
Happy reading 🤗
Beri like dan Vote nyadong
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tio kembali ke dalam rumah sakit saat melihat Tuan Farhan sudah menancap gas dan tak bisa mencegahnya lagi. Saat membuka pintu ia tak mendapati keberadaan tiga kerucil raja Hades membuatnya kalang kabut. Mencari di kamar mandi pun tak ada.
"Astaga di mana kalian? Jangan membuatku panik, lagipula tidak cukup apa Daddy kalian membuat ulah sekarang kalian juga!" Ujar Tio dengan wajah khawatir mencemaskan keadaan tiga kerucil yang belum sepenuhnya stabil itu.
"Mmm... Aku akan mengeceknya di kamar Alex semoga mereka di sana" harap Tio mengepal tangannya kuat. Berjalan keluar menuju kamar VVIP B yang di tempati Alex serta lainnya.
CEKLEK
Tio masuk ke dalam netranya menangkap tiga sosok kecil yang suka sekali membuat ulah ia bernapas lega saat anak Tuannya berada di kamar Alex namun siapa yang memberitahu mereka kamar ini?. Pikir Tio kemudian menatap Sandy yang berada di kursi sofa ia lalu menghampirinya seraya berujar. "Apa kamu yang membawa anak Tuan muda?"
Sandy menghentikan game yang di mainnya menatap wajah sahabatnya.
"Iya, aku yang membawanya. Aku mendengar pertengkaran di ruang Tuan muda jadi aku menyusulmu di sana sebelum sampai aku melihat Tuan Farhan berlari dan kau ikut berlari juga jadi aku membawa Tuan dan Nona kecil di sini" jelas Sandy panjang lebar.
"Kau tidak bilang padaku! Aku sangat khawatir aku pikir mereka di culik lagi" ketus Tio menjatuhkan bokongnya di samping Sandy.
"Maaf" balasnya singkat. Kembali melanjutkan game di ponselnya. Karena bosan Tio mengambil ponselnya di saku celana jeansnya lalu menyusuri laman play store untuk mendownload aplikasi game. Saat ingin mendownload aplikasi game zombie ia tak sengaja mendengar penuturan Aulia yang membuatnya tertohok. Mengernyit heran dan menatap tajam ke arah Aulia.
__ADS_1
"Paman Sholeh kenapa tidak bangun-bangun? Lia sedih melihat paman Soleh masuk rumah sakit, katanya paman Sholeh mau menikahi Lia" celetuk Aulia polos sembari menggenggam jari-jari pak Sholeh layaknya wanita dewasa. Kebetulan sekat pembatas sudah di buka jadi orang-orang akan melihat jelas.
"Anak kecil apa kau sudah gila! Apa yang kau katakan barusan" sungut Tio dalam hati.
Ia kembali memasukkan ponselnya ke saku jeansnya dan berjalan pelan ke arah bangsal pak sholeh berdiri di belakang Aulia. Sedang Hamas dan Azhar kembali istirahat di atas bangsal yang di bawa oleh perawat laki-laki di VVIP B karena kondisi tubuh mereka belum pulih total.
"Paman Sholeh, jangan mati! Ayo bangun bagaimana dengan Lia nanti Paman halus menikah dengan Lia" walau belum paham tentang makna pernikahan sepenuhnya tapi gadis kecil itu tahu bahwa menikah harus tinggal bersama.
"Apa yang kau katakan Nona?!" Tanya Tio menatap tajam Aulia. Aulia yang sedikit di bentak sedikit terkejut, mendongakkan kepala menatap Tio dengan tatapan heran.
"Uncle Tio kenapa? Kenapa Uncle membentak Lia begitu?" Tanya Aulia mengernyitkan alisnya walau sedikit takut pada Tio karena tatapannya begitu menghunus padanya namun si centil Aulia berusaha untuk tidak takut.
"Apa yang kamu lakukan Tio! Kenapa kau membentaknya!" Maki Tio pada dirinya merutuki kebodohannya.
"Nona kenapa bicara seperti itu? Nona masih kecil jangan pernah berbicara urusan orang besar apalagi tentang pernikahan" ujar Tio lembut tangannya terulur mengelus rambut Aulia.
"Kau hanya perlu menikah denganku Nona!!" Sambungnya dalam hati. Walau itu sangat mustahil tapi Tio sudah bertekad ia akan mengambil hati Tuan Farhan juga Jons.
"Laki-laki itu sudah tua umurnya seperti Daddy Nona, jangan berpikir macam-macam untuk menikah dengan orang itu...!!" Ujarnya lagi sembari telunjuknya mengarah pada pak Sholeh.
"Mmm... Kata Bunda Ayu Lia halus menikah sama laki-laki yang sholeh, dan paman ini namanya adalah Sholeh" Tuturnya sedih. Mata Tio membulat sempurna atas apa yang ia dengar dari mulut gadis empat tahun itu.
"Nona, Nona salah paham, maksud Bunda Ayu Nona Aulia harus mencari laki-laki baik yang bisa menjaga dan melindungi Nona dari bahaya, juga mencintai dan menyayangi Nona setulus hati" jelas Tio mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Aulia menjatuhkan dua lututnya di atas lantai sembari menatap wajah pucat Aulia.
Tak jauh dari mereka Sandy menatap sahabatnya begitupula Aulia ia sudah tak konsen memainkan game di ponselnya karena live streaming di depan mata lebih menarik untuk di lewatkan.
"Apa sekarang Tio tengah PDKT sama Nona Aulia?" Tanya Sandy begitu kepo. Ia menyimak bahkan kadang tertawa kecil melihat kegigihan sahabatnya untuk meyakinkan Aulia bahwa ia sudah salah paham tentang pak Sholeh.
"Jika laki-laki yang tidak bisa menjaga Nona dengan baik dan tidak memberi cinta serta kasih sayang itu namanya bukan laki-laki Sholeh, jadi bukan nama Sholeh yang berarti laki-laki baik nyatanya laki-laki itu kan yang menculik Nona?" Sambungnya lagi. Aulia terdiam mencerna apa yang di jelaskan oleh Tio padanya.
"Tapi Uncle, paman ini sudah menolong Lia dan lainnya juga" balas Aulia mata bulatnya menatap wajah Tio di dekatnya.
"Tetap saja dia orang jahat! Kalau Nona tidak di culik bagaimana bisa Kalian berada dalam bahaya" sungut Tio.
Aulia tampak berpikir sejenak menatap langit-langit ruangan rumah sakit tersebut kemudian kembali menatap wajah Tio.
"Mmmm... Berarti Lia halus mencari laki-laki yang baik yang mencintai Lia" ujar Aulia tiba-tiba, Tio mengangguk tersenyum lebar.
"Di depanmu Nona adalah pria yang bisa menjagamu juga mencintaimu" tuturnya dalam hati berharap agar Aulia menyatakan rasa sukanya padanya.
__ADS_1
Ia ingin memberitahu Aulia tapi tak berani takut jika Aulia akan menolak lagipula Aulia masih kecil biarlah ia menunggu beberapa tahun lagi.
"Tatapan itu seperti tatapan yang mengatakan bahwa dirinya pria yang baik itu" Sandy terus bergumam sembari menatap lekat-lekat wajah Tio dari kejauhan.
"Ahh iya sepertinya aku sudah menemukannya!" Pekik Aulia bersorak girang.
"Apakah itu aku" Tio penasaran menanti jawaban dari mulut wanita kecilnya.
"Siapa Nona?" Tanya Tio sudah tak sabar.
"Lia pelnah beltemu sama anak laki-laki tapi sepeltinya dia kakak dali Lia, dia tampan sekali Uncle, juga baik aku suka sama dia apakah Lia bisa menikah sama kakak laki-laki itu...?" Tanya Aulia dengan wajah polos penuh harap.
"Tidak! Tidak boleh!" Bentak Tio menatap tajam Aulia.
"Hiks kenapa uncel?" Tanya Aulia sedikit beringsut ke belakang karena takut pada Tio. Sedangkan satu penonton setia kini menutup mulutnya agar tidak kelepasan.
"Hahahaha kasihan sekali kau Tio!!! Hahahaha" Sandy tertawa terbahak-bahak dalam hati.
"Aku akan mencari wanita untuk temanku ini jangan sampai kegilaannya tak bisa di obati" sambungnya lagi. Masih menahan mulut serta perutnya yang terasa sakit akibat menahan tawa.
"Nona! bisa saja dia orang jahat jika bertemu dengannya Nona harus segera pergi! Uncle akan terus mengawasi Nona, jika tidak! Nona akan mendapat hukuman!" jelas Tio lalu beranjak meninggalkan Aulia. melangkah keluar dari ruangan tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1