
**Happy reading 🤗
Beri like dan komen yah guys**
.
.
.
.
.
.
.
.
Kini mobil Lamborghini yang di pakai oleh Trio jones sudah terparkir rapi di depan Cafe, ketiganya pun turun dari mobil berjalan masuk ke dalam. Richo membuat janji dengan salah satu temannya yang pernah ia tolong saat di pukuli preman alhasil mereka berteman hingga sekarang. Kebetulan pria yang menjadi teman Richo itu ingin menjual apartemennya karena ingin tinggal di Amerika. Dan Richo sempat dengar darinya terkait penjualan apartemen maka di sinilah mereka berada.
Mengedar pandangan mencari sosok yang di cari tepat pada meja di pojok kanan Cafe, Richo melihatnya menyunggingkan senyum lalu bergegas menghampirinya.
"Maaf bro, udah lama di sini...?" Tanya Richo menyapa pria yang tengah memainkan ponselnya.
" It's ok, aku belum lama kok ayo silahkan duduk! Apa mereka berdua yang akan membeli apartemenku...?" Tanya pria tersebut menatap Sandy dan Tio bergantian.
"Yah dia ini adalah Tio yang akan membeli apartemenmu sedangkan di sebelahnya namanya Sandy" jelas Richo sembari menunjuk Tio dan Sandy.
"Sandy, Tio. Dia adalah temanku yang pernah aku ceritakan namanya Rizky" Richo memperkenalkan Rizky pada dua sahabatnya itu.
"Hi, Sandy"
"Rizky"
"Tio"
"Rizky"
Mereka berjabat tangan dengan senyum tipis tersungging di bibir mereka." Silahkan duduk" Tutur Rizky. Tio dan Sandy mengangguk, menarik kursi ke belakang dan menjatuhkan bokong mereka di atas kursi tersebut.
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, jadi? Apa kau akan membeli apartemenku...?" Tanya Rizky menatap wajah Tio. Pria itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Aku akan memberikan sertifikat apartemenku, dan ini adalah kuncinya serta yang berwarna hitam ini adalah kunci kamar, semua barang-barang lengkap kalian boleh melihatnya jika setuju maka tanda tangani surat penjualan ini namun jika tidak aku akan serahkan pada kalian untuk menjaganya sampai apartemenku terjual" jelas Rizky panjang lebar, yang ternyata sudah menyiapkan segala keperluannya.
"Tidak perlu, aku setuju akan membelinya mana suratnya aku akan tanda tangan sekarang" jawab Tio yang tidak suka berbasa-basi yang terpenting ia sudah mendapatkan apartemen dan segera pindah dari Mansion.
"Baiklah ini suratnya tanda tangan di sini" Tio mengambil pulpen kemudian membuat beberapa garis di bawah kertas yang akan di tandatangani.
"Berikan nomor rekeningmu aku akan mengirimnya sekarang" ucap Tio yang sudah memegang ponselnya di tangannya. Rizky kemudian memberikan nomor rekeningnya Tio dengan cepat mengirim sejumlah uang sesuai kesepakatan. Setelah selesai Rizky berpamitan pada Trio jones karena ada hal penting yang harus ia lakukan sebelum keberangkatannya besok pagi.
"Maaf tidak bisa berlama-lama, aku pergi dulu dan semoga suka sama apartemenku" Kata Rizky sebelum berdiri.
"Tidak masalah kawan" Sahut Richo.
"Aku duluan" izin Rizky langsung bergegas pergi
"Hati-hati di jalan" ujar mereka bertiga hampir bersamaan. Rizky mengangkat tangannya membentuk huruf O sebagai jawaban.
"Apa kau mau melihatnya dulu Tio, aku akan mengantarmu kebetulan aku pernah ke sana... Apartemennya cukup lumayan untuk kita bertiga" Richo membuka percakapan membuat Tio mendelik jengah.
__ADS_1
"Cih! Aku membelinya untuk diriku... Itu berarti hanya aku yang boleh menempatinya kenapa jadi bertiga" Ketus Tio. Richo tertawa jenaka.
"Aku akan setiap hari ke apartemenmu Tio, mungkin akan menginap sambil minum wine pasti sangat asyik" Kali ini Sandy ikut menimpali dengan senyum lebar tersungging di wajahnya membayangkan akan ber-party di apartemen Tio dan menyewa tiga wanita cantik akan lebih seru.
"Aku akan menghabiskan waktu perjakaku malam ini!" Serunya berteriak membuat orang-orang di dalam menoleh ke arah mereka. Tio langsung mendekap mulut Sandy. Richo hanya menundukkan kepalanya lantaran malu punya sahabat konyol seperti Sandy. Sempat-sempatnya berteriak menghilangkan perjakanya malam ini... Itu berarti orang-orang akan beranggapan mereka adalah pria yang muda di rayu.
"Bodoh! Jangan bikin malu di sini ayo keluar...!" Gerutu Richo. Tio menarik tangan Sandy kasar namun sebelum mereka pergi mereka meletakkan uang senilai satu lembar merah ratusan anggap aja sebagai kompensasi teriakkan gila yang di lakukan Sandy.
"Kamu bikin malu tahu! Kalau mau teriak sono di hutan...!!" Ketus Richo mendelik jengkel pada Sandy.
"Kenapa di hutan, dalam hati juga bisa" ucap Tio dengan wajah polosnya membuat Richo merasa geram ingin sekali menjadikan daging Tio sebagai santapan hewan buas peliharaannya di hutan lindung. Sandy terbahak.
"Sudah-sudah maaf aku kelepasan tadi, jadi bagaimana apa harus ke apartemen atau ke Mansion untuk mengambil barang-barangmu Tio...?" Tanya Sandy serius. Mereka bertiga berjalan masuk menuju mobil Lamborghini.
"Ke Mansion saja, aku mau berpamitan sama Boss besar dan teman-teman juga sekalian ambil barang agar nanti tidak bolak-balik jika sudah di apartemen" jelas Tio. Richo dan Sandy hanya mengangguk-anggukan kepala.
Lama mereka mengendarai mobil akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan memarkirkan Lamborghini di garasi mobil berjalan keluar dan langsung masuk ke dalam Mansion.
"Apa aku buat kesalahan juga agar aku bisa pindah denganmu" ujar Sandy tiba-tiba sontak membuat Tio dan Richo menghentikan langkahnya.
"Jangan bodoh! Aku akan sering merindukan tempat ini... Mansion ini tempat kita berkumpul pertama kali bagaimana bisa mau ikut denganku...!" Tio menatap tajam pada Sandy bagaimana bisa temannya bisa berpikiran dangkal seperti itu.
"Kita pasti akan berkunjung ke apartemen Tio jangan sedih" seakan tahu tentang perasaan Sandy Richo menepuk pelan bahu sahabatnya itu. Tio menghela napas kasar.
Richo dan Sandy masih setia mengikuti langkah Tio lalu masuk ke dalam kamar Tio yang berdekatan dengan ruangan operasi di Mansion itu.
"Untung barang-barangku tidak banyak jadi tidak terlalu merepotkan" Tutur Tio. Pria itu mengambil pakaiannya serta beberapa senjata di laci mejanya dan memasukkannya ke dalam ransel besar.
"Apa kamu serius ingin pindah...?" Raut wajah Sandy terlihat sedih sudah biasa mereka bertiga dan selalu bersama tapi sekarang hanya mereka berdua sungguh perpisahan sahabat benar-benar menyakitkan.
"Iya, jangan rindu apalagi menangis. Itu berat untuk di pikul aku pun sama tidak kuat" Ucap Tio membuat kedua temannya terbahak.
"Aku pikir kau akan menanggung beban rindu temanmu itu rupanya benar-benar dah, gak ada akhlak...!" Celetuk Richo.
BUGH
Satu tendangan melayang di bokong Sandy. Sangat gemas akan tingkah goblok temannya itu. "Aku ikutan bodoh kenapa harus mendengarnya" Lirih Richo frustasi. Tio terkekeh.
"Sudah. Ayo kita keluar aku akan izin pada Boss besar dan Jons serta Tuan muda" Kata Tio melerai perdebatan dua temannya.
"Bagaimana dengan Nona Aulia...?" Tanya Richo.
"Tidak! Tidak penting juga" jawabnya singkat terlihat tampak acuh namun dalam hatinya sedikit teriris mendengar nama Aulia di sebut.
"Wajahmu tidak bisa berbohong Tio" batin Richo dan Sandy. Seakan tahu apa yang ada di dalam hati sahabatnya.
"Hey! kau tahu di mana Boss besar?" Tanya Tio pada teman anggotanya.
"Ah yah Boss besar di ruang keluarga mereka sedang berkumpul" Jawabnya.
"Terima kasih" ujar Tio teman prianya itu mengangguk kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Apa kau akan tetap ke sana?" Tanya Richo pada Tio.
"Tentu saja, mumpung semuanya sedang berkumpul ini adalah waktu yang tepat" Balasnya penuh tekad yang mantap.
"Baiklah" Sandy dan Tio memberi semangat pada sahabatnya itu.
Trio jones kembali melanjutkan jalannya hingga sampailah mereka di ruang keluarga sedikit menghela napas Tio, dan dua sahabatnya berjalan menghampiri Boss besar.
"Bagaimana yah reaksi Nona Aulia...? Penasaran banget semoga cinta Tio tidak bertepuk sebelah tangan" Gumam Sandy dalam hati.
__ADS_1
"Aku sudah mendengar dari Farhan kau akan tinggal di apartemen...?" Suara bariton Tuan Wijaya mengangetkan Trio jones. Ketiganya berhenti.
"Iya Boss, maafkan aku sudah membuat kesalahan... Aku sudah mendapat apartemen jadi hari ini aku akan tinggal di sana" jawab Tio menatap wajah orang-orang di sana namun tidak dengan Aulia.
"Kenapa kamu membeli apartemen! Bukankah aku sudah bilang aku akan memberikannya untukmu...!" Tegas Tuan Farhan menatap tajam pada Tio membuat pria itu mendesah berat.
"Tidak apa-apa Tuan muda, aku bingung gimana cara ngehabisin uangku yang sangat banyak ini" Tio sedikit ngelawak walaupun terdengar garing.
"Terserah Padamu lah" Tuan Farhan kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Apa tidak sehari aja kamu tinggal disini dulu Tio" Kali ini Jons angkat suara. Tio menggeleng sebagai jawaban. Jons tidak bisa berbuat apa-apa selain setuju.
"Sering datang ke sini Tio! Dua minggu lagi aku akan memberikan tugas untuk kalian bertiga" Nyonya Mita berucap sembari menatap wajah Trio jones. Mereka mengangguk mengerti.
"Ummm... Kalau begitu aku permisi dulu Boss besar, Tuan muda Jons, Tuan kecil nona ke...Kecil" Lirih Tio menguatkan hatinya.
"No!" Seru Aulia lalu turun dari sofa. Berkacak pinggang pada Tuan Wijaya, Nyonya Mita terutama pada raja Hades.
Semua di sana mengerutkan keningnya menatap heran pada Aulia.
"What are you doing girl...?" Tanya raja Hades dengan mata memicing curiga.
"Lia tidak mau tahu Uncle Tio tidak boleh pelgi!" Teriak Aulia menatap tajam pada Daddy-nya. Raja Hades membuang napas kasar.
"Tio pergilah! Jangan dengar omongan anak kecil ini!" Titahnya dingin sembari tangannya terangkat ke udara mengisyaratkan untuk Tio segera keluar dari Mansion.
"No Dad!!" Aulia sudah menangis.
"Lia salah... Hiks hiks" Batin Aulia menangis.
Trio jones mengangguk dan pergi dari sana namun sebuah pelukan kecil mendarat di kaki Tio membuat langkah mereka terhenti.
"No Uncle! Jangan pelgi...! Lia minta maaf ini salah Lia huhuhu" Tangisnya pecah, menggeleng kepalanya pelan. Hati Tio sedikit menghangat namun juga sedikit sakit kala melihat Aulia menangis seperti itu ingin sekali merengkuh tubuh gadis kecilnya dalam pelukannya namun itu tidak mungkin.
"Aku berasa menjadi suami yang sangat di cintai istriku" Batin Tio.
"Nah kan apa aku bilang" Ujar Sandy dalam hati.
"Lia!!" Bentak Tuan Farhan, Jons menatap tajam suaminya. Aulia yang di bentak langsung berlari sesenggukan.
"Lia benci Daddy!" Ujar Aulia.
Gadis kecil itu berlari ke lantai dua ia merasa bersalah pada Tio karena dirinyalah Tio sampai di pukul dan di usir dari Mansion membuatnya tidak bisa tenang sedikitpun andai ia tetap bersama Sandy dan yang lainnya mungkin Tio masih tinggal di Mansion Utama. Hamas dan Azhar melihat pertengkaran Daddy-nya dan Aulia ikut menyusul Aulia mereka juga sedih, Tio akan pindah namun mau bagaimana lagi jika raja iblis sudah memberi keputusan maka tidak bisa di bantah!.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung