
Happy reading
like komen like komen like komen like komen
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari keluarga Tuan Wijaya sudah duduk siap untuk makan malam. Mereka makan dalam diam hanya dentingan sendok yang menemani makan malam mereka. Tuan Farhan menelan nasi yang sedikit susah untuk masuk ke dalam kerongkongannya memikirkan keberadaan istrinya yang entah di mana sekarang...
"Ara kamu di mana sayang? aku sangat merindukanmu, apakah aku harus ikut denganmu!" batin Tuan Farhan tertunduk sedih menatap kosong makanan di atas meja.
"Daddy" seru Aulia menyentuh punggung tangan Tuan Farhan seakan tahu bahwa raja Iblis sedang tidak baik-baik saja.
Tuan Farhan melirik putri kecilnya hanya merekalah yang membuatnya bertahan jika tidak ada triplets mungkin akal sehatnya akan ikut pergi bersamaan dengan kepergian Aranya.
"Daddy tidak apa-apa sayang" jawab Tuan Farhan tersenyum tipis namun seperkian detik cairan bening akhirnya jatuh juga dari pelupuk matanya.
"Jangan menyiksaku lagi Ara ini sangat menyakitkan" batin Tuan Farhan mengepal tangannya kuat sampai terlihat buku-buku tangannya yang memutih.
"Aku kenyang kalian makanlah aku sepertinya sudah mengantuk... aku pergi dulu" tutur Tuan Farhan lalu beranjak dari kursinya. Namun panggilan tiga kerucil menghentikan langkahnya ia pun menolehkan kepalanya ke arah triplets.
"Daddy!"
"Jangan pergi!" seru ketiganya dengan tatapan sedihnya. Tuan Farhan tersenyum tipis mengulurkan tangannya mengelus rambut ketiganya seraya berkata.
"Jangan khawatir. Daddy hanya merasa lelah karena urusan kantor yang sedang bermasalah, kalian makanlah!" jawabnya tersenyum tipis.
Tiga kerucil Iblis itupun akhirnya mengangguk dan kembali makan makanannya tanpa berbicara lagi. Tuan Wijaya dan Nyonya Mita menatap kasihan putra semata wayangnya yang begitu kehilangan sang istri. Mereka hanya bisa berdoa agar Jons cepat kembali dalam keadaan sehat.
"Kalian makanlah setelah itu hibur Daddy kalian" ujar Tuan Wijaya pada ketiga cucunya. Amanda dan Alex hanya menatap kasihan tiga kerucil menurutnya anak sekecil mereka masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu tapi sayang, takdir berkata lain hingga memisahkan seorang ibu dan anak.
"Baik Kek" jawab ketiganya bersamaan mereka kembali menyantap makanan tidak ada yang bersuara semua kembali hening kecuali hanya dentingan sendok yang menemani mereka.
Sedang di ruang tertutup seseorang tengah bersedih selalu menyalahkan dirinya atas kepergian sang istri duduk di bawah kasur menekuk lututnya dan menyandarkan wajahnya di atas kedua lututnya linangan air mata terus mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Ara please! kembalilah apa kau sudah tidak mencintaiku apa tidak ada rasa sayangmu padaku dan anak-anak kita...? aku sungguh merindukanmu Ara, aku benar-benar tidak bisa menerima kepergianmu... rindu ini menyiksaku" lirih Tuan Farhan sesenggukan terlihat punggungnya yang gemetar karena menangis.
"Ara!" panggilnya lagi.
CEKLEK
Seseorang membuka pintu ruang tidur Tuan Farhan enam kaki itu berjalan masuk ke dalam tatapan sendu mengarah pada sosok yang tengah terduduk lemas di atas lantai menelungkup kepalanya di atas lututnya.
"Ayo kita hibul Daddy" bisik Aulia pada kedua abangnya. Yah enam kaki manusia yang baru masuk itu adalah tiga kerucil Iblis mereka buru-buru menyelesaikan makanannya hanya untuk melihat keadaan Daddynya. Takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada raja Iblis.
Ketiganya langsung menghampiri sang Daddy.
"Daddy" panggil mereka lembut tangan mungil si kerucil memeluk tubuh rapu raja Iblis. Tuan Farhan tersentak kaget ia lupa mengunci pintunya hingga triplets mengetahui kesedihannya.
"Kalian..." gumam Tuan Farhan menatap satu persatu wajah mungil anak-anaknya. Tetesan bening itu kembali keluar dari pelupuk matanya yang sudah merah.
"Jangan sedih Daddy, kami sayang sama Daddy jangan seperti ini lagi" tutur Hamas memeluk erat pinggang Tuan Farhan membuat raja Iblis itu semakin tersayat hatinya.
"Daddy adalah plia kuat kata Mommy Daddy adalah yang telhebat laki-laki tangguh dan paling kuat seduniiiaaa" ucap Aulia menatap wajah Tuan Farhan tangannya terulur menghapus air mata sang Daddy.
"Jangan nangis ragi Dad, Mommy pasti akan kembari, jika Daddy menangis kami akan ikut menangis nanti..." sahut Azhar ikut menyemangati Tuan Farhan. Raja Iblis langsung memeluk tubuh anak-anaknya yang selama ini selalu membuatnya semangat dan bertahan hidup.
"Maaf, maafkan Daddy yang begitu cengeng, maaf sayang, Daddy janji Daddy tidak akan sedih kalian benar Mommy akan kembali bersama kita" ujar Tuan Farhan. Ketiganya mengangguk pelan. Menahan air mata mereka yang akan keluar mereka juga sangat merindukan Mommy mereka. Selama ini mereka selalu berpura-pura tegar agar Tuan Farhan tidak bersedih.
"Jangan sedih lagi ayo kita tidul Dad" ajak Aulia melepas pelukannya memberikan senyum manisnya dan Tuan Farhan mengangguk sembari mencium pucuk kepala putrinya.
"Kenapa kalian ikut Daddy masuk, dan tidak ke kamar mandi kalian?" tanya Tuan Farhan dengan alis berkerut.
"Hehehe kami sudah membawa sikat giginya" jawab ketiganya memperlihatkan giginya yang berjejer rapi tangan mereka meraih sikat gigi yang tersimpan di dalam celana mereka namun bulu-bulu sikat gigi itu tidak sampai masuk ke dalam.
"What! kalian simpan sikatnya di dalam situ?!" tunjuk Tuan Farhan menunjuk ke arah celana ketiganya, dan mereka mengangguk kompak. Tuan Farhan terkekeh geli menatap tingkah lucu triplets.
"Ya sudah ayo kita masuk" ajak Tuan Farhan... ayah dan anak itupun segera masuk ke dalam untuk melakukan ritual sehari-hari sebelum tidur malam.
Tak berselang lama ke empat anak manusia akhirnya keluar juga dari bilik kamar mandi setelah mengeringkan wajah dari handuk lembut mereka bergegas naik ke atas ranjang king size Tuan Farhan.
Tuan Farhan merebahkan tubuhnya di tengah-tengah sedangkan Aulia berada di atas tubuh Tuan Farhan agar kedua abangnya kebagian tubuh Daddy mereka.
"Ayo tidur semoga hari-hari besok menjadi hari yang lebih baik bagi hidup kita" tutur Tuan Farhan tersenyum pada ketiga kerucil. Tangan besarnya memeluk tubuh Aulia sedangkan Hamas dan Azhar memeluk pinggang raja Iblis.
"Tetap semangat Dad, jangan belsedih lagi, Lia dan abang akan selalu belsama Daddy" bisik Aulia dan Tuan Farhan hanya mengangguk. Menutup kedua matanya mengistirahatkan tubuh juga jiwanya yang lelah menunggu.
Butir-butir air mata tak terasa jatuh dari pelupuk si Triplets.
"Kami sayang Daddy" gumam mereka dan Aulia mencium dahi Tuan Farhan sedangkan Hamas dan Azhar mencium pipi kanan dan kiri Daddynya.
Triplets Iblis segera tidur mengarungi dunia mimpi mereka yang terasa sangat menyenangkan daripada dunia real yang sungguh membuat sedih namun tetap saja mereka harus kembali ke dalam cerita yang sebenarnya.
__ADS_1
Di sisi lain selepas kepergian tiga kerucil rupanya Tuan Wijaya dan Nyonya Mita menuju lokasi tempat hilangnya Jons menantu kesayangan mereka. Saat ini mereka sudah sampai di Markas Black Wolf berjalan masuk ke dalam bangunan besar itu.
Anggota Black Wolf yang mengetahui kedatangan Boss besar segera berlari menghadap sang Boss Mafia.
"Selamat malam Boss" sapa sang ketua. Dua anggota segera memberikan kursi sofa pada Tuan Wijaya dan Nyonya Mita mempersilahkan sang Boss Mafia untuk duduk.
"Maaf Boss tidak mengetahui kedatangan kalian hingga tidak menjemput Boss" ujar sang ketua yang menangani Markas hutan lindung pelatihan.
"Tidak apa-apa, kedatangan kami ke sini hanya untuk melihat rekaman terakhir keberadaan Jons di hutan lindung ini..." jawab Tuan Wijaya.
"Oh baiklah mari kami akan mengantar Boss ke ruang pemantauan" jawab sang ketua dan mengantar Boss Mafia ke ruangan CCTV.
CEKLEK
Masuk ke dalam dan terlihat beberapa komputer berjejer di atas meja memperlihatkan rekaman di luar Markas.
Tuan Wijaya dan Nyonya Mita menjatuhkan bokongnya di atas kursi di depan meja komputer. Salah satu anggota Black Wolf segera mencari rekaman bulan lalu.
Ketua Mafia dan wakil Mafia menatap serius rekaman yang baru saja di putar oleh anak buahnya hingga sampai pada adegan di mana Jons di serang oleh binatang buas napas mereka menghembus panjang kala sang menantu berhasil membunuh sang liar.
Sampai pada saat Jons terjatuh di atas tumpukan rumput dan tidak terlihat lagi membuat kedua mata Tuan Wijaya dan Nyonya Mita membulat sempurna seakan bahaya besar akan datang menyerang sang menantu.
"Astaga! itu adalah tempat di mana para binatang buas tinggal, dan di sana tidak ada CCTV yang terpasang, bagaimana aku bisa memantaunya" keluh Tuan Wijaya memijat keningnya yang tiba-tiba penat.
Nyonya Mita melirik ke arah sang suami ia tahu bahwa apa yang dipikirkan oleh suaminya sama dengan kekhawatirannya saat melihat rekaman tadi.
"Jangan khawatir dia adalah menantu kita yang hebat dia pasti bisa menaklukkan sang hewan liar" jelas Nyonya Mita menggenggam jemari tangan Tuan Wijaya sedangkan anggota Black Wolf langsung tahu apa yang terjadi. Rupanya Jons jatuh di dunia liar para hewan buas tinggal di mana tempat itu adalah tempat yang di buat oleh keluarga Tuan Wijaya dulu... Tuan Wijaya bahkan pernah masuk ke dalam dan hampir mati jika ayah Tuan Wijaya tidak telat datang untuk menolongnya dan mereka lupa untuk menutup rapat-rapat tempat tersebut sampai membuat Jons terjatuh ke dalam. Mereka hanya berharap agar Jons baik-baik saja dan secepatnya kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1