Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 153 Kecemburuan Aulia


__ADS_3

Happy reading 🤗


Beri like dan hadiahnya dong guys 😘😘


.


.


.


.


.


.


.


.


Mobil Ferarri berwarna avocado itu tengah di kendarai oleh Sandy sedangkan Richo, Aulia dan Hamas duduk di jok belakang Azhar dan Alexa duduk di jok depan bersama Sandy.


"Uncle Licho, apakah Uncle Tio di sana sangat sibuk...? kenapa setiap Lia telepon tidak pelnah di angkat?" ungkap Aulia menatap ke bangku sebelah lebih tepatnya ke arah Richo yang duduk bersebelahan dengannya. Aulia centil itu sudah sangat merindukan Tio setelah kepergiannya dari Mansion hanya tiga kali mereka melakukan video call-an dan sampai sekarang entah apa yang terjadi membuat Tio perlahan-lahan menghindar.


Terlihat raut wajah sedih Aulia dan Richo bisa melihatnya dengan jelas.


"Mungkin Uncle Tio sedang sibuk... coba Uncle hubungi Uncle Tio dulu siapa tahu dia akan menjawabnya" jawab Richo dan Aulia mengangguk antusias. Hamas dan Azhar hanya mendengarkan tanpa menyahuti.


Richo meraih ponselnya yang berada di saku celana depan mencari aplikasi bernama WhatsApp dan menekannya ia akan melakukan Vc dengan Tio sahabatnya karena merasa kasihan pada Nona mudanya.


Saat melakukan panggilan video tiba-tiba terlihat gambar seorang pria tengah duduk di sofa dengan cepat Richo memberikannya pada Aulia.


"Hallo Ric" sapanya dari sebrang namun seketika matanya membulat sempurna kala melihat wajah mungil nan menggemaskan di depan layar ponselnya.


"Eh No-nona" lirihnya dengan tangan menyentuh dadanya. Terlihat binar bahagia saat melihat wajah yang sangat di rindukannya namun dengan cepat ia merubah ekspresinya.


"Uncel Lia lindu Uncle, sangaat lindu... kenapa tidak pelnah mengabari Lia lagi" pekik Aulia dengan bibir merekah antusias. Membuat Tio sulit menelan ludahnya.


"Kau masih sama Nona, masih memenuhi relung hatiku namun aku harus menjaga perasaan seseorang sekarang" batin Tio dengan kepalan tangannya menggenggam bibir sofa kuat.


"Hehehe maaf Nona, Uncle sangat sibuk sampai lupa mengabari Nona" jelasnya kaku dan hal itu membuat Aulia mengerucutkan bibirnya seperti bebek membuat mata Tio makin melebar sempurna.


"Astaga jangan membuat bentuk bibir seperti itu Nona, jangan perlihatkan pada pria lain atau aku pasti bisa gila" pekik Tio namun hanya dalam hatinya. Ia menjerit tidak rela.


"Iiiihh, Uncle nyebelin!" ketus Aulia pura-pura merajuk padahal dalam hati sudah sangat senang, dua kerucil Iblis hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah centil adiknya yang tidak sesuai dengan umurnya.

__ADS_1


"Ck! dasar Ria centir" batin Azhar.


"Uncle..."


"Sayang"


Ucapan Aulia terpotong kala melihat seorang perempuan cantik dan dewasa duduk di samping Tio apalagi wanita cantik itu tanpa malu mencium pipi Tio mesra mendadak Aulia terdiam dengan wajah yang sulit di jelaskan. Tio kalang kabut seakan ketahuan selingkuh ia tersenyum masam pada wanita di sampingnya.


"Eh sayang, sudah selesai?" tanya Tio tersenyum tipis namun jantungnya berdegup kencang.


"Sudah sayang, ayo kita berangkat sekarang" jawab sang wanita itu. Richo dan Hamas segera melirik ke arah layar ponsel mereka terkejut atas apa yang mereka lihat.


"Uncle Tio sudah pacaran di sana dan pacarnya sangat cantik juga cocok dengan Uncle Tio... tapi bagaimana dengan Lia dia sangat sedih sepertinya" batin Hamas melirik sekilas wajah sang adik yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Nona maaf yah Uncle tutup dulu ada urusan penting" jelas Tio yang segera menutup sambungan video tanpa menunggu jawaban dari Aulia.


Terlihat kilatan amarah dari mata bulat milik Aulia otaknya masih mencerna atas apa yang ia dengar dan ia lihat Aulia merasa hatinya sangat sakit sulit untuk di jelaskan.


"Nona apa kau baik-baik saja?" tanya Richo pelan. Hamas dan Azhar segera melirik ke arah adik perempuannya begitupula dengan Sandy menatap Nona mudanya lewat kaca spion di depan.


"Uncle Licho telima kasih" ujar Aulia memberikan ponsel Richo ia tersenyum lebar seakan menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Kak Lia jangan nangis yah nanti Om Falan juga sedih" celetuk Alexa dari kursi penumpang depan.


"Heh! siapa juga yang menangis dasal Leca kulang keljaan" gerutu Aulia kesal ia bersedekap dada membuang muka ke arah kaca jendela samping.


"Awas yah! Lia tidak akan pelnah maafin Uncle Tio!" sungut Aulia dalam hati matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis namun sebisa mungkin ia menahannya. Ia tidak mau membuat orang-orang di sekitarnya panik karena dirinya.


"Mommy, Lia lindu Mommy... cepat pulang Lia lindu Mommy hiks, hiks" bisik Aulia menahan tangisnya ia ingin bercerita pada Jons saat ini bahwa hatinya sedang merasa sakit juga kecewa.


Huh! Aulia seperti wanita dewasa saja yang sudah merasakan sakit dan kecewa layaknya perempuan 18 tahun ke atas padahal umurnya masih 5 tahun namun pemikirannya sudah melebihi rata-rata orang dewasa... anak zaman sekarang memang beda dari anak dulu.


"Karau ingin menangis, menangis saja jangan di tahan Ria, pasti sakit karau di tahan" celoteh Azhar dari jok depan.


"Abang!" teriak Aulia kesal namun cairan bening itu seketika keluar dari tempat persembunyiannya. "Huaaaa Uncle Tio jahat, hiks, hiks, abang Uncle Tio jahat pokonya abang halus balas dendam Lia tidak telima huhuhu" tangis Aulia pecah bahkan suaranya menggelegar membuat semua di sana menutup telinga mereka atau kalau tidak maka di pastikan gendang telinga akan meledak.


"Bodoh! kenapa kamu membuat kita dalam bahaya Azhar!!" ketus Hamas dalam hati mendelik jengkel pada Azhar karena dirinya ia harus mendengar suara cempreng adik perempuannya.


"Astaga telingaku!" keluh Sandy dan Richo dalam hati.


"Kak Lia! telinga Leca cakit, kok kak Leca jadi cengeng sih!" ungkap Alexa dengan tangan menutup telinganya.


"Huaaaa kalian semua jahat pada Lia, Lia kan sangat sedih hiks hiks" jelas Aulia masih menangis keras.


"Cup cup cup, Ria sayang jangan nangis yah nanti abang beri hukuman untuk Uncre Tio oke" Azhar segera berpindah posisi menjadikan kedua lututnya sebagai penyangga tubuhnya di kursi yang ia pijaki tangannya terulur mengelus rambut Aulia. Namun Aulia centil masih tidak mau diam.

__ADS_1


"Huaaa abang Azhal, Uncle Tio jahatin Lia hiks" adunya pada Azhar.


"Iya Ria, abang akan injak-injak Uncre Tio sampai pingsan, cup cup sudah jangan nangis ragi kita sudah sampai di sekorah nih ayo kita turun" tutur Azhar dengan kesabaran penuh. Gadis kecil itu akhirnya menurut menghapus air matanya yang menetes, semua di sana langsung bernapas lega kala Aulia sudah menghentikan tangisnya.


"Alhamdulillah" puji Richo dan Sandy pelan.


"Uncle kami sekolah dulu yah jangan lupa untuk jemput kami" tutur Hamas.


"Siap Boss!" jawab Richo dan Sandy memberikan hormat pada Hamas membuat Hamas tersenyum tipis.


"Sekolah yang rajin Boss" ujar Sandy. Dan mereka hanya mengangguk.


Empat kerucil Mafia itu segera turun dari mobil seorang satpam dari kejauhan segera berlari ke arah mereka.


"Ayo anak-anak gerbang sebentar lagi akan di tutup" jelas pak satpam. Pria paruh baya itu menunduk hormat. Sebenarnya gerbang sekolah sudah ia kunci dari tadi namun ada perintah dari kepala sekolah bahwa anak-anak pemilik sekolah akan datang sebentar lagi alhasil ia membukanya kembali.


"Paman apakah kami belum terlambat?" tanya Hamas dengan alis berkerut.


"Belum Tuan muda" jawab pak satpam singkat.


"Kami tetap mengikuti aturan sekolah, jangan khawatir sekalipun kami anak dari pemilik sekolah kami tetap sama dengan anak-anak lainnya" jelas Hamas tegas, ia tahu bahwa semua ini pasti akal-akalan Nyonya Mita, membuat pak satpam itu tersenyum penuh arti.


"Aku sudah salah menilai mereka" batin pak satpam merasa bersalah karena sudah salah menilai tiga kerucil ia berpikir bahwa mereka termasuk anak Tuan muda yang sombong.


"Waah, abang Hamac benal-benal kelen" pekik Alexa genit.


"Tidak Tuan muda, kalian di beri kesempatan jika lain kali kalian terlambat maka kalian tidak di izinkan masuk menerima mata pelajaran" jelas pak satpam dan mereka semua mengangguk mengerti kecuali Alexa.


Empat kerucil Mafia segera masuk ke dalam sekolah di kawal oleh pak satpam. Sandy dan Richo tersenyum tipis melihat anak-anak sahabatnya yang tidak memakai kekuasaan untuk kesenangan diri


"Benar-benar bibit yang bijaksana" gumam Richo.


"Ayo kita pergi" Sandy mengangguk dan kembali mengendarai mobilnya melesat pergi dari kawasan sekolah tempat anak Tuan mudanya belajar.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2