
Happy reading 🤗
-
-
-
-
✉️ "Jons bisakah kau datang ke sini? ada seseorang yang datang mengancamku, dia bilang akan memutilasi tubuhku jika aku berdekatan denganmu" aduhnya pada Jons yang di sebut sebagai malaikat hatinya.
Mata Jons membulat sempurna siapa yang sudah berani mengancam Nadia nya bahkan dirinya tidak pernah berbuat kasar apalagi dengan embel-embel ancaman segala. Apalagi mendengar kata mutilasi tubuh membuat Jons mengeras rahangnya benar-benar cari mati mereka. Tanpa banyak kata Jons berdiri dengan wajah merah menahan emosi.
"Jons, ada apa denganmu? kenapa wajahmu berubah tiba-tiba apa terjadi sesuatu?" suara seorang wanita menghentikan langkah kaki Jons, Jons berbalik menatap wajah wanita yang menjadi sahabat nya selama di dunia bawah.
"Nadia di ancam aku tidak tahu siapa yang sudah berani mengusik hidupnya" jawab Jons
"Apa kau butuh bantuan kami Jons?" tanya seorang pria yang adalah Richo.
Yah sekarang Jons berada di markas mereka, seharian ini Jons menghabiskan waktunya bersama ke empat sahabatnya.
"Sebenarnya siapa dia? sepertinya dia begitu berharga bagi Jons" batin Amanda.
"Tidak! jika terjadi sesuatu aku akan menghubungi kalian, aku pergi dulu" langkah kaki Jons makin jauh dan tatapan tak rela terus menatap ke arah pintu yang menutup kepergian seseorang.
__ADS_1
"Apa aku sanggup merelakan dirinya? lima belas tahun sudah aku menyimpan dan menunggu dirinya membalas perasaanku namun aku harus menelan pil pahit lagi ketika dia mengatakan akan menikah" gumam seseorang.
"Siapa yang sudah berani mengancam mu Nadia?" tanya Jons dengan rahang mengeras, ia duduk di sofa dan menatap wajah gadis di depannya.
Nadia menunduk takut tak berani menatap tatapan tajam dari Jons
"Aku tidak tahu, tiba-tiba dia datang dan mengancam ku jika aku menganggu hubungan kalian dia bilang akan memutilasi tubuhku jika aku mengganggu mu" jawab Nadia masih dengan kepala menunduk.
"Bagaimana ciri-cirinya?" kali ini Jons benar-benar marah dia tidak tahu ada apa dengan dirinya tapi saat ini ia ingin sekali menggantung orang yang sudah berani membawa dirinya di jurang kematian. Jons tidak tahu jika orang yang sedang ia umpat di hatinya adalah calon suaminya.
Kini tidak ada suara lembut lagi dari bibir Jons yang ada hanya aura membunuh yang di pancarkan olehnya.
"Pria itu sangat tinggi kira-kira tingginya 189 cm dia memiliki bulu-bulu halus pada wajahnya hidungnya mancung matanya bak seperti elang dan bibirnya tipis dia sangat tampan namun seperti iblis secara bersamaan dia memakai pakaian seperti preman" jelas Nadia dengan suara pelan. Perkiraan nya Jons akan memeluk dirinya yang ketakutan namun dirinya salah, Jons sama sekali tidak memeluk dirinya bahkan menatap nya dengan aura tajam.
"Apakah dia Tuan Farhan? tapi TuanFarhan tidak pernah pakai pakaian seperti preman".
"Iya" jawab Nadia singkat, bahkan Nadia yang suka berulah kini hanya berdiam tidak berani menatap wajah tampan prianya.
"Aku akan pulang, jika terjadi sesuatu yang penting hubungi aku jika tidak penting jangan hubungi aku, karena akhir-akhir ini aku akan sibuk" kau mengerti kan? ingat! jangan berbuat ulah!" jelas Jons dengan nada tegas tanpa ekspresi wajah menyebalkan itu membuat Nadia berdecak sebal.
"Yah aku mengerti! aku tidak akan berbuat ulah"
"Bagus! seharusnya jawaban itu yang harus aku dengar, jika kau melanggar maka kau akan tau akibat dari perbuatan mu itu!"
Jons tanpa berlama-lama lagi melangkahkan kaki jenjangnya menuju keluar apartemen Nadia, Jons sebenarnya tidak tega bersikap acuh pada Nadia namun ia harus tetap melakukannya jika tidak seperti itu maka Nadia akan terus berbuat hal-hal yang tidak di inginkan.
__ADS_1
"Ada apa dengan pria itu? dia berubah dengan sangat cepat setelah kejadian kemarin" gumam Nadia lirih.
Di tempat lain seorang pria sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan kaki yang ia letakkan di atas meja kerjanya tangannya memegang sebatang rokok menyedotnya lalu menghembuskan asapnya melalui mulut dan hidung nya.
Mata bak elang dengan rahang mengeras hidung mancung dan kulit putih nyaris sempurna.
"Kau sudah tahu di mana gadis itu tinggal?"
"Iya Boss, gadis itu tinggal di apartemen yang cukup besar seorang diri" jawab seorang pria yang hampir seumuran dengan Boss nya.
"Kau sudah tau kan apa tuagsmu Alan?" tanya pria itu dengan senyum menyeringai.
"Iya Tuan"
"Pastikan kau membawanya dengan keadaan baik, Jons harus membalas semua perbuatannya hahaha".
"Lakukan tugasmu sekarang!"
tanpa banyak kata Alan pergi meninggalkan Bossnya di ruangan pribadi nya.
"Kau akan menerima balasan yang setimpal Jons atas perbuatan mu pada adikku kau akan merasakan bagaimana berada di tempat sempit dan juga gelap, kau wajib merasakan itu Jons!" bisik batin pria itu.
-
-
__ADS_1
-
Bersambung