
"Yang benar saja, hah?" Pian mau muntah mendengar pengakuan kedua temannya. "Aisyah mau datang bersama Baskara, di pernikahan Sena, yakin?"
Nando dan Wira mengangguk, "Kami menjadi saksinya, Aisyah memakai cadar, sembunyi di belakang punggungnya, fenomenal!"
"Sayang sekali aku tidak datang ke sana, pasti aku ambil gambar mereka dan-"
Nando buang putung rokok miliknya ke kaki Pian, "Mau tanganmu patah, hah? Seperti tidak kenal Baskara saja, jangankan mengambil gambar Aisyah, gambar wajahnya saja bisa dihargai mahal!" potongnya.
Aahh, sakit, sakit!
Wira bantu Pian menggosok bekas percikan rokok di kakinya, sudah memerah, anehnya hanya mengeluh, tidak marah sama sekali.
"Jangan-jangan benih cinta mulai tumbuh di hati sekeras batu itu, siapa mau taruhan?" Wira mengangkat tangannya tinggi.
"Bas jatuh cinta?" Nando tidak percaya. "Ayam bisa sulit bertelur kalau Baskara jatuh cinta, kalian harus tahu itu!"
Ah, benar juga!
Ketiganya tak ada yang mau bertaruh, walau Wira merasakan ada yang janggal di sini, baru kali ini dia melihat Baskara mau mengulurkan tangannya pada seorang wanita selain ibu dan adiknya, tanpa ada lapisan apapun, katakan dia aneh, biasanya dia hanya menunjuk atau menyentuh tipis lengan lawan bicaranya, itu saja sudah membuat lawannya gentar.
Tapi, di pernikahan Sena, entah apa maksudnya, Wira melihat tangan Aisyah berada dalam genggaman Baskara.
Apa dia sudah jatuh cinta? Seingatku, sebelum malam pernikahan itu dia begitu ingin lari dari Aisyah, semacam Aisyah bukan tipenya, tapi gandengan tangan itu? Ah, aku bisa gila. Wira.
***
Dering ponsel Baskara tampaknya tak berpengaruh malam ini, Aisyah yang sudah bangun lebih dulu lantas menuju sofa tempat di mana Baskara terlelap, wajah itu sangat lelah seperti berhari-hari tidak tidur saja.
Nomor hitam, siapa ini? Apa aku terima saja? Tapi, kalau Kakak marah bagaimana? Aku bangunkan saja.
"Kakak, Kakak, Kakak!" Aisyah goyangkan tubuh besar itu. "Kakak, ada telfon penting, bangunlah!"
Baru ini dia gagal membangunkan Baskara, berulang kali dia goyangkan, tidak ada respon sama sekali, hanya kening Baskara berkerut dan tampal keringat di sana.
"Kakak," panggilnya lagi. "Sebentar!" Aisyah lepas mukenahnya, rambut itu dibiarkan terburai karena Baskara yang meminta malam itu.
"Kakak, ada telfon, bangunlah!" lagi. "Kakak!"
Bruk!
"A-isyah," sahut Baskara bergumam, dia tarik Aisyah hingga jatuh ke dadanya.
__ADS_1
Ya, wajah Aisyah begitu dekat dengan dagu Baskara, beruntung kedua tangannya menahan di depan hingga dada mereka tidak menempel.
"K-kak, ini, ini-"
"A-isyah, sakit."
Sakit? Apa yang sakit?
Aisyah terkunci, satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah memiringkan kepalanya hingga keningnya menyentuh pipi Baskara.
Dia lakukan itu, mempertemukan keningnya dengan pipi basah Baskara karena keringat, masa bodoh bila suaminya nanti marah, ini satu-satunya cara.
"Sakit, A-isyah."
Panas, Kakak demam!
Aisyah gerakkan kedua tangannya, bergesek-gesek sampai tangan Baskara mengendur, sedikit memukul dada Baskara agar dia bisa lepas.
"A-isyah ...."
Ragu-ragu Aisyah ulurkan tangannya ke kening Baskara, walau begitu dia paksakan meskipun sekujur tubuhnya gemetar.
Pertama kali dia bergandengan adalah bersama Baskara, pertama kali keningnya menyentuh pipi, itu pipi Baskara. Lalu, pertama kali tangannya menyentuh wajah seseorang pria, itu Baskara.
Berulang kali Aisyah membasahinya, perlengkapan di sini terbatas dan tak mungkin dia mencoba satu-satu yang ada, Baskara akan semakin kesakitan.
"A-isyah," panggilnya masih memejamkan mata, suaranya lemah.
"Iya, aku di sini, Kak."
"A-isyah, uhuk!" terbatuk dan menepuk dadanya, keningnya mengerut seakan sedang merasakan sakit.
Buru-buru Aisyah tidurkan lagi, menempelkan kaos kaki basah itu ke kening Baskara, lalu dengan cepat dia buatkan teh hangat seadanya di dalam kamar ini, kedua tangannya gemetaran, napasnya kejar-kejaran, pandangannya tak bisa tenang, berulang kali dia menoleh pada Baskara yang mengeluh memanggil namanya dan terbatuk-batuk.
"Minum dulu ini, besok pagi aku belikan obatnya ya ... sini, Kak!" susah payah Aisyah bantu duduk, memastikan teh itu dingin lewat ujung bibirnya karena tangan satu lagi menahan tubuh Baskara.
Aku tahu kalau Kakak melihat pasti akan marah, tapi ini darurat, hukum aku nanti saja!
"Uhuk, uhuk ... panas, A-isyah."
"Tidak, sudah aku cicipi tadi, coba dulu!" biarlah dia mengaku.
__ADS_1
Baskara meneguknya perlahan, tadi dia merasa baik-baik saja, mendadak tidak enak badan begini, dia sendiri tidak tahu kenapa.
Setelah satu cangkir kecil itu habis, Aisyah paksa Baskara berjalan pindah ke ranjang, akan lebih baik kalau suaminya di sana, tak masalah dia tidur di sofa asalkan suaminya bisa membaik esok hari.
Aisyah dudukkan dan rebahkan perlahan, dia selimuti sampai batas dagu, demamnya masih ada, tapi Baskara sudah tenang, batuknya juga reda.
"A-isyah ...."
Tanganku!
Baskara tahan tangan itu, entah dari mana bisa ke luar, padahal tadi Aisyah selimuti keduanya.
"Kakak tidur di sini ya, aku tidur di-"
"Jangan pergi, A-isyah!" satu tangannya menepuk sisi ranjang yang kosong itu, walau matanya terpejam, samar bisa dia lihat bayang Aisyah. "Jangan pergi, A-isyah!"
Ais, Bas itu kehilangan ibu kandungnya sejak dia kecil, begitu dia lahir, ibu kandungnya meninggal dunia, lalu ibu menjadi gantinya, pernah ada masalah sampai ibu pergi meninggalkan dia, Bas suka takut akan hal itu ... takut ditinggalkan orang yang bersamanya. ucapan ibu mertuanya selepas menikah.
"A-isyah, jangan pergi!" pintanya lemah.
"Iya, ak-aku akan duduk di sana, di samping Kakak, tunggu!"
Aisyah bergegas naik ke ranjang itu, duduk di samping suaminya sambil membiarkan tangan itu Baskara genggam, hatinya mendadak iba pada sang suami.
Apa masa lalu Kakak menakutkan? Tenanglah!
"A-isyah."
"Iya, aku di sini, Kak."
***
Shafiyah mondar-mandir di kamar ibu dan ayah, lihatlah betapa pusingnya ayah kalau dua perempuan ini membuat ulah dan dia yang akan dijadikan kambing hitamnya, begitu kompak sampai ubun-ubun.
"Ibu, dengarkan aku!" merangkak ke sisi ibunya. "Bagaimana kalau kak Bas sampai masuk rumah sakit karena ulah kita, hem?"
"Mana mungkin, dia kan kuat, lagipula itu hanya obat biasa, dia tidak akan sampai masuk rumah sakit!" ibu menjawab penuh percaya diri.
"Tapi, kalau kondisi kakak sedang lemah, bagaimana?" dia menyesal membuat kakaknya sakit. "Ibuuuuu, Ayaaaahh, bagaimana kalau kak Bas pingsan dan kak Ais tidak bisa-"
"Sofi, turunan Ayah itu kuat-kuat!" ayah membela. "Makanya jangan usil, kalian berdua ini, sudah usil, sekarang bingung sendiri!" protes.
__ADS_1
"Yah, kalau tidak begitu, sampai nastar jadi isi jengkol juga jauh-jauhan!" ibu keukeh misinya berhasil.
"Iya, Ayah ini!" Shafiyah cubit-cubit, ayahnya kalah.