
Satu minggu hanya bertemu suaminya dua hari saja, itupun dalam hitungan jam, selebihnya Arsy yang baru menjalani rumah tangga bersama Saka harus menerima kabar putusan pekerjaan di mana Saka tak pulang selama lima hari.
Belum ada maid di rumah ini, diawal memang rencananya cepat, tapi karena Saka tak di rumah, tidak ada yang bisa memutuskan maid mana yang akan tinggal bersama Arsy.
"Bang, jadi pulang hari ini?"
Arsy lebarkan senyumnya, lima hari bukan hanya tak bertemu, tapi juga tak ada kabar, jelas di berdebar hebat, ini suami, bukan kekasih.
"Yaudah, Arsy tungguin Abang pulang, nanti pesen online aja ya, kan Abang nggak ijinin Arsy jalan ke luar sendiri."
Sumpah, dia bosan dikurung di rumah, tapi demi menuruti permintaan suaminya, jelas harus betah, mau apa saja hanya sebatas di pagar depan, keamanan dari komplek juga hanya sekadar menyapa Arsy dan memeriksa dua kali sehari tanpa bisa dia ajak berbincang.
Hari ini suaminya kembali, dia sudah rindu sekali, mau tidur dan makan bersama, berbincang tanpa henti dan mendengarkan apa saja ocehan Saka padanya.
Hem, seperti apa wajah suaminya kalau lama tak bertemu, dulu seingat Arsy akan ada bulu-bulu di wajah Saka, kalau dulu Saka bisa mencukurnya habis, sekarang Arsy tidak mau, dia mau suaminya cuti sehari di rumah setelah dinas dengan wajah yang berbulu lebat.
Pasti jantan banget!
Belum apa-apa dia sudah merinding, kakinya melangkah lebar dan bersiap untuk lari, merapikan kamar, menambahkan wewangian, menyiapkan baju dinas malam, ditambah lagi pengisi perut sebelum mereka bertempur di peraduan.
Dia yakin, lima hari bukan waktu yang mudah bagi Saka menahan diri, pria itu pasti sudah basah dingin memikirkannya yang genit ini.
"Uuuhhh, nggak sabar ketemu sama Abang!" Arsy menari-nari.
Dia rapikan rambutnya, nanti sebelum Saka sampai, dia akan memakai make up tipis agar suaminya senang, wajahnya benar-benar terawat di dalam rumah seperti ini.
Satu matanya berkedip genit, foto pernikahan itu Arsy cium-cium, rindu sekali pada sosok yang terpajang di sana.
Dua hari di minggu ini memang bertemu, tapi mereka hanya sekadar makan dan cium, Saka sudah harus pergi lagi, memeluk saja tidak bisa lama, nanti akan Arsy balas.
Suara deruh mobil di depan rasa-rasanya tak mampu lagi Arsy menahan diri, dia berlarian, hampir dia jatuh kalau tidak bisa menyeimbangkan diri.
"Abang!"
Pagar belum Saka tutup, sudah main peluk saja, mana melompat ke dekapan Saka, beruntung suaminya kuat.
Benar, wajah Saka seperti hutan saat pulang, tapi Arsy suka.
"Tutup dulu pagarnya, dilihat orang nanti!"
"Iya, aku tutup, tapi gendong!"
"Heuh?" walau terheran, tetap Saka gendong.
Tak peduli jalannya susah sambil membawa tas kerjanya, Arsy seperti bayi koala di sini, berulang kali mengecup bibir Saka sampai empunya merinding, tidak sabar mandi dan menguasai istrinya.
"Wangi banget!"
__ADS_1
"Eheheheheh, aku siapin semua buat Abang!"
Saka memicing, dia rengkuh pinggang ramping itu, lalu mendaratkan kecupan di puncak kepala Arsy.
"Aku kangen sama kamu."
"Arsy jauh lebih kangen dari Abang, beneran!"
"Bisa-bisanya, Abang mandi dulu, nanti kita ngobrol genit, oke!"
"Auuuwwwwh, Arsy nggak sabar ngobrol genit sama Abang!!"
Astaga, tahu begini Saka mandi dulu di kantor, pulang langsung perang, terpaksa harus sabar beberapa menit.
***
"Kenapa manyun gitu bibirnya?" Saka tarik dan pindahkan Arsy ke pangkuan, walau tubuhnya tak seringan Shafiyah, tapi dia masih kuat menopang. "Kenapa?"
"Kan aku bilang ke Abang jangan cukur bulunya, ganteng maksimal kalau kayak tadi!"
Saka mengernyit, dia kira Arsy tak suka, hanya bercanda, beruntung masih dia sisakan sedikit, dulu dia rajin membersihkan, tapi sejak menikah rasanya disisakan sedikit masih bagus dan semakin tampan.
"Nanti kalau tumbuh lagi, Abang biarin. Janji!"
"Oke, sini Arsy keringin rambutnya!"
Arsy dengan semua makanan yang dia hangatkan, lalu Saka mandi dan berbenah akan isian tas kerjanya, banyak baju kotor di sana.
"Abang mau apa?"
"Mau kamu." dia tiup wajah Arsy, istrinya itu memejamkan mata sambil membuka mulutnya sendikit. "Sengaja kan jual mahal gini, hem? Pengen nyium kamu sampe pagi!"
Arsy terkekeh. "Tapi, Abang makan dulu deh, kan butuh asupan katanya, ayo!"
"Makan kamu dulu!"
"Auh!" Arsy memekik sesaat tubuhnya melayang, dia terhempas ke ranjang yang memang sedari tadi dirapikan dan sengaja diberi bunga-bunga. "Miss you, Abaaaang!" bisiknya.
Bulu kuduk Saka meremang, matanya berkilat abu-abu, degub jantungnya sangat kencang, bahkan bisa saling mendengarkan.
"Aku nggak terima kata berhenti malam ini, kamu harus terima itu!" bisik Saka.
Arsy gigit bibir bawahnya, bagaimana nasib makanan di bawah sana, sepertinya tak akan ada kata lapar setelah ini.
Ciuman Saka begitu memabukkan, membuat dia melayang tinggi, matanya terpejam menikmati sentuhan yang ada, saling membalas dan berlaku adil dalam permainan ini.
Saka jauhkan wajahnya sedikit, dia menyeringai. "Aku menembak banyak orang, malam ini khusus buat kamu!"
__ADS_1
"Ap-apa tembakannya sama?" takut pistol sungguhan.
Saka gigit daun telinga Arsy. "Punyamu cuman satu, Arsy," bisiknya.
Arsy kalungkan kedua tangannya ke leher Saka, dia pun berkedip genit, menarik kepala Saka hingga bibir mereka bertemu kembali.
"Tembak aku sesukamu!" bisiknya.
Damn!
Lampu kamar sontak padam, tak ada jejak keduanya, hanya tersisa suara bersahutan saling memuji dan menyebut dalam kegelapan.
Sungguh, akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya setelah satu minggu harus menjauh dan teralihkan.
Keesokan harinya,
"Kamu jadi ikut aku ke swalayan, Sayang?" Saka peluk Arsy dari belakang.
Arsy menempel pasrah, jujur dia berjalan saja susah, butuh pegangan, dia tidak tidur semalam, suaminya hanya memberi dia waktu istirahat sepuluh menit, lalu menggoda lagi, sampai fajar menyapa keduanya, masih ada tambahan yang harus Arsy berikan.
Ini baru satu minggu, nanti bagaimana kalau lebih, bisa-bisa patah tulang dibuatnya.
"Capek?"
"Abang yang bikin capek!"
"Ahahahahah, kamu ya mau itu!"
"Gimana nggak mau, kan enak!"
Purrrffttttt!!
"Jadi nggak ikut Abang ke swalayan?"
"Abaaaaang, bisa nggak nantian aja, biar Arsy enakan jalannya, hem?" menatap Saka memelas. "Kaku loh kakinya ini, kasihan Arsy!"
Saka tak kuasa menahan tawa, herannya dia tak merasa letih sama sekali meskipun berulang kali lepas landas, justru dia bersemangat.
"Oke, karena Abang kasihan sama kamu, jadi Abang tungguin, tapi jangan manyun gitu!"
"Kenapa?"
Belum Saka jawab, sudah Arsy bekap dulu, dia tahu arti tatapan suaminya itu, diteruskan bisa patah kaki dia.
***
Saka menyapa lagi......
__ADS_1