
Happy reading guys 🤗
Hmmm... Author gak minta banyak dari teman-teman cukup berikan like dan komen itu sudah cukup bagi Author untuk menjadi penyemangat agar terus menulis. 😜😜
-
-
-
-
"Hari ini aku akan menyaksikan takdir seorang pembunuh bayaran yang akan merasakan bagaimana sakitnya malaikat maut mencabut nyawamu Jons" ujar pria misterius.
"Kau akan membayar apa yang sudah di rasakan adikku"
"Alan berikan aku cambuk!" pintanya dengan seringai setan.
Jons hanya pasrah mendapa rasa sakit kalaupun dirinya mati yang terpenting adiknya selamat dari amukan orang gila itu jika bukan karena adiknya tidak akan Jons biarkan mereka hidup bahkan dirinya lebih sadis dan lebih ganas dalam mengambil nyawa daripada malaikat maut.
"Baik Boss" Alan segera mengambil cambuk yang sekali cambuk dapat meretakkan tulang-tulang tubuh manusia. Sungguh mengerikan membayangkan saja sudah bikin mati berdiri apalagi merasakan langsung.
"Ini Tuan" Alan memberikan cambuk pada Boss nya. Pria itu menyeringai iblis tangannya terkepal kuat matanya berubah merah tidak tahan untuk menyalurkan dendamnya pada Jons yang tengah terbaring di lantai. Tanpa berlama-lama pria misterius yang termasuk Boss itu langsung melaksanakan niatnya.
CETAR
CETAR
CETAR
CETAR
CETAR
CETAR
Jons meringis sakit namun tak mengeluarkan suara dulu ia pernah di cambuk oleh Tuan Smith untuk memberikan pertahanan kuat bagi tubuhnya jadi saat merasakan cambukan tadi tidak membuat dirinya merasa terkejut karena hal ini seperti Dejavu baginya.
"Bagaimana Jons apakah menyenangkan bermain dengan malaikat maut?" pria itu menatap menang sedangkan para anggotanya merinding menonton adegan horor di depan mata.
"Jangan lukai Jons ku! ku mohon lepaskan dia!" teriak Nadia melihat adegan memilukan hati membuat dirinya sesak bagaimana tidak orang yang dicintai rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya ia benar-benar terharu sekaligus takut bagaimana jika mereka para penjahat itu akan menyakiti dirinya setelah membunuh Jons bukan apa-apa tapi ia akan merasakan pengorbanan Jons sia-sia.
"Cih! berisik sekali kau, Alan siksa wanita sialan itu! tunjuknya pada Nadia. sedangkan Jons menatap tajam pada Alan berani sekali mereka bermain dengan seorang pembunuh bahkan bisa di bilang dirinya adalah jelmaan titisan dewa maut.
"Sekali kau menyentuh adikku akan ku putuskan tanganmu!" ancamnya dengan mata menusuk tajam.
"Hahahahah... lihatlah dia masih berani mengancam bahkan dirinya lupa bahwa kematiannya sedang menghampiri nya" celetuk salah satu anak buah musuh.
__ADS_1
"Hahahahha iya dirinya tidak sadar jika kematiannya segera tiba" sahut salah satu temannya mereka pun tertawa terbahak-bahak.
"Alan segera siksa wanita itu!" perintah nya lagi. dirinya benar-benar senang bisa melihat musuhnya mengerang kesal amarah yang di keluarkan Jons membuat dirinya bahagia dan sangat menyenangkan.
PLAK
BUGH
Jons yang menyaksikan adiknya di siksa segera berdiri walau badannya seperti di giling oleh mesin perontok padi
BUGH
BAGH
BUGH
"Sialan akan ku habisi kau! berani sekali kau menaru tangan padanya! tidak akan ku biarkan tanganmu itu selamat" teriak Jons dirinya membabi buta menyerang Alan bahkan Alan sampai kewalahan. Pria yang menjadi musuh Jons mendelik tajam lalu segera memerintah anak buahnya untuk menyerang Jons.
"Apa yang kalian lihat segera habisi Jons! kurang ajar!" bentak Boss mereka.
BUGH
BUGH
BAGH
BUGH
"Shit!" umpat sang Boss
Dengan segera Boss musuh itu menarik tangan Nadia bahkan Nadia baru melihat kekejaman Jons seperti orang kesurupan.
"Lepaskan apa yang kau lakukan brengsek!" teriak Nadia meronta-ronta.
Pria itu menuding pisau di leher Nadia hingga membuatnya ketakutan bahkan dirinya berubah menjadi penurut seperti seekor kucing manis.
"Adikmu akan mati Jons jika kau menyerang anak buahku!" pria itu menyeringai licik. "Adik tersayang mu ini akan menjadi hari terakhir nya Jons hahahaha"
"Jangan berani menyentuh nya brengsek!" bentak Jons dengan tangan terkepal kuat rahangnya mengeras seakan ingin menguliti pria itu.
"Hahahahaha, Alan ikat dirinya di tiang sana! aku ingin bermain-main dulu bersamanya" ujarnya tersenyum devil.
Alan dengan beberapa anak buahnya segera menjalankan perintah sang Boss kini tubuh Jons sudah terikat di tiang yang sudah di tunjuk oleh Boss mereka, dirinya tidak bisa berkutik ikatan tali itu begitu kencang dan kuat.
"Bayu ikat wanita ini di kursi" perintah sang Boss.
"Baik Boss" jawabnya dan segera mengikat Nadia di kursi..
__ADS_1
Nadia menatap nanar tubuh Jons bahkan tangannya terkepal menahan rasa sakit hati.
"Apa benar aku adalah adiknya? jika benar jangan sampai dia kenapa-kenapa aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang kaka dan hidup bersama kaka ku" guamm Nadia menangis.
Pria tersebut mendekati Jons ia tersenyum mengejek menatap musuhnya yang tidak bisa berkutik.
"Ah... hari yang menyenangkan" celetuk pria tersebut.
"Bagaimana Jons? apakah hari ini kau siap untuk bermain-main terlebih dulu sebelum malaikat maut menjemput mu?" sambungnya lagi dengan mata berbinar-binar namun masih dengan aura membunuh.
"Cih! malaikat maut? bahkan malaikat maut sendiri yang memberikan jabatan nya padaku" batinnya dengan menahan amarah.
"Jordan ambilkan pisau kecil dan tang lancip!" pintanya dengan gaya coolnya.
"Hiks hiks hiks... jangan siksa kakakku! ku mohon Jangan siksa dirinya aku belum merasakan kasih sayang kakakku" Nadia memohon dirinya merasa ada firasat buruk yang akan terjadi pada kakaknya. Jons yang mendengar kata kaka dari bibir Nadia membuat dirinya tersenyum bahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya hilang seketika.
"Alan urus wanita sialan itu! berisik sekali aku tidak mau kesenanganku terganggu" Alan segera menjalankan perintah sang atasan.
"Ini Boss alat yang Boss minta" Jordan dengan senang hati memberikan pisau dan tang lancip.
"Wah tontonan menarik akan segera tayang, sang pembunuh bayaran akan memuaskan hati Boss kita hahahah" celetuk anak buahnya.
"Hahahahahahaha" mereka tertawa terbahak-bahak melihat adegan kekerasan membuat mereka senang seakan jiwa kemanusiaan hilang di telan bumi. Ck! dasar manusia berhati iblis!.
Pria Boss itu mengayunkan pisau di wajah Jons namun tidak membuat seorang Jons ketakutan seakan pisau tersebut adalah sahabat baiknya. Yaiyalah wajar saja Jons tidak takut wong dirinya seorang pembunuh pisau adalah teman salah satunya sebagai alat pembunuhan.
"Wah, wah... Kau menantang ku Jons" celetuk nya menyeringai pria tersebut langsung mendaratkan pisaunya pada lengan Jons di tekannya kuat hingga membuat lengan Jons mengeluarkan darah segar namun hal tersebut nampak biasa saja.
"Bagaimana Jons apakah menyenangkan?"
Jons menampilkan ekspresi datarnya matanya menatap remeh pada pria di depannya.
"Brengsek! aku mau tau sejauh mana kekuatan mu Jons!" ujarnya dengan seringai liar.
Pria tersebut kembali menekan pisaunya di lengan sebelahnya bahkan lebih dalam lagi dari irisan luka sebelumnya darah segar kembali keluar.
"Jangan sakiti kakakku ku mohon! hiks hiks" tangis Nadia pecah melihat kakaknya di siksa membuatnya meringis pilu.
"Jangan berisik atau ku potong lidahmu!" ancam Alan dengan tatapan tajam.
pria tersebut kembali memainkan pisau nya di wajah cantik nan tampan milik Jons saat pria itu menekan pisaunya tiba-tiba terdengar suara bunyi tembakan beruntutan.
DOR
DOR
DOR
__ADS_1