Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 110 The Real psycho


__ADS_3

Happy reading 🤗


Beri like dan Vote nya dong kak 🙏🤗🤗


.


.


.


.


.


.


.


.


Pukul 17 : 45 Jons dan Richo sudah sampai ke Markas Black Wolf setelah melewati jalan angker yang akan membuat orang-orang penakut jadi gila. Saat sudah sampai di depan Markas barulah Richo dapat bernapas lega dan memutar tubuhnya menjadi duduk seperti biasa. Wajahnya berubah merah dengan napas memburu, peluh keringat bercucuran di tubuh nya bahkan bajunya sudah basah akibat keringat nya sendiri.


" Ayo keluar atau kau akan tinggal di dalam mobil...?" Jons tampak acuh pada Richo bukan tidak kasihan tapi ia mau membuat Richo untuk memberanikan diri dan percaya bahwa ia bisa menghadapi makhluk astral.


"Keluar! Aku mau keluar, gila jika aku tinggal sendiri yang ada para hantu wanita akan mengejar ku" jawab Richo cepat dan ikut turun dari mobil.


Jons terkekeh pelan " Yah jika kau tinggal aku takut jika kuntilanak akan menjadikan mu suaminya apalagi anaknya sangat butuh sosok ayah" jelas Jons tersenyum tipis nyaris tak terlihat melihat wajah tegang Richo.


Richo berlari dan merangkul pundak Jons "Jangan pernah katakan hal-hal menakutkan seperti itu atau aku akan kencing ketakutan di sini" Tutur Richo mendengus kesal. Jons terbahak.


Tak ambil pusing Jons berjalan masuk ke dalam Markas yang cukup besar memiliki tiga lantai di sana, Richo melepas rangkulan nya saat sudah masuk ke dalam Markas baru bisa bernapas lega.


"Kalian sudah datang" suara bariton terdengar dari bilik kamar, lampau di sana begitu temaram tak terlalu terang.


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar ingin melihat para dedemit itu" jawab Jons.


"Kalian lewat jalan mana...? Kalian tidak melewati gedung tua yang di pinggir jalan sana kan?" Tanya Rey dan itu membuat Richo langsung memberikan bogeman kecil di lengan Rey.


"Kenapa tidak bilang jika area itu sangat seram, untuk aku panjang umur jika sampai aku mati aku tidak akan melepas mu Rey...!" Sungut Richo menatap tajam ke arah Reyan.


"Maaf, maaf. Aku lupa tapi kan kalian selamat nanti jika pulang jangan lewat di sana lagi" Tutur Rey. Jons hanya menatap wajah dua pria di depan nya.


" Sudah bicaranya cepat tunjukkan di mana para kadal-kadal kecil itu" Jons tidak tahan lagi untuk melihat keberanian para musuh nya berani sekali menyelakai orang-orang tersayangnya.


"Ah yah baiklah mari aku bawa ke ruang bawah tanah" Rey langsung berjalan di depan menuntun jalan untuk Jons dan Richo. Anggota Black Wolf lainnya segera menunduk saat melihat Jons datang, wanita itu tak menjawab sapaan anggota Black Wolf berjalan dan hanya menatap lurus ke depan. Aura membunuh sangat terlihat jelas pada diri Jons bahkan tak pernah berubah dari awal itulah sebabnya para anggota Black Wolf sangat menyegani Jons.


Membuka pintu menuju ruang bawah tanah hanya ada obor yang menemani kegelapan di area tersebut Jons berjalan dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana jeans nya membuat nya terlihat sangat cool.


Di ruang yang sangat luas terlihat tiga orang pria yang terikat di masing-masing kursi kayu Jons melihat itu menyeringai sesaat.


"Mereka ini yang tertangkap CCTV kamera di pantai Pandawa sebenarnya mereka ada empat orang tapi yang kami dapat hanya..." Ucapan Rey terpotong kala Jons mengangkat tangannya ke udara mengisyaratkan untuk tak perlu menjelaskan lagi, Rey mengangguk pria itu paham untuk tidak bertele-tele.


"Ambil aku kursi Richo!" Perintah Jons tegas. Richo langsung menjalankan tugasnya kebetulan terdapat empat buah kursi yang tak jauh dari tempat tiga orang itu terikat. Richo mengambil satu kursi kayu dan menaruhnya di samping Jons. Dengan angkuh Jons duduk di atas kursi kayu menatap datar wajah tiga pria di depan nya.


"Apa mereka senyaman itu untuk menghadapi kematian mereka Rey?!" Tanya Jons karena tiga pria terikat itu sepertinya masih pingsan.


"Aku akan membangunkan mereka" Rey mengambil satu buah gen berisi air yang memang sudah di siapkan untuk musuh nya.


BYUUUR

__ADS_1


BYUUUR


BYUUUR


Rey menyiram tiga pria yang terikat di kursi itu seketika mereka tersadar dan terkejut mendapati Jons dan dua pria di dekatnya.


"Brengsek! Lepaskan kami bedebah...!! Apa yang kalian inginkan?" Teriak salah satu dari tiga pria tersebut. Jons terkekeh jenaka.


"Masih berani teriak rupanya" kata Jons datar tangan nya terulur mengambil bungkusan rokok di dalam saku jeans ia membuka bungkusan itu dan mengambil sebatang rokok di bakar nya lalu di sedot nya. Sisanya Jons memberikan pada Richo.


"Gila! Apa yang kalian inginkan?" Mereka memberontak sedangkan Richo dan Rey hanya menatap dingin dan berdiri di belakang kursi Jons.


"Ck! Tentu saja nyawamu teman" jawab Jons berjalan maju ke depan tempat tiga pria itu berada. "Biar ku coba meyakinkan kalian" Jons memainkan rokok di tangan nya ia mengarahkan ujung rokok yang terbakar pada jakun tiga pria itu membuat mereka menjerit kesakitan.


"Aaaaaahhhhhh SAKIT WOEEEE"


"Lepaskan!! Cukup katakan saja apa yang kalian mau!!!"


"Permohonan di terima, langsung saja siapa yang menyuruh kalian menculik empat anak kecil...? Kalian tahu bagaimana keadaan mereka...? Sangat parah kalian hampir membunuh nya!!" Jons mengepal tangannya kuat, matanya menatap nyalang tiga pria di depannya ia begitu murka sedang pria yang menjadi tahanan itu sudah menggigil ketakutan.


"Ka-kami hanya di suruh saja, tidak ada pekerjaan lain selain melaksanakan penculikan itu untuk mendapat uang" Seru salah satu pria terikat. Jons tertawa sinis.


"Rey mana pisau lipat...?" Tanya Jons berbalik badan menatap Reyan.


Reyan dengan sigap langsung memberikan pisau lipat di kantong celana nya. "Ini" Jons meraih pisau tersebut memperlihatkan ketajaman pisau pada para tahanan nya.


"Ja-jangan gila untuk melukai kami!!"


"Ku mohon kami masih memiliki keluarga untuk di kasih makan, jangan bunuh kami"


Mereka memohon dengan wajah memelas bahkan kini wajah mereka sudah pucat pasih akibat takut pada Jons, memikirkan kematian tiba-tiba membuat mereka ketakutan bagaimana dengan keluarga mereka di rumah?.


Hening. Mereka tak menjawab karena mereka sudah bersumpah untuk tidak memberitahu apapun tentang Boss mereka dan itu semakin membuat Jons kesal.


SREEEEEK


CHIIIIIT


SREEEEEK


Jons mengayun pisau pada bahu tiga pria tersebut di sobek nya hingga mengeluarkan darah tak sampai situ ia juga menusuk pisau lipat hingga masuk ke dalam daging.


"AAAAKKKHH brengsek! Lepaskan woyy sakit sekali"


"Au, kau benar-benar melukai kami!!"


"Tidak...! sudah cukup!!"


"Cepat katakan siapa yang menyuruh kalian bangsat!!" Bentak Jons masih memegang pisau nya.


"Kami tidak akan bilang!!" Teriak mereka. Jons tertawa sinis.


"Richo nyalakan rokok untuk ku!" Perintah Jons tanpa mengalihkan pandangan nya dari tiga pria terikat itu mereka sudah takut-takut kegilaan apalagi yang akan mereka dapatkan.


"Apa yang perempuan gila ini lakukan...?" Batin salah satu pria.


"Bodoh! Kenapa tidak jujur saja" bisik Richo dalam hati.


"The real psycho" gumam Reyan.

__ADS_1


"Ini Jons" Richo menyerahkan satu batang rokok yang sudah di bakar nya. Sebelum melakukan aksinya Jons menyedotnya kasar dan mengepulkan asap di wajah tiga pria bodoh menurut nya.


"Heheheh,, sudah siap hmmm...?"


"Apa yang ingin kau lakukan wanita gila!!" Seru mereka. Jons makin terbahak ia mendekatkan ujung rokok yang terbakar hingga menyentuh kulit leher salah satu pria.


"AAAAKKKHH sakit! Panas!!" Teriaknya menggema dua temannya sudah gemetaran.


"Katakan atau akan lebih sadis dari ini?" Tanya Jons masih asyik dengan kegiatan gilanya.


"Anindita, wanita itu yang menyuruh kami" jawab pria yang terbakar tadi karena tidak menahan rasa sakit pada area bahu juga lehernya. Jons menghentikan aksinya alisnya berkerut sedang berpikir.


"Anindita karyawan hotel...?"


"Kami tidak tahu yang jelas wanita itu adalah wanita terkaya di kota Bali, dan termasuk pemilik hotel" jawab mereka takut-takut.


"Oh rupanya wanita itu? Tapi kenapa menyerang kami?" Batin Jons. Ia yakin Anindita yang bekerja sebagai pelayan di hotel privat.


"Kami sudah mengatakan nya apakah kami akan di lepas?" Tanya mereka dengan wajah sayu, darah mereka masih saja keluar jika di biarkan mungkin akan kehilangan banyak darah dan mati.


"Tentu saja... Tapi aku belum puas" Jons tertawa setan.


"Tuh kan muncul kegilaan Jons bisa gawat kalau gini" batin Rey.


"Brengsek kau menipu kami!!"


"Sssttt, tenanglah sedikit, aku akan memberikan kenangan-kenangan agar kalian tidak lupa saat bertemu dengan ku nantinya" ujar Jons kembali mengayunkan pisau nya menuju wajah ke-tiga nya di goresnya pipi mereka berbentuk horizontal.


"Aakkkkh sakit jangan lakukan itu!!!" Mereka berteriak kesakitan. Setelah memberi tanda horizontal di wajah mereka Jons membuang asal pisau yang di pakai.


"Rey, perintahkan anak buah mu untuk membuang mereka di gedung tua horor di sana" ujar Jons.


"What!!" Pekik Richo dan Reyan bersamaan.


"Tolong lepaskan kami!" Seru tiga pria itu namun tak di hiraukan.


"Kenapa? Tidak mau? Jangan bilang kalian akan bernasib sama seperti tiga pria itu!!" Seru Jons menatap datar wajah Richo dan Rey, mereka menelan ludah kasar.


"Aku tidak mau gila karena hantu" batin Richo merasa was-was.


"Inilah yang aku takutkan" bisik Rey dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2