
Happy reading 🤗
like Vote like vote like vote like vote like vote
.
.
.
.
.
.
.
.
Di Mansion Utama Alexa sedang mencari keberadaan Hamas dan dua kerucil namun tak kunjung ia temukan. Alexa kembali mendatangi Amanda di kamar mereka.
"Mama, Mama. Abang Hamac tidak ada..., Leca tidak lihat Abang Hamac dan yang lain di cini" jelas Alexa saat masuk ke dalam kamar. Amanda yang baru saja memakai pakaian ganti langsung menghampiri putrinya yang baru masuk.
"Abang Hamas mungkin lagi keluar sayang, kita tunggu saja yah nanti Abang Hamas akan pulang" jelas Amanda lembut.
Alexa menundukkan kepalanya ia ingin sekali bertemu dengan Hamas gadis kecil itu sangat merindukan Hamas entah kenapa ia sangat nyaman juga begitu menyukai Hamas berada di sisinya..., terasa nyaman.
"Leca mau ketemu Abang Hamac cekalang Mama..., Leca lindu abang hiks" tangis Alexa membuat Amanda merasa sedih. Menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.
"Baiklah ayo kita tanya tante Jons dulu" ajak Amanda dan langsung mendapat anggukan antusias dari Alexa seperti baru mendapat mainan baru sangat bahagia.
"Putriku begitu menyukai Hamas bagiamana jika Hamas meninggalkan Alexa apakah putriku akan baik-baik saja...?" batin Amanda menatap sendu wajah putrinya.
Mereka kemudian berjalan keluar dari kamar menuju lantai dua pergi ke kamar Jons mungkin Jons tahu keberadaan Hamas namun sebelum itu mereka melewati ruang keluarga di sana mereka melihat Nyonya Mita dengan cepat Alexa menghampiri.
"Nenek!" seru Alexa menghentikan langkah Nyonya Mita. Wakil Mafia tersenyum lebar pada Alexa.
"Ada apa sayang...?" tanya Nyonya Mita mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Alexa.
"Hiks, Leca mau ketemu Abang Hamac tapi abang tidak ada huhuhu..., Leca lindu abang Nenek" tangis Alexa lagi. Amanda hanya menggeleng kepalanya pelan kenapa putrinya ini bertingkah seperti itu sangat memalukan apalagi di depan Bossnya.
"Hahahaha Leca lindu sama Abang Hamac hmmm...?" Alexa mengangguk antusias. Nyonya Mita terkekeh geli tangannya terulur mengacak-acak rambut Alexa gemas.
"Tadi Om Farhan telepon mereka akan tidur di rumah Uncle Tio malam ini..., jadi Leca harus tunggu sampai besok pagi" jelas Nyonya Mita. Alexa langsung membulatkan matanya terkejut.
"Leca mau ke lumah Uncle Tio Nenek, pleace, Leca mau tidul sama Abang Hamac hiks, hiks, bolehkah kan Nek" tutur Alexa merengek dengan wajah imutnya membuat Nyonya Mita terbahak. Nyonya Mita kemudian melirik ke arah Amanda yang tengah menahan malu.
"Amanda kamu cari Richo untuk mengantar Alexa ke Apartemen Tio jangan biarkan anak kecil menangis, itu akan terbiasa hingga besar nanti" jelas Nyonya Mita dan Amanda mengangguk kepalanya pelan. Ia segera berjalan ke arah kamar Richo yang tak jauh dari ruang operasi bersebelahan dengan kamar Tio juga Sandy.
Sedangkan gadis kecil dengan rambut sebahu sudah tersenyum lebar. "Telima kacih Nenek, Leca cayang Nenek" tuturnya dengan penuh semangat ia memeluk erat tubuh Nyonya Mita.
"Hehehe baiklah, Nenek juga sayang sama Leca" jawabnya dengan senyum lebar, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah Alexa yang sangat ingin bertemu dengan Hamas.
Tak lama Amanda datang bersama Richo mereka berdiri di samping Nyonya Mita memberikan salam hormat.
__ADS_1
"Richo kamu bawa Alexa ke Apartemen Tio dia ingin bertemu dengan Abangnya Hamas" titah Nyonya Mita berdiri menatap wajah Richo juga Alexa.
"Baik Boss" jawab Richo. Nyonya Mita hanya mengangguk kecil. "Ayo Nona Alexa!" ajak Richo.
"Nenek, telima kacih Leca pelgi dulu..., daaah" ujar Alexa melambaikan tangannya pada Nyonya Mita. Boss Mafia mengangguk dan ikut melambai.
"Dasar anak kecil!" gumam Nyonya Mita berjalan menuju kamarnya.
Di luar Amanda mengantar Alexa sampai ke mobil untuk pergi ke Apartemen Tio karena putrinya ini sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Hamas, ia tidak tahu perasaan seperti apa yang di miliki putrinya kepada Hamas. Ia hanya beranggapan bahwa perasaan itu adalah sesuatu yang biasa sebagai seorang adik kepada kakaknya sekalipun tidak ada ikatan darah. pikirnya.
"Leca jangan nyusahin Abang Hamas ataupun Om dan Tante di sana yah" ujar Amanda sebelum Alexa naik ke mobil.
"Iya Mama, Leca pelgi dulu daaah Mama" Amanda mengangguk. Dan Alexa segera masuk ke dalam mobil karena sudah tidak sabar bertemu dengan Hamas.
"Richo aku titip Alexa yah" pinta Amanda dan Richo mengangguk pelan.
"Uncle ayo kita berangkat" seru Alexa.
"Okay siap Tuan Putri" ucap Richo mengangkat tangannya memberi hormat Alexa terkekeh kecil.
Beberapa jam berkendara di jalanan yang sungguh padat mereka pun akhirnya sampai di depan gerbang Apartemen Tio.
"Lexa tunggu di sini dulu yah Uncle mau membuka gerbang di depan sana" ujar Richo membuka safety beltnya, Alexa yang duduk di kursi depan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Richo buru-buru keluar dari mobil berjalan ke arah gerbang yang sudah tertutup kebetulan Richo dan Sandy mempunyai kunci cadangan yang di berikan oleh Tio jadi tidak perlu repot-repot meminta kepada Tio lagi.
Setelah selesai Richo kembali berjalan ke mobilnya masuk ke dalam dan mulai mengendarai kembali.
"Ayo turun kita sudah sampai" ajak Richo pada Alexa. Richo membantu membuka sabuk pengaman dan keduanya pun turun dari mobil.
Masuk ke dalam menggunakan kunci cadangan.
"Lexa datang di sini sama siapa sayang?" tanya Jons. Mereka semua melirik ke sumber suara.
"Bersamaku Jons, Alexa merengek minta di antar kemari dia rindu sama Tuan muda kecil Hamas" jawab Richo tiba-tiba yang baru bergabung.
"Duduk dulu Ric, ayo kita makan" ajak Tio dan Richo mengangguk karena dirinya juga belum makan.
"Leca kangen sama abang Hamac kenapa tidak ajak Leca ke sini?" cemberut Alexa.
"Ayo sini sama abang" Hamas tersenyum simpul ia menarik kursi untuk Alexa duduk di bantu oleh Richo karena kursinya sedikit tinggi.
"Leca kenapa datang kemali? Tante Amanda tidak malah?" tanya Aulia menatap wajah imut Alexa.
"Tidak malah. Tante, Om, Leca tidul sama abang Hamac yah" pintanya dengan wajah memelas menatap Tuan Farhan dan Jons bergantian. Membuat Tuan Farhan langsung tersedak.
"Uhuk, uhuk, uhuk"
"Prince makannya pelan-pelan dong!" omel Jons yang langsung memberikan segelas air putih. Tuan Farhan langsung meminumnya hingga kandas.
Mereka semua menatap wajah Tuan Farhan.
"Leca kalau makan tidak boleh bicara yah nanti Om marah" bisik Hamas memperingati. Alexa mengangguk pelan.
"Apakah ini di pengaruhi oleh beberapa gaya saat pembajakan sawah...? kenapa anak sekecil Aulia dan Alexa ingin sekali tidur dengan lawan jenis mereka sih..., belum selesai masalah satu sudah timbul masalah baru" tutur Tuan Farhan memijat dahinya. Ia kembali makan tanpa menjawab. Semua kembali hening hanya suara dentingan sendok yang mengisi kesunyian malam.
__ADS_1
Beberapa menit mereka pun menyelesaikan makan malamnya Tuan Farhan dan para kerucil beranjak duduk di ruang keluarga sedangkan Jons, Tio, dan Richo membawa piring kotor ke dapur dan meletakkannya di wastafel.
"Tidak usah di cuci besok biar aku yang lakukan..., lebih baik kita ke ruang keluarga saja" tutur Tio.
"Apa tidak masalah Tio?" tanya Jons menaikkan sebelah alisnya.
"Ini hal yang mudah Jons, jangankan piring membersihkan Apartemen ini saja aku bisa" jawab Tio dengan wajah jenakanya.
"Ck menyebalkan!" gerutu Jons dan Richo bersamaan.
Mereka kemudian menemui Tuan Farhan di ruang keluarga Jons duduk di samping suaminya sedangkan Tio dan Richo duduk di kursi sofa yang bisa untuk dua orang dewasa. Dan para kerucil duduk di sofa panjang.
"Ada pekerjaan di Meksiko lebih tepatnya di kediaman Tuan Zeus Sined ayah angkat Ara aku sudah menghubungi Tuan Zeus kau bersiaplah Tio... besok kau harus berangkat aku sudah pesan tiket pesawat untukmu akan ada orang-orang Tuan Zeus yang menunggumu" jelas Tuan Farhan membuka percakapan dan sontak saja membuat semua di sana terkejut kecuali Jons.
Semua mata menatap penuh tanya pada Tuan Farhan.
"Sebenarnya Mama meminta kamu dan Richo juga Sandy untuk melakukan misi transaksi senjata terbaru di negara korea Utara namun aku tidak mengizinkan dan akhirnya anggota lain yang pergi menyelesaikan misi tersebut..., tidak ada bantahan kamu harus ke Meksiko sekarang!" Tegas Tuan Farhan lagi, mungkin dengan cara mengirim Tio ke negara lain Aulia pasti akan melupakan Tio.
"Daddy" Aulia menatap kesal Tuan Farhan namun tak di hiraukan oleh raja Iblis.
"Baik Tuan muda..., jangan khawatir aku akan melakukan sebaik mungkin" jawab Tio tak kalah tegas, ini adalah tugasnya jadi ia tidak punya kewajiban untuk menolak semua perintah Tuan Farhan adalah mutlak untuk di kerjakan.
"Kalau begitu aku permisi dulu Tuan muda, aku akan menyiapkan barang-barang yang akan di bawa besok" ujar Tio.
"Silahkan" jawab Tuan Farhan datar. Tio langsung pergi dari sana menuju kamarnya. Sedangkan Aulia sudah menangis sesenggukan. Richo tidak menjawab sesekali menghela napas panjang.
"Kasihan Tio semoga dia baik-baik saja saat bertugas nanti" batin Richo.
"Hiks, hiks, Daddy jahat kenapa halus mengilim uncle Tio ke tempat jauh!" tangis Aulia pecah.
"Sayang jangan nangis dong, Uncle Tio tidak lama di sana Uncle akan kembali jika pekerjaannya sudah selesai" jelas Jons memeluk Putri kecilnya.
"Jangan nangis dong sayang, Uncle Tio akan kembali lagi untuk Lia jangan sedih yah" bujuk Tuan Farhan ikut berjongkok di depan Aulia, si centil masih sesenggukan ia tidak menjawab hanya air mata yang terus mengalir.
Mendesah berat Tuan Farhan langsung menggendong tubuh mungil putrinya. "Jangan marah sayang Uncle hanya sebentar Lia percaya kan sama Daddy...?" Aulia hanya menjawab dengan anggukan.
"Kacian cekali kak Lia" gumam Alexa.
"Ayo kita ke kamar" ajak Hamas pada Azhar dan Alexa.
Tuan Farhan dan Jons sudah masuk ke kamar di ikuti Hamas serta yang lainnya. Karena kamar di Apartemen Tio hanya memiliki dua kamar namun di kamar yang di tempati Tuan Farhan memiliki dua buah kasur satu ukuran besar dan satu ukuran sedang.
Richo tidur di sofa ruang keluarga. Malam itu di tempat yang sama dengan orang berbeda namun perasaan mereka sama-sama di landa kegalauan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung