
Happy reading 🤗
.
.
.
.
.
.
Tuan Farhan berjalan gontai masuk ke dalam Mansion Utama. Yah dia gagal menemukan Aranya di hutan lindung dan terpaksa dirinya harus pulang karena mengingat tiga kerucil Iblis dirinya bingung bagaimana menjelaskan kepada mereka jika Ara tidak ketemu.
Membawa laju motor Jons bernama Jody tidak pusing dengan lalu lintas saat ini ia ingin sampai di Mansion Utama memeluk tubuh tiga kerucilnya memberikan kekuatan pada anaknya.
Dirinya saja sangat sedih kehilangan wanitanya bagaimana dengan anak-anaknya yang masih kecil bahkan masih membutuhkan kasih sayang Mommy mereka.
"Apa yang harus ku katakan pada anak-anak?" batin Tuan Farhan meraup wajahnya kasar. Dengan langkah berat ia memasuki ruang utama keluarga namun tak mendapati keberadaan tiga kerucil ia bergegas naik ke lantai atas mengecek anak-anaknya di kamar masing-masing.
Tok tok tok tok
Tok tok tok tok
"Hamas apa kamu di dalam sayang...?" teriak Tuan Farhan saat sudah menetralkan suaranya.
"Daddy sudah kembali Zhar, Lia, ayo kita hampiri Daddy... Mommy pasti sudah pulang" ujar Hamas tersenyum senang kedua bocah itu ikut tersenyum lebar mereka bergegas turun dari kasur berlari ke arah pintu.
CEKLEK
"Mommy!" teriak ketiganya dengan senyum lebar di bibir mereka dan hal itu membuat Tuan Farhan mematung.
"Maafkan Daddy sayang... Mommy kalian tidak bersama Daddy, Daddy gagal menemukan Mommy kalian sayang" bisik Tuan Farhan dengan tangan terkepal kuat.
"Dad di mana Mommy? kenapa Mommy tidak kelihatan?" tanya Hamas penasaran matanya menelisik ke kiri dan ke kanan tapi tidak menemukan Jons.
__ADS_1
Tuan Farhan tersenyum kecut ia berjongkok menjatuhkan kedua lututnya di atas lantai menatap wajah ketiga anak-anaknya dengan perasaan sedih.
"Mommy sudah tidak ada!" jawabnya tegas, sorot matanya memancarkan amarah kala ungkapan yang tidak ingin keluar akhirnya keluar dari mulutnya juga.
"A-apa maksud Daddy?" tanya tiga kerucil dengan alis terangkat heran.
Menelan ludahnya kasar dan menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan-lahan. "Mommy kalian sudah tiada... tapi Daddy percaya Araku masih hidup" sambungnya dalam hati.
"Tidak mungkin!" seru ketiganya menatap tajam wajah Tuan Farhan, tidak percaya dengan kenyataan yang baru di lontarkan Daddy mereka.
"Tidak! Mommy tidak boleh pelgi Daddy pasti bohong sama Lia kan? Mommy! Mommy!" tangis Aulia meneriaki nama Jons. Tuan Farhan memeluk erat tubuh putri kecilnya.
"Maafkan Daddy sayang, maaf tidak bisa menjaga Mommy dengan baik Daddy salah Daddy adalah laki-laki lemah" tutur Tuan Farhan menahan sesak di dadanya.
"Mana mungkin Mommy pergi sedangkan Mommy sudah berjanji akan purang" gumam Azhar yang sudah menangis, kepalanya tertunduk menatap lantai berwarna putih.
Tuan Farhan merengkuh tubuh Azhar juga Hamas memeluk ketiganya erat. "Kalian yang kuat menghadapi kenyataan ini, maafkan Daddy yang tidak bisa menjadi pria sejati maaf sayang tidak menjaga Mommy kalian sehingga kalian harus kehilangan seorang Mommy sekecil ini" lirih Tuan Farhan meneteskan air matanya.
Ketiga kerucil melerai pelukannya menatap sendu wajah rapuh Tuan Farhan. Tangan ketiganya terulur menghapus buliran bening yang membasahi pipi raja Iblis.
Aulia mencium kelopak mata Tuan Farhan. "Jangan sedih Dad, ini bukan salah Daddy Lia sayang Daddy..., Daddy halus jaga kesehatan... agal bisa melindungi kami nantinya" ujar Aulia tersenyum tipis dengan air matanya yang mengalir.
"Terima kasih sayang, terima kasih" Tuan Farhan mencium pucuk kepala Aulia.
"Kami akan menjadi anak baik dan penurut Dad..." ujar Hamas berusaha menjadi pria dewasa.
"Kami sudah berjanji sama Mommy tidak akan membuat Daddy sedih, kami akan menjadi anak baik dan kuat" timpal Azhar tersenyum tipis. Ketiga kerucil Iblis menyembunyikan kesedihan mereka tidak ingin membuat Daddy mereka menderita karena hanya Tuan Farhanlah seseorang yang begitu penting dalam hidup mereka.
"Aku akan mencari Mommy jika sudah besar nanti... Mommy masih hidup!" tegas Hamas dalam hati.
"Baiklah, kalian masuklah ke kamar dan istirahat" titah Tuan Farhan berusaha melebarkan senyumnya.
Triplets mengangguk dan berjalan ke kamar Hamas. Mengunci pintu dari kamar. Tuan Farhan tersenyum kecut melihat kepergian anaknya.
"Daddy tahu kalian pura-pura kuat di depan Daddy... maaf sayang" lirih Tuan Farhan berbalik badan menuju kamarnya. Berjalan ke arah kamar mandi menyalakan shower... guyuran air membasahi tubuhnya yang masih di baluti pakaian lengkap.
"Ara, Ara" Gumamnya pelan bersamaan dengan linangan air matanya yang terjatuh bercampur dengan air.
__ADS_1
Sedang di kamar Hamas ketiganya kembali berpelukan menjatuhkan air mata yang sempat tertahan tadi.
"Hiks, hiks, abang. Mommy masih hidup kan Daddy pasti belbohong kan?" tanya Aulia menatap wajah Hamas dan Azhar. Kedua kakaknya menunduk lesu.
"Mommy hanya pergi sebentar, kamu jangan cengeng kita harus kuat karena jika kita kuat Mommy akan kembali pada kita" jelas Hamas tegas. Ia yakin suatu hari Mommy mereka akan datang dan berkumpul seperti semula.
"Ria jangan centir yah, Ria harus jadi perempuan seperti Mommy" tutur Azhar dan Aulia hanya mengangguk tanpa berkata lagi. Hamas dan Azhar mengacak-acak rambut Aulia membuat si centil mengerucutkan bibirnya.
"Nanti lambut Lia belantakan!" ketusnya mendelik jengkel pada kedua abangnya yang suka sekali mengacak-acak rambut cantiknya.
Cup
Cup
Dua kecupan mendarat di kedua pipi Aulia siapa lagi kalau bukan kedua abangnya.
"Jangan ngambek ayo kita belajar lagi... tidak lama lagi kita masuk sekolah" ajak Hamas.
"Oke! semangat!" Azhar mengepal tangannya dengan sikunya di tekuk sedang kepalan tangan terangkat sejajar dengan wajahnya.
"Ayo menjadi kuat supaya Mommy cepat pulang!" seru Aulia berteriak kencang terlihat wajahnya yang sudah mulai berseri tidak seperti tadi yang tampak kusut layaknya benang yang tergulung menjadi bola.
"Maafin abang Lia" batin Hamas menatap sendu wajah adik perempuannya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung