
Happy reading guys
Jangan lupa untuk mampir yah ke novel Lia dan Tio udah di rilis.
.
.
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Tuan Farhan sudah berangkat ke kantor bahkan meninggalkan istrinya yang masih tertidur pulas. Tuan Farhan juga meminta Richo untuk mengantar tiga kerucilnya ke sekolah karena hari ini ia tidak bisa mengantar mereka. Ada pekerjaan penting yang harus ia selesaikan.
Setibanya di ruangannya, sekertaris Rio tiba-tiba datang berjalan menuju meja Tuan Farhan menundukkan kepalanya seraya memberi hormat.
"Selamat pagi Tuan. Apakah ada hal penting yang harus di kerjakan?" tanya sekertaris Rio. Karena tidak biasanya Tuan mudanya itu memanggil dirinya pagi-pagi sekali, apalagi ini masih jam 5 : 30.
"Aku akan melamar seseorang..."
"Apa! Tuan sedang sehat kan?" teriak sekertaris Rio menyela ucapan Tuan Farhan. Membuat pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya menatap tajam sekertarisnya. Sekertaris Rio yang menyadari kesalahannya langsung menutup mulutnya, meminta maaf.
"Maaf Tuan muda, tapi apakah tadi itu benar?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Iya. Aku meminta tenagamu Rio untuk mempersiapkan tempat dan dekorasinya semenarik mungkin" jelas Tuan Farhan.
"Selama hidupnya aku tidak pernah melamarnya dan sekarang adalah waktu yang tepat" sambungnya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Lalu bagaimana dengan Nona Jons Tuan?" tanya sekertaris Rio yang sudah salah paham. Terlihat jelas dari gigi yang saling bertautan kuat.
"Jangan katakan padanya, aku yakin kau bisa menjaga rahasia ini" jawab Tuan Farhan acuh tak acuh.
"Kurang ajar! setelah istrinya datang kini dia mulai berulah lagi. Benar-benar pria brengsek!" umpat sekertaris Rio dalam hati. Mengepal tangannya kuat menahan amarah yang hampir meledak.
"Ada apa dengan ekspresimu itu Rio?!" tanya Tuan Farhan dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Tidak ada. Kalau begitu aku permisi dulu Tuan" tutur sekertaris Rio. Saat hendak membuka pintu untuk keluar, Tuan Farhan kembali bersuara.
"Rio jangan lupa untuk membuat kartu undangannya, dengan semenarik mungkin untuk fotonya aku akan mengirim fotoku dan Ara nanti" jelas Tuan Farhan tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di atas meja. Ia harus menyelesaikan pekerjaan hari ini karena besok adalah hari penting baginya. Juga siang ini dirinya ada acara bersama tiga kecilnya.
"Ingat besok sudah harus selesai. Besok aku akan melamarnya... jangan takut aku pasti akan memberikan bonus yang besar" sambung Tuan Farhan.
Sekertaris Rio masih mencerna kata-kata dari Tuan mudanya. Ia kembali melirik wajah Tuan Farhan. Dengan sangat hati-hati ia pun bertanya. "Tuan, mmm... sebenarnya siapa yang akan Tuan lamar?"
Tuan Farhan mengalihkan atensinya pada sekertaris Rio. Menautkan dua alisnya heran. "Kenapa bertanya seperti itu? emang aku punya berapa simpanan?" Sekertaris Rio tersenyum kikuk. Ia sudah salah menilai Tuan mudanya, ia pikir lamaran itu untuk wanita lain ternyata adalah untuk istri Tuan Farhan.
"Aku benar-benar salah paham" bisik sekertaris Rio dalam hati. Jika tadi wajahnya terlihat marah maka tidak untuk sekarang, sekertaris Rio menampilkan senyum indah di wajahnya ia seperti mendapatkan sumber kekuatan.
Sekertaris Rio lantas buru-buru keluar, ia akan meminta anggota Black Wolf untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan yang di berikan oleh Tuan Farhan.
Sekertaris Rio memilih tempat di salah satu lahan yang cukup luas juga sangat asri tempatnya sangat mendukung untuk proses lamaran sekaligus mengadakan resepsi pernikahan.
__ADS_1
Lahan luas tanpa ada bangunan, milik Tuan Wijaya. Kini dirinya sudah berada di sana dengan beberapa staf wanita yang di bawanya dari kantor. Dan anggota Black Wolf yang sudah siap untuk melakukan misi. Dengan konsep pementasan autdor.
Sekertaris Rio meminta anggotanya untuk membuat panggung mini yang di hiasi kain kilap ukuran panjang berwarna putih juga ada bunga-bunga yang bergantungan di setiap sisi kayu yang sudah di pasangi oleh kain kilap tersebut. Beberapa bunga mawar putih dengan ukuran jumbo di letakan di kedua sisi masuk ke atas panggung.
Selain itu sekertaris Rio juga meminta anak laki-laki untuk untuk memasang bola lampu taman ukuran sedang di dua sisi jalan sebagai pagar. Tidak lupa melampirkan karpet putih sebagai pijakan pengantin wanita dan pria.
Ratusan kursi tamu yang sudah di lapisi kain berwarna putih tertata rapi dengan posisi klasik.
Mereka juga menyiapkan meja untuk tempat peletakan cemilan juga minuman untuk para tamu.
Di tempat lain
Tiga kerucil datang ke perusahaan Wijaya group, Hari ini selepas dari sekolah mereka buru-buru ke perusahaan sang Daddy karena mereka sudah punya janji temu dengan Tuan Farhan. Jons tidak tahu jika anak-anaknya datang ke kantor karena tiga kerucil meminta izin bahwa mereka mengerjakan tugas di rumah teman. Mobil putih Ferarri itu memasuki parkiran umum mobil perusahaan. Mereka lalu turun dari mobil.
"Uncle Richo, makasih yah sudah antar kami ke sini. Uncle tidak usah nunggu kami karena kami akan pulang sama Daddy" jelas Hamas pada Richo. Dan pria di dalam mobil mengangguk pelan.
Tiga kerucil berjalan memasuki loby kantor.
Para karyawan memandang kagum putra putri Tuan mudanya.
"Astaga memang benar buah jatuh tidak lari dari pohonnya, benar-benar cantik dan tampan"
"Wow, sifat mereka juga mirip, sama-sama dingin dan datar"
"Gila! kecil aja keren habis apalagi gedenya, uuuhh bikin meleleh di hati"
Bisik-bisik para karyawan wanita dan tiga kerucil hanya acuh tanpa melirik pada mereka. Namun dengan jailnya Azhar mengedipkan sebelah matanya pada karyawan wanita juga menampilkan senyum manisnya membuat mereka histeris.
"Omo! dia benar-benar tampan!"
"Heh konyol sekali!" seru tiga kerucil menggelengkan kepalanya.
"Meleka sangat menakutkan" bisik Aulia pada dua abangnya.
"Aku merihat air riurnya jatuh, aku memang tampan sih" sahut Azhar dengan nada sombong membuat Hamas menoyor kepala adiknya gemas.
"Masih kecil jangan jelalatan!" tukas Hamas. Entah darimana kosakata jelalatan yang ia dengar. Padahal usianya baru menginjak 5 tahun namun kata-katanya layaknya pria dewasa.
Ketiganya kemudian masuk ke dalam lift menekan angka 29, butuh beberapa menit untuk sampai di sana.
Ting
Lift terbuka dan tiga Iblis itu keluar dari dalam lift menuju ruangan yang bertuliskan CEO di papan nama atas pintu.
Tok tok tok tok
Tok tok tok tok
Hamas mengetuk pintu, padahal Aulia dan Azhar sudah ingin masuk tapi Hamas melarangnya, biar bagaimanapun mereka harus punya tata krama seperti aturan yang berlaku di perusahaan tersebut. Walaupun itu adalah ruangan seorang ayah namun Hamas tetaplah patuh pada aturan yang ada.
"Biar bagaimanapun ini adalah salah satu aturannya" jelas Hamas dan kedua adiknya mengangguk mengerti.
"Masuk!" jawab Tuan Farhan dari dalam.
CEKLEK
__ADS_1
Hamas menarik gagang pintu membuat pintu itu langsung terbuka.
"Ada perlu apa?" tanya Tuan Farhan tanpa mengalihkan pandangannya. Ia begitu fokus pada laptop di depannya.
"Ingin bekelja sama Tuan" jawab Aulia bersedekap dada. Menatap tajam Tuan Farhan yang begitu sibuk sampai tidak melihat mereka barang sedikitpun. Apakah pekerjaan lebih penting?. Membuat Aulia benar-benar jengah.
"Oh, sekertaris saya sedang keluar jadi Nona harus konfirmasikan dulu pada sekertaris saya. Silahkan keluar karena saya sedang sibuk" jelas Tuan Farhan yang belum tahu dengan siapa ia berbicara.
Mendengar jawaban dari sang Daddy membuat darahnya meningkat drastis. Hamas dan Azhar hanya cekikikan melihat adiknya sudah bersungut-sungut.
BRAAAAK
Aulia menendang meja Tuan Farhan membuat pria penggila kerja itu terkejut.
"Apa yang Non..."
"Daddy!!!" teriak Aulia marah. Tuan Farhan seketika membeku. Hampir saja dirinya hilang kendali jika tidak melihat siapa yang sudah mengganggunya.
"Eh, sayang" kikuk Tuan Farhan menyengir kuda. Netranya teralih pada Hamas dan Azhar.
"Aduh, mati aku" batin Tuan Farhan merutuki kebodohannya.
"Daddy mau malah Lia yah?! ayo malah bial Lia lapolin ke Mommy" tutur Aulia berkacak pinggang.
"Tuh kan dasar tukang ngadu" batin Tuan Farhan.
"Hehehe, jangan dong. Maaf yah Daddy tidak tahu" pria itu lantas membawa tubuh Aulia ke dalam gendongannya. Ia tahu jika sudah di gendong maka putrinya itu akan luluh padanya.
"Iya Lia maafin"
"Ayo Dad kita berangkat sekarang" ajak Hamas dan Azhar.
"Oke, let's go sayang"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
Yuk mampir ke cerita Lia sama Uncle Tio 😁❤️
__ADS_1