
Happy reading beri like dan Votenya dong kak
.
.
.
.
.
.
.
Perkelahian sengit masih terus mencengkam di arena pertarungan bebas. Wajah Tio sudah babak belur belum lagi darah keluar dari sudut bibirnya karena pecah akibat pukulan yang di layangkan raja Hades untuknya. Bukan itu saja tak jarang darah juga keluar dari mulutnya juga hidung akibat tendangan bebas yang di layangkan oleh raja Hades.
"Prince stop! Kau bisa membunuhnya jika kau terus melanjutkan perkelahian ini" Teriak Jons menatap penuh khawatir pada Tio. Tuan Farhan mendengus kesal lantaran Aranya mengkhawatirkan pria lain.
"Cih! Akan ku habisi kau Tio beraninya kau merebut perhatian Araku dariku huh!!" Murka raja Hades menatap nyalang pada pria yang tengah meringkuk kesakitan sembari memegang perutnya.
"Astaga yah Allah bagaimana ini? Tuan muda tengah kerasukan oleh Iblis, auranya seperti penguasa kegelapan" Batin Sandy. Hey Sandy yah jelaslah jika Tuan mudamu memiliki aura penguasa kegelapan wong dia adalah raja Iblis.
"Apa kau yakin Tio akan selamat kali ini?" Tanya Sandy pada Richo. Richo mengangkat bahunya lemas sesekali meraup wajahnya frustasi. Mereka tak mungkin menghentikan aksi kekejaman Tuan Farhan saat ini atau kalau tidak mereka akan terkena imbasnya.
BUGH
Tuan Farhan menendang perut Tio membuatnya kembali meringis bahkan sampai terbatuk-batuk. "Huh! Aku belum puas menghabisimu Tio hmmm... Bagaimana dong? Tubuhmu lemah sekali" Keluh si Jelangkung dengan tampang polos bahkan bibirnya mengerucut seperti bebek.
"Prince! Ku mohon lepaskan Tio sekarang!! Dia bisa mati jika kau terus menyiksanya" Jons memohon namun itu semakin membuat raja Hades menggila.
"Hmmm... Rupanya kau sudah menarik perhatian Araku Tio!! Kau membuatku semakin bergairah bermain-main denganmu" Seringai setan tercetak jelas di wajah sangar raja Iblis saat ini. Tangan sebelahnya terulur mengambil sesuatu di balik akau celana jeansnya.
"Jangan gila kamu Prince...!!" Bentak Jons kala melihat pisau lipat di tangan suaminya yang saat ini sedang di mainkan olehnya.
"Astaga Tuan muda jangan lakukan itu!!" Sandy ikut berteriak.
"Iya Tuan muda bukankah Tio sudah pindah dan tolong kasihanilah dia" Pinta Richo mengatupkan kedua tangannya di depan dada seraya memohon pada raja Iblis namun sepertinya itu tak akan berhasil. Tuan Farhan malah berjongkok di depan Tio yang tengah terbaring lemas tak berdaya. Pria itu malah mengacuhkan permohonan orang-orang di sana bahkan istrinya sekalipun.
"Jangan menggangguku! Pisau kecilku sudah lama tidak makan sepertinya dia lapar sekali" Terkekeh kecil memainkan pisau di wajah Tio.
"Apa hari ini adalah ajalku? Otot-otot tubuhku mati rasa semua... Ini sangat sakit...!" Batin Tio mengeluh. Matanya menatap sayu wajah Tuan mudanya.
"Tu-Tuan" Lirih Tio. Tuan Farhan mencengkram kuat pipi Tio membuat Tio meringis kesakitan.
"Jangan memanggilku dengan mulut kotormu itu! Jangan harap untuk melihat duniamu hari ini...!!" Murka Tuan Farhan melepas kasar cengkeramannya. Jons dan yang lainnya menatap sendu ke arah Tio bukannya mereka tak ingin menolong tapi mereka tidak mau gegabah yang hanya akan menyebabkan Tio tersiksa. Mereka akan menunggu sejauh mana Tuan Farhan akan bertindak.
"Jika kau berani membunuh Tio Prince... Akan ku pastikan aku akan melawaanmu hari ini juga!!" Ucap Jons dalam hati mengepal tangannya kuat. Dirinya hanya bisa menunggu waktu yang tepat saja.
__ADS_1
"Ma-aafkan aku Tuan muda" Tutur Tio lagi berusaha untuk bangun namun dengan sigap Tuan Farhan mendorong kuat tubuh Tio hingga kembali tersungkur.
"Aku tidak tahu jika Tuan muda adalah pria berbakat dalam pertarungan bahkan aku sampai kalah telak" Bisik Tio dalam hati. Mengatur napasnya yang terasa sempit di bagian rongga dadanya.
"Kau sudah berani bermain api denganku Tio! Bagaimana caranya aku mengampunimu karena sudah menodai putriku hmmm...? Apakah dengan aku melukaimu akan terbayar? Oh tentu saja tidak... Bagaimana jika nyawamu hmmm...?" Tuturnya yang di sambut kekehan kecil dari mulut beracunnya itu.
"Kau gila Prince!!" Teriak Jons. Tuan Farhan menatap tajam pada Jons telunjuknya mendarat di bibirnya mengisyaratkan untuk tidak mengganggunya. Benar-benar manusia tak berhati bahkan lawannya sudah tak bertenaga masih ingin menghukumnya bukankah ini adalah sesuatu yang gila...! Sama sekali tak punya perasaan!! Benar tidak memiliki hati... Sang penguasa kegelapan mana mungkin punya rasa simpatik pada seseorang sekalipun orang terdekatnya jika sudah berkhianat maka mereka pantas untuk mati itu adalah prinsipnya.
Sedang di lantai dua tepatnya di kamar Aulia Hamas dan Azhar mengedor-ngedor pintu Aulia memintanya untuk membukanya. "Ria! Buka pintunya ini sangat penting Ria!!" Teriak Azhar lantang. Aulia yang tadi sudah tidur kini terbangun lantaran dua abangnya membuat keributan. Gadis kecil itu berdecak sebal.
"Iihh meleka mau apa lagi sih!!" Gerutu Aulia turun dari atas ranjangnya berjalan menuju pintu, sesekali punggung tangannya mengusap-usap matanya yang masih sangat berat menahan kantuk.
CEKLEK
Aulia membuka pintu sontak saja dua bocah laki-laki langsung menarik pergelangan tangan Aulia keluar. "Iiihh... Abang jangan talik-talik dong!" Protesnya tajam, tidak suka dengan tindakan Hamas dan Azhar.
"Gawat Ria Uncre Tio di bunuh sama Daddy" Azhar langsung to the point membuat Aulia melebarkan matanya.
"Daddy bukan pembunuh bodoh! Jangan memfitnah Daddymu Azhar" Seru Hamas dalam hatinya.
"Apa!!" Teriak Aulia terkejut. "Abang tidak bohong kan? Lalu di mana Daddy dan Uncle Tio sekalang...?" Sambungnya lagi menatap bergantian dua abangnya.
"Daddy dan Uncle Tio di lantai tiga sekarang Daddy dan Uncle sedang bertarung tapi Uncle Tio kalah dari Daddy" Jelas Hamas.
"Ini semua salah Lia hiks hiks hiks... Bagaimana ini bang?" Tangis Aulia pecah.
"Ada apa Ria?" Tanya Azhar sudah tak sabar.
"Lia mau ambil pisau mainan Lia dulu" Aulia segera berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pisau mainan ukuran sedang namun terlihat sangat asli, itu adalah pisau mainan yang sering ia mainkan bersama Alexa bermain Putri dan pangeran.
Aulia tak menemukan pisau mainannya, berhenti sejenak dan berpikir di mana ia meletakkan pisaunya itu. "Hmmm... Di mana yah aku menyimpannya?"
"Ah yah sepeltinya di dalam laci meja" Pekik Aulia segera membuka laci meja belajarnya dan benar saja pisau itu ada di dalam.
"Lia cepetan atau nanti kita terlambat" Teriak Hamas dari luar kamar.
"Iya Lia sudah dapat pisaunya. Bagus kan?" Jawab Aulia saat sudah di depan Hamas dan Azhar sembari memperlihatkan pisau mainannya.
"Iya pisau Ria seperti pisau beneran" Sahut Azhar.
" Ayo jangan lama lagi" Ajak Hamas dan mereka langsung berlari menuju lift. Memencet tombol buka sesaat pintu lift langsung terbuka mereka masuk ke dalam. Aulia, gadis kecil itu sesekali meremas bajunya ia takut jika nanti Tio mati di tangan Daddy-nya.
Tak lama pintu lift terbuka tiga kerucil Iblis itupun keluar berlari kecil ke arah ruangan pertarungan.
"Ayo cepat!" Tutur Hamas khawatir. Dan...
BRAAAAK
"Daddy!!" Teriak tiga kerucil. Sontak semua di sana menatap ke arah tiga bocah kecil berumur 4 tahun lebih.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Bentak Tuan Farhan menatap nyalang tiga anaknya.
"Sayang jangan masuk!" Titah Jons.
"Tuan kecil dan Nona kecil?" Gumam Richo dan Sandy.
"Jangan bunuh Uncle Tio Dad!!" Teriak Aulia menatap nyalang wajah Tuan Farhan matanya kini mulai menangis. Namun sayang Tuan Farhan sudah menikam pisaunya di dada kanan Tio darah mulai bercucuran keluar.
"Huaaa... Daddy menusuk Uncle Tio! Lia benci Daddy! benci Daddy hiks hiks" Pisau Aulia langsung terjatuh ke lantai anak kecil itu terduduk lesu sembari menangis.
"Tio!!" Teriak Richo dan Sandy bersamaan mereka tak tahu jika Tuan Farhan sudah menusuk sahabatnya mereka tak percaya jika Tuan mudanya berani melakukan hal itu.
"Prince!!" Jons menatap murka wajah Tuan Farhan namun sepertinya pria itu malah acuh... Dirinya turun dari arena panggung pertarungan dan berjalan menghampiri Jons.
"Daddy membunuh Uncle Tio?" Gumam Hamas tak percaya.
"Bawa teman kalian ke ruangan operasi segera dan panggil dokter jika dia mati berarti itu adalah ajalnya" Memang raja Iblis! Tak punya hati dengan seenaknya berkata demikian sangat halus terdengar namun begitu menyakitkan di hati.
Richo dan Sandy berlari menghampiri Tio yang sudah tak sadarkan diri. Keduanya pun mengangkat tubuh Tio "Jangan sampai kau kenapa-kenapa Tio?" Gumam mereka berdua.
"Sandy pergi panggil semua dokter aku akan membawa Tio ke ruang operasi segera" Titah Richo, Sandy pun mengangguk mengiyakan. Untung saja di Mansion Utama terdapat ruangan untuk operasi juga tersedia dokter ahli di beberapa bidang jadi tak perlu untuk ke rumah sakit lagi.
"Aku membencimu Prince!!" Teriak Jons dengan linangan air mata membuat tubuh si Jelangkung mendadak kaku.
"Aku bisa menjelaskannya" Jawabnya dengan wajah memohon.
"Daddy! You're our enemy now!!" Teriak tiga kerucil menatap benci pada Tuan Farhan dan mereka langsung berlari mengikuti Richo dan Sandy.
"Sekarang kau lihat! Kau puas Prince!! kau membuat kami semua benci padamu...!!" Jons benar-benar kecewa ia berjalan meninggalkan Tuan Farhan namun dengan cepat raja Iblis itu menarik pergelangan tangan Jons dan...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1