
Happy reading
.
.
.
.
.
.
.
Aulia membanting pintu kamarnya berlari ke arah ranjang menaikinya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur king sizenya. Dengan posisi tengkurap Aulia menangis tersedu-sedu ia selalu menyalahkan dirinya atas kepergian Tio.
Tak lama suara pintu kembali terdengar Hamas dan Azhar membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.
"Lia" panggil Hamas.
"Ria" panggil Azhar
Kedua kakak beradik itu naik ke atas ranjang berwarna biru langit dengan gambar Doraemon besar.
"Semua olang jahat, Lia ingin sendili tidak mau di ganggu hiks hiks hiks" Ketus Aulia dengan suara seraknya karena terlalu menangis.
"Jangan sedih ragi Ria, ayo kita buat rencana agar bisa ketemu sama Uncre Tio" Ujar Azhar memberi ide sembari tangannya mengusap rambut Aulia.
"Abang akan minta kakek Wijaya buat beli ponsel untuk kita bertiga, jika minta sama Mommy dan Daddy mereka pasti akan melarang, jika ada ponsel kita mudah untuk bertemu Uncle Tio" Sahut Hamas. "Sudah jangan menangis...! Kalau Lia menangis tidak ada gunanya lagi, Uncle Tio sudah pergi" Sambungnya lagi menatap adiknya yang sangat terlihat sedih.
Aulia terbangun dengan air mata masih mengalir di pipinya tak berani melihat wajah kakaknya.
"Jangan sedih ragi Ria, ayo semangat...!! Kita adarah anak raja ibris!! Tidak boreh menyerah...! Kita bertiga harus merawan Daddy setan itu." Seru Azhar melebarkan senyumnya. Hamas dan Aulia terkekeh pelan. Hamas dan Azhar kemudian memeluk Aulia. Memberikan kekuatan pada adik kecilnya.
"Semua salah Lia, kalau Lia tidak kelual... Uncle Tio tidak akan di malahi oleh Daddy d-an dan tidak pelgi dali sini huaaaa" Curhat Aulia kembali menangis, dua abangnya menepuk-nepuk punggung Aulia.
"Hmmm... Ria serain centir ternyata Ria sangat cengeng" Celetuk Azhar pada Aulia membuat Aulia melepas pelukannya.
"Huaaaa abang Hamas, Lia di katai cengeng sama abang Azhal. Hiks abang jahat!" Adu Aulia pada Hamas membuat bocah kecil itu menghembuskan napas panjang memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut mendengar teriakkan Aulia yang sangat menyiksa di telinganya.
"Azhar! Jangan seperti itu... Kau bicara selalu benar" Tutur Hamas tersenyum simpul membuat Aulia melebarkan matanya. Bisa-bisanya dua abangnya berkerja sama memojokkan dirinya... Bukankah itu termasuk kakak luknut!.
"Sekyaaa!! Kelual Lia tidak mau sama abang lagi...! Semua tidak sayang lagi sama Lia huaaaa" Teriak Aulia kencang membuat Hamas dan Azhar langsung menutup telinganya.
__ADS_1
"Apakah ada karung? akan ku masukan adikku ini dan membawanya ke Afrika... Suaranya benar-benar mengganggu" Batin Hamas menatap tajam pada adiknya.
"Astaga Ria! Jangan teriak bodoh kau bisa merusak teringa kami tahu...!!" Keluh Azhar namun Aulia tampak acuh ia bersedekap sembari melempar tatapan permusuhan pada dua abangnya.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali...?" Suara bariton mengagetkan mereka. Raja Hades masuk ke kamar putrinya di ikuti Jons di belakang. Tiga kerucil iblis itu langsung terdiam memasang wajah datar pada raja Hades.
"Ada apa Daddy kemari?" Tanya Hamas melipat tangannya di atas dada sembari menatap angkuh wajah raja Hades. Si Jelangkung batangan terkekeh geli kenapa sifat anak-anaknya begitu mirip dengannya.
"Ada apa Daddy kemari...? Bukankah ini adalah Mansion Daddy, jadi Daddy berhak dong mau kemana" Jawab Tuan Farhan acuh, ia semakin dekat ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di samping tiga kerucil.
"Bisakah kalian memijat Daddy? Tubuh Daddy sangat sakit... Daddy seperti merasa demam" Keluh Tuan Farhan menampilkan wajah memelas. Jons hanya menggeleng pelan.
"Dasar raja iblis banyak sekali taktik muslihatnya" Batin Jons masih mengamati interaksi suami dan anak-anaknya.
"Ckck, tadi saja membentak Lia... Dan sekalang mengadu sakit pada Lia dan abang!!" Gerutu Aulia dalam hati sembari menatap jengah pada daddy-nya.
"Azhar tidak mau! Daddy sudah membentak adik Ria!" Tegas Azhar. Tuan Farhan menghela napas kasar.
"Kenapa mereka semua memusuhiku? Apa aku ini bukan daddy-nya yah?" Monolog Tuan Farhan. Ia tampak berpikir sejenak bagaimana cara agar bisa membuat anak-anaknya ini untuk tidak marah lagi padanya. "Lalu Daddy harus ngapain agar anak-anak Daddy bisa memaafkan Daddy hmmm...?" Tanyanya pada tiga kerucilnya ia tidak bisa berlama-lama untuk tidak berbaikan pada putra-putrinya.
"Bagaimana jika Daddy membelikan kami ponsel?" Hamas angkat suara. "Mungkin kali ini pasti berhasil" Batinnya. Tidak salah lagi jika mereka adalah turunan raja Hades, menginginkan sesuatu yang tidak mungkin... Maka harus memiliki taktik yang lebih licik agar bisa mendapatkannya.
"Tidak!" Tegas Tuan Farhan menatap tajam pada Hamas. "Kalian masih terlalu kecil, tidak baik untuk bermain HP di usia kalian" Jelasnya memberi alasan.
"Kalau begitu kami tidak akan pelnah memaafkan Daddy! Tidak akan pelnah...!!" Sambung Aulia tegas bahkan sampai menekan di akhir kalimatnya. Kali ini.
"Aku setuju dengan Hamas, lebih baik kita belikan HP untuk mereka... Agar dengan mudah berkomunikasi dengan anak-anak apalagi masalah kemarin di Bali aku tidak bisa mentolerirnya" Jons tiba-tiba menimpali dan ikut duduk di sisi ranjang.
"Iya Dad, prease! Berikan ponsel untuk kami yah" Azhar memohon dengan mata berbinar.
"Iya Dad" Sahut Hamas turut memohon.
"Ummm... Dad. Lia bisa memaafkan Daddy, jika Daddy membelikan ponsel untuk kami beltiga" Tutur Aulia dengan dua jari telunjuknya menyatu membentuk garis mendatar, atau horizontal.
"Tiga bocah tengik ini benar-benar yah membuatku tidak punya pilihan lain" Tuan Farhan mendesah berat ia tak habis pikir darimana kepintaran anak-anaknya dalam merayu padahal dirinya tidak pandai merayu. Konyol sekali...
"Pffft... Dasar anak-anak nakal aku tahu untuk apa ponsel kalian? Pasti untuk menghubungi Tio" Bisik Jons dalam hati. Ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah masam dari raja iblis tak ada pilihan lain selain mengiyakan.
"Oke Daddy akan belikan untuk kalian tapi ingat jangan lupa waktu untuk istirahat dan belajar" Ujar Tuan Farhan. Tiga kerucil mengangguk patuh mereka tersenyum lebar bahagia.
"Hehehe tidak mudah mengelabui Daddy rupanya" Hamas tertawa jenaka.
"Uuuhh Daddy benar the best!" Azhar mengacungkan dua jempolnya pada Tuan Farhan.
"Dasar bocah luknut" ketus Tuan Farhan mendelik jengkel.
__ADS_1
"Lia sayang, apa sudah memaafkan Daddy hmmm...?" Tuan Farhan beralih pada Putri bungsunya menatap sayang wajah anaknya yang begitu mirip dengan Jons.
"Tentu! Lia sudah memaafkan Daddy sekalang... Telima kasih Daddy, dan Lia minta maaf juga" Jawab Aulia merasa bersalah.
"Baik. Daddy maafkan tapi Lia halus cium Daddy dulu" Aulia tersenyum senang ia melompat ke tubuh Tuan Farhan yang tengah duduk tegak dan langsung mengecup bibir Farhan membuat mereka terkejut.
"Siapa yang mengajarimu mencium di bibir sayang?" Tanya Tuan Farhan dengan mata melotot, Aulia yang di tanya menjawab polos tanpa tahu apa konsekuensinya.
"Uncle Tio Dad, kata Uncle Tio kalau ciuman di bibil itu untuk olang yang kita cintai, nah kalena Lia cinta Daddy makanya Lia cium di bibil". Benar-benar penjelasan yang polos membuat semua di sana kembali terkejut. Mereka menggelengkan kepalanya memijat pelipisnya. Rupanya mereka sudah lalai menjaga putri mereka hingga membuat pikirannya tercemar.
"What!" Pekik mereka semua. Aulia memandang aneh pada orang tuanya serta dua abangnya terlihat sedikit guratan kecil di dahinya.
"Ada apa? Kenapa melihat Lia sepelti itu...?" Tanyanya bingung apalagi melihat Daddy-nya yang memerah menahan amarah.
"Bocah tengik sialan! Berani sekali mencemari pikiran putriku!" Umpat Tuan Farhan mengerang kesal tangannya sudah terkepal kuat.
"Daddy kenapa malah-malah...? Lia salah yah?" Tanya Aulia dengan mata berkaca-kaca.
"Astaga adik kita tidak poros ragi" Tutur Azhar.
Hamas dan Jons menepuk pelan jidat mereka karena mendengar apa yang di katakan Azhar, perkataan Azhar barusan mengundang tawa Jons dan Hamas namun tidak untuk raja iblis.
"Lia gak salah sayang, tapi Uncle Tio... Daddy harus menghukum Uncle Tio!" Jelasnya lembut namun dengan sorot mata tajam.
"Karena Ria gak poros ragi maka aku akan mempersatukan mereka, gara-gara Uncre Tio Ria jadi begini" Batin Azhar.
"Kurang ajar kau Tio!! Awas kau!" Batin raja iblis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung