
**Happy reading guys 🤗🤗
Beri like dan vote nya dan jangan lupa untuk komen yah ðŸ¤ðŸ¤**
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuan Farhan dan Alex menelusuri setiap ruangan di lantai empat tersebut dan mereka belum menemukan empat kerucil nya padahal kobaran api semakin mengganas memakan bangunan itu di tambah bangunan itu sudah berumur membuat nya mudah di makan oleh api.
Hingga pada satu ruangan terakhir yang terletak di pojok lantai empat itu Tuan Farhan dan Alex segera bergegas di sana walau sebagian sudah di makan oleh api.
"Ayo kita masuk semoga mereka baik-baik saja, api nya sangat besar hati-hati Tuan ini mungkin sangat berbahaya" seru Alex pada Tuan Farhan.
"Aku tidak mungkin di pilih sebagai penguasa kegelapan kalau aku tidak bisa menerobos api ini" batin Tuan Farhan.
"Jangan buang-buang waktu lagi ayo kita masuk" ujar Tuan Farhan walau sedikit kesulitan dengan asap yang sudah menggunung itu.
Tuan Farhan dan Alex segera masuk sesekali mereka mengibas-ngibaskan tangan mereka ke udara menghalau asap di depannya untuk tidak mengganggu penglihatan serta pernapasan mereka.
"Uhuk uhuk uhuk...Tuan aku menemukan empat tengkorak yang tengah terbakar di sini dan juga terdapat pakaian yang terbungkus di dalam tengkorak ini" teriak Alex sembari menutup hidung dan mulutnya sesekali ia mengibas tangannya untuk menghalau asap.
Tuan Farhan segera berlari ke arah Alex ia mengamati empat tengkorak dengan pakaian yang sudah terbakar walau di sana sedikit sulit untuk melihatnya karena kabut asap menyerang penglihatan mereka alhasil Tuan Farhan meraba empat tengkorak itu walau api nya sudah mereka padamkan tapi rasa panas itu masih terasa di kulit mereka.
Saat meraba tengkorak tersebut Tuan Farhan mempunyai firasat jika itu bukan tengkorak anaknya karena tengkorak itu terasa seperti tengkorak buatan.
__ADS_1
"Ayo cepat kita keluar dari sini api semakin memakan hangus bangunan ini, sepertinya anak-anak tidak ada, dan tengkorak ini hanya formalitas saja" ujar Tuan Farhan ia lantas berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut namun saat hendak keluar tiba-tiba sebuah bongkahan dinding semen terjatuh untung saja Alex segera menariknya ke belakang hingga membuatnya tidak terkena oleh semen tersebut.
"Uhuk, uhuk Tuan tidak apa-apa...?" Tanya Alex membantu Tuan Farhan berdiri.
"Tidak apa-apa tapi di sini sangat berbahaya ayo kita segera keluar" ujar Tuan Farhan dan Alex pun mengangguk setuju.
Mereka langsung berlari keluar dari ruangan tersebut saat sudah berada di luar ruangan mereka bingung harus melewati jalan apa karena tangga penghubung antara lantai empat dan tiga sudah terbakar dengan api menyala besar.
"Uhuk uhuk uhuk... Tangga itu sudah di makan oleh api, uhuk. Kita cari jalan lain saja, tapi api nya benar-benar besar di sini" kata Tuan Farhan.
"Uhuk uhuk, apa kita loncat saja dari sini Tuan...?" Tanya Alex.
Tuan Farhan melihat sekeliling mencari jalan alternatif daripada harus melompat matanya sedikit perih akibat asap jadi ia tidak terlalu melihat jelas.
"Kita cari jalan lain saja, ayo ikuti aku" ajak Tuan Farhan yang langsung melangkahkan kakinya walau badan mereka sudah terasa panas sekarang.
Di sisi lain
Seorang pria kekar tengah menggendong dua gadis kecil dan di ikuti dua bocah kecil laki-laki di samping nya, mereka melewati lorong panjang dan gelap namun samar-samar mereka mendengar suara orang berbicara di depan sana.
"Kita berhenti dulu kalian jangan bicara yah sepertinya di sana adalah orang jahat" bisik pria tersebut.
"Uhuk, uhuk. Paman sholeh telima kasih sudah menolong Lia dan saudala Lia" ujar Aulia memeluk erat leher pria itu sedangkan Alexa sudah merasa lemas di dalam gendongan pria yang bernama Sholeh.
"Cepat kita keluar jalan ini tidak akan lama lagi akan runtuh" jelas Anindita bersama empat anak buahnya. Mereka berjalan cepat tanpa tahu jika salah satu anak buahnya telah berkhianat.
Satu jam yang lalu
Setelah Sholeh keluar dari tempat penyekapan empat kerucil itu ia tak sengaja melihat Anindita dan empat pria berbadan kekar menyiram bahan bakar di lantai empat dan membakarnya, Sholeh bersembunyi di salah satu sudut yang tidak terlihat oleh Anindita dan empat pria kekar.
Sholeh tidak ambil pusing dengan apa yang di lakukan oleh Boss nya itu setelah mengamati lebih lama ia melihat Anindita dengan empat pria lainnya berjalan ke arah sebuah pintu yang menyerupai dinding saat Anindita mendorong dinding itu dan membuat dinding tersebut terbuka, mata Sholeh membulat sempurna karena terkejut.
"Apakah itu jalan rahasia aku akan mengikuti nya tidak ada jalan lain tangga di sana sudah di bakar nya" batin Sholeh masih menatap ke lima orang tersebut.
Saat pintu itu kembali tertutup Sholeh buru-buru berjalan ke arah pintu rahasia ia mendorong dinding tersebut dan dinding itu langsung bereaksi terbuka lebar namun saat hendak melangkah masuk tiba-tiba ia mengingat istri dan anak yang sedang di kandung oleh istrinya sekarang.
"Aku tidak mau jika aku akan bernasib sama seperti ayah mereka, aku akan kembali" batin Sholeh. Ia langsung berbalik arah dan berjalan sesekali berlari karena api di lantai tersebut semakin menyebar cepat. Namun sebelum itu ia membawa empat tengkorak buatan yang entah darimana asalnya ia tak sengaja mendapatkan nya di gedung tua itu.
Dengan berlari ia masuk ke dalam ruangan tempat penyekapan empat kerucil Black Wolf. Sholeh mendengar suara teriakan Aulia yang memanggil namanya ia begitu tersentuh.
"Aku akan menyelamatkan kalian" gumam Sholeh sembari tersenyum tulus.
__ADS_1
CEKLEK
Pintu terbuka lebar Sholeh melihat empat anak kecil itu tengah kesusahan bernapas.
"Maafkan aku, ayo kita keluar sebelum api nya makin besar" titah Sholeh.
Azhar mendorong kepala Aulia agar keluar dari baju nya ia berdiri membantu adik perempuan nya.
"Uhuk, uhuk. Paman Lia tidak kuat lagi... Uhuk, Uhuk..." ucap Aulia berjongkok.
"Biar paman menggendong mu, ayo cepat keluar" ujar Sholeh. Pria itu langsung mengendong Aulia seperti bayi koala.
"Paman tolong gendong Leca juga dia tidak kuat lagi" teriak Hamas membantu Alexa untuk berdiri.
"Oke, aku akan menggendong nya kalian berdua keluar duluan" Sholeh berjongkok dan meraih tubuh mungil Alexa untuk di dekapnya jadi pria itu mengendong Aulia dan Alexa, tangan kanannya menyanggah tubuh Aulia dan tangan kirinya menyanggah tubuh Alexa.
Sebelum mereka meninggalkan tempat itu Sholeh sudah meletakkan empat tengkorak sebagai pengganti empat kerucil itu agar Anindita percaya bahwa sandera nya sudah mati terbakar Sholeh menaruh tengkorak-tengkorak tersebut di sudut ruangan lalu mengunci kembali pintu ruangan penyekapan.
Sampai akhirnya mereka selamat dari kobaran api besar walau mereka belum selamat karena api semakin menyebar dan asap juga sudah masuk ke dalam lorong rahasia itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung
Beri like dan Vote nya yah jangan lupa untuk komen guys 😘😘**
__ADS_1