
"Apa, hah?!"
"Ya ampun, sudah aku katakan bukan, Ibu dan Ayah tidak ada yang percaya, coba ... katakan apa yang meragukan dariku, Sofi mana pernah meragukan, iya kan?" Sofi melipat tangan ke depan dada, bibirnya meliuk-liuk sambil terus memanjangkan ucapannya.
Aduh, kepalaku pusing!
Ibu memijat kepalanya dan kepala ayah bergantian, ini bukan keturunan ayah sama sekali, ibu ingat bagaimana suaminya ketika dekat dengannya, langsung menerkam begitu saja sampai dia habis.
Tapi, ayah membela diri di sini, hampir lima tahun ayah dan ibu tidak pernah berbicara selain urusan Baskara kecil sejak ibu kandung Baskara meninggal dan ayah menikahi ibu.
"Ah, benar juga, tapi itu kan berbeda kasus, Ayah!" ibu tersadar.
"Sama saja, Jingga. Tidak ada beda, Bas butuh waktu, Aisyah butuh waktu, sama aku dan kamu juga butuh waktu saat itu, bahkan sampai Bas usia lima tahun baru kita bersama selayaknya." ayah ingatkan itu.
"Itu berarti, dia benar-benar darah dagingmu, kalian sama saja. Tapi, kan kamu begitu karena-"
"Jingga, sama saja. Siapa tahu Bas memang sudah punya kekasih, kita tidak pernah tahu dengan siapa dia berkenalan di luar sana, iya kan?" sekali lagi ayah menang telak dan ibu diam.
Tapi, tidak dengan Shafiyah, adik terkecil Baskara dari ibu sambungnya itu masih memutar ide di kepalanya.
Baiklah, katakan aneh kalau di rumah itu kak Ais tidak memakai hijab karena ada penjaga yang masuk, tapi kan di rumah itu penjaga pria hanya ada di luar rumah, yang di dalam rumah hanya perempuan semua, itu juga sudah tua-tua, kalau ada tamu juga semua atas izin kakak, tidak mungkin asal masuk, keluarga saja harus izin dia. Shafiyah.
"Sofi, mau ke mana?" ayah mau memeluknya tadi.
"Tunggu sebentar saja, Ayah sayang. Nanti, aku tidur di sini bersama kalian, tenang ya!" emuah, memberikan kecupan jauh ayahnya sebelum ke luar kamar.
Ibu bergeser, "Sekarang tidurnya mau sama Sofi terus, sudah tidak mau berdua lagi, begitu?"
"Haisssh, bicara apa ... kalian itu kembar!" ayah minta ibu mendekat, mau dia peluk.
***
"Tidak, Sofi!" Baskara tegas menolak ide itu.
"Dengarkan aku, Kak. Di rumah itu semua berhak dan boleh melihat kak Ais tidak memakai hijabnya, di rumah ini pun sama, ayah boleh kecuali kak Saka, tapi kan dia sedang tidak di rumah, biarkan rambutnya terburai, ya?"
"Tidak, tidak dan tidak. A-isyah tidak akan membuka hijabnya!"
Shafiyah berdecak, "Oh, jadi cuman Kakak yang boleh melihat kak Ais tanpa hijab, cuman Kakak yang boleh melihat kak Ais pakai daster mini, cuman Kakak yang boleh lihat kulitnya kak Ais, begitu?" dia sentil-sentil perut Baskara.
__ADS_1
Merah, wajah Baskara merah, bukan marah, tapi merona malu. Dia saja baru melihat dan menyentuh rambut Aisyah semalam, di rumah ini, itu juga dipaksa, dan dia yakin Aisyah terpaksa.
Kulitnya A-isyah? Aku saja hanya tahu sebatas pergelangan tangan dan wajahnya, baru kemarin aku tahu daerah leher dan kulit kepalanya. Dia putih dan bersih bersinar sekali seperti bulan, eheheheh.
Dengan semua upaya rayuannya, tidak mempan sama sekali, Shafiyah hampir menyerah, tapi kedatangan Aisyah di kamar itu sambil membawa buah anggur di tangannya membuat senyuman lebar di wajah Shafiyah.
"Sini dan duduk!" pintanya memaksa, mengambil anggur itu dan dia simpan jauh dari kakak iparnya. "Jangan dengarkan Kakakku yang gila itu, dengarkan aku saja!" titahnya.
Aisyah menoleh pada Baskara, seperti biasa wajah tegas itu memandang arah lain dan tak bergeming atas kehadirannya.
"Sofi, ada apa?" tanyanya lembut dan semakin bingung. "Jangan, Sofi!" pintanya.
"Kenapa jangan? Di kamar ini hanya ada aku yang satu jenis dengan Kakak dan suami Kakak, jangan bilang aku bukan orang yang boleh melihat penampilan lain Kakak, hayo!"
Hmm, siapa yang bisa mengalahkan adik Baskara ini, tolong!
Shafiyah membuka penutup kepala kakak iparnya, gerakan lembut dan cepat, dia aturkan rambut indah itu jatuh sampai ke depan dada, lalu dia ke luar mengambil alat make up nya dan melakukan apa yang dia mau.
"Ya ampun, ke sini hanya membawa baju besar-besar itu?" tanya Shafiyah kaget. "Terus, mau tidur pakai baju besar juga?"
Aisyah membenarkan itu, dia tidak membawa piyama atau apa, suaminya hanya memintanya membawa tiga pasang baju, itu saja sudah dia lebihkan.
"Tidak, Sofi. A-isyah alergi dingin!" jawab Baskara menyahut.
"Ya kalau dingin, kan ada Kakak yang memeluknya!" balasan telak dari Shafiyah.
Perang dingin dua saudara ini tidak akan ada habisnya sebelum Aisyah bertindak, dia melipat tinggi lengan panjangnya, lalu memakai ikatan tali di pinggangnya untuk menaikkan rok itu hingga selutut, membuat adik iparnya puas, lagipula mereka sama-sama perempuan.
"Jangan, Sofi!" Aisyah tidak mau ke luar dari kamar ganti.
"Ya, ya ... aku sudah tahu kulit dan seberapa cantik Kak Ais. Pasti malu'kan kalau menggoda kakakku saat ada aku, iya kan? Baiklah, aku ke luar, emuah!"
Selesai.
Setelah Baskara terdengar menutup pintu, Aisyah rapikan lagi bajunya seperti semula, dia ikat rambutnya dengan karet seadanya yang dia temukan, entah tadi dilempar ke mana oleh adik iparnya itu.
Kerudungku? Pasti di depan, bagaimana ini?
"A-isyah."
__ADS_1
Kakak, tunggu ... rambutku masih kelihatan!
"Ke luar, A-isyah!"
Bagaimana ini?
"A-isyah!"
Jeglek, pintu ruang ganti terbuka.
Aisyah hanya muncul setengah saja, "Kakak, hijabku di sana, bisa tolong ambilkan, tolong!" sungguh, dia hanya terlihat sedikit, matanya saja hanya satu yang tampak. "Tolong!"
Itu, itu mata indahmu, besok mau kamu tunjukkan pada Sena, iya? Menyebalkan sekali, bagaimana kalau aku kurung kamu di kamar ganti ini, A-isyah?
Baskara dorong pintu itu sampai terbuka lebar, penampilan Aisyah sudah kembali rapi, hanya saja penutup kepalanya tidak ada hingga seperti malam lalu di mana Baskara bisa melihat Aisyah dengan rambut indah itu.
Kedua tangan Aisyah sontak berusaha menutup bagian rambutnya, tapi tidak bisa, leher dan bagian lainnya masih ada yang tidak dia jangkau.
Baskara menoleh utuh setelah memalingkan wajah tadi, dia pandangi penampilan baru Aisyah di kamar ini, mungkin juga dia lihat di rumah mereka nanti.
"Kamu boleh melepasnya selama bersamaku," ujar Baskara mendadak.
Benarkah? Kakak mau melihat aku begini sekarang?
"Rambutmu nanti bau dan penuh kutu kalau memakainya terus di rumah, apalagi tidur."
Heh, jahat sekali, siapa yang kutuan?!
Melihat wajah Aisyah yang sebal sambil menunduk karena ucapannya itu, senyum terbit di wajah Baskara, dia berbalik sebelum ketahuan.
"Ke luar kamar, harus memakainya A-isyah!"
"Iya." masih menekuk wajah, gara-gara bau dan kutuan.
Astaga, ahahahahahah ... dia lucu sekali kalau begitu. Biar aku saja, aku saja A-isyah yang melihat rambutmu itu ... cantik sekali dia, Ya Rabb. Baskara.
***
Tahan gemes sama batinnya Baskara ya, OmaMama... eheeh.
__ADS_1