
Happy reading 🤗
like komen like komen like komen like komen
.
.
.
.
.
.
.
Aulia berlari masuk ke dalam apartemen mencari Tio di dalam.
"Uncel! Uncle Tio di mana Lia datang...," teriak Aulia membuat seseorang di dalam kamar bergegas keluar. Saat mendengar suara seseorang yang selalu membuatnya kepikiran ia buru-buru memakai bajunya karena tadi baru selesai mengobati lukanya lebih tepatnya Nara lah yang membantu membaluti luka di dada Tio karena Nara tak sengaja memencetnya kuat saat mengantar Nara bekerja.
CEKLEK
"Nona Aulia" panggil Tio saat melihat Aulia berdiri di depan matanya. Dan dengan segera Tio berjalan ke arah Aulia.
"Nona datang dengan siapa...?" Tanya Tio lagi berjongkok di depan Aulia. Si centil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Lia datang dengan Uncle Licho, abang sama adik Leca" jawabnya dengan wajah polos membuat jantung Tio berdebar melihat senyum manis di wajah Aulia.
"Oh ayolah jangan berdetak sekarang aku tidak mau Nona Aulia mendengarnya...," bisik Tio dalam hatinya tersenyum gugup.
"Ummm..., ayo kita duduk di kursi sofa" ujar Tio pada Aulia namun si centil menggeleng tidak setuju ia tetap berdiri di tempatnya sembari melipat dua tangannya di atas perut.
"Ada apa Nona? kenapa tidak mau ke sofa?" tanya Tio heran terlihat alisnya terangkat sebelah dengan guratan kecil di dahinya.
"Gendong Uncle, Lia mau gendong" tutur Aulia dengan wajah memelas bibirnya mengerucut seperti mulut bebek membuat Tio terbahak.
"Jangan sampai pria lain melihat wajah imutnya aku pasti tidak akan rela" batin Tio menatap dalam wajah Aulia. Sedangkan Aulia menatap aneh wajah Tio.
"Uncle Tio kenapa liatin Lia begitu? Uncle tidak mau yah gendong Lia" wajah si centil sudah masam layaknya cuka yang di pakai sebagai pengganti lemon. Tio seketika tersadar dari lamunannya ia kemudian tersenyum tipis dan membawa tubuh Aulia dalam gendongannya seperti bayi koala.
"Tentu Uncle akan menuruti permintaan Nona Aulia, apa sih yang gak bisa Uncle lakukan hmmm..." jawab Tio tersenyum tulus, Aulia melingkarkan tangannya di leher Tio dan kaki mungilnya ia lingkarkan di pinggang Tio membuat wajah mereka semakin dekat. Tatapan kedua anak manusia itu saling bertemu cukup lama hingga sebuah suara menyadarkan mereka.
"Tio kamu tidak boleh menggendongnya lukamu akan terbuka lagi" seru Nara dari jauh terlihat wajahnya yang mencemaskan keadaan Tio karena tadi pagi saat mengantarnya ke tempat kerja ada darah di baju Tio dan darah tersebut berasal dari luka Tio yang cukup besar, alhasil Nara tidak jadi bekerja ia lebih memilih mengobati luka Tio karena dirinyalah penyebabnya.
Tio menatap tajam Nara ia tidak ingin Nona Aulia cemas padanya lagipula ia sangat senang orang yang ia cintai berada di dekatnya.
__ADS_1
"Dasar Nara! kenapa harus mengatakannya di depan Nona Aulia sih" kata Tio dalam hati sedikit ketus.
Aulia kembali menatap Tio dan benar saja si centil begitu khawatir...
"Uncle tulunin Lia, Uncle masih sakit Lia tidak mau Uncle Tio kenapa-kenapa..., maafin Lia Uncle, pasti lukanya sakit kan?" tanya Aulia yang sudah berkaca-kaca. Tio tersenyum tipis pria jomblo itu langsung mencium pipi Aulia karena gemas sedangkan Nara hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa anak kecil itu? dia terlihat sangat dekat..., apakah dia adalah adik Tio?" gumam Nara dalam hatinya.
"Iiih Uncle buluan tulunin Lia" pinta Aulia lagi namun Tio tidak mempedulikannya malahan Tio semakin memeluk erat tubuh mungil Nona mudanya berjalan mendekat ke arah Nara.
"Nara bisa minta tolong siapkan minuman untuk para tamu?" tutur Tio dan Nara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Iya aku akan menyiapkannya segera" jawab Nara tersenyum tipis.
"Terima kasih Nara aku akan membalas kebaikanmu" balas Tio dan bergegas menuju ruang tamu di mana Richo dan tiga bocah berada.
Aulia terus menatap wajah Tio yang terlihat tampan membuat Tio salah tingkah dengan jantung yang terus memburu.
"Aduh Nona jangan melihatku seperti itu! bisa-bisa aku akan mendapat penyakit asma" lirih Tio dalam hatinya. Ia berjalan cepat agar segera sampai di ruang tamu takutnya jika Aulia tahu bahwa dirinya sedang salah tingkah ia akan merasa malu sekali.
Cup
Tanpa aba-aba Aulia mendaratkan sebuah ciuman tepat di dahi Tio membuat Tio seketika menghentikan langkahnya.
"Astaga apakah aku di cium tadi...? " monolog Tio dalam hatinya.
"Hahahahah belenti Uncle...! Lia tidak kuat lagi hahahahah, stop Uncle Lia geli hahahah" teriak Aulia terbahak-bahak saat Tio menggelitiknya.
Tio melebarkan senyumnya kala melihat wajah ceria Aulia membuat hatinya ikut bahagia.
"Hah, hah, hah, Lia capek Uncle" keluh Aulia dengan napas memburu.
"Sudah dramanya Uncre, Ria...!" Ketus Azhar bersedekap menatap tajam Tio dan Aulia bersamaan.
"Heheh maaf nunggu lama Tuan muda kecil" tutur Tio terkekeh jenaka, sedangkan Azhar mencebikkan bibirnya kesal sudah dari tadi ia berdiri mengamati interaksi kedua pasangan beda umur itu dan tak ada satupun dari mereka yang menyadari kehadirannya membuat Azhar benar-benar kesal.
"Ck! dasar Uncre Tio perjaka tua...!" ketus Azhar mengikuti langkah kaki Tio. Heh bocah Iblis tahu dari mana istilah perjaka tua itu! sangat tidak pantas kau mengatakan itu kau kan masih kecil Azhar.
"Kak Lia kenapa lama cekali cih!" kata Alexa dengan wajah masam. Sedangkan Aulia hanya cengir tanpa dosa si centil masih bergelayut manja pada Tio membuat beberapa pasang mata terarah pada mereka.
"Lia kayaknya suka banget sama Uncle semoga Uncle Tio juga suka sama Lia" tukas Hamas dalam hati.
"Udah lama bro di sini?" tanya Tio dan menjatuhkan bokongnya di atas sofa single.
"Kami udah lama sampai berjumur di sini kenapa tidak lebih lama lagi" ketus Richo dan Tio hanya tertawa kecil sembari tangannya merangkul pinggang Aulia.
"Ria centir bisakah kamu turun dari Uncre Tio? Uncre kan masih sakit" tukas Azhar mendelik jengkel melihat kemesraan dua sejoli tanpa tahu tempat itu.
__ADS_1
"Lia gak mau tulun" jawab Aulia memeluk erat leher Tio membuat pria itu meringis kecil namun dengan cepat Tio menyembunyikan ekspresi sakitnya.
Tak lama Nara datang membawa nampan berisi jus mangga dan meletakkannya di atas meja kaca.
"Wah tepat sekali aku sudah haus dari tadi" seru Richo tersenyum lebar.
"Terima kasih Tante" jawab Hamas dan Azhar.
"Leca mau minum jus juga" celoteh Alexa girang, Nara hanya menggeleng kepalanya pelan. Nara kemudian memberikan satu persatu gelas berisi jus mangga dan terakhir pada Aulia dan Tio.
Terlihat pandangan tidak suka pada Aulia karena terus menempel pada Tio membuat Nara merasa risih melihatnya.
"Nih anak kecil kok nempel terus sama Tio" ujar Nara dengan perasaan tidak suka.
"Dek bisakah duduk sendiri aku takut luka Uncle Tio akan berdarah" titah Nara dan itu mengundang semua perhatian padanya.
Aulia menatap tajam ke arah Nara ia tidak suka dirinya di atur oleh orang asing apalagi mengatur interaksinya dengan Tio.
"Apakah akan terjadi perang antara wanita-wanita Tio...?" tanya Richo dalam hati ia begitu menantikan pertunjukan selanjutnya.
"Tante jelek siapa pelintah-pelintah Lia! Uncle Tio milik Lia jadi teselah Lia mau duduk di sini" ketus Aulia dengan alis terangkat sebelah. Ia menatap garang wajah Nara.
"Nih bocah benar-benar keras kepala!" gumam Nara pelan.
"Tapi Uncle Tio pasti kesakitan" jawab Nara lagi.
"Tidak!" teriak Aulia dan langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk Tio.
Tio mengisyaratkan Nara lewat matanya untuk tidak mengganggunya ia tidak mau Aulia marah padanya. Nara mendesah berat dan langsung ikut duduk sembari menatap kebersamaan bocah kecil juga Tio.
"Uncle Tio Lia mau tidul di sini" tutur Aulia dan sontak saja membuat mereka membulatkan bola matanya.
"Tidak bisa!" seru dua bocah Iblis dan Nara hampir bersamaan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1