
Happy reading 🤗
Like dan Votenya dong Guys 🙏😘😘😘
.
.
.
.
.
.
.
Tiga kerucil Iblis tidak pergi ke sekolah hari ini karena berita Tuan Farhan yang sudah mendunia walaupun Tuan Farhan sudah menjelaskan pada mereka namun tetap saja mereka malu karena pasti teman-teman sekolahnya akan membully mereka walaupun sekolah itu adalah milik Daddy mereka.
Berulang kali Tuan Farhan menjelaskan bahwa berita tersebut bohong dan menyuruh untuk pergi ke sekolah namun mereka tidak ingin mendengar kata-kata kotor dan buruk tentang Daddynya. Itulah alasannya kenapa mereka hari ini izin tidak masuk.
"Daddy kan sudah bilang itu adalah jebakan... jangan dengar kata-kata orang lain kalian percaya kan sama Daddy...?" tanya Tuan Farhan sekaligus menjelaskan pada tiga kerucil Iblis.
Ketiganya mengangguk sembari menatap dalam wajah Tuan Farhan. "Kami selalu percaya sama Daddy... tapi kami tidak mau mendengar orang-orang menghina Daddy" tutur Hamas menunduk sedih.
"Iya Dad, rebih baik kami di rumah duru jika beritanya sudah tidak panas baru kami akan ke sekorah" timpal Azhar.
"Iya Dad Lia tidak mau dengal meleka yang celita-celita tentang Daddy padahal kan meleka tidak tahu yang sebenalnya..." ujar Aulia ikut menyahut. Terlihat jelas wajah sedih dari tiga kerucil. Dan Tuan Farhan sangat paham akan hal itu rupanya berita semalam benar-benar membuat anak-anak Iblis ikut imbasnya.
"Semoga Ara tidak melihat berita palsu itu" bisik Tuan Farhan dalam hati. Merasa takut jika istrinya melihat hal itu maka pasti akan memperburuk keadaan. Ia sangat yakit bahwa Aranya masih hidup itulah sebabnya Tuan Farhan berkata demikian.
Tidak tahu saja jika Jons sudah melihatnya dan sangat murka padanya mungkin sepertinya Jons benar-benar marah sampai tidak jadi pulang ke Mansion. Entah apa rencana Jons akankah dirinyalah akan menjadi musuh suaminya yang dulu sangat di cintai.
"Ya sudah jika itu yang kalian inginkan, jangan keluar dari Mansion! Daddy ke kantor dulu" ujar Tuan Farhan mencium pucuk kepala tiga anaknya dan langsung beranjak pergi dari sana. Tiga kerucil menatap kepergian sang Daddy sampai tidak terlihat lagi karena Tuan Farhan sudah masuk ke dalam lift. Tiga kerucil masuk ke dalam kamar masing-masing untuk mengambil sesuatu dan akan turun nanti untuk sarapan.
Di lantai dasar Tuan Farhan melihat kedua orang tuanya hanya Tuan Wijaya dan Nyonya Mita yang berada di meja makan sedang yang lainnya entah pergi ke mana.
Tuan Farhan melangkah mendekati keduanya yang sedang makan dalam diam. "Ma, Pa" panggil Tuan Farhan sontak kedua orang tuanya menghentikan kegiatan makannya dan menatap putra satu-satunya itu.
"Ayo sarapan dulu" ajak Nyonya Mita.
"Tidak usah Ma Farhan buru-buru" jawab Tuan Farhan ia lantas menyalami punggung keduanya.
Saat hendak melangkah tiba-tiba suara bariton milik Tuan Wijaya menghentikan langkah raja Iblis dan pria tersebut menatap datar wajah ayahnya.
"Apa rencanamu selanjutnya Farhan dengan wanita model itu? berita buruk tentangmu sudah sangat menggemparkan dunia"
__ADS_1
"Aku akan menikahi model itu Pa" jawab Tuan Farhan datar dan hal tersebut memicu adrenalin Nyonya Mita.
"Tidak bisa! bagaimana dengan menantu Mama Farhan! apa kau melupakannya! Mama tidak terima dengan keputusanmu itu!" bentak Nyonya Mita menatap tajam putranya. Sedang yang di tatap hanya menampilkan ekspresi biasa saja.
"Aku pergi dulu" tidak membantah ia pun melenggang pergi meninggalkan seorang wanita paruh baya yang tengah stress.
"Sudahlah biarkan dia menyelesaikan urusan pribadinya lagipula dunia makin ramai memperbincangkan keburukan putra kita juga saham menurun drastis akibat masalah ini walaupun Papa tahu itu adalah akal-akalan mereka... biarkan mereka menikah maka masalah akan selesai" jelas Tuan Wijaya menenangkan istrinya itu.
"Kau menyetujuinya?... jangan harap malam ini Papa mendapatkan jatah" seru Nyonya Mita dengan mata mengerling tidak suka ia pun meninggalkan Tuan Wijaya dengan mulut terbuka lebar.
"Tidak! jangan lakukan itu sayang!!" teriak Tuan Wijaya yang langsung berlari mengejar sang istri yang sedang ngambek. Yang benar saja jatah malamnya tidak di kasih padahal Tuan Wijaya sudah memikirkan berbagai pose saat melakukan adonan hots nanti.
Di sisi lain Richo sedang menuju lantai dua ia di mintai bantuan oleh sang sahabat yang berada di Meksiko yang ingin sekali berbicara dengan Aulia.
Dengan langkah panjang Richo masuk ke dalam lift menekan angka 2 tidak berselang lama pintu lift kembali terbuka dan Richo buru-buru ke kamar Aulia.
"Non Aulia apa Uncle boleh masuk?" teriak Richo namun tidak ada sahutan ia memberanikan diri untuk membuka pintu namun tidak ada orang ia lantas keluar dan menuju kamar Azhar.
Tok tok tok tok
Tok tok tok tok
"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam.
CEKLEK
"Oh Uncle Licho" seru Aulia tersenyum tipis.
"Ada apa Uncle kemari?" tanya Hamas menaruh ponselnya di atas kasur diikuti kedua adiknya mereka menatap aneh ke arah pria yang baru berkepala dua itu. Tumben sekali kemari. Pikir tiga Iblis kecil.
"Maaf mengganggu waktu Tuan dan Nona muda, ini Uncle Tio ingin bicara sama Nona Aulia" jelas Richo yang langsung menyerahkan ponsel miliknya pada Aulia terlihat jelas wajah tampan dari layar ponsel.
Aulia tersenyum kecil. "Hallo Uncle, apa kabal?" tanya Aulia basa basi. Sedangkan dua Iblis kecil menatap tak suka pada Tio sepertinya mereka masih dendam akan kelakuan Tio pada adiknya kemarin.
"Heh! mau apa ragi Uncre Tio!" sewot Azhar mencibir dalam hati.
"Baik Nona, kabar Nona bagaimana sehat kan?" tanya Tio dari sebrang. Pria itu sungguh khawatir saat membaca berita yang sungguh menggemparkan, ia takut Nona mudanya itu kenapa-kenapa sedang dirinya sangat jauh dari wanita tersayang itulah sebabnya ia menghubungi Richo cepat.
"Baik Uncle, ummm... kenapa Uncel tidak telepon di ponsel Lia saja?" tanya Aulia dengan dahi berkerut sedang di negara lain malah bingung dengan pertanyaan Aulia. Sedari tadi dirinya menghubungi nomor Aulia namun sepertinya nomornya telah di blokir.
"Eh! Uncle telepon berulang kali tapi tidak bisa Nona" jawab Tio heran.
"Ya iyalah aku tidak mau Uncle menelepon Aulia, cih! murahan" bisik Hamas dalam hati.
"Tapi ponsel Lia aktif telus masa tidak masuk sih Uncle" Aulia lantas melirik tajam kedua kakaknya gadis kecil itu sudah paham sekarang siapa lagi pelakunya jika bukan kedua abangnya.
Sedang yang di tatap hanya mengedikan bahunya acuh. Tiba-tiba panggilan sayang dari sebrang telepon terdengar membuat atensi yang ada di kamar Azhar melirik ke arah ponsel. Terlihat seorang wanita berambut pirang duduk dan memeluk mesra Tio hal itu tak luput dari pandangan Aulia.
__ADS_1
"Uncle itu siapa?" pertanyaan Aulia membuat Tio bungkam ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang begitu mudah namun sangat sulit untuk di ucapkan. Lidahnya seketika keluh sungguh pria itu tidak dapat menjawabnya.
"Pacar" jawab seseorang. Bukan Tio melainkan wanita yang baru muncul. Seketika membuat Aulia murung dengan wajah tertunduk sedih.
"Uncle Tio sudah dulu yah Lia sibuk" Aulia langsung menyerahkan ponsel pada Richo. Dengan ragu Richo mengambilnya. Sedangkan Hamas dan Azhar sudah begitu geram pada Tio.
"Dasar pria tua!" gumam Azhar bersungut-sungut.
"Uncle Tio sudah masuk daftar merah di kartu keluarga kami!" Hamas ikut menggerutu namun hanya dalam hati.
Di lain tempat tepatnya di Meksiko seorang pria menatap kesal pada wanita di sampingnya. "Kenapa kau berkata seperti itu?!" tanya Tio dengan suara sedikit tinggi.
"Eh, kenapa? apakah salah kamu kan memang pacar aku" jawabnya dengan alis berkerut heran.
"Tapi jangan di depan Nona Aulia aku tidak suka!" ketus Tio menatap nyalang wajah wanita di sampingnya.
"Why? kau sungguh aneh Tio... ada apa dengan gadis kecil itu?"
"Dia adalah gadis yang aku sayangi, juga gadis yang membuatku tidak bisa tidur... jika kau tahu itu!" kalimat itu ingin sekali ia lontarkan namun hanya bisa di dalam hati.
"Huh! sudahlah, lupakan saja" ujarnya menghembuskan napas beratnya.
"Maafkan Uncle Nona" bisik Tio dalam hati merasa bersalah pada gadis kecil yang ia jaga sejak kecil namun sudah ia lukai hatinya.
Sedangkan di Mansion Utama Aulia sudah menangis sedih dan dua abangnya memeluknya erat. "Sudah jangan menangis, itu adalah hak Uncle Tio lagipula Uncle Tio sudah dewasa tidak cocok dengan Lia" jelas Hamas menepuk pelan punggung kecil Aulia.
"Hiks, hiks, Uncle Tio jahat!" seru Aulia sesenggukan.
"Sudah yah Ria jangan nagis ragi" sahut Azhar menenangkan adiknya itu.
"Sudahlah jangan mikirin Uncle Tio lagi, sekarang ayo kita bermain" ajak Hamas dan Aulia mengangguk pelan. Mengusap air matanya juga ingusnya ketiga kerucil Iblis itupun kembali memainkan ponsel masing-masing dengan game perang yang sudah mendunia.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung