
Happy reading beri like dan komen nya yah 🤗🤗
dukungan teman-teman sangat membantu Author.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jons tidak jadi merokok di atap rumah sakit ia berjalan keluar mencari taman dan duduk di sana. Kebetulan ada sebuah kursi kayu panjang kosong bercat putih lantas kaki jenjangnya mengarah ke kursi kayu.
Menjatuhkan bokongnya di atas kursi kayu. Tangannya mengambil satu bungkus rokok dengan korek di dalam saku jeans belakang. Menikmati terpaan angin di bawah pohon rindang.
Di ambilnya satu batang rokok dan membakar nya saat menyalakan korek api. Menyesap rokok di jari nya hingga asap rokok tertampung di dalam mulut dan menghembuskan nya ke udara, asap rokok mengepul membentuk huruf O.
"Siapa sebenarnya yang mau mencelakai kami...? Tidak mungkin Geng Carvendal dan Straccks Cruel... Mereka sudah di bantai oleh anggota Hades Khithonios, lebih baik aku suruh anggota Black Wolf untuk mencari tahu siapa di balik semua ini" Gumam Jons kembali menyedot rokok di tangan nya kemudian menghembuskan asap ke udara lagi.
Meraih ponsel di saku depan Jeans dan mencari nomor Anak buahnya.
"Halo Rey cari tahu siapa musuh yang sudah menyerang kami hari ini di pantai Pandawa aku mau data nya hari ini juga...!" Titah Jons saat panggilan telepon terhubung.
"Baik Boss" jawab seorang pria dari sebrang telepon. Jons memutus sambungan sepihak dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jeans nya setelah itu kembali menyesap rokoknya yang tinggal sedikit itu.
Mengehela napas panjang lalu beranjak dari duduknya membuang puntung rokok setelah mematikan api di ujungnya. Kakinya melangkah nenuju rumah sakit ia sudah lama berada di luar takut jika Tuan suaminya siuman dan tidak mendapati dirinya di sana. Kalian tahu lah tempramen raja Hades kalau tidak melihat Ara nya itulah sebabnya Jons segera menuju ke ruang tempat Tuan Farhan.
Di sisi lain Tio masih menemani Aulia tidur di atas bangsal, gadis kecil itu sudah terlelap di pelukan Tio, ingin sekali Tio beranjak takut jika ada yang lihat namun ia tak mau menganggau tidur Nona mudanya alhasil ia membiarkan tubuhnya di peluk oleh Aulia dan dirinya ikut tertidur. Tio berharap agar tidak ada yang datang namun sepertinya Tuhan tidak berpihak padanya.
Kini Richo dan Sandy menatap tajam ke arah pria di atas bangsal siapa lagi kalau bukan Tio.
"Ric apa Tio meniduri Nona Aulia...?" Bisik Sandy pada Richo langsung mendapat pukulan kecil dari sahabat nya.
"Jangan asal bicara atau kita akan kena getahnya!" Sahut Richo dengan jari telunjuk mengarah di bibir Sandy.
"Jika di rumah sakit Tio melakukan hal cabul seperti itu bagaimana dengan di Mansion nanti nya...? Aku harus menolong Tio sebelum ia di bunuh oleh Jons" Gumam Sandy dalam hati.
Sandy terus berpikiran buruk tentang Tio ia berpikir untuk secepatnya menyadarkan sahabat nya itu untuk tidak melampiaskan nafsunya pada Aulia yang notabenenya anak dari pembunuh bayaran. Karena sudah lama milik sahabat nya itu tidak pernah masuk ke sarang Tuan kedua. Tidak sadar jika dia juga sama.
__ADS_1
"Ayo kita bangunkan Tio sebelum Jons datang" ujar Richo tiba-tiba namun saat melangkah menuju Richo terdengar suara pintu terbuka. Kedua pria itu sontak menoleh ke belakang dan benar saja Jons yang membuka pintu ruangan VVIP A.
Mata Jons memicing dengan alis berkerut kecil memandang heran dua sahabat prianya yang seperti sedang menutupi sesuatu darinya.
"Ada apa dengan kalian berdua...?" Tanya Jons masih menatap Richo dan Sandy bergantian.
"Eh, anu Jons i-itu..." Gagap Richo sembari menggaruk-garuk pelipis nya.
"Ada apa...?" Jons semakin mengintimidasi dua pria di depan nya.
"Anu, itu Jons temani kami keluar" Sandy berbicara cepat. Sedangkan Jons belum mengalihkan pandangannya dari Richo dan Sandy.
"Ah yah benar kami ke sini mengajak mu jalan-jalan selain itu membahas penculikan itu" Richo ikut menimpali sembari tersenyum masam.
Jons menyeringai "tidak perlu aku di sini saja, aku ingin menjaga suami dan anak ku dan kasus penculikan itu sudah ku tangani, lagipula ada satu tahanan bersama kita" Jons berjalan hendak ke arah bangsal suaminya namun langsung di cegat oleh Richo dan Sandy, karena jika Jons ke sana itu berarti Tio akan ketahuan.
"Tidak takut jika aku akan mengeluarkan darah kalian hmmm...?" Jons menatap datar wajah Richo dan Sandy membuat dua pria itu menelan ludah kasar dan spontan saja mereka melepas tangannya dari bahu Jons.
"Aku ingin lihat apa yang kalian sembunyikan dari ku" Jons berjalan dan netranya menangkap sosok jangkung yang ikut berbaring di bangsal putrinya. Karena Tio tidur menghadap ke arah pintu masuk hingga membuat siapapun langsung melihat wajah Tio.
Mata Jons melebar seketika
Apa sedekat itu Tio dan putrinya yang harus ikut tidur dengan memeluk erat apalagi di lihat dengan jelas Aulia ikut membalas dengan kaki menindih kaki Tio. Pikir Jons.
Richo dan Sandy menutup mata mereka tidak berani menyaksikan kekejaman pembunuh bayaran.
" Kita berdoa saja semoga Jons mendapat hidayah dan tidak membunuh sahabat nya sendiri" balas Richo ikut berbisik.
Masih dengan wajah datar dan tatapan dingin kakinya melangkah menuju bangsal Aulia menarik kursi hingga berhadapan dengan Tio dan menjatuhkan bokongnya di atas kursi besi.
Netranya masih setia menatap putri nya bergantian menatap Tio. Richo dan Sandy ikut mendekat ke bangsal Aulia. Mengamati wajah Jons takut berubah menjadi bringas waktu di depan musuh.
"Apa kalian berdua tahu alasan Tio tidur di atas bangsal bersama Aulia...? Sedangkan ada sofa panjang di ruangan ini?" Tanya Jons bersedekap menaikkan sebelah alisnya menatap datar wajah Richo dan Sandy.
GLEK
Richo dan Sandy menelan ludah kasar.
"Mungkin lebih nyaman jika ada bantal guling" jawab Sandy asal. Membuat Jons berkerut.
"Apa putriku adalah bantal guling begitu...?" Jons menatap tajam Sandy. Richo melirik wajah Sandy yang ketakutan.
"Bodoh!" Umpat Richo dalam hati.
"Hehehehe bukan begitu maksud ku" gagu Sandy dengan tangan melambai di depan.
Karena kebisingan membuat Tio terganggu dan tersadar dari tidurnya matanya terbuka perlahan. Pertama kali ia lihat adalah Jons yang tengah menatapnya tajam seketika membuat tubuh nya merinding.
__ADS_1
"Jons? Astaga mati aku" gumam Tio dalam hati.
"Aku bisa jelasin" ujar Tio cepat dan dengan pelan Tio memindahkan kepala Aulia di atas bantal begitu pula dengan kaki Aulia.
Saat ingin turun Tio tak sengaja melihat dua sahabat nya Richo dan Sandy menatap Tio nanar.
"Kenapa aku tidak kunci pintu nya sekalian" Tio makin frustasi saat Jons beranjak dari duduknya menuju sofa. Trio jones mengikuti Jons dan Tio duduk di dekat Jons sedang dua sahabat nya berdiri di samping Tio.
"Jelaskan apa maksud mu Tio?!" Tanya Jons to the point ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Maaf Jons aku tidak bermaksud..." Ucapan Tio terpotong kala Jons menatap tajam ke arah nya.
"Jangan bertele-tele Tio! Langsung ke intinya saja...!".
"Nona Aulia meminta ku untuk tidur bersama nya sebagai bantal guling karena Nona Aulia tidak bisa tidur" jelas Tio dengan tarikan satu napas.
"Mulai hari ini tugas kamu mengurus Azhar dan Sandy yang akan mengurus Aulia" tegas Jons tanpa di bantah. Trio jones melebarkan matanya.
"What!!" Pekik Tio dengan jantung berdenyut nyeri.
"Astaga cobaan apalagi ini" batin Sandy.
"Cinta terhalang restu orang tua" bisik Richo dalam hati.
"Apakah Tio akan bunuh diri...?" pikiran konyol terus berputar di kepala Sandy.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1