
Happy reading 🤗
Sedekah Vote Seninnya dong Guys 🙏😘😘
.
.
.
.
.
.
.
Pagi hari, Tuan Farhan dan Jons sudah siap-siap untuk pulang, karena kesehatan Jons sudah kembali pulih juga dokter sudah mengizinkan Jons untuk pulang hari ini. Namun dokter Iren juga menyampaikan untuk menjaga kesehatan Jons agar kandungannya merasa aman karena kandungan si tomboy sangat rentan mengalami keguguran akibat pekerjaan berat. Mungkin saat melakukan perjalanan ke hutan Lindung dirinya tengah hamil namun tidak ia ketahui.
Kini usia kehamilan Jons menginjak dua bulan di hitung dari terlambat menstruasinya kisaran satu bulan yang lalu. Berita itu tentunya membuat Tuan Farhan sangat bahagia walaupun masih saja belum menerima tentang ratusan juta anaknya yang tereliminasi untuk menempati rahim sang istri.
Bukan hanya Tuan Farhan yang merasa bahagia hadirnya dua sosok penerus raja Iblis, rupanya tiga Iblis kecil juga sangat menantikan kelahiran kedua adiknya itu.
"Hehehe, akhirnya aku mendapatkan mainan baruku" batin Azhar tersenyum licik. Membayangkan kedua adiknya lahir dan dirinya akan setiap hari menjahili mereka. Oh betapa senangnya.
Keluarga Mafia Iblis sudah berada di dalam mobil Lexus LM berwarna hitam di mana Tuan Farhan dan Jons serta tiga kerucil masih berdiri di samping mobil. Mereka masih saja berdebat tentang Mommy mereka hanya untuk duduk bersama. Entah itu seorang ayah, atau anak, sama-sama keras kepala.
Seperti sekarang ini tidak ada yang mau mengalah. "Daddy duduk di jok belakang, biar kami bertiga yang duduk di sini. Satu hari Daddy bersama mommy dan kami hanya beberapa jam saja, bukankah impas sekarang Dad!". jelas Hamas berkacak pinggang dengan mata melotot di ikuti kedua saudaranya.
"Heh! ekspresi macam apa itu. Aku ini Daddy kalian kenapa melotot seperti itu?" Tuan Farhan menoyor kening ketiganya membuat tiga kerucil berdecak sebal.
"Kenapa Tuan muda tidak mengalah saja. Apakah ini yang namanya bayi besar?" batin Richo dan Sandy bersamaan. Mengamati interaksi ayah dan anak yang tidak ada habis-habisnya jika itu menyangkut Jons.
"Kalau begitu Daddy duduk di belakang! kami yang akan duduk dengan Mommy. Iya kan Mom?" tanya Aulia mengedipkan sebelah matanya ke arah Jons yang tengah bersedekap dada. Si tomboy terkekeh geli, anaknya ini sedang memintanya untuk bekerja sama dengannya.
"Ada-ada saja" gumam Jons dalam hati. Tersenyum mengangguk.
"Iya sayang. Biar Daddy yang duduk di belakang sendiri, kita akan duduk bersama di jok kedua" jawab Jons pada tiga kerucil membuat triplets bahagia.
"Tidak bisa! aku tidak mau Ara" protes Tuan Farhan dengan kepala menggeleng. Berharap agar istrinya berpihak padanya namun sepertinya itu hanya sia-sia karena penerusnya lebih licik darinya.
"Mommy tahu kan, kami setiap hari setiap maram menangis karena Mommy tidak kunjung purang. Hati kami sangat sedih dan sakit sekari" tutur Azhar mendramatisir, matanya mulai berembun hingga satu bening kristal akhirnya jatuh juga.
__ADS_1
"Iya Mom, abang Azhar benar" sahut Hamas dan Aulia menampilkan wajah kasihan. Sungguh melihat itu membuat Jons tertohok, ia benar-benar egois selama ini. Dan berjanji pada dirinya akan menghabiskan waktunya bersama sang anak, membayar kesalahan bodoh yang pernah ia lakukan.
"Maafkan Mommy sayang, maaf sudah membuat kalian sedih... mulai sekarang waktu Mommy akan Mommy habiskan bersama kalian" Jons langsung mendekap tiga anaknya dan dengan senang hati si triplets membalas pelukan itu.
"Cih! anak kecil yang licik" batin Tuan Farhan melipat kedua tangannya di atas perut, bersandar di mobil sembari menatap jengah drama anak-anaknya.
"Cepatlah Tuan, Boss besar sudah menunggu kita!" seru Richo dari dalam mobil karena saat ini keluarga kecil itu belum kunjung masuk ke dalam.
"Astaga" Sandy menepuk dahinya melihat Tuan mudanya benar-benar seperti anak kecil.
"Ah baiklah, Prince kamu duduk di belakang. Jangan membuat onar mereka masih kecil butuh perhatian dariku seorang Mommynya" titah Jons mutlak dan hal itu membuat Tuan Farhan menatap tajam ketiga anaknya.
"Lalu aku ini apa Ara, aku suami kamu yang juga ingin di perhatikan" sanggah Tuan Farhan tidak terima.
"Hiks, hiks, Daddy kan sudah besal. Biarkan Mommy belsama kami dulu, hiks, hiks, hiks". jawab Aulia dengan tangisnya.
"Mengalah lah sedikit, mereka juga anakmu" tegas Jons membuat Tuan Farhan hanya mendesah berat.
Tiba-tiba sebuah senyum setan tersirat di bibir ketiganya juga tatapan mengejek mengarah pada sang Daddy. Membuat raja Iblis ingin menonjok wajah menyebalkan putra putrinya.
"Astaga, siapa yang membuat anak semenyebalkan mereka" lirih Tuan Farhan memijat pangkal hidungnya. Dan dengan terpaksa Tuan Farhan duduk di jok belakang sendiri.
"Bukankah itu sangat jahat, anak kecil! kalian benar-benar pintar dalam berakting hmm..." batin Tuan Farhan merasa kesal.
Kali ini Richo yang menyetir mobil Lexus keluaran baru itu. Sesekali dirinya menatap interaksi anak dan ayah dari kaca spion dalam.
"Iya sayang" jawab Jons tersenyum lebar.
"Tidak bisa! bagaimana denganku Ara? aku tidak mau tidur sendiri" sahut Tuan Farhan cepat.
"Kalau begitu Daddy tidur bersama kami saja, bagaimana?". usul Aulia dan Azhar.
"Benar Prince, bukankah kita tidak pernah tidur bersama anak-anak" ujar Jons ikut membantu.
"Tapi aku tidak mau tidur dengan kerucil, aku maunya sama kamu saja Ara" jelas Tuan Farhan tidak sependapat.
"Hiks, hiks. Sepertinya Daddy tidak sayang sama kami, hiks. Sampai tidur bersama kami pun sudah tidak mau... hiks, hiks. Mommy, katakan yang sebenarnya apakah Daddy merasa jijik?" tangis Hamas kembali berakting. Azhar dan Aulia mengangguk setuju.
"Hiks, hiks, sepertinya Daddy merasa jijik dengan kami Mom" timpal Azhar dan Aulia.
"Prince! kamu benar-benar yah!" Jons menatap tajam pada suaminya mengisyaratkan untuk setuju tidur bersama.
"Maafkan Daddy sayang, baiklah. Kita akan tidur bersama malam ini... hehehhe kalian yah, ada-ada saja mana mungkin Daddy jijik dengan anak Daddy yang Daddy buat sendiri hmmm" jelas Tuan Farhan tersenyum tipis padahal dalam hati dirinya sudah ingin menjitak kepala ketiganya.
__ADS_1
"Makasih Daddy, Daddy memang the best!" kompak ketiganya mengacungkan jempolnya.
"Astaga, Tuan dan Nona muda kecil benar-benar pintar berakting" bisik Richo dalam hati.
"Wah, piala Oscar akan pantas jika di berikan pada tiga kerucil" Sandy ikut berbisik dalam hati.
"Mommy, nanti malam kita akan tidur di mana?" tanya Aulia memeluk pinggang Jons.
"Hmmm..., di mana yah? jika di kamar Mommy kira-kira cukup gak yah?" tanya Jons balik.
"Di kamar Hamas saja, pasti muat kok" sahut Hamas ikut memberikan solusi.
"Ah baiklah, malam ini kita tidur di kamar Hamas saja" final Jons dan Tuan Farhan hanya menjadi pendengar setia. Mau protes pun tidak akan ada guna jadi biarlah dirinya diam namun dalam hati ia sudah menyiapkan rencana barunya.
"Mommy, bagaimana jika Daddy tidur sendiri saja? takutnya kasur abang Hamas tidak akan cukup". ujar Azhar tiba-tiba memberikan ide.
"No! Azhar!" tekan Tuan Farhan namun tidak di gubris oleh Azhar.
"Ah, nanti kita lihat dulu yah sayang. Jangan begitu kasihan Daddy" jawab Jons lembut. Membuat Azhar hanya menghela napas panjang.
"Richo, Sandy. Ada karung tidak?" tanya Tuan Farhan pada kedua pria di depan.
"Karung? tidak ada Tuan. Memangnya karung untuk apa?" tanya Richo.
"Ah, sayang sekali. Padahal aku mau isi tiga kerucil ke dalam karung dan membuangnya di sungai" celetuk Tuan Farhan tanpa beban.
"Daddy!!!!" teriak triplets kesal.
"Prince!" tegur Jons membuat Tuan Farhan benar-benar terbahak melihat wajah anak-anaknya yang kesal padanya.
"Semoga selalu seperti ini amin" doa Sandy dan Richo bersamaan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung