Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 131 Bertemu Kembali


__ADS_3

Happy reading 🤗


Like komen like komen like komen like komen


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Matahari kini mulai menampakkan wujudnya menyinari ibukota Jakarta yang selalu padat dalam lalu lintas juga padat dalam soal kependudukan. Di kediaman Tuan Wijaya tepatnya di Mansion Utama keluarga Tuan Wijaya sudah duduk berkumpul untuk sarapan. Sebenarnya kata sarapan yah itu berarti hanya makan roti juga susu tapi perut orang Indonesia pasti berbeda dengan perut orang luar yang harus makan makanan berat.


Seperti biasa keluarga Alex juga hadir di sana namun kali ini ada penambahan anggota baru yaitu Tio. Pagi-pagi sekali Tuan Wijaya mendatangi ruang inap Tio memintanya untuk bergabung sarapan di meja makan walau terjadi sedikit paksaan dan pada akhirnya Tio mengiyakan ajakan Tuan Wijaya entah apa niat Bossnya semoga saja tidak berdampak buruk padanya.


Di sisi lain Aulia menatap tajam Tuan Farhan gadis kecil itu seakan punya keyakinan kuat jika Daddynya lah yang memindahkannya ke kamarnya karena saat bangun ia sudah berpindah tempat padahal semalam ia tidur dalam pelukan Tio... Terasa nyaman bahkan sangat nyaman.


Tak sengaja Tuan Farhan melirik ke arah putrinya kedua ayah dan anak saling menatap, terlihat jelas wajah kesal Aulia membuat raja Iblis terbahak dalam hatinya. "Hehehe... Putriku pasti sedang mencurigaiku, dasar anak kurang akhlak" Celetuk Tuan Farhan dalam hatinya tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Daddy yang memindahkan Lia ke kamal atas yah...!" Tuding Aulia to the point semua di sana menatap ke arah Aulia juga Tuan Farhan heran.


"Cucuku, ada apa? Kenapa sampai bicara seperti itu pada Daddymu sayang...?" Tanya Nyonya Mita. Mereka menghentikan sejenak kegiatan makan mereka, karena lebih seru mendengar jawaban dari Nona kecil mereka.


"Semalam itu Lia tidul belsama Uncle Tio tapi tadi pagi Lia bangun di kamal Lia... Lia tidak tahu siapa yang sudah bawa Lia ke kamal Lia" Jelas Aulia memasang wajah ketus. Tio yang mendengar hal itu menelan ludahnya kasar kala tatapan semua orang di meja makan terarah padanya.


"Kalau Lia gak tahu kenapa curiga pada Daddy...?" Protes Tuan Farhan kembali melanjutkan makannya tanpa melihat putrinya yang tengah kesal padanya.


"Lia yakin pasti Daddy yang lakuin itu... Daddy kan semalam gak bolehin Lia untuk tidul baleng sama Uncle Tio hiks, hiks, hiks..." Tangis Aulia pecah. Raja Iblis membuang napas kasar kala putrinya kembali menangisi Tio.


" Apa sebegitu besarnya keinginan Nona Aulia untuk tidur bersamaku...?" Lirih Tio sedih melihat tangisan pecah Aulia.


"Tio kamu sudah sehat kan. Hari ini kamu kembalilah ke apartemenmu!" Titah Tuan Farhan tegas ia tidak bisa mentolerir lagi perasaan putrinya pada pria dewasa seperti Tio.


Semua di sana menatap jengah Tuan Farhan jika sudah begitu tak bisa di bantah lagi. Tio tertunduk sedih apa sesusah itu untuk menerimanya emang apa salahnya jika umurnya berjarak jauh dengan Aulia toh mereka saling mencintai kenapa perbedaan umur selalu menjadi permasalahan di antara dua sejoli yang saling mencintai... Seakan perbedaan umur adalah hal tabu di masyarakat padahal itu tidak menentang agama juga budaya.


"Apakah aku harus kuat seperti Tuan muda baru dia bisa menerimaku...?" Tutur Tio dalam hati. Karena tidak tahan lagi dengan suasana yang sangat mencekam itu ia pun beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Tio!" Panggil semua yang di sana terkecuali anak-anak dan Tuan Farhan. Raja Iblis hanya memandang datar pada Tio.


"Kau mau ke mana Tio? Duduklah dan makan dulu kau belum menyentuh makanan sedikitpun" Ujar Tuan Wijaya.


"Duduklah Tio" Seru Nyonya Mita dan Jons bersamaan.


"Kau belum makan... Setidaknya isi dulu perutmu jangan biarkan kosong kau belum sembuh sepenuhnya" Kali ini Alex ikut bersuara ia tidak tegah melihat sahabatnya tidak di sukai oleh Tuan Farhan.


"Benar kata Alex Tio!" Seru Amanda.


"Aku tidak mau membuat keadaan makin runyam jika aku terus berada di sini" Bisik Tio dalam hati.


Tio tersenyum kemudian berujar "Sepertinya aku harus pulang sekarang... Tidak baik meninggalkan tempat tinggal terlalu lama, nanti aku makan di apartemenku saja sebelumnya terima kasih Boss sudah mengundangku untuk sarapan bersama" Tolak Tio halus ia langsung berjalan meninggalkan mereka.


"Hiks, hiks. Ini semua salah Lia! Gala-gala Lia Uncle Tio pelgi... Lia selalu membuat Uncle Tio kena malah dali Daddy... Lia benci dili Lia hiks, hiks!!" Seru Aulia dalam hati. Gadis mungil itu tertunduk dengan air mata yang mengalir deras. Hamas dan Azhar menggenggam tangan Aulia kebetulan Aulia duduk di antara kedua abangnya.


"Jangan nangis Ria, nanti kita akan menemui Uncre Tio" Bisik Azhar di telinga Aulia.


"Abang akan bantu Lia... Jangan nangis lagi yah" Bujuk Hamas lembut. Aulia menganggukkan kepalanya pelan. Menghapus air matanya dan mengangkat kepalanya. Tanpa melihat semua di sana Aulia langsung menyantap makanannya tanpa bersuara.


"Kacian kak Lia" Gumam Alexa menatap sedih wajah Aulia. Amanda tersenyum kecil melihat simpati putrinya pada Aulia.


Ibu muda itu pun mengelus rambut putrinya sayang.


Tio berjalan keluar dari bangunan besar nan megah itu saat hendak keluar dari gerbang sebuah panggilan menghentikan langkahnya lalu mencari arah sumber suara tersebut.


"Kau mau ke mana Tio?" Tanya Richo saat sudah di depan Tio. Tio mengeluarkan napas kasar.


"Masalah Nona Aulia lagi..." Tebak Richo dan Tio mengangguk. "Apa kau akan balik ke apartemenmu?" Tanya Richo lagi.


"Kemana lagi kalau bukan pulang ke rumah sendiri" Jawab Tio sedikit ketus Richo mendengar itu tertawa pelan.


"Jangan marah-marah itu semakin membuat wajahmu menua" Ledek Richo terbahak hal itu membuat Tio langsung memberikan bogeman kecil ke lengan Richo.


"Kurang ajar!" Seru Tio berdecak sebal.


"Kau tunggulah aku akan meminjamkan motorku padamu" Ujar Richo pada Tio.


"Oke, kebetulan aku belum sempat membeli kendaraan" Jawab Tio tersenyum lebar. Richo berjalan dan sedikit berlari menuju garasi penyimpanan motor yang di persiapkan untuk anggota Black Wolf.


Richo mengendarai motor Kawasaki Ninja H2, motor ini bisa melesat sampai kecepatan 200 km per jam juga banyak sekali manfaat lainnya... Motor keluaran terbaru tahun ini termasuk motor termahal dengan harga mencapai 600 juta miliyar.


Richo menghentikan motornya di samping Tio. Pria itu tersenyum lebar matanya bersinar melihat motor keluaran terbaru dengan harga fantastis.


"Wow keren! Kau sudah mengoleksi motor ini" Pekik Tio menepuk bahu Richo. Richo mencibir dalam hati.


"Yah dan kau beruntung karena motor ini belum ku pakai untuk keluar" Ketus Richo dengan bibir mengerucut lucu.


"Thanks yah kau memang sahabat yang bisa ku andalkan" Puji Tio yang langsung naik ke atas motor Kawasaki saat Richo menyerahkannya.

__ADS_1


"Hati-hati... Apa tidak sebaiknya aku saja yang memboncengimu lukamu belum kering total kan...?" Ada sedikit kekhawatiran dari wajah Richo. Tio sangat beruntung masih ada yang peduli padanya. Tersenyum tipis pada Richo seraya menjawab.


"Tidak perlu, aku tidak mungkin di angkat sebagai anggota rahasia dunia gelap jika luka sekecil ini harus di tangisi" Ujar Tio sembari memasang helm pada kepalanya. "Aku pergi dulu btw thanks yah"


"It's oke tapi kau harus membayar pajaknya sejuta" Jawab Richo dan Tio hanya mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf O.


Karena waktu baru memasuki jam 9 pagi jadi jalanan tidak terlalu padat membuat Tio santai mengendarai motornya. Hingga pada jalan perempatan tak sengaja ia melihat gadis yang pernah ia temui tempo hari. Menghentikan motornya di samping gadis tersebut.


"Hey kita bertemu lagi!" Sapa Tio melepas helmnya. Gadis yang sedang berdiri di trotoar menatap wajah Tio yang sedikit lebam. Mengernyit alisnya heran dan menatap lama wajah Tio yang sedikit familiar dalam ingatannya...


"Ka-kau pria yang pernah menolongku kan?" Tanya sang gadis. Tio menjawab dengan anggukan kecil.


"Ah, pas sekali tolong bawa aku ke Mall City aku hampir terlambat bekerja sekarang" Tanpa malu gadis itupun langsung naik ke atas motor tepatnya di belakang Tio bahkan tanpa se-pertujuan pemiliknya.


"Kau lagi-lagi seenaknya" Ketus Tio dan wanita tersebut hanya tertawa pelan. Dan dengan perasaan kesal Tio pun kembali menjalankan motornya.


"Aku lupa siapa nama kamu" Tutur Tio membuka percakapan.


"Dasar pria pelupa! Kau harus ingat ini... Namaku Nara!" Jawabnya yang ternyata adalah Nara. Wanita yang mencium paksa Tio saat di Bali. Tio mengangguk kepalanya tanda mengerti.


"Btw apa tidak masalah jika aku tidak menggunakan helm...?" Tanya Nara memeluk erat tubuh Tio membuat Tio sedikit resah akan tindakan Nara padanya.


"Cewek ini berani sekali memelukku erat apalagi dua semangkanya lumayan berisi" Batin Tio menggeleng kepalanya pelan membuang pikiran kotornya. Ah dasar cowok! sekali rasa yang nyaman-nyaman pikiran kotornya pun keluar. Ck! Menyebalkan!.


"Hey kenapa diam saja" Teriak Nara menepuk bahu Tio membuat pria itu langsung tersadar.


"Eh, ah yah kita akan mampir membeli helm untukmu" Jawab Tio.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2