Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 116 Pulang


__ADS_3

Happy reading


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah perkelahian antara Tuan Farhan dan Tio, Tuan Farhan tampak acuh pada Tio sekarang namun Tio tetap menghormati Tuan mudanya itu bagaimanapun juga ia sebagai bawahan tidak bisa berbuat apa-apa. Hari ini Tuan Farhan memutuskan membeli tiket untuk mereka pulang ke Jakarta apalagi melihat kondisi Alex serta yang lainnya sudah baik-baik saja walau belum sepenuhnya sehat. Karena beberapa jam yang lalu Rio mengabarinya jika perusahannya terjadi masalah itulah sebabnya ia buru-buru pulang. Untuk masalah pak Sholeh Tuan Farhan serta yang lainnya sudah memaafkan kesalahan yang di perbuat oleh pak Sholeh biar bagaimanapun pak Sholeh lah yang sudah membantu anak-anak mereka keluar dari kebakaran itu, sebagai ucapan terima kasih Tuan Farhan memberikan uang kepada pak Sholeh senilai seratus juta rupiah.


Kini mereka sudah di hotel membereskan barang-barang milik mereka untuk di bawa ke bandara siang ini.


"Hey! Ada apa dengan wajahmu itu loyo benar dah" Sandy menyikut lengan Tio ia merasa aneh pada sahabatnya ini sudah dari kemarin ia tampak lesu tak bersemangat seperti biasa apalagi selalu menghindar jika di sana ada Tuan Farhan apalagi ada Aulia.


" Apa dia sedang patah hati...? Huh!! berurusan dengan hati memang bukan masalah sepele" Batin Sandy melirik sahabatnya itu.


"Tidak ada. Aku hanya merasa tidak sehat saja mungkin istirahat sebentar akan lebih baik lagi" jawab Tio tanpa melihat. Dirinya fokus memasukkan pakaian miliknya di ransel hitam sedang miliknya.


"Kalau ada apa-apa cerita sama kita, mungkin kami bisa menghiburmu walaupun tidak bisa memberikan solusinya" Kali ini Richo ikut menimpali. Ia juga tidak tega melihat keadaan sahabatnya yang sungguh memprihatinkan walau Tio tak melakukan hal-hal konyol seperti bunuh diri ataupun menyiksa dirinya tapi wajahnya yang selalu di tekuk mengundang rasa kasihan bagi yang melihatnya.


"Sudah ku bilang aku tidak apa-apa...! Ada apa dengan kalian berdua hmmm...? Kenapa kepo sekali?" Ujar Tio sedikit tidak nyaman jika di desak seperti itu.


" Kau ada masalah dengan Nona Aulia...?" Tio menatap tajam ke arah Sandy. Namun Sandy malah acuh dengan tatapan itu ia kembali bersuara. " Ku saranin untuk tidak menyukai Nona Aulia, carilah wanita yang seumuran denganmu atau di bawah satu tahun denganmu Tio... Mungkin kau menyukainya karena kalian selalu bersama tapi apakah kamu tahu perasaanmu itu akan memudar ketika kamu mencari suasan baru dengan wanita lain! Umur kalian terpaut sangat jauh dan jangan lupakan status kita yang hanya bawahan." Richo bahkan sempat tertegun darimana sahabatnya ini bisa berbicara sebijak ini apalagi mengenai soal pacaran? Bukankah Sandy adalah pria jomblo sama seperti dia belum pernah mengenal wanita kecuali lima orang yang selalu dekat dengan mereka? Nyonya Mita, Amanda, Jons, serta Aulia dan Alexa. Selain dari lima wanita itu tidak ada.

__ADS_1


"Apakah Sandy diam-diam membaca novel romantis playboy...?" Batin Richo menatap heran ke arah Sandy.


"Tahu dari mana lo kata-kata mutiara seperti itu?" Selidik Tio memicing mata curiga pada Sandy. Sebenarnya ia hanya mengalihkan topik itu saja sungguh malas jika sudah berbicara menyangkut hati yang tak sampai.


Sandy tertawa renyah. "Hahahah. Aku akui, aku memang jomblo tapi bukan berarti aku tidak bisa memberikan ultimatum tentang cinta... Bisa di bilang aku ini adalah pengamat cinta" Jawabannya terkekeh pelan.


"Pengamat cinta pala lu" Tio menabok kepala Sandy begitu gemas akan tingkah sahabatnya itu.


"Kau sedang tidak meng-copy kata-kata pak Mario Teguh kan...?" Tiba-tiba saja Richo mengingat sosok motivator seorang Mario Teguh rupanya seoarang anggota Mafia juga tahu banyak tentang mereka. Hmmm... Benar-benar mafia berbeda juga unik tentunya.


"What! Itu adalah kata-kataku sendiri tidak bisakah kau merasakan bagaimana kalimat-kalimat yang mengandung makna itu keluar dari lubuk hati yang paaaaling dalam" Jelasnya penuh dramatis Tio hanya terkekeh sembari menggeleng kepalanya pelan.


"Sudah-sudah, jangan banyak bacot cepat beresin tuh pakaian kalian atau kalian mau di tinggal di sini lebih lama" Balas Tio menengahi perdebatan unfaedah itu. Karena tadi Richo dan Tio membawa barang-barang mereka ke kamar Tio mereka bilang malas jika sendiri di kamar masing-masing, Tio percaya saja alasan keduanya padahal kedatangan Richo dan Sandy tentu menghibur sahabatnya yang tengah patah hati itu.


"Yah gaklah" Richo serta Sandy bergegas memasukan barang-barang ke dalam ransel masing-masing tidak terlalu banyak barang yang mereka bawa jadi tidak butuh lama mereka sudah selesai.


"Ayo kita keluar" ajak Richo keduanya pun menganggukkan kepala berjalan menuju pintu kamar. Membuka pintu tersebut mata Tio terkejut melihat Aulia dan Azhar sudah ada di depan mereka.


"Uncre seperti perempuan saja, kenapa rama sekari beres-beresnya...!!" Ketus Azhar bersedekap ia dan adiknya di suruh untuk memanggil Trio jones agar segera sarapan sebelum berangkat.


"Ah, hehehe maafkan Uncle yah Nona, Tuan kecil... Baiklah ayo kita ke meja makan" Sandy tertawa hambar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Tio hanya menatap dingin wajah Aulia namun tidak dengan Azhar, Richo melihat sahabatnya itu hanya bisa bernapas panjang.


"Uncle Tio pasti malah sama Lia, kalena Lia Uncle Tio jadi di pukul oleh Daddy padahal kan Lia yang salah" Tutur Aulia dalam hati. Gadis kecil itu menunduk takut meremas dress pink yang ia pakai.


Mereka lalu berjalan menuju meja makan yang berada satu ruangan dengan dapur Tio berjalan di belakang sedangkan Sandy berjalan di antara dua kerucil raja Hades.


"Jangan sedih ragi, semua pasti baik-baik saja" Azhar memegang tangan mungil adiknya memberi kehangatan pada adik perempuannya. Azhar tahu Aulia sedang sedih merasa bersalah pada Tio tapi ia juga tidak bisa ngapa-ngapain.


"Telima kasih abang" lirih Aulia pelan.


Mereka sudah sampai di meja makan, duduk di kursi masing-masing tak ada pembicaraan di sana semua serius dengan makanannya yang selalu enak di lidah mereka. Cika adalah pelayan di hotel tersebut kini dirinya bekerja sendiri sedangkan sahabatnya bernama Anindita sudah lari entah kemana. Tiba-tiba saja menghilang saat pasca kepergian rombongan Tuan Farhan ke pantai Pandawa dan sampai hari ini Anindita hilang kabar.


"Maaf liburan kali ini tidak menyenangkan apalagi terjadi beberapa masalah di luar dugaan tapi lain kali kita akan liburan ke puncak keluarga Papa Wijaya jadi di sana akan aman" Tuan Farhan membuka percakapan saat dirinya sudah menyelesaikan makannya.


"Wah benarkah Dad...?" Pekik Azhar antusias.

__ADS_1


"Kelen Lia mau ikut, Lia belum pelnah pelgi ke puncak" Sorak Aulia tersenyum lebar.


"Tentu saja, kita semua akan ke sana" Jawab Tuan Farhan tersenyum tipis namun wajahnya langsung berubah datar tatkala bersitatap bersama Tio. Buru-buru Tio mengalihkan pandangan ke piringnya lagi.


"Yeah Leca juga mau ikut Om" Pekik Alexa kegirangan Amanda dan Alex hanya menggeleng mengelus rambut putrinya itu.


"Tentu saja sayang" Sahut Tuan Farhan terkekeh kecil.


"Tuan muda benar-benar marah pada Tio, kasihan juga" Batin Sandy tak sengaja melihat Tuan Farhan begitu dingin pada Tio.


"Cepatlah pulang agar aku tidak berada di situasi canggung seperti ini" keluh Tio mendesah berat.


Tak berselang lama mereka sudah menyelesaikan makannya sebelum pergi mereka berterima kasih pada Cika karena sudah melakukan pekerjaan yang tak mengecewakan Jons serta Amanda memberikan tips pada pelayan itu membuatnya tersenyum senang.


Setelah selesai, mereka keluar membawa barang-barang memasukan ke bagasi mobil, namun sebelum itu Jons telah menghubungi anggotanya untuk mengambil mobil di bandara Bali karena dari pertama tiba mereka meminjam mobil anggota Black Wolf yang ada di Bali itu.


Tepat pada pukul 10 pagi mereka keluar dari pemukiman hotel privat keluarga yang berada di puncak atas pantai Pandawa, tempat honeymoon tapi sepertinya berantakan karena terjadi penculikan beberapa hari yang lalu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2