Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 147 Pertama Kali


__ADS_3

Happy reading 🤗


.


.


.


.


.


.


.


.


Pulang kerja Tuan Farhan meminta sekertaris Rio untuk tidak perlu mengantarnya pulang karena dia sendiri yang akan mengendarai mobil dan ingin bersama anak-anaknya.


"Daddy Lia tidul yah sama Daddy!" pinta Lia menatap wajah Tuan Farhan memohon dengan puppy eyesnya membuat tangan Tuan Farhan terulur mengelus surai milik Aulia.


"Iya sayang" jawab Tuan Farhan.


"Kami juga!" Azhar dan Hamas tak mau kalah mereka juga ingin tidur bersama...


"Oke, kalian akan tidur bersama Daddy" jawab Tuan Farhan lagi. Pandangannya kembali menatap lurus ke depan sedang tangannya bertengger pada benda berbentuk lingkaran bernama kemudi.


"Kita ke restoran dulu" ujar Tuan Farhan dan ketiga kerucil hanya mengangguk pelan.


Mobil raja Iblis berhenti di depan restoran mini masuk ke dalam dan langsung memesan makanan yang di inginkan. karena tidak terlalu banyak pengunjung jadi tidak membuat mereka menunggu lama. Sesaat kemudian pesanan mereka datang dan meletakan di atas meja.


"Selamat menikmati semoga kalian suka menunya" tutur seorang pelayan laki-laki tersenyum ramah.


"Hmmm" mereka hanya bergumam sebagai jawaban dan segera menyantap makanan lezat di depan mata karena perut mereka sudah meronta-ronta ingin di isi. Sedang sang pelayan sudah meninggalkan mereka.


"Dad makanan di sini sangat enak kapan-kapan kesini ragi yah Daddy" ujar Azhar saat sudah menyelesaikan makannya.


"Iya Dad sangat uenaak" timpal Hamas dan Azhar. Tuan Farhan terkekeh geli.


"Siap raja dan ratuku"


"Kalian ke mobil duluan Daddy akan membayar tagihannya dulu" tiga kerucil menurut dan langsung beranjak dari kursinya. Tak berselang lama Tuan Farhan keluar dari restoran mini dan masuk kembali dalam mobil yang sudah di tumpangi oleh anak-anaknya.


"Sudah siap untuk pulang?"...


"Pastinya dong" jawab mereka kompak.


Setelah melewati beberapa kemacetan di jalan raya kota Jakarta mobil mereka akhirnya memasuki halaman Mansion Utama memarkirkannya di halaman luas Mansion tersebut. "Ayo turun, sudah sampai" tutur Tuan Farhan membuka safety beltnya lalu turun dari mobil membukakan pintu untuk tiga kerucil.


"Ayo masuk" layaknya ayah yang baik dan penuh perhatian menggandeng tangan Aulia dan Azhar sedangkan Hamas menggenggam tangan Azhar.


"Selamat sore Tuan muda, Tuan dan Nona muda kecil" sapa beberapa anggota Black Wolf menundukkan kepalanya Tuan Farhan hanya melewati mereka tanpa menjawab sedang para kerucil memberikan senyum tipis biar bagaimanapun mereka adalah orang-orang baik juga pengikut keluarga mereka.


"Farhan!" panggil Nyonya Mita melihat kedatangan putranya dan cucunya saat hendak melewati ruang keluarga. Mereka menoleh ke arah Nyonya Mita.


"Iya Ma" jawab Tuan Farhan menuntun tiga kerucil untuk duduk sebentar.


"Apa kau baik-baik saja sayang?" terlihat raut khawatir dari wajah Nyonya Mita melihat putra semata wayangnya yang tidak mengurus dirinya bahkan membiarkan banyak bulu tumbuh pada area wajahnya padahal bersama Jons putranya akan sangat menjaga penampilannya walau begitu putranya masih sangat tampan.

__ADS_1


"Tentu. aku baik-baik saja" jawabnya tegas namun seperkian detik buliran jernih itu keluar dari pelupuk matanya. Dirinya tidak mampu menyembunyikan rasa sakit itu pada wanita di sampingnya... sekuat-kuatnya seseorang menutupi kesedihannya akan terlihat juga jika air matanya sudah terjatuh. Tidak ada yang sedih jika orang yang di cintainya pergi sekalipun itu adalah orang terkuat.


"A-aku tidak kuat Ma, aku sa-ngat merindukan Ara Ma hiks, hiks... tidak tahu apakah Ara akan baik-baik saja. Ma di mana Ara? siapa yang bisa memberitahuku di mana keberadaan Araku Ma! aku akan menjemputnya Ma hiks, hiks" lirih Tuan Farhan memeluk kuat tubuh Nyonya Mita. Nyonya Mita langsung membalas pelukan putranya memberikan kehangatan dan ketenangan.


"Menangis saja sayang, jangan menahannya... menangis bukanlah sesuatu yang lemah dan buruk menangis bisa meringankan bebanmu" tutur Nyonya Mita menepuk-nepuk punggung Tuan Farhan. Nyonya Mita bisa merasakan getaran dari tubuh putranya ia tahu putranya tengah menangis sekarang. Sedangkan tiga kerucil saling berpelukan dan ikut menangis mereka juga merasakan kesedihan kepergian Jons.


Andai mereka tahu akan begini mungkin tiga kerucil tidak akan membiarkan Jons untuk pergi berburu namun siapa sangka takdir datang secepat itu.


"Aku merindukan Araku Ma... sangat merindukannya aku tidak sanggup Ma" lirih raja Iblis dengan suara parau.


"Kasihan Daddy" batin ketiganya menatap sedih Daddynya. Ketiga kerucil saling berpandangan sesaat mereka menganggukkan kepala. Melepas pelukan dan berjalan menghampiri Tuan Farhan juga Nyonya Mita.


"Dad" panggil tiga kerucil membuat Tuan Farhan seketika tersadar ia lupa jika masih ada anak-anaknya yang seharusnya tidak menunjukkan tangisnya tadi.


"Maaf sayang" ujar Tuan Farhan menghapus air matanya cepat melebarkan senyum di wajahnya. Nyonya Mita mengelus kepala tiga cucunya sayang.


"Jangan nangis lagi, Daddy halus kuat halus semangat" ujar Aulia dengan kepalan tangannya terangkat sejajar dengan wajahnya memberikan semangat pada Tuan Farhan. Membuat raja Iblis terkekeh geli melihat putrinya sebegitu dewasanya.


"Semangat Daddy!" seru Hamas dan Azhar bersamaan. Tuan Farhan menganggukkan kepalanya pelan. Masih dengan kekehan kecil.


"Ayo semangat!" teriak mereka kemudian tertawa ceria walaupun masih menyimpan sedikit luka di hati.


"Terima kasih Ma, kami ke atas dulu" ujar Tuan Farhan tersenyum pada wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya.


"Sama-sama sayang cepat turun kita akan makan malam" ujar Nyonya Mita.


"Kami sudah makan saat pulang dari kantor Ma jadi tidak perlu menunggu kami mungkin kami akan langsung tidur" jelas Tuan Farhan dan ibunya mengangguk kepalanya pelan.


Tuan Farhan berjalan beriringan dengan tiga kerucil Iblis menuju lift untuk naik ke lantai dua di mana kamar mereka berada.


Ting


Pintu lift terbuka dan segera mereka melangkah masuk ke dalam membawa empat manusia itu ke lantai dua beberapa menit kemudian pintu lift kembali terbuka dan semua keluar dari dalam ruangan yang tertutup rapat.


"Kami sudah besar jadi tidak perlu" sahut Hamas datar. Tuan Farhan menggeleng kepalanya melihat tingkah Hamas seakan melihat dirinya saat kecil dulu.


"Mirip sekali denganku" batinnya tersenyum tipis.


"Baik karena kalian sudah dewasa jadi Daddy tidak perlu repot-repot lagi cepatlah masuk dan mandi setelah itu datang ke kamar Daddy yah" jelas Tuan Farhan. Ketiganya mengangguk antusias.


"Masuklah" triplets segera masuk ke dalam kamar mereka masing-masing saat sudah pastikan mereka masuk Tuan Farhan beralih berjalan ke kamarnya membuka pakaiannya dan membiarkan tergelatak di atas lantai. Menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.


Terdengar gemericik air dari dalam bilik kamar mandi. Tiga kerucil masuk ke dalam kamar Daddy-nya karena mereka mandi sangat cepat jadi tidak butuh waktu lama mereka sudah selesai.


"Astaga Daddy sudah besal kenapa pakaian kotol di taluh di sini sih" keluh Aulia mencibir raja Iblis.


"Ayo kita bawa pakaian kotor Daddy di dalam keranjang" ajak Hamas.


"Kasihan Daddy tidak ada Mommy Daddy tidak bisa apa-apa... pakaian saja harus kita yang merakukannya" ujar Azhar geleng-geleng kepala, ia mendesah berat layaknya pria dewasa yang mengurus pekerjaan rumah ber.


"Huss! tidak boleh berbicara seperti itu!" sahut Hamas memperingati.


"Hmmmm" Azhar hanya mendengus dan mereka lalu membawa pakaian yang di kenakan Tuan Farhan ke dalam keranjang kotor.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka terlihat pria bertubuh tinggi yang hanya menggunakan handuk menutupi aset negaranya terlihat otot-otot yang besar pada bagian dada, perut juga lengannya.


"Eh, kalian sudah di sini cepat sekali mandinya" ujar Tuan Farhan melihat tiga kerucil yang sudah berbaring indah di kasur miliknya juga Jons.


"Hmmmm" gumam ketiganya malas. Tuan Farhan hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis dan berjalan masuk ke dalam walk in closed. Setelan celana pendek dan baju casual berwarna hitam menjadi pilihannya malam ini keluar dari ruang ganti menuju kasur king sizenya.

__ADS_1


"Kalian sudah mengantuk hmmm...?" tanya Tuan Farhan menjatuhkan tubuhnya di antara Azhar dan Aulia sedangkan Hamas tidur di belakang Azhar.


"Sedikit Dad, Daddy bisa celitakan bagaimana peltemuan Daddy belsama Mommy tidak?" tanya Aulia memutar tubuhnya menghadap ke arah Tuan Farhan. Hamas dan Azhar ikut mengangguk mereka juga ingin tahu bagiamana kisah kedua orang tuanya. Apakah seperti cerita novel-novel yang lagi trend Terpaksa Menikahi Tuan Muda atau hal lainnya.


Terlihat bibir Tuan Farhan melengkung lebar membayangkan kisahnya bersama istrinya... merasa lucu.


"Kalian tahu dulu waktu Daddy belum menikah dengan Mommy kalian... Daddy pikir Mommy kalian adalah seorang laki-laki hahahahha... apalagi silikonnya yang rata" sambungnya dalam hati terbahak mengenang masa lalunya.


"Kenapa seperti laki-laki Dad?" tanya Hamas dengan dahi berkerut.


"Karena silikonnya yang rata..." Si Jelangkung batangan segera menutup mulutnya karena salah menjawab.


"Sirikon apa Dad?" tanya Azhar.


"Silikon? apa itu Dad? Hamas dan Aulia mengajukan pertanyaan yang sama.


"Hehehe, sepertinya sudah malam lebih baik kita tidur saja besok kan kita mau ke sekolah takutnya nanti kita akan terlambat" Tuan Farhan mengalihkan topik.


Ketiganya mencibirkan bibirnya merasa tidak suka dengan Daddynya padahal mereka sudah sangat penasaran tentang benda silikon.


"Aku akan cari tahu sendiri" batin Azhar mantap.


"Oke Dad" tidak membantah mereka malah mengangguk setuju.


"Azhar aku ingin peluk Daddy juga tahu!" keluh Hamas yang tidak bisa memeluk tubuh Daddy-nya karena tidak sampai, jarak antara dirinya dan Daddynya terhalang oleh si gondrong membuat Hamas sangat sulit menggapainya apalagi tangannya yang sangat mungil.


Raja Iblis terkekeh geli.


"Hmmm... gimana yah?" Tuan Farhan tampak berpikir. Si centil naik ke atas tubuh Tuan Farhan memeluk leher Daddynya.


"Abang Hamas tidul di tempat Lia saja bial Lia tidul di tubuh besal Daddy... Daddy tidak apa-apa kan Lia tidul di pelut Daddy" izin Aulia namun sudah bertengger di atas perut Tuan Farhan.


"Tidak apa-apa sayang yang penting Putri Daddy nyaman, ayo abang Hamas di sini" tangan Tuan Farhan menepuk-nepuk kasur tempat Aulia berbaring tadi. Dengan cepat Hamas berpindah tempat dan menjatuhkan tubuhnya di samping Daddynya.


"Yeahh sekarang kita bisa peluk Daddy" seru Azhar dan Hamas. Sedangkan Aulia sudah menutup matanya dan tidak mendengar ucapan kedua abangnya karena sekarang ia sudah sangat nyenyak karena tidur di atas tumpukan kapas yang lembut.


"Nyam, nyam. ayam goleng, enak sekali ayam golengnya, sini Lia akan memakan habis meleka" tutur Aulia tiba-tiba meneteskan air liurnya pada baju Tuan Farhan membuat Tuan Farhan mendengus kesal.


"Hahahaha dasar Ria kebo" cemoh Azhar.


"Pasti mimpi ayam goreng lagi" tukas Hamas.


"Sudah, sudah, ayo kita tidur" ujar Tuan Farhan dan keduanya mengangguk. Tangan mungil Hamas dan Azhar memeluk tubuh kekar Tuan Farhan menutup matanya dan segera tidur.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2