Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 113 Wanita Gila


__ADS_3

Happy reading Author up lagi nih


Beri like dan Votenya dong hehehe


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tio begitu benci pada dirinya yang tidak mampu menahan emosinya ia merasa bersalah sudah membentak Aulia itulah sebabnya ia berjalan keluar mencari udara segar guna menenangkan pikirannya yang sedang kalut.


"Bodoh! Bodoh!... Mengapa kamu membentaknya tadi! Jika dia tidak menyukaimu, kamu harus lebih berusaha lagi Tio...!!" Maki Tio pada dirinya. Kaki jenjangnya berjalan melewati koridor rumah sakit tujuannya saat ini hanya untuk menghindari Aulia. Ia takut jika Aulia akan takut dan malah tak mau bertemu dengannya membayangkan itu membuatnya frustasi.


Meraup wajahnya kasar. "Shit! Brengsek!" Ujar Tio sembari menendang angin. Orang-orang di rumah sakit menatap aneh pada Tio.


"Ibu, ibu apakah kakak itu orang gila? Kenapa dia memukul kepalanya...?" Tanya seorang gadis kecil pada ibunya yang dapat di dengar oleh Tio.


"Iya kakak itu orang gila jadi jangan pergi jauh-jauh yah sayang" jawab sang ibu asal hanya untuk menakuti putrinya agar tidak berkeliaran di rumah sakit. Tio mendengar itu makin merasa jengkel.


"Apa-apaan mereka aku di sebut gila! Tidak tahu apa aku pria normal mana ada pria gila setampan aku ini" ujarnya dengan wajah masamnya.


"Banyak olang tampan yang gila Om, mama aku seling ke lumah sakit jiwa dan di sana banyak om-om tampan" celetuk bocah laki-laki pada Tio saat mendengarnya bergumam. Anak laki-laki itu sempat melihat kegilaan Tio yang memukul-mukul kepalanya saat melewati koridor.


"Hey anak kecil! Aku tuh gak gila tahu jangan bicara sembarangan...!" Balas Tio berkacak pinggang melotot ke arah bocah kecil yang tengah mengernyitkan alisnya tinggi.


"Emmm... Kalau bukan olang gila, apa Om olang bodoh?" Tanyanya sembari menaruh jari telunjuknya di dagu dan bibirnya ikut mengerucut kecil tengah berpikir keras. Tio mendengar itu membulatkan bola matanya terkejut apa yang di katakan oleh dua bocah sekaligus.

__ADS_1


"Dasar bocah normal!" Umpat Tio langsung berlenggang pergi meninggalkan tempat rumah sakit yang seperti neraka baginya.


"Huh... Kasihan Om itu sangat tampan tapi sayang dia gila" gumam bocah laki-laki itu pelan lalu masuk di salah satu ruangan.


Tio berjalan keluar dari rumah sakit kakinya terus berjalan menuju pinggir jalan raya, berhenti di salah satu kios kecil untuk membeli sebungkus rokok sempurna karena rokok yang ia beli sudah di ambil oleh Jons. Setelah membeli apa yang di inginkan ia kembali berjalan menyusuri jalan. Tidak tahu arah tujuan hanya mengikuti langkah kakinya itu di mana akan berhenti.


Matanya menangkap sebuah taman sederhana yang hanya beberapa orang saja seperti sepasang kekasih. Taman yang di hiasi beberapa bola-bola lampu berwarna putih juga berwarna kuning.


"Ah di sana ada pohon rindang juga tempat duduk" Gumam Tio berjalan ke arah pohon rindang yang di bawah pohon tersebut terdapat gazebo kecil terbuat dari bambu mengitari pohon itu juga ada lampu yang menghiasi di sekitaran pohon.


"Sepertinya tempat ini sangat nyaman untuk menyendiri" Gumam Tio saat menjatuhkan bokongnya di tempat duduk bambu. Tangannya terulur mengambil bungkusan rokok juga korek api. Membuka bungkusan di tangannya dan mengambil satu batang rokok untuk di hisapnya.


Menyedot rokok di tangannya saat sudah membakarnya mengumpulkan asap rokok di dalam mulut lalu di keluarkannya lewat mulut sekaligus hidungnya. Asap rokok itu mengepul ke udara terbang jauh meninggalkan Tio seperti hati yang sedang sendiri.


"Sebelumnya aku belum pernah menyukai seseorang, kenapa sekali nyangkut malah dia tidak suka... Aku pikir Nona Aulia menyukaiku juga sama sepertiku" Gumam Tio kembali mengisap rokoknya.


"Wajar jika Nona tidak menyukaiku bukankah dia masih kecil belum mengerti hal-hal begituan... Akkkhhh kenapa kau bodoh sekali Tio!!" Teriak Tio mencengkeram rokok di tangannya hingga api di ujung rokok mengenai dan membakar kulit tangannya namun tak membuat Tio merasa sakit seakan tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan hatinya saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Monolognya, matanya mendongak ke atas menatap langit berbintang. "Apakah pacaran se-asyik itu...? Mereka terus tertawa seakan tak ada beban yang mereka pikul" sambungnya kala netranya tak sengaja melihat dua sejoli yang tertawa lepas sembari berpelukan di bawah terangnya bulan.


Masih asyik dengan lamunannya hingga tak sadar seorang wanita tengah berlari ke arahnya tanpa babibu melompat dan duduk di pangkuannya untung dengan sigap Tio menahan pinggang wanita itu agar tidak terjatuh ke tanah.


"Jangan marah! Bantu aku kau lihat di depan sana lima orang pria sedang mengejarku tolong bantu aku...!!" Pinta wanita itu memohon kala melihat Tio akan memarahinya.


"Baiklah aku bersedia mmebantumu tapi setelah ini kau harus menjelaskan padaku kenapa kau di kejar oleh lima preman itu" jelas Tio dan wanita itu mengangguk setuju.


"Di mana wanita itu? Larinya cepat sekali!" Seru salah satu pria.


"Tidak mungkin! Dia pasti bersembunyi di sini kita harus melihat semua orang yang ada di taman ini aku takut dia berpura-pura gabung bersama mereka" sahut temannya dan itu dapat di dengar oleh Tio dan gadis di pangkuan Tio.


"Bagaimana ini? Jangan sampai mereka menemukanku aku harus mencari cara" batin wanita tersebut.


"Maaf aku terpaksa melakukan ini" Ucapnya tiba-tiba dan langsung menangkup pipi Tio, lalu mencium bibir Tio spontan di lumatnya penuh lembut kepalanya memiring ke kanan juga ke kiri seakan menikmati ciuman tersebut. Tio terkejut matanya membesar sempurna dirinya menepuk-nepuk bahu wanita bar-bar di depannya untuk berhenti karena dirinya tengah kehabisan oksigen.


Wajarlah Tio kan kelamaan jomblo dan belum tahu hal-hal beginian ciuman di bibir saja pertama kali bersama Aulia walau Aulia yang duluan melakukannya sebenarnya bukan ciuman melainkan kecupan. tapi kali ini bibirnya di genjot oleh wanita asing yang sangat berani padanya.


"Apa yang wanita gila ini lakukan...?" Tanya Tio menjerit dalam hati. Wanita itu terkekeh geli melihat Tio ngos-ngosan bahkan sampai menepuk pelan dadanya.


"Apa separah itu ciumanku sampai dia kehabisan oksigen? Atau dia yang tidak tahu cara meraup napas saat berciuman...?" Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Kau pasti baru kan melakukan ini?" Ujarnya terkekeh kecil. Wanita itu melihat dua pria preman mengarah padanya ia dengan sigap kembali melanjutkan aksinya.


"Tolong bekerjasamalah Tuan...!" Ucapnya kembali ******* dan memasukkan lidahnya di rongga mulut Tio, bermain-main di sana memiringkan kepala agar tak terlihat oleh dua preman.


"Mereka sepasang kekasih" tutur salah satu pria.


"Kasihan anak muda sekarang belum halal tapi sudah berbuat dosa" balas temannya kemudian berlalu pergi.


"Apakah aku menghianati Nona Aulia...?" Tio merasa bersalah karena sudah berani bermain api di belakang Aulia padahal kan mereka tidak memiliki hubungan yang spesial.


"Kau habis merokok yah? Aku suka rasanya" Kata wanita itu setelah melepas pagutan ciumannya dan beranjak turun dari pangkuan Tio setelah melihat-lihat keadaan yang sudah aman.


"Sepertinya sudah aman untuk kembali kabur" batin wanita itu.


"Kenapa kau melakukan itu? Apakah tidak ada cara lain selain berciuman...! Kau bisa memelukku untuk bersandiwara...!!" Sungut Tio namun tak di tanggapi oleh wanita di sampingnya.


"Sorry Tuan! Jangan marah lagi. Namaku Nara aku akan selalu mengingat malam romantis ini, bye aku pergi dulu heheh" Ujar Nara terkekeh dan langsung bergegas pergi.


"Hey kau belum menceritakan masalahmu...!!" Teriak Tio namun tak di tanggapi oleh Nara.


"Shiit!! Wanita gila" Umpat Tio geram.


"Jika berlama-lama di sini bukan hanya Nara yang memperkosaku tapi juga hantu-hantu di sini" Gumam Tio lalu beranjak meninggalkan tempat angker menurutnya, yang akan di jadikan sebagai pengalaman buruk dalam hidupnya.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2