
Happy reading 🤗
Beri like dan hadiahnya dong 😁❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Tubuh Jons terangkat ke dalam gendongan Tuan Farhan membawanya masuk ke dalam rumah sakit terdekat. Rumah sakit Paniis Hospital Panimbang adalah tujuannya.
"Kau harus baik-baik saja Ara" batin Tuan Farhan menatap dalam wajah sang istri. Melangkah cepat menuju rumah sakit.
"Suster! Dokter!. Tolong istri saya?" teriak raja Iblis mengagetkan para staf rumah sakit hingga pengunjung lainnya.
Para suster yang mendengar teriakkan dari arah loby rumah sakit segera bergegas membawa bangsal. Juga dokter umum ikut berlari.
"Tolong suster! Dokter selamatkan istri saya dia tenggelam di dalam laut, ku mohon bantu istri saya" ujar Tuan Farhan dengan wajah penuh khawatir.
"Tuan bisa letakan istri anda di atas bangsal dan kami akan segera menanganinya" jelas dokter perempuan dan Tuan Farhan langsung menurut. Membaringkan tubuh Jons di atas bangsal, segera mereka mendorong bad hospital itu membawa masuk ke ruang UGD.
Tuan Farhan yang hendak masuk seketika di hentikan oleh seorang suster. "Maaf Tuan, anda tunggu di luar biarkan kami yang menanganinya"
"Baiklah, jika terjadi sesuatu padanya, aku bisa saja menghancurkan rumah sakit ini" jelas raja Iblis tiba-tiba. Suster itu hanya menaikkan sebelah alisnya tinggi menatap rendah Tuan Farhan.
"Gila" gumam sang suster. Menutup pintu ruang UGD. Pria yang di kenal sebagai raja Mafia tertinggi terduduk lemas di atas kursi besi dekat ruang UGD. Meraup wajahnya kasar bahkan sesekali menarik rambutnya galau.
"Jangan sampai terjadi sesuatu padamu Ara" batin Tuan Farhan dengan tangan menutup wajahnya. Menyandarkan kepalanya di sandaran dinding.
Drrrt drrrt drrrt
Drrrt drrrt drrrt
Tiba-tiba suara dering telepon berbunyi dari dalam saku celananya membuat atensi Tuan Farhan beralih ke arah celananya. Mengulurkan tangan mengambil ponsel miliknya.
"Halo, ada apa Hamas?" yah, yang menelpon dirinya adalah sang putra, Hamas namanya.
"Daddy di mana?" tanya Hamas dari sebrang. Dua Iblis lainnya menunggu jawaban dari sang Daddy.
"Di rumah sakit Paniis Hospital Panimbang, kenapa?". Setelah mengatakan keberadaannya tiba-tiba sambungan telepon terputus sepihak. Membuat Tuan Farhan menaikkan sebelah alisnya heran.
"Ada apa dengan mereka? aneh" ujarnya namun ia tidak ambil pusing. Pikirannya saat ini hanya tertuju pada istrinya, ia berharap Jons baik-baik saja.
__ADS_1
Sedang di lain tempat.
Tiga kerucil Iblis sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi tidak lupa membawa tas di pundak mereka masing-masing.
"Abang yakin jika Mommy belsama Daddy sekalang?" tanya Aulia harap-harap cemas.
Tadi saat dirinya tengah mengerjakan tugas, tiba-tiba abangnya bernama Hamas datang dan mengatakan jika Mommy Jons telah kembali dan kini bersama Daddynya. Mendengar kabar baik tentu membuatnya begitu senang.
"Tentu, abang bertanya pada Paman yang ikut mengantar Daddy ke pernikahan dan tiba-tiba Mommy datang saat itu". Jelas Hamas tersenyum lebar.
"Cih! abang Hamas tidak bertanya dia menggertak Paman sampai membuat paman ketakutan, aku pasti akan benar-benar mengingat moment itu" sahut Azhar ikut menimpali membuat Hamas menatap tajam pada adik keduanya.
"Baiklah, Lia pelcaya sekalang" Aulia tersenyum lebar ia lalu berjalan ke barisan terdepan menjadi pemimpin bagi kedua abangnya.
"Jalan pelan-pelan Lia nanti kamu jatuh" peringat Hamas namun Aulia hanya menanggapi dengan cengiran. Ia sungguh bersemangat hari ini. Bisa di bilang perasaan sakit pada Tio cukup terobati dengan mendengar sang Mommy kembali.
"Lia akan mengadu pada Mommy, kalau Uncle Tio jahat sama Lia!" seru Aulia dalam hati. Tangannya terkepal kuat menahan geram di dadanya.
"Cucu Kakek mau kemana serapi ini? terus tas di punggung kalian apa isinya?" tanya Tuan Wijaya menatap heran tiga Iblis kecil. Padahal hari sudah sore dan tidak biasanya mereka keluar.
"Kami ingin jalan-jalan, bolehkan Kek?" tiga kerucil Iblis kompak memberikan wajah imutnya, mengerjap-ngerjapkan matanya memohon pada Tuan Wijaya.
"Iiihh, imut banget cucu Kakek, sini Kakek cium dulu" seru Tuan Wijaya yang merasa gemas dengan tingkah triplets. Ia benar-benar bahagia memiliki cucu tampan juga cantik seperti tiga Iblis kecil.
"Tapi jangan sampai menemper air riurnya Kek, Azhar tidak suka" ujar Azhar memberikan pipinya untuk di cium namun bukan di cium malah mendapat cubitan dari sang Kakek.
"Dasar cucu luknut" gerutu Tuan Wijaya mengerucutkan bibirnya kesal.
"Iih, Kakek jadi cium gak sih, Lia bulu-bulu" ucap Aulia memanyunkan bibirnya.
"Maaf, baiklah cucu Kakek tersayang"
Cup
Cup
"Kalian tidak geli kan? seperti saudara kalian Azhar?" tanya Tuan Farhan pada Hamas dan Aulia. Dan keduanya menggeleng.
"Ya sudah kalian hati-hati, siapa yang akan mengantar kalian hmmm...?"
"Uncre Richo dan Uncre Sandy" jawab Azhar.
"Ayo Tuan, Nona muda kecil" tiba-tiba Richo bersuara.
"Daaah Kakek, salam buat Nenek yah" ujar Aulia dan Tuan Wijaya hanya memberikan jempolnya.
"Kita mau kemana Tuan muda, Nona muda?" tanya Sandy saat sudah di dalam mobil. Ia menjadi sopir hari ini untuk mengantar Nona juga Tuan muda kecil.
"Hmmm..." berpikir sejenak.
"Rumah sakit Paniis Hospital Panimbang" jawab Hamas saat sudah mengingatnya.
__ADS_1
"What! siapa yang sakit Tuan?" pekik Richo dan Sandy terkejut.
"Sudah ayo jalan Uncle, kami juga tidak tahu siapa yang sakit" sahut Aulia. Dan Sandy mengangguk.
"Kalau tidak tahu siapa yang sakit, kenapa harus ke rumah sakit, Nona!!" teriak Sandy dan Richo merasa kesal sendiri. Sudahlah memang itu adalah tabiat mereka. Richo, Sandy.
Rumah sakit Paniis Hospital Panimbang
Tuan Farhan masih setia menunggu hingga terdengar bunyi dari pintu ruang UGD terbuka menampakan seorang dokter perempuan dengan jas putih sebagai salah satu identitasnya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Farhan beranjak menghadap sang dokter.
Dokter itu tersenyum melihat kekhawatiran dari Tuan Farhan membuat sang dokter turut bahagia. "Selamat Tuan, anda..." belum selesai berbicara si Jelangkung sudah memotongnya terlebih dulu.
"Apa yang dokter katakan! selamat apanya?! istri saya hampir mati dan dokter malah mengucapakan selamat. Apakah dokter waras?" bentak Tuan Farhan melotot tajam pada dokter bernama Iren. Terlihat dari name tag di bagian sebelah kanan.
"Huh, apakah dia pria normal?" bisik salah satu suster yang mengintip di balik pintu.
"Maaf Tuan, mohon dengarkan penjelasan saya jangan dulu menyelanya" tutur dokter Iren masih bersikap biasa bahkan ia berusaha untuk menampilkan senyum manis di bibirnya.
"Jangan harap saya tertarik dengan anda donter Iren! istri saya jauh lebih cantik dari dokter" ketus Tuan Farhan tidak suka melihat senyum dari dokter Iren.
"Aku tahu wajahku sangat tampan..., tapi maaf saya tidak akan tertarik" narsis si Jelangkung batangan merasa bangga.
"Hah!" melongo dokter Iren atas sikap Tuan Farhan yang tidak waras padanya.
"Dia sepertinya bukan pria normal, tapi milliaran sel anaknya dapat di bilang hebat" bisik suster dalam hati. Ia masih mengamati interaksi yang bisa membuat setiap adrenalin seseorang meningkat drastis.
Karena geram dengan tingkah Tuan Farhan, dokter Iren lantas kembali berujar. "Selamat, istri anda hamil anak kembar dua, Tuan. Dan selebihnya istri anda baik-baik saja. Ada pertanyaan Tuan? oh tidak ada, baiklah. Saya permisi dulu, istri anda akan di pindahkan di ruang rawat inap". Dokter Iren langsung meninggalkan Tuan Farhan yang tengah mematung dengan mulut terbuka sedikit lebar. Mendengar penuturan dokter Iren yang begitu cepat membuatnya sedikit bingung dan tidak menangkap apa saja yang di katakan oleh sang dokter.
"Apakah dokter itu waras?" gumam Tuan Farhan dengan wajah linglung.
"Heh! rasakan tuh! bingung kan?" ejek seorang suster tertawa puas melihat wajah bodoh Tuan Farhan.
"Bayi kembar dua? kenapa tidak sepuluh saja. Hah! rupanya dari miliyar anakku hanya dua saja yang beruntung" gumam Tuan Farhan tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung 🤣