2