Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 125 Nasehat


__ADS_3

Happy reading beri like serta komennya yah


🤗🤗🤗🤗🤗😴😴


.


.


.


.


.


.


Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil yang di kendarai oleh sekertaris Rio, Tuan Farhan duduk di samping kursi kemudi sedangkan dua bocah laki-laki duduk di kursi penumpang belakang.


"Apakah kita akan membahas masalah kantor di apartemen atau mencari tempat baru Tuan...?" Tanya Rio pada Tuan Farhan sembari melirik dua kerucil Iblis lewat kaca spion.


"Di restoran saja, aku takut jika membawa mereka di apartemenmu itu akan menghancurkan apartemenmu dan aku tidak akan bertanggung jawab" Jawab Tuan Farhan melirik dua bocilnya dari kaca spion juga.


"Yaaahh! Daddy pikir kami itu tukang perompak yang mau merampok barang-barang milik Om Rio! Oh tentu Daddy salah besar, barang-barang Om Rio tidak ada yang penting untuk di ambil..." Protes Hamas atas jawaban dari si Jelangkung batangan melipat tangannya di atas perut wajahnya langsung masam mendengar pernyataan sang Daddy yang tak mengenakkan hati.


"Cih! Bahkan apartemen Om Rio kami bisa memberinya (membelinya)" Timpal Azhar. Raja Iblis tertawa kecil sedangkan sekertaris Rio jangan di tanya lagi seperti apa eskpresi wajahnya saat ini benar-benar sangat di sayangkan.


"Apalah aku ini, yang hanya seorang pria miskin yang tak punya apa-apa... Bahkan juga di remehkan oleh anak kecil, huh kudu bersabar jika pengen kaya hiks" Adu sekertaris Rio dalam hati. Mengusap dadanya pelan untuk menetralisir rasa batin yang sungguh menyayat hati.


"Benar-benar anakku" Tutur raja Iblis dalam hati.


Hey raja Iblis kau berbangga diri karena para penerusmu ikut mewakili kesombonganmu huh! Orang tua kaga ada akhlak memang... Hmmm,, tapi memang benar raja Iblis kan hidup dengan kesombongan jadi tidak salah jika penerusnya ikutan sombong yah kali penerus raja Iblis terlahir menjadi seorang ustadz atau ulama, mau taruh di mana wajahnya di kerajaan neraka nanti. Ntar dirinya di hujat sama penghuni neraka kan gak lucu. Hehehhe. Ngelawak malah garing.

__ADS_1


"Hehehe Tuan muda kecil, tahu saja jika Om ini gak ada harta berharganya, kalian memang anak-anak yang cerdas" Ujar sekertaris Rio yang berbeda 180° di dalam hatinya. Jika dalam hati ia menyumpahi kesialan untuk dua kerucil sombong maka berbeda dengan kenyataan ia malah memujinya.


Hamas dan Azhar menatap malas pada sekertaris Rio yang tidak pro dengan isi hatinya. " Om apakah masih rama?" Tanya Azhar pada sekertaris Rio. Pria itu mengernyitkan alisnya tinggi tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Azhar padanya.


"Rama?" Tanya sekertaris Rio mengulang.


"Azhar sedang bertanya apakah masih lama sampainya?" Tuan Farhan membantu translate ucapan sang putra yang tidak bisa mengucap huruf L memang sulit di mengerti jika orang yang baru mendengarnya.


Sekertaris Rio menggaruk keningnya yang terasa gatal ia tersenyum kaku saat melihat wajah Azhar yang sudah melotot tajam padanya. "Hehehehe Tuan muda kecil lucu juga... Tidak lama lagi kita sampai tapi kita ke apartemen Om dulu ambil berkas kantor setelah itu baru kita ke restoran" Jawab sekertaris Rio.


"Hmmm... Oke Om jangan lama yah kami sudah lapar" Tutur Hamas sembari mengelus perutnya yang tengah keroncongan. Tuan Farhan melirik ke belakang melihat dua bocah laki-laki yang sudah sangat lesu.


"Kenapa kalian tidak makan dulu di rumah?" Tanya Tuan Farhan.


"Maaf Daddy. Aku lupa" Jawab Hamas.


"Mungkin lima belas menit lagi akan sampai, kalian masih bisa tahan kan?" Tanya Tuan Farhan sedikit khawatir jika anaknya kelaparan dan malah sakit nantinya jika menahannya.


Selang beberapa menit mobil yang di tumpangi Tuan Farhan berhenti di depan apartemen besar, sekertaris Rio lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam apartemen miliknya untuk mengambil berkas-berkas penting. Sedangkan dua kerucil Iblis tengah menatap takjub bangunan megah di depan mata.


"Dad, apakah ini adalah apartemen Om Rio?" Tanya Hamas yang benar-benar terpukau atas apa yang tengah di lihatnya eksterior dan strategis penetaan dekorasi apartemen itu sangat elegan dan indah di pandang. Dan itu terlihat hidup dengan adanya tumbuhan-tumbuhan cantik sebagai hiasan. tertata rapi di halaman depan juga ada kolam ikan.


"Iya, kenapa? Bagus bukan?" Tanya Tuan Farhan dengan kekehan kecil melihat wajah keterkejutan dua putranya.


"Kenapa tidak birang karau apartemen Om Rio sebagus ini!" Sewot Azhar mendengus kesal pada Tuan Farhan. Raja Iblis hanya tertawa jenaka ia melepas safety beltnya dan memutar tubuhnya menghadap Hamas dan Azhar.


"Itulah kenapa jangan menjudge apa yang belum kita lihat dan kita tahu... Ini baru di luarnya belum lihat di dalamnya apa isinya bukan...?" Jelas Tuan Farhan menjitak kening dua bocah laki-laki itu membuat keduanya memekik sakit.


"Aww Dad sakit tahu" Sungut Hamas dan Azhar mengelus kening yang baru saja di jitak oleh sang Daddy.


"Itu adalah hukuman karena sudah berbicara tidak baik kepada Om Rio, ingat jangan pernah meremehkan harta ataupun kedudukan seseorang kita tidak tahu apakah selamanya kita di beri kekayaan atau akan menjadi miskin, bumi yang kita pijak ini selalu berputar itu berarti kemungkinan harta yang kita miliki sewaktu-waktu akan menghilang... Kalian mengerti kan apa yang di jelaskan Daddy tadi" Jelas Tuan Farhan tegas. Ia tidak mau jika anak-anaknya akan memandang rendah orang lain, tak selamanya ia hidup ada saatnya ia akan meninggalkan keluarganya dan tentunya anak-anaknya ini harus mandiri dan raja Iblis berharap orang-orang mau membantu anak-anaknya ketika kesusahan.

__ADS_1


"Iya Dad kami mengerti terima kasih" Jawab Hamas dan Azhar bersamaan.


"Bagus, ini baru anak Daddy" Ujar Tuan Farhan tersenyum lebar ia kemudian membalikkan posisi duduknya seperti semula... Ia kemudian memasang sabuk pengaman di tubuhnya. Tak lama sekertaris Rio pun datang dan segera masuk ke dalam mobil kursi kemudi.


"Maaf sudah membuat Tuan menunggu lama" Tutur sekertaris Rio setelah memasang safety beltnya.


"Tidak masalah... Kita ke mall saja ada yang ingin aku lakukan di sana" Jawab Tuan Farhan dan sekertaris Rio mengangguk mengiyakan.


" Azhar, apa kau tahu Daddy makan apa sebelum keluar dari Mansion?" Tanya Hamas berbisik pelan di telinga Azhar. Bocah gondrong itu menatap wajah abangnya.


" Tidak ada Bang, tapi bukankah kita melewati orang yang sedang memutar ceramah, bisa jadi Daddy sudah sadar karena mendengar sound sistem tadi" Jawab Azhar berbisik di telinga Hamas. Hamas mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.


"Sepertinya begitu, hari ini Daddy terlihat berbeda kita harus merayakannya" Balasnya dan langsung di sambut kekehan keduanya. Tuan Farhan dan sekertaris Rio hanya menatap heran dua bocil di belakang yang terlihat bahagia sampai tertawa seperti itu padahal tidak ada yang lucu... Namun mereka tak menghiraukannya.


Setengah jam mengendarai mobil hingga mobil Lexus berwarna deep blue mica itu berhenti di parkiran mobil mall terbesar dan itu termasuk properti milik Tuan Farhan.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2