Suamiku Tercinta

Suamiku Tercinta
Cicak Berotot


__ADS_3

Setelah kabar bahagia itu, Saka harus rela telinganya menjadi landasan panas ocehan sang ibu, bagaimana tidak, sejak tadi topik pembahasannya hanya mengingatkan Saka agar tak berlaku kasar atau berlebihan pada Arsy, terutama harus perhatian yang ditinggikan mengingat Saka kalau sudah bekerja akan lupa semuanya.


Bukan mau egois, dia tahu pekerjaan Saka bagaimana, disisi lain dia juga tahu kalau kondisi Arsy ini sangat lemah, mereka pun tinggal sendiri di sana, tak berada dekat dengan kerabat yang ada, mungkin bisa ditemui, tapi tetap saja tidak bisa seperti di sini yang setiap hari bisa bertemu.


"Bang, habis telpon sama ibu kok nggak ngomong sama aku?"


"Iya, Sayang. Ibu cuman ngomelin aku, ahahahah, ibu mau aku jagain kamu banget, bakal dihukum kalau aku berani telantarin kamu, Yang."


Arsy terkekeh, ya mungkin dia tak mendapatkan perhatian khusus dari kedua orang tuanya, tapi ibu mertuanya itu jangan ditanya, wanita itu bisa saja terbang dalam sekejap ke sini untuk menghukum sang suami bila melakukan kesalahan.


Tak lupa usakan dan kecupan lembut Saka berikan di atas perut yang masih rata itu, kalau dia bisa, dia akan selalu bekerja di kantor sampai anaknya lahir, kenyataan tak bisa dipungkiri kalau dia akan lebih banyak dinas, dia hanya akan berusaha di dekat Arsy disetiap waktu bebasnya dan mengantar sang istri periksa kandungan.


"Kita bakal bantu lo, tenang aja."


"Makasi banyak, emang itu yang gue butuhin, gimana lagi kalau istri udah hamil kan pasti ada aja yang dia minta, kira harus siaga, lo kan pengalaman, Bro."


"Iya, lah. Gue sampe bonyok juga kalau dia lagi minta di rumah, moga aja ngidamnya nggak aneh-aneh, misal mau gituan terus mungkin, ahahahaha-"


"Hush, ya sama aja kalau kita nggak ada di rumah, kan dia kesiksa, terus kitanya nggak bisa pulang, mampus udah!" Saka tergelak setelahnya.


Beruntung dia punya teman yang siaga, bahkan saat kabar Arsy masuk rumah sakit, mereka datang berkunjung, istri mereka menghibur Arsy di dalam sana, mengajak ibu hamil yang mudah bosan itu bercanda hingga lupa bagaimana kram yang kerap dirasakannya.


Sore tiba, Arsy bisa dan mendapatkan izin pulang, kebetulan teman Saka masih ada di sini bersama istri mereka, bala bantuan tak kurang dan Arsy merasa senang.


"Bang, di rumah kayaknya masih ada banyak camilan, mereka nggak mau mampir dulu?"


Saka tawarkan pada teman dan kerabatnya, mereka kompak menerima, jamuan di rumah baru Saka juga belum pernah mereka rasakan.


Jujur saja, Saka itu belum mengundang siapapun di rumah baru ini, mengunci Arsy sendirian dan memang dia fokus bekerja hingga tak ada waktu mengundang atau mengadakan semacam acara.


Kalaupun ada waktu untuk dia pulang setelah dinas, semua waktu itu dia berikan pada Arsy, mau menuruti Arsy ke mana saja, atau bergulung di rumah mencari keringat bersama.


"Sayang, kamu jangan banyak tingkah, duduk diam aja, biar aku sama maid yang urusin!"


Oke, kursi roda sudah ada di dekat Arsy dan selama dia belum dinyatakan mampu, maka dia harus diam di sana dan mengikuti ke mana saja arahan suaminya, berbaring di kamar dan tak ikut bercanda pun dia terima, semua demi kebaikan dia dan calon buah hati di kandungannya.


"Bang, kalau aku bosen di kamar gimana?"


"Nggak akan kamu bosen, tinggal panggil Abang, nanti Abang buat kamu nggak bosen!"


"Gimana emang?"


Saka merangkak ke atas Arsy, dia cium dari kening hingga bibir manis istrinya itu, cukup lama sampai Arsy gelagapan.


"Bang, belum boleh minta itu!"

__ADS_1


"Abang bisa pelan banget sampe nggak nyakitin dia, ahahahah, terus kamu nggak akan bosen, iya kan?" Saka kedipkan satu matanya, Arsy terkekeh karena jawaban sang suami.


Benar saja apa yang Saka katakan, kedekatan mereka adalah obat mujarab dari semua kebosanan yang ada, padahal sama-sama tahu kalau dokter melarang hal itu, tapi Saka seolah punya ukuran sendiri untuk mengatasinya.


Arsy usap perutnya yang masih rata itu, kantong rahim terlihat jelas di sana meskipun janin kecil mungkin itu harus dipastikan lagi dua minggu ke depan, dia sabar menunggu, semoga semuanya aman dan anaknya tumbuh baik di sana.


Begini rasanya hamil dan berada jauh dari keluarga, Arsy ambil ponsel yang ada di nakas, balasan dari kedua orang tuanya tak kalah heboh, hanya saja mereka tak akan bisa ke tempat ini sekalipun Saka membiayainya, sudah lama dan sudah terbiasa Arsy tanpa perhatian mereka.


"Naaak, anaknya Mommy manis, eheheheh, yang kuat ya di sini, tahu kan kalau Daddymu itu kuat sekali, kamu nanti bisa minta ajarin dia apa aja, jangan ke Mommy yang otaknya di bawah rata-rata. Tapi, Mommy sayang sama kamu, udah nunggu kamu lama, cinta banget, anak manis, emuah!" Arsy berikan kecupan jauh, dia hela nafas sejenak, entah kenapa dia ingin tidur saja, tubuhnya kian lemah.


Dengkuran halus mulai terdengar, maid yang membawakan susu menyimpan di dekat nakas pelan, tak mau kalau nonanya sampai terbangun, kehamilan Arsy adalah kabar bahagia yang patut dia banggakan juga, di rumah ini dan semua anggota keluarganya adalah titik abdi terbaik seumur hidup.


Saka berkumpul dengan teman dan kerabatnya di lantai satu, cukup dia membuka ponsel yang melihat cctv di kamarnya, tersenyum kala melihat sang istri terlelap sebelum meminuk susu.


"Ka, nanti belikan manisan mangga aja buat istri lo, dia bakal butuh itu, dulu istri gue juga butuh malem-malem, gue kasih saran lo beli yang deket kantor itu, lengkap!"


"Entar gue beli, dia buka 24jam kan?"


"Iya, cuman kan enak kalau siaga di rumah, biar lo nggak kerepotan, apalagi biasanya ibu hamil itu males ditinggal, maunya ikut, lah kan nggak mungkin kita gendongin mereka, berat lah!"


Saka tergelak, dia akan membawa istrinya kalau Arsy mau, menggendong istrinya pun tak apa, dia tak akan keberatan sama sekali di sini, justru senang sekalinya ada waktu untuk menyenangkan dan melegakan hati sang istri, mengingat sekalinya dia sibuk, akan luar biasa sibuk.


"Lo udah siap banget jadi bapak, Bro!"


"Ahahahah, Ka... udah nikmatin aja jadi bapak baru, eh calon bapak baru sih, penuh dengan drama!"


Saka paham itu, dia sempat mendengarkan keluhan kakaknya dan sang adik ipar, semua sudah dia tampung, kalau dia angkat tangan bisa berbicara pelan dengan sang istri.


Ah, dia jadi rindu pada ibu hamil di atas sana, memang dia tak cocok terlalu lama jauh dari Arsy, semua dunianya ada di Arsy sekarang dan selamanya.


***


Jam tiga dini hari, Saka dikejutkan dengan isak tangis sang istri yang mendadak sudah duduk di tepi ranjang.


Dia pun membuka matanya lebar, memastikan apa yang terjadi, lampu kamar itu terang seketika, merangkak ke sisi lain ranjang demi memastikan apa yang terjadi.


Ini bukan tangisan biasa karena Arsy sampai hampir kehabisan nafas, Saka takup wajah itu dari bawah setelah memastikan tak ada yang aneh di sekitar Arsy.


Siapa tahu ada ular atau hewan lainnya yang lancang masuk ke kamar ini, bisa saja.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Baaaang, aku takut!"


"Takut kenapa? Ada yang dateng ke sini atau apa?" mungkin kebanyakan nonton film horor jadinya melihat bayang yang tidak-tidak, kalau boleh jujur Saka pun sudah merinding, dia paling takut dengan hantu lokal di tanah air, sungguh, menurutnya masih lebih baik hantu luar negeri. "Sayang, ngomong sama aku ada apa?"

__ADS_1


Arsy yang menangis hanya bisa mengulurkan kedua tangannya dan memeluk leher Saka, dia sesenggukan di sana, membebaskan tangisnya yang membuat Saka semakin siaga, kalau hantu luar negeri, mungkin dia mau adu tembak.


Plis, jangan hantu lokal macam kuntil!


"Baaaang, tadi aku lihat ada yang merangkak di sana!"


Gleek, Saka menoleh ke arah yang Arsy tunjuk, bukan jendela kamar mereka, melainkan arah kamar mandi dan ruang ganti, jantung keduanya semakin berpacu cepat, tak kuasa sama sekali dengan apa yang didengar.


"Siapa yang ngerangkak?" mbak kun atau spiderman, atau mereka sedang kerja sama? batin Saka terus bertanya-tanya.


Arsy semakin histeris menangis, sampai-sampai maid yang memeriksa kondisi rumah dan sengaja bangun pagi buta berlarian ke atas, takut nonanya kenapa-napa.


Arsy menunjuk lagi, kali ini lebih jelas dan tampak di mata Saka, ada yang merangkak. Bayangan yang semakih besar sampai ke dekat lampu penghubung.


Cicak?


"Ituuuu!"


"Sayang, itu cicak!" astaga, Saka mau melompat rasanya, mau menyiksa cicak tadi, tapi dia urungkan begitu ingat pesan ibunya akan hati-hati dan larangan menyakiti hewan. "Tunggu di sini!"


Di kepalanya sudah banyak jenis hantu, terlebih lagi hantu lokal yang ternistakan, ternyata hanya bayang cicak yang terus membuat Arsy menangis.


Ya, menangis karena dia sebal dan takut, tapi tidak berani menghukum cicak itu karena dia sedang hamil.


"Udah, kamu jangan nangis lagi, Abang nggak akan maafin cicaknya kalau kamu nangis!"


"Aku mau cubit, tapi aku takut, kan g boleh cubit hewan, Baaaang.. makanya aku nangis," jelas Arsy.


Saka dekap kembali istrinya itu, lewat pelukan ini dia berharap sang istri bisa lebih tenang dan dia pun bisa tidur.


Tapi, harapan itu kembali pupus karena tangan Arsy turun ke bawah, ke titik yang tak seharusnya disentuh dan dibangunkan, seharusnya dibiarkan bangun di pagi hari saja sesuai aslinya.


"Sayang, kenapa tangannya di sana?"


"Pengen mainan cicaknya Abang."


"What, jangan dong, nanti cicaknya balas dendam ke kamu, Sayang. Lepasin tangannya ya, dia kalau bangun sangar nanti!"


"Arsy pengen pegang, ini lucu Bang!"


Oke, apa dia harus ngidam mainan cicak berotot?


Saka tahan nafasnya dalam-dalam, susah kalau dipegang tanpa tegang, fiuh.


"Eh, dia membesar cicaknya!" jerit Arsy senang.

__ADS_1


__ADS_2