
Happy reading 🤗
Beri like dan komentarnya
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 22 : 00, Tio sudah berada di depan rumah sakit sungguh melelahkan berjalan cukup jauh dan baru tiba di rumah sakit, dirinya sangat lapar tapi karena matanya terasa berat dan tak bisa di kondisikan alhasil membuatnya harus menahan lapar sampai besok pagi.
Berjalan menyusuri lorong, di jam seperti ini sudah tak seramai saat sore tadi. Menghembuskan napas panjang kala merasa lelah pada tubuhnya.
"Huh! Kenapa aku merasa sangat capek...? Padahal aku tidak melakukan pekerjaan berat" Ujarnya sedikit aneh. Ia tak mampir ke ruang VVIP B lagi dan langsung menuju VVIP A untuk beristirahat.
"Mungkin tiga kerucil sudah tidur di kamar sebelah" gumamnya lalu membuka pintu terlihat kosong di sana. Benar tiga kerucil sudah terlelap di kamar VVIP B tidak kembali ke ruangan mereka karena tidak ada yang menjaga, juga Jons serta Tuan Farhan menelpon mereka bahwa mereka menginap di hotel malam ini.
Menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang yang bisa memuat dirinya seorang namun sebelum itu ia menaruh ponsel serta rokok dan korek api di atas meja kaca persegi.
"Huh! Hari yang melelahkan mari istirahat dan lakukan pekerjaan besok dengan semangat..." Gumamnya kemudian menutup matanya perlahan-lahan hingga dirinya tertidur pulas.
Sedang di kamar sebelah Aulia tidak bisa tidur tidak tahu kenapa dirinya begitu gelisah ingin ke kamar sebelah. Jika keluar sendiri dirinya takut akan melihat hantu rumah sakit jika tidak mungkin akan sulit tidur ia lebih nyaman tidur di kamar sebelah. Apa mungkin dirinya tak melihat Tio jadi membuatnya seakan kehilangan sesuatu dalam dirinya?.
"Lia bangunin Uncle Sandy aja deh" Gumam Aulia menghampiri Sandy yang sudah mengorok, itu berarti Sandy telah mengarungi mimpi indah.
"Maafin Lia Uncle halus bangunin Uncle" bisiknya dalam hati. Mengulurkan tangan mungilnya lalu menggoyang-goyangkan tubuh Sandy membuat tidur pria itu terusik.
"Uncle Sandy bangun! Uncle Sandy bangun! Ayo bangun Uncle!" Seru Aulia berbisik di telinga Sandy agar tidak mengganggu tidur orang lain.
"Euuumm" Gumam Sandy masih sama menutup matanya.
"Susah banget bangunin Uncle Sandy, hmmm... Cala apa yah bial Uncle bisa bangun...?" Tanyanya namun seketika senyum licik tersungging di bibirnya
Karena kesal Sandy tak bangun-bangun akhirnya Aulia memutuskan untuk memencet hidung Sandy agar tak bisa bernapas.
"Hihihi Uncle pasti langsung bangun" Aulia cekikikan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kenapa aku tenggelam...? Bukankah aku berada di rumah sakit lalu apa ini...? Kenapa bisa ada air sebanyak ini. Aku tidak bisa bernapas oh astaga siapapun tolong aku" Teriak Sandy berusaha untuk berenang mencari daratan untuk di singgahi. Keringat bercucuran di wajah Sandy membuat Aulia terpekik kaget karena sudah lama tidak melepas tangannya dari hidung Sandy.
"Ma-aafkan Lia, Lia tidak sengaja" lirih Aulia beringsut mundur. Dan tiba-tiba saja Sandy terbangun dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Syukurlah aku tidak mati rupanya hanya mimpi saja" Ujarnya menarik napas panjang kemudian menyandarkan punggungnya si sandaran sofa mimpinya barusan membuatnya menguras tenaga.
"Uncle" Seru Aulia Sandy terkejut di buatnya. Ia tak tahu saja jika mimpinya itu ada kaitannya dengan Aulia. Kalaupun Sandy tahu ia gak akan berani memarahi Aulia atau nyawanya pasti akan melayang.
"Eh Nona kenapa belum tidur ini sudah jam 11 malam" ujarnya sembari melihat benda persegi di pergelangan tangannya.
"Uncle, Lia tidak bisa tidul, Lia mau ke kamal sebelah ayo antal Lia" Tuturnya tangan mungilnya menarik-narik baju kaos Sandy.
"Eh tunggu Nona! Di sana tidak ada orang, Nona tetap di sini saja" jawab Sandy tidak setuju.
"Cepat lakukan atau besok aku minta Daddy menghukum Uncle" Aulia menatap bengis sembari tangannya berkacak pinggang. Sandy mendesah berat.
"Ini Nona kenapa lagi sih... Apa yang mau di lakukan anak kecil ini di kamar sebelah" batin Sandy.
"Uncle ayo Lia sudah mengantuk ini...!" Serunya jengah.
"Kalau Nona mengantuk yah tidur saja di sini kenapa harus ke kamar sebelah pula baru tidur" Sandy geleng-geleng kepala.
Ia tidak tahu jika Tio berada di kamar A. Dan dengan terpaksa Sandy membawa Aulia di VVIP A. Tidak butuh waktu lama mereka sudah di depan pintu kamar.
"Uncle balik lagi. Lia mau sendili di sini" Titahnya saat pintu kamar VVIP A sudah terbuka. Sandy mengernyit heran.
"Tidak bisa Nona! Uncle akan ikut masuk" balas Sandy tetap kekeh.
"Uncle kalau tante Amanda kenapa-kenapa gimana? Uncle Sandy mau di malahin? Kalena tidak menjaga meleka" Aulia menakut-nakuti. Sandy berpikir sejenak ia menganggukkan kepalanya masuk akal atas apa yang di jelaskan Aulia padanya.
"Hmmm... Benar juga kata Nona Aulia, aku harus kembali". Batinnya setelah menyaring saran dari Nona muda kecilnya.
Setelah kepergian Sandy Aulia berjalan masuk menutup pintunya dan berjalan ke depan tanpa melihat ke kiri dan kanan Aulia hendak naik ke atas bangsalnya namun mata kecil itu mengangkap sosok Tio.
"Uncle Tio tidul di sini...?" Tanyanya dalam hati. Kaki kecilnya turun kembali ke lantai berjalan pelan menuju sofa.
"Uncle Tio pasti kedinginan, umm... Di mana remot AC yah?" Aulia mencari-cari remot AC namun tak kunjung ia dapat.
"Tidak apa-apa kan Lia tidul dengan Uncle Tio?" Ujar Aulia kakinya menaiki sofa dan menjatuhkan tubuhnya pelan di atas tubuh Tio kebetulan Tio tidurnya telentang.
"Ah nyaman sekali" Gumamnya pelan sembari menutup matanya. Sesaat ia membuka matanya kembali mendongakkan kepalanya menatap wajah Tio yang tengah tertidur pulas.
"Uncle Tio kenapa tampan sekali" Celetuknya polos, tangan mungil itu terulur menyentuh rahang tegas Tio.
Aulia tersenyum kecil mendekatkan wajahnya ke wajah Tio hendak menciumnya.
Cup
Aulia mencium pipi Tio sebagai ucapan terima kasih.
"Uuhh kenapa berat sekali" keluh Tio berusaha membuka matanya. Sedikit terbuka ia mendapati Aulia berada di atas tubuhnya seketika membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kenapa Nona Aulia berada di atasku apa dia sedang ngigau...?" Tanyanya dalam hati merasa heran.
Matanya masih setia menatap wajah mungil Aulia yang tertutup oleh rambutnya saat hendak menyentuh wajah Aulia buru-buru Tio menutup kembali matanya karena mendapati Aulia membuka mata.
__ADS_1
"Dia belum tidur? Apa yang akan di lakukan Nona?" Batinnya penasaran.
Cup
Aulia seketika mencium bibir Tio membuat pria itu terpekik kaget.
"Good night Uncle, Lia pinjam tubuh Uncle yah jangan malah" Tuturnya. Saat hendak menaruh kepalanya di atas dada bidang Tio, pria itu dengan cepat menangkup pipi Aulia dan...
Cup
Tio sedikit ******* bibir Aulia lembut bermain dengan lidah Aulia sebentar setelah itu melepasnya.
"Apa yang sudah aku lakukan pada Nona Aulia...? Tio brengsek!" Runtuknya setelah sadar apa yang di lakukan adalah perbuatan fatal.
Aulia terkejut "Uncle Tio yang tadi itu apa...? Kenapa lidah Uncle bisa belmain kayak tadi?" Tanyanya polos Tio mati kutu tidak tahu harus menjawab apa.
"Ekheem" berdehem sejenak. "Itu adalah ciuman tanda sayang dan cinta Uncle pada Nona Aulia, dan ciuman itu di lakukan hanya pada seseorang yang Nona cinta" jelasnya kaku menelan salivanya susah.
"Kalau ciuman sama Mommy dan Daddy? Atau sama abang Hamas dan abang Azhar boleh...?" Tanyanya lagi dengan mata polos terlihat sangat imut.
"Mati aku!"
"Umm tidak boleh Nona, ciuman yang Uncle berikan tidak boleh sama mereka, cukup sama Uncle saja oke" ujarnya menyesatkan.
"Mana mungkin aku rela Nona melakukan itu pada orang lain" Gumamnya dalam hati.
"Tapi..."
"Sssttt... Tidurlah Nona malam semakin larut" Potong Tio cepat. Aulia mengangguk memang matanya sudah sayu ingin cepat-cepat tidur.
"Ahh, selamat" menghembuskan napas panjangnya.
Mereka tertidur sangat pulas hingga tak sadar jika malam telah berganti menjadi pagi, seseorang membuka pintu ruangan tersebut saat menegok ke kiri matanya membesar sempurna mengepal tangannya kuat.
"Apa yang kau lakukan Tio!!!" Teriak Tuan Farhan murka tingkat dewa.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung