Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 141 Petualangan


__ADS_3

Happy reading guys 😘


like Vote like vote like vote like vote like vote


.


.


.


.


.


.


.


.


Jons sudah rapi dengan stylenya dulu saat belum menikah yaitu celana jeans robek berwarna navy dan kemeja berwarna hitam tidak lupa sepatu boot kulit berwarna hitam pekat dan dua buah pistol berkaliber tinggi ia masukan di dalam saku jeansnya..., juga tak lupa mengikat rambutnya ala kuncir kuda.


"Aku kangen dengan styleku yang seperti ini..." gumam Jons tersenyum lebar menatap dirinya di pantulan cermin. Ia lalu bergegas keluar dan turun di lantai bawah menuju garasi motor.


Sudah lama ia tidak menggunakan jodynya sejak menikah ia menyimpan motor sportnya di garasi khusus motor.


"Saatnya kembali ke dunia awal Jody kita akan bertarung dengan hewan-hewan buas di sana..." seru Jons tersenyum licik. Ia lalu mengendarai motornya menuju tempat tujuan.


Sudah lama ia tidak bermain-main dengan senjata tajam apalagi melakukan aksi ekstrim sungguh membuat tangannya terasa gatal.


Motor berwarna merah itu terus melaju melintasi daerah pepohonan besar dan tinggi..., daerah khusus pelatihan anggota Black Wolf yang bahkan di hutan itu banyak binatang buas yang sudah kelaparan bahkan spesies mereka saling menerkam hanya untuk mengisi perutnya yang kosong.


Tepat di bangunan bertingkat bercat hitam Jons memarkirkan jodynya di depan bangunan tersebut yang adalah Markas anggota Black Wolf untuk pelatihan. Terdapat empat tingkat dengan luasnya sekitar 50 hektar.


Jons masuk ke dalam Markas di sana ada dua ratus anggota yang menjaga Markas tersebut.


"Boss sudah lama tidak datang ke sini apa Boss mau latihan...?" tanya salah satu anggota.


"Ya. Sudah lama aku tidak menguji kekuatanku lagi" jawab Jons. "Aku ke ruanganku dulu" ujar Jons lagi.


"Baik Boss" jawabnya dan Jons langsung berjalan menuju ruangan pribadinya yang berada di lantai dasar, ruangannya berada di tempat khusus untuk dirinya di batasi oleh tembok.


Anggota Black Wolf yang melihat Jons datang segera memberikan hormat dengan menundukkan kepalanya.


"Selamat datang Boss" ujar mereka semua Jons hanya mengangguk sebagai jawaban hingga sampai dirinya pada tembok berwarna merah ia menyentuhnya dan tiba-tiba saja tembok tersebut langsung bergeser ke samping memperlihatkan sebuah ruangan dengan lampu temaram. Dan tembok berwarna merah kembali seperti semula.


Terlihat sudut bibir Jons terangkat membentuk lengkungan setan di wajahnya. Melangkahkan kakinya menuju sebuah lemari kecil membukanya dan mengambil celana hitam dengan delapan buah saku khusus penyimpanan pisau juga pistol. Jons kemudian mengganti celananya menggunakan celana yang baru di ambilnya dan memasukkan dua buah pistol di dua sisi kakinya.


Tidak lupa Jons mengambil sarung tangan berwarna hitam dan memakainya.


Setelah itu Jons keluar dari ruangan pribadinya berjalan ke arah salah satu ruangan di mana benda-benda tajam tersimpan di sana. Para anggota langsung menundukkan kepalanya kala melihat Jons datang. Yah mereka sangat menyegani wanita yang satu ini karena kekuatannya tidak tertandingi.


Jons berjalan di bagian lemari penyimpanan pisau kecil ia mengambil enam buah pisau ukuran kecil juga sedang masing-masing tiga buah dan memasukannya ke dalam saku di bagian sisi belakang juga pahanya.


Jons lalu keluar dari ruang penyimpanan alat-alat tajam.


"Boss apa perlu kami mengikuti Anda berlatih?" tanya seorang pria berbadan kekar yang memiliki kulit sawo matang. Jons mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk tidak perlu mengikutinya.


"Tidak perlu aku bisa sendiri" jawabnya dengan nada tegas juga penekanan membuat semua di sana mengangguk mengerti.


"Hati-hati Boss hewan buas di sini sangat ganas bahkan mereka saling membunuh hanya untuk menghidupi diri mereka sendiri" peringat salah satu anggota.


"Aku suka sesuatu yang menantang nyawa, aku pergi dulu..." jawab Jons berjalan meninggalkan anggota Black Wolf semua di sana kembali menunduk hormat.

__ADS_1


Sampai di luar Markas Jons melihat ke segala penjuru, pohon lebat bertebaran di mana-mana ia memilih melangkahkan kakinya ke arah selatan mencari keseruan dari petualangannya hari ini.


"GOAAAAARRRR"


Terdengar auman harimau..., Jons langsung menghentikan langkahnya melihat ke segala penjuru ia melihat sebuah pohon bergoyang..., Jons menundukkan tubuhnya meraih pistol yang berada di sisi kakinya.


"Sepertinya itu adalah harimau" gumam Jons menatap ke segala penjuru berjaga-jaga jika hewan buas tersebut akan menyerangnya secara dadakan, oleh sebabnya ia sudah menyiapkan senjata api.


"GOAAAAARRRR"


Dari sisi samping kanan seekor harimau besar melompat ke arah Jons dan...


BUGH


STREET


STREET


Di sisi lain Tuan Farhan dan sekertaris Rio tengah mengeksekusi lima orang pria yang dengan beraninya bermain api di belakang seorang raja Iblis. Tuan Farhan dan sekertaris Rio dari pagi sudah bertolak menuju ke Surabaya cabang perusahannya yang memiliki masalah tentang penggelapan dana untuk membangun panti asuhan serta beberapa hotel di kota pahlawan. Dan tidak tahu malunya mereka meminta uang di pihak panti sebagai ganti rugi hal tersebut membuat Tuan Farhan kesal.


Di sinilah mereka di ruang rapat Tuan Farhan duduk di ujung kursi sedangkan sekertaris Rio duduk di samping Tuan Farhan dan lima orang tersangka sudah ketakutan dengan wajah yang sudah pucat pasih.


"Apakah kami sudah ketahuan oleh Tuan Farhan?" batin salah satu pria.


"Astaga kenapa dia harus datang di waktu seperti ini...?" tuturnya dalam hati menatap takut wajah sangar Boss mereka.


"Apa kalian hanya diam saja tanpa memberikan alasan yang jelas kenapa sampai menggelapkan dana pembuatan panti asuhan juga hotel...?" tanya Tuan Farhan menatap satu persatu wajah-wajah munafik karyawannya. Semua di sana menelan ludahnya kasar tatkala tatapan tajam dari sang raja Iblis.


"Ka-kami tidak melakukannya Tuan!" jawab mereka sedikit kaku membuat kedua sudut bibir Tuan Farhan terangkat membentuk senyuman sinis.


"Rio!" panggil Tuan Farhan dan sekertaris Rio sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Ia melempar beberapa dokumen di depan mereka, dan kelima orang tersebut segera membukanya mata mereka membulat sempurna dan saling melirik. Dokumen yang mereka lihat adalah bukti-bukti penggelapan dana yang mereka lakukan mereka berpikir bahwa mereka sudah bermain bersih tidak tahu Tuan Farhan mendapatkannya dari mana dan siapa?.


"Gawat" bisik salah satu dari mereka dalam hati.


"Kenapa kaget! cepat katakan dengan jelas atau perlu saya bertindak keras baru kalian akan beritahu saya?" tutur Tuan Farhan tersenyum setan. Ia sangat bahagia melihat wajah-wajah ketakut dari orang-orang munafik yang sangat suka memakan uang yang bukan milik mereka...


Tidak tahu saja jika Aranya dalam bahaya sekarang, andai raja Iblis tahu jika wanitanya sedang latihan uji nyawa bagaimana reaksinya... mungkin akan sangat menakutkan.


Kelima pria di sana masih belum menjawab seakan kaku lidah mereka.


Tuan Farhan makin menatap datar ke arah mereka.


"Rio berikan sepuluh pukulan berat kepada masing-masing orang setelah itu bawa mereka ke pihak yang berwajib" titah raja Iblis mutlak.


"Jangan!"


"Kami akan berbicara jujur"


"Maafkan kami Tuan, jangan pukul kami"


Teriak mereka seketika dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Sssstt...! jangan berisik simpan tenaga kalian!" Tuan Farhan meletakan telunjuknya di bibirnya sebagai isyarat untuk diam. Sedangkan sekertaris Rio sudah berdiri di samping mereka menarik kasar tubuh salah satu dari mereka dan...


BUGH


BUGH


BUGH


"To-tolong maafkan saya Tuan..., saya mengambil dana tersebut karena ingin membeli rumah mewah" teriaknya kesakitan.


BUGH

__ADS_1


Sekertaris Rio kembali melayangkan pukulan lagi bahkan tidak tanggung-tanggung ia menendang perut juga batang lehernya membuat pria tersebut hampir mati dengan darah mengalir segar.


"Rio pelan-pelan saja" tutur Tuan Farhan terkekeh senang". Sekertaris Rio hanya memberikan senyum dinginnya. Tak lama seorang pria berbadan kekar membuka pintu ruangan rapat. Raja Iblis menyambut hangat pria tersebut.


"Maaf Devil aku datang terlambat" menunduk hormat di depan Tuan Farhan.


"Tidak masalah River" jawab Tuan Farhan tersenyum misterius. Raja Iblis kemudian memberi kode pada River untuk membantu sekertaris Rio dengan senang hati River menyanggupinya.


"Tidak Tuan! tolong jangan pukul saya"


"Saya bersalah Tuan, saya hanya ingin membahagiakan istri saya dengan membelikan mobil mewah"


"Maafkan saya Tuan jangan pukul kami"


Teriak mereka semakin membuat Tuan Farhan tersenyum sinis bagiamana bisa mereka memberikan uang haram untuk keluarga mereka. Bukankah pendapatan sebulan mereka adalah seratus juta uang sebesar itu belum cukup juga? benar-benar membuat Tuan Farhan begitu muak.


River menyeringai setan ia menarik kasar kerah baju pria munafik menendang lututnya juga perutnya menginjak betisnya hingga terdengar tulang-tulang yang patah.


BUGH


KREEEK


HUGH


Sekertaris Rio tak kala ganas melakukan hukuman mengenakkan, ke-lima pria itupun terkapar di atas lantai dengan tubuh mereka yang kaku juga darah menetes dari lubang hidung dan mulut..., wajah mereka sudah terlihat bengkak dengan warna merah kebiruan.


"Brengsek!" umpat kelima pria tersebut dalam hati.


"River, bawa mereka ke rumah sakit dan pastikan setelah itu masukkan mereka ke penjara!" tegas Tuan Farhan dan River mengangguk mengerti.


"Baik Devil" jawabnya singkat.


"Aku pergi dulu River" ucap Tuan Farhan lagi.


"Hati-hati di jalan" Tuan Farhan mengangguk pelan dan berjalan keluar di ikuti sekertaris Rio dari belakang.


Saat Tuan Farhan dan sekertaris Rio sudah tidak terlihat River kembali berjongkok di hadapan ke-lima pria yang hampir mati itu.


"Jangan membuang bensin sembarangan atau kalian akan terbakar..., ini adalah hukuman paling ringan selain mati" bisik River dengan senyum jahatnya.


"Siapa dia kenapa sangat menakutkan" batin mereka ketakutan.


"Kalian sungguh beruntung bisa selamat dari tangan maut raja Iblis" tutur River lagi kemudian beranjak.


Tak lama beberapa pria berpakaian hitam datang keruangan rapat atas perintah River dan membawa tubuh penuh lebam dari lima pria tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2