
Happy reading guys 🤗❤️
Like Vote like vote like vote like vote
.
.
.
.
.
.
.
.
Hamas dan Azhar berjalan beriringan menaiki tangga eskalator. Hamas memegang sebuah paper bag berisikan tiga buah ponsel yang baru saja di beli. Sedikit menguras tenaga memang jika berhadapan dengan orang-orang yang tidak selevel seakan mempersulit mereka.
"Aku lapar banget, apa kita mencari sesuatu dulu baru kita ke tempat Daddy...?" Tanya Hamas pada adik gondrongnya. Azhar menatap sekilas wajah Hamas kemudian berbalik menatap jalan di depan.
"Tidak peru Bang, nanti Daddy khawatir karau kita rama" Jawab Azhar dan langsung mendapat anggukan dari Hamas. Ia berpikir juga begitu takutnya raja Iblis akan mengamuk lantaran dua bocilnya tidak datang-datang yang ada malah para pekerja yang akan repot nanti.
Kedua kerucil itu berjalan sangat santai menuju restoran yang di tempati oleh sang Daddy. Tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya karena mendengar suara ribut-ribut di belakang mereka.
"Hey kalau jalan lihat-lihat dong!! Apa kau tidak punya mata apa? Huh...!!" Bentak seorang wanita seksi pada perempuan paruh baya.
Hamas dan Azhar saling melirik kedua alis mereka bertautan sedikit guratan kecil di dahi mereka. "Kasihan sekali nenek itu kenapa dia sampai kena marah...?" Gumam Hamas. Mereka pun berhenti dan menonton pertengkaran kecil di depan mata.
"Maaf, saya tidak sengaja... Saya buru-buru anak saya sedang sakit, sekali lagi maafkan saya" Jawab perempuan paruh baya pada wanita yang mengenakan pakaian super ketat dan pendek itu.
"Cih! Dasar wanita tua...!! Kau tidak tahu betapa mahalnya pakaianku ini. Kau mungkin tidak bisa mengganti ruginya bahkan sampai matipun tidak akan pernah...!!" Bentak perempuan muda itu lagi. Hingga beberapa pasang mata menatap ke arah mereka namun tak satupun yang mau membantu ibu paruh baya itu.
"Aku harus bagaimana ini? Anakku sedang sakit bahkan pekerjaan paruh waktu pun aku tidak kerjakan lagi" Batin sang ibu paruh baya.
Hamas dan Azhar mendengus kesal pada seorang wanita muda yang tidak memiliki sopan santun sedikitpun bahkan sampai memiliki kesombongan melebihi raja Fir'aun.
"Ck! Wanita dengan pakaian kurang bahan itu membuatku benar-benar muak!" Gerutu Hamas menatap jengkel pada wanita muda di depannya.
"Bajunya sangat cocok jika di pakai oreh adik Ria" Tutur Azhar dalam hatinya, matanya menatap datar ke arah perdebatan kecil itu. Memang benar baju yang di kenakan wanita itu akan sangat cocok jika Aulia yang mengenakan untuk baju tidurnya lantaran terlalu pendek mungkin jika tunduk sedikit saja akan terlihat ****** ********.
"Maaf, saya sangat buru-buru... Tolong kasihani saya, anak saya sedang sakit saya harus membawanya ke rumah sakit" Pinta ibu paruh baya itu menampilkan wajah memelas namun tidak di gubris olehnya bahkan dengan teganya mendorong wanita tua itu hingga tersungkur jatuh ke lantai.
"Astaga wanita itu benar-benar kasar"
"Huh! Itu akibatnya karena tidak hati-hati pada Nona kedua keluarga Dermawan pengusaha kaya di kota ini"
"Ayo sebaiknya kita biarkan mereka atau nanti kita akan kena imbasnya"
Orang-orang pun tidak berani melerai perdebatan kecil itu hanya karena salah satunya adalah anak dari pengusaha kaya, Hamas dan Azhar mengepal tangannya kuat mereka baru tahu jika di dunia ini kekayaan adalah hal yang terpenting... Bagaimana bisa mereka tidak memiliki simpati sedikitpun terhadap orang lain! Manusia tidak punya hati.
"Ayo Bang kita basmi manusia urar itu!!" Ajak Azhar yang sudah berjalan ke garda terdepan.
__ADS_1
"Hey Tante jerek...!!! Jangan kasar sama nenek ini...!!' Teriak Azhar berkacak pinggang matanya melotot ke arah wanita cantik juga seksi yang tengah menahan amarah di katai jelek.
"Anak kecil sialan! Orang tua kamu tidak mengajari didikan yang baik untuk kamu yah!!" Bentaknya kasar sembari menunjuk-nunjuk ke arah Azhar.
Orang-orang yang ada di situ langsung melihat ke arah Azhar juga Hamas, Hamas membantu ibu yang terjatuh ke lantai untuk berdiri.
"Nenek tidak apa-apa...?" Tanya Hamas pada ibu paruh baya. Wanita tua itu tersenyum lebar ternyata masih ada yang mau menolongnya.
"Terima kasih ya Allah kau sudah menolongku dengan mendatangkan anak kecil seperti mereka" Tuturnya tulus dalam hati.
"Nenek baik-baik saja... Terima kasih sudah membantu nenek" Jawabnya dengan suara lembut. Hamas mengangguk pelan.
"Nenek pulang saja, biar tante jahat ini kami yang akan mengurusnya" Titah Hamas dengan pandangan tertuju pada wajah keriput itu. "Jangan takut Nek, Daddy kami pemilik Mall ini... Cepat pergilah kasihan anak Nenek" Sambungnya dengan suara pelan. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan langsung bergegas pergi.
"Hey! siapa suruh kalian membiarkan dia pergi!! Anak kecil sialan...! Ada masalah apa kalian sama aku huh!" Teriak wanita cantik yang tidak punya akhlak. Hamas dan Azhar memutar malas bola mata mereka.
"Ayo dek jangan pedulikan wanita sinting itu lebih baik kita ke Daddy sekarang" Ujar Hamas dan Azhar mengiyakan mereka berjalan tidak menghiraukan teriakan gila wanita sombong namun sepertinya wanita itu tidak terima.
"Kurang ajar! Tidak ada seorangpun yang bisa mengabaikanku apalagi mempermalukan aku seperti ini" Umpatnya dalam hati. Ia melihat ke sekeliling orang-orang menatap rendah padanya hal itu semakin memicu emosi dalam dirinya.
"Karena wanita gila tadi sudah pergi maka kalian yang akan menanggung akibatnya" Ujarnya dengan seringai licik di wajahnya ia berjalan cepat dan langsung mendorong kuat tubuh Hamas juga Azhar membuat dua kerucil Iblis tersungkur jatuh ke atas lantai.
BUGH
BUGH
Lutut keduanya mengeluarkan darah sedikit nyeri yang di rasa tapi hal itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka jadi tidak terlalu sakit.
"Hahahaha, jangan pernah macam-macam denganku anak kecil!!" Bisiknya pada Hamas dan Azhar tak lupa wanita gila itu juga menoyor kening keduanya membuat tubuh mereka terhuyung kembali ke belakang. Wanita itu langsung bergegas pergi meninggalkan dua kerucil yang sedang menahan amarah.
" Heh! Siapa yang kau sebut gak ada akhlak" Seru Hamas dalam hati.
" Kakak cantik bicaranya di saring duru dong" Gumam Azhar mendengus kesal.
"Kalian tidak apa-apa dek?" Pegawai wanita itu menghampiri Hamas dan Azhar membantu mereka berdiri.
"Astaga lutut kalian berdarah sini biar kakak obatin... Lagian kenapa harus pakai celana robek-robek kayak gini sih! Masih kecil udah kaya preman aja stylenya" Celotehnya membawa Hamas dan Azhar ke tempat pojokan dan dua kerucil Iblis hanya mengikuti tidak melawan. Hamas masih setia menenteng paper bag berisikan benda berharga.
"Lain kali tidak boleh berurusan dengan orang dewasa jadi gini kan akibatnya... Sini biar kaka tempelkan handplast pada luka kalian" Ujar sang pegawai wanita dan dua bocah laki-laki itu menurut bak kucing manis mengulurkan kaki mereka ke depan. Pegawai wanita tersebut sangat telaten membersihkan luka menggunakan tisu kemudian baru menempelkan handplast pada luka mereka.
"Untung kakak selalu membawa handplast, di mana orang tua kalian biar kaka antar kalian" Hamas dan Azhar menatap wajah wanita cantik di depan mereka, melebarkan senyum di bibir tipis mereka membuat pegawai wanita itu mengernyit alisnya bingung.
"Nama kakak cantik siapa?" Tanya Hamas dan Azhar serempak.
"Anak tampan bisa panggil kakak Nara... Iiihh kalian kok lucu banget sih gemesin lagi" Seru Nara tersenyum lebar tangannya mencubit pipi keduanya sangat gemes rasanya. Ia baru di terima bekerja di Mall ini setelah beberapa hari mencari pekerjaan... Karena ia baru saja lari dari kejaran rentenir yang ada di pulau Dewata karena ia berasal dari sana.
"Oke kak, semoga kita bertemu ragi dan jika bertemu ragi maka kita resmi pacaran" Seru Azhar dengan tampang genit tak lupa mengedipkan matanya pada Nara membuat Nara membulatkan matanya terkejut atas apa yang dilakukan Azhar, anak kecil yang baru tunas miliknya berani bermain mata pada wanita dewasa, apakah ini adalah salah satu tanda-tanda kiamat dunia?.
Azhar menarik paksa tangan Hamas untuk segera berlalu dari sana. Nara masih menatap dua bocah Iblis yang membuatnya geleng-geleng kepala.
"Dasar anak kecil genit, kencing belum benar juga sudah mengajak pacaran" Tutur Nara melebarkan senyum di bibir tipisnya.
Hamas dan Azhar kini melangkahkan kakinya menuju restoran mini yang sudah di depan matanya.
"Ahh sakit Bang!" Pekik Azhar karena mendapat cubitan dadakan dari Hamas.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengatakan seperti itu pada kakak cantik...??" Tanya Hamas menatap tajam pada Azhar.
"Abang cemburu yah? Aku hanya bercanda saja" Jawab Azhar acuh.
"Syukurlah" Batin Hamas bernapas lega. Entah apa maksud anak kecil itu sampai berkata seperti itu apalagi membuang napas lega layaknya orang dewasa yang tengah bersyukur karena temannya tidak menikung gebetannya.
Azhar memicing mata curiga kala tak sengaja melihat perempuan gila yang mendorongnya tadi.
"Bang rihat di sana! Bukankah itu adarah wanita gira yang mendorong kita tadi...?!!" Tunjuk Azhar ke arah sebuah meja. Hamas mengikuti telunjuk adik gondrongnya itu.
"Bukankah itu Daddy dan Om Rio?" Tanya Hamas memperjelas penglihatannya.
"Iya. Jangan sampai Daddy di goda oreh wanita urar kayak dia" Jelas Azhar dengan nada ketus.
"Aku punya ide kamu tunggu di sini... Pegang tasnya dulu" Azhar mengambil alih paper bag. Sedangkan Hamas berjalan ke arah meja yang di duduki tiga orang seperti sebuah keluarga.
"Permisi. Aku tidak punya uang, hmmm... Bisakah kalian memberiku minuman aku sangat haus" Tutur Hamas to the point. Tak lupa ia menampilkan wajah sekarat yang tidak makan lima hari. Tiga orang itupun menatap kasihan pada Hamas.
"Kamu duduk dulu biar kami pesankan makanan untukmu" Jawab mereka lembut. Namun Hamas menggeleng cepat.
"Tidak perlu, aku hanya membutuhkan minuman ini" Tunjuk Hamas pada segelas jus jeruk yang tinggal setengah.
"Tapi itu adalah sisaku lebih baik yang baru saja" Jawab anak perempuan mereka.
"Tidak perlu aku buru-buru soalnya"
"Baiklah. Ambilah ini" Mereka lantas memberikan segelas jus jeruk pada Hamas. Bocah Iblis itu tersenyum lebar dan berterima kasih pada mereka. Hamas kembali pada Azhar dengan membawa segelas jus jeruk.
"Untuk apa jus itu Bang?" Tanya Azhar heran.
" Ayo kau akan tahu nanti" Jawabnya tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Azhar mengikuti langkah kaki Hamas dari belakang ia sungguh penasaran hal apa yang akan di lakukan oleh abangnya itu.
Tiba-tiba Hamas dengan sengaja membuang jus jeruk itu pada pakaian wanita gila tadi dan pintarnya Hamas ia menjatuhkan dirinya juga gelas di tangannya.
PYEEAAARR
BUGH
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1