
"Haruskah ke rumah sakit, A-isyah?" mondar-mandir kelewat cemas dengan kondisi istrinya.
"Kalau mau ke rumah sakit, kita turun sekarang, aku gendong, ya?" kembali mendekat ke ranjang, Aisyah berbaring di sana.
"A-isyah, jangan bohong!" lagi, bicara tanpa Aisyah jawab.
"A-isyah, katakan yang sakit, biar aku ringankan!"
Ahahahah, memangnya Baskara itu merangkap menjadi dokter apa, Aisyah tertawa dalam hati, mau menjawab, tapi tubuhnya lemas saja, malas jadinya, dia biarkan Baskara mondar-mandir dulu sampai dia rasa membaik.
Berulang kali pria itu membuka tutup ponselnya, menghubungi dokter Andreas yang ada di benua seberang, Baskara tak bisa berpikir jernih, dia pulang malam dan tahu-tahu Aisyah lemas tak menyambutnya.
Tap, tap, tap ....
Baskara berlarian ke kamar, dia mendengar suara Aisyah.
"Mau ke mana?" hujaman perhatian itu membuat Aisyah tersenyum. "Apa sudah hilang sakitnya?"
Aisyah rayapkan tangannya ke pipi bergaris tegas itu, dia tersenyum lagi.
"Kakak, apa rumah sakitnya dekat sini?"
Jadi, Aisyah harus dia bawa ke rumah sakit, begitu? Dari pertanyaan Aisyah sudah dipastikan kalau arahnya ke sana, tak menunggu lama, Baskara bantu istrinya berjalan dan menggendongnya ke depan loby.
Mereka sontak menjadi pusat perhatian, bahkan petugas berjaga di sana berlarian ke luar membawa kursi roda, Aisyah sampai malu sendiri.
"Tunggu ya, jangan pingsan!" Baskara pasang sabuk pengaman Aisyah.
Aisyah mengangguk, percuma dia menjelaskan dan menjawab pada suaminya itu, Baskara akan tetap panik, mendengarkan penjelasan dokter nanti akan dirasa lebih tepat.
__ADS_1
Huh, Aisyah jadi tidak enak sebenarnya, di sini juga ada ayah mertua dan adik ipar, mereka pasti nanti tahu dan menjadi repot karenanya.
Sesampainya di rumah sakit, tepat di depan IGD Baskara hentikan mobil dinasnya, bergegas ke luar dan berteriak meminta petugas bergerak cepat.
Jangan lupakan ancamannya yang membuat mereka semua hampir ketakutan.
"Berikan aku dokter wanita!" titahnya.
Di sana saja Andreas harus memanggil temannya, tentu di sini Baskara tak mau terkecuali, dia harus mendapatkan apa yang dia mau dan yang terbaik untuk penanganan Aisyah.
Suami yang panik dan istri yang santai, Aisyah hanya merasa perutnya bermasalah, entah karena tanggal haidnya yang maju atau yang lainnya, dia akan menuruti apapun yang disarankan di sini.
***
"Lalu, apa yang kau mau?" ayah tersentak kaget.
"Aku tidak bisa meninggalkan A-isyah di sini, Ayah. Kalau dia butuh sesuatu, siapa yang akan membantunya?"
Tugas dan istri, dua hal yang sama berat dan pentingnya, tak mungkin Baskara pilih salah satu, kalaupun harus, dia tetap pada tanggung jawabnya di pekerjaan yang selama ini dia geluti.
Tapi, bagaimana dengan Aisyah?
"Bu, apa Ibu tidak bisa ke sini? Ayah memintaku harus ikut kembali setelah tugas ini selesai, tentu aku tidak bisa, A-isyah butuh aku di sini, apa Ibu tidak mau ke sini?" Baskara membujuk rayu ibunya.
"Bas, bukannya Ibu tidak mau, kalau Ibu ke sana dan ayahmu di sini, bisa apa nanti, kamu tahu'kan ayahmu bagaimana, Nak. Kalau tidak bertugas, pasti Ibu sulit ke luar rumah," jelas ibu.
Baskara duduk dan menunduk, dia membuang napas kasar berulang kali, tidak bisa dia meninggalkan Aisyah dalam waktu yang lama, terlebih lagi, Aisyah tengah berjuang bersama calon anak mereka yang kemungkinan tengah berkembang di sana.
Beberapa hasil memang masih samar, tapi begitu USG dilakukan pagi ini, ada indikasi yang mengarah pada kehamilan dan itu sangat lemah, Aisyah tidak bisa terbang lebih dulu dalam jarak jauh, sampai dia benar-benar dinyatakan kuat dan aman.
__ADS_1
"Tidak bisa, Dara, tidak bisa!" tolaknya. "Kamu juga hamil, bagaimana bisa menjaga A-isyah, hah? Dia tidak akan leluasa di rumahmu, ada pria selain aku di sana, itu akan sulit untuk-"
"Bas!" Dara potong ucapan Baskara. "Jangan egois, plis. Kamu bisa memanggil maid ke sini, menemani Aisyah, baik kalau tidak leluasa tinggal di rumahku, sewakan saja dia rumah di dekat kami, jadi kami bisa mengawasi, aku dan mertuaku bisa menjaga Aisyah, lagian Bas ... Saka ada di sini, dia ditugaskan di sini, dia bisa menjamin kondisi Aisyah aman atau tidaknya, iya kan?"
Tapi, benak Baskara masih belum rela, beberapa orang dia temui dan semua tak ada yang mendukung keinginannya membawa Aisyah kembali bersama ke tanah air nantinya, mereka bahkan justru menawarkan tempat tinggal di sini.
"Aku sudah bantu aturkan, Kak. Akan ada jadwal kunjungan dokter untuk kak Ais, jadi dia akan terus diawasi," ujar Saka.
Baskara mengangguk, dia belum memutuskan Aisyah untuk tinggal di sini atau ikut kembali, hanya saja saudara di sini sudah mengatur sedemikian rupa untuk Aisyah, mereka siap direpotkan dan dengan senang hati.
Ruangan Aisyah yang tadinya hening, berubah ramai, saudara datang berkunjung bergantian menemui Aisyah, membawakan apa saja yang sekiranya Aisyah mau dan membantu Aisyah bergerak dikala jenuh berbaring.
Sampai tugas Baskara di lapangan selesai, pria itu kembali ke rumah sakit, semua saudara berpamitan dan akan kembali esok hari, mereka tahu bagaimana Baskara ingin berdua saja.
"Ais kan tidak menetap di sini, hanya sebentar sampai dokter bilang boleh," ujar Aisyah. "Dia, ia lagi berjuang menetap di perutnya Ais, jadi bisa'kan kalau Kakak juga berjuang seperti dia, hem?"
Baskara ambil tangan Aisyah, dia dekap di dadanya, kemudian dia kecup dan tempelkan ke pipinya.
"Orang bilang aku egois, A-isyah. Padahal, aku hanya ingin kamu aman, ada di rumah dan aku bisa menemuimu setiap kali kamu butuh, kalau di sini,-" tidak bisa dia lanjutkan, tidak mungkin dia pulang pergi setiap hari, penerbangan juga tidak seenak kepalanya.
Aisyah angkat dagu itu, membuat pandangan mereka bertemu, lalu dia cium kening suaminya.
"Maaf ya, Kak ... harusnya aku selalu ada selama Kakak tugas, tapi malah aku cuman diam saja sekarang, maaf ya ...."
Bibir mereka pun bertemu, tak ada yang bisa Baskara katakan, anggap saja ciumannya ini menjadi wakil dari semua ungkapan di hatinya, sekilas matanya berkaca-kaca, tapi sekuat mungkin dia tahan.
Ekhem,
Kalau tidak dihentikan, mereka akan hanyut dan lupa akan aturan dokter tadi, mereka harus menahan diri.
__ADS_1
"Kandungannya lemah, istirahat total adalah salah satu upaya untuk membuat ibu dan calon anak selamat, ada banyak kasus keguguran karena mereka tidak menjaga diri, saya harap Anda bisa pahami hal ini, Tuan."