Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 168 Makan Besar


__ADS_3

Happy reading 🤗 Beri vote Seninnya dong Guys ❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah malam, di kediaman Tuan Wijaya tepatnya di Mansion Utama. Untuk menyambut kedatangan menantu kesayangan Nyonya Mita. Wakil Mafia itu meminta para chef dari anggota Black Wolf untuk menyiapkan banyak makanan karena malam ini mereka akan makan bersama sebagai tanda kepulangan sang menantu hebat, juga karena Jons pulang dalam keadaan baik-baik saja.


Ada lima ratus anggota Black Wolf yang turut hadir di Mansion Utama, Tuan Wijaya juga Nyonya Mita mengundang anggota Black Wolf yang berada di hutan lindung tempat pelatihan anak buah Tuan Wijaya. Karena bagiamanapun mereka juga sudah membantu menantu mereka.


"Sayang sudah selesai?" tanya Tuan Farhan pada istrinya.


"Sedikit lagi Prince" jawab Jons sembari memoles wajahnya dengan sedikit bedak juga pemerah bibir. Biar bagaimanapun dirinya adalah seorang perempuan yang mana harus menjaga penampilannya. Entah kenapa di kehamilan ini ia sangat suka berdandan apa mungkin anaknya kali ini adalah seorang perempuan?.


"Kau sedang apa Ara?" tanya Tuan Farhan memeluk Jons dari belakang, tangannya mengelus lembut perut istrinya.


"Aku tidak mau pria-pria di luar sana terpesona dengan kecantikanmu. Kau tahu kan aku ini pria pencemburu" jelas Tuan Farhan mengendus aroma mawar di tubuh sang istri. Ingin sekali melahapnya sekarang namun ia harus bersabar karena ada yang harus ia jaga daripada memuaskan syahwatnya.


"Jangan begini Prince, aku sedang berdandan" keluh Jons sedikit kesal karena tangan suaminya yang tidak bisa diam.


"Aku akan berpuasa selama rentan waktu kehamilan kamu kuat. Tidak bisakah yang ini kamu izinkan?" ujar si Jelangkung dengan tatapan berharap membuat Jons benar-benar tidak bisa menolak. Menjadi seorang istri memang inilah kewajiban utamanya memuaskan suaminya.


"Boleh, tapi jangan sekarang... kita akan turun sebentar lagi".


"Oke, kalau begitu biar yang ini saja" Tuan Farhan membalikkan tubuh istrinya cepat, menekan leher Jons dan mencium bibirnya. Jons yang memang tidak bisa mengelak akhirnya pasrah atas apa yang di lakukan suaminya itu.


"Ah, dasar suami mesum" bisik Jons dalam hati.


"Mesum sama istri adalah sebuah kewajiban. Dan hukum mencatat itu" jawab raja Iblis seakan tahu isi hati sang istri. Sedangkan Jons terkejut karena apa yang di katakan suaminya memang benar.


"Raja Iblis selalu benar" ujar Jons terkekeh kecil.


"Sekali lagi setelah ini kita turun" Tuan Farhan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya menjelajahi ruangan nikmat bersama lidahnya seakan berpetualangan di sana.


"Daddy, apa yang Daddy lakukan pada Mommy?" tanya Aulia menatap kedua orang tuanya yang sedang bertukar saliva. Jons yang ketangkap basah oleh sang putri mendorong dada suaminya kuat. Sedangkan raja Iblis hanya biasa saja tanpa malu sedikitpun.


"Kau memang Putri Daddy yang pengganggu" ketus Tuan Farhan.


"Mommy tadi kalian sedang apa?" tanya Aulia penasaran .


"Oh sedang..."


"Menangkap kecoa sayang, banyak kecoa di sini jadi Mommy dan Daddy menangkap kecoa" potong Tuan Farhan membuat kedua alis Aulia berkerut.


"Apakah sampai di mulut Mommy?" tanya Aulia polos membuat Jons menatap tajam ke arah Tuan Farhan.


"Iya sayang, banyak kecoa di mulut Mommy, jadi malam ini Mommy harus tidur dengan Daddy agar Daddy bisa membunuh kecoanya" tutur Tuan Farhan tanpa tahu jika ada tatapan membunuh dari Jons.


"Prince! kau ingin aku memotong adikmu heh!" ancam Jons tersenyum menyeringai membuat Tuan Farhan berhenti mengoceh.

__ADS_1


"Hehehe maaf sayang" raja Iblis mengangkat jari telunjuk dan jari tengah menandakan bahwa ia tidak mengulanginya lagi.


"Daddy tidak waras" gumam Aulia pelan namun masih bisa di dengar oleh Tuan Farhan.


"Sayang, coba ulangi hmmm...?" ujar Tuan Farhan sembari melotot tajam.


"Daddy tidak waras" ulangnya polos dengan jari mengetuk-ngetuk pipinya.


"Oh, mau di potong uang jajannya yah...?" Tuan Farhan tersenyum jenaka. "Besok tidak boleh jajan lagi yah anak manis" sambungnya membuat Aulia menggeleng pelan.


"Sudah, sudah. Ayo kita turun, Lia mana abang kamu?" lerai Jons menarik tangan Aulia untuk keluar dari bilik kamarnya. Dan Tuan Farhan mengekor di belakang sang istri.


"Sudah di luar Mom" jawab Aulia menggenggam erat tangan Jons, si tomboy melirik putrinya mengelus rambut Aulia dengan sayang.


"Mommy kenapa lama sekali? apa Daddy berulah lagi Mom?" tanya Hamas saat melihat ibunya keluar dari kamar.


"Mommy kalian istri Daddy, jadi itu adalah hak Daddy. Anak kecil jangan terlalu banyak berpikir" sahut raja Iblis menatap jengah putranya yang seperti CCTV saat dirinya bersama sang istri.


"Astaga! aku seperti di kelilingi oleh mata anak-anakku sendiri" batin Tuan Farhan tidak habis pikir dengan perubahan drastis tiga kerucil. Ingin berharap waktu bisa kembali ke masa lalu dan dia akan membawa tiga kerucilnya di kastil hutan vampir.


"Iiish, Daddy seperti emak-emak tukang sayur, banyak ngomong" timpal Azhar bersedekap dada.


"Sudah, sudah!. Kenapa kalian kalau ketemu selalu ribut, sekarang ayo kita turun ingat untuk tidak bertengkar Mommy capek dengarnya..." ujar Jons memperingati anak dan suaminya. Bak anak kucing manis mereka menganggukkan kepalanya tanpa membantah.


"Baik Mom"


"Baik Ara"


"Ayo kita turun" ajak Jons tersenyum tipis.


"Tunggu sayang!" seru Tuan Farhan menghentikan langkah mereka.


"Begini baru perfect" ucap Tuan Farhan tersenyum lebar. "Ayo" ajaknya namun Hamas tidak melangkah sedikitpun.


"Please kali ini Hamas mengalah sama Daddy yah... kan malam ini kita tidur bersama?" Tuan Farhan memohon pada Hamas dengan mata yang sulit di artikan. Sedangkan Hamas dan Azhar hanya mendengus kesal.


"Baiklah, kali ini saja Daddy bisa menggenggam tangan Mommy. Tidak untuk lain kali" peringat Hamas dan Tuan Farhan langsung melebarkan senyum manisnya.


"Makasih sayang, kau memang anak Daddy yang baik hati" puji Tuan Farhan namun Hamas hanya menatap datar.


"Yah, itu karau ada maunya" sarkas Azhar dan Daddynya hanya diam saja.


"Sekarang sudah boleh jalan?"


"Sudah Mom, maaf yah" jawab Hamas dan Jons hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk bisa berkumpul dengan keluarga kecilku. Aku akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin, terima kasih ya Allah" batin Jons sangat bersyukur karena masih bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya itu.


"Yeah! akhilnya kita bisa makan belsama dengan paman" pekik Aulia dengan mata membulat sempurna. Ia begitu terkejut melihat ratusan orang yang sudah berada di ruang makan hingga ruang keluarga. Bahkan kursi, meja juga sofa tidak terlihat lagi. Yang ada makanan di letakan di atas lantai yang sudah di lapisi oleh tikar rotan.


"Apakah kita akan makan di atas lantai?" tanya Hamas pada semuanya.


"Iya benar, kenapa? Hamas tidak suka?" tanya Jons pada putranya.


"Tidak. Aku malah suka makan ramai-ramai, juga sepertinya akan sangat nyaman makan seperti itu" jawab Hamas tersenyum lebar. Para anggota Black Wolf ikut tersenyum mendengar jawaban dari Tuan mudanya. Mereka bahkan tidak memandang rendah para bawahan.


Mata tiga kerucil langsung berbinar kala melihat berbagai macam jenis makanan khas Indonesia yang belum pernah coba apalagi si gondrong.


"Astaga makananku!" pekik Azhar dengan mulut terbuka lebar. Bagaimana tidak, makanan yang sudah tertata rapi di atas tikar rotan itu adalah kuliner Indonesia yang bikin nagih.

__ADS_1


Ada sate Padang, sate Madura, rawon, gudeg, pempek, nasi liwet, rendang, gado-gado, tempoyak ikan patin, ayam bakar kecap, nasi goreng Pete, bahkan juga tersedia bakso dan masih ada banyak lagi.


"Azhar makan duruan yah, Azhar sudah tidak tahan ragi" celetuk Azhar dengan air liur yang sudah menetes.


"Tunggu yang lainnya, kita makan ramai-ramai lebih enak" jawab Tuan Farhan.


"Ahh, kenapa mereka rama sekari, Azhar sudah tidak tahan, kenapa Paman-Paman memasak semua makanan kesukaan Azhar sih" gerutu Azhar yang sudah menahan air liurnya untuk tidak menetes lebih banyak lagi.


"Abang Azhal, ail liul abang di lap dulu" bisik Aulia dan Azhar langsung melap air liurnya. Benar saja Azhar sampai malu melihat air liur di dagunya.


"Ck! menjijikkan" cemoh Aulia mengejek Azhar.


"Ria!!" kesal si gondrong. Dan si perusuh kecil itu hanya tertawa puas.


"Apa semuanya sudah datang?" tanya Tuan Wijaya tiba-tiba.


"Sepertinya sudah Tuan"


"Baiklah kalau begitu ayo kita makan bersama, ingat untuk tidak malu-malu anggap saja bukan rumah sendiri" celoteh Tuan Wijaya membuat anggota Black Wolf menaikkan sebelah alisnya.


"Bukankah seharusnya. Anggap saja rumah sendiri" batin mereka dengan perasaan bingung.


"Ayo silahkan makan jangan malu-malu. Aku senang bisa makan bersama, kapan lagi kita makan seperti ini" sahut Nyonya Mita tersenyum lebar.


"Stop!" teriak Azhar tiba-tiba. Semua di sana langsung berhenti sembari menatap ke arah Azhar.


"Ada apa sayang?" tanya Jons.


"Mom, torong ambirin, Azhar mau makan itu, ini, itu, itu, di sana juga di pinggir paman itu, hmmm. Oh yah sate juga, Azhar mau makan"


"Azhar! kenapa tidak makan semua saja" kesal Tuan Farhan pada putra gondongnya karena membuatnya malu di depan anak buah papanya.


"Ah, ide Daddy benar" jawab Azhar dan itu mengundang tawa bagi anggota Black Wolf. Saat ingin makan kembali terdengar teriakkan lagi membuat mereka menghentikan kegiatannya itu.


"Stop! Leca mau ke tempat abang Hamac" seru Alexa dan semua di sana hanya menghembuskan napas kasar.


"Hehehe, maafin Leca" ujar Alexa dengan wajah imutnya.


"Leca ayo kemari" ujar Hamas dan dengan senang hati Alexa beranjak menuju tempat Hamas.


Mereka lalu makan dengan canda dan tawa, semua di sana terlihat sangat bahagia terutama anggota Black Wolf. Mereka benar-benar bersyukur memiliki Boss yang begitu baik bahkan mau makan bersama mereka, hal itu adalah sebuah kehormatan yang tidak akan pernah mereka lupakan.


"Terima kasih Boss" batin semua anggota Black Wolf merasa terharu dengan sikap bijak dari Tuan Wijaya juga Nyonya Mita.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2