Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 156 Menetap


__ADS_3

Happy reading 🤗


Beri Vote dan likenya dong biar author makin semangat 🤗🤗🤗🤗🤭


.


.


.


.


.


.


.


Seorang wanita sedang berbaring di atas kasurnya dengan di sinari lampu temaram. Menatap langit-langit kamarnya dengan kedua tangan menyanggah kepalanya.


"Prince kamu sedang apa di sana? apa kau merindukanku?... bagaimana keadaan anak-anak juga orang-orang di dalam Mansion?" monolog Jons dengan suara pelannya.


"Besok aku akan pulang... akankah kau bahagia Prince? kau tidak selingkuh dariku kan Prince?! entah kenapa jantungku berdegup sangat kencang..." tutur Jons menyentuh dadanya yang bergetar hebat. Ia beranjak dari kasurnya berdiri sesaat dan merenggangkan otot-otot tubuhnya hingga mengeluarkan sedikit suara.


"Lebih baik aku keluar, melihat keadaan Markas ini... sudah lama aku tidak berbincang-bincang dengan anggota Black Wolf" ujar Jons melangkah keluar dari kamarnya. Menyentuh dinding dan dinding itupun langsung bergeser kala tangan sang pemilik tersentuh.


Melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang utama yang sering di gunakan anak-anak Black Wolf untuk tongkrongan.


"Hey apa kalian sudah lihat berita trending topik itu?" tanya salah satu pria anak Black Wolf yang tidak sengaja mrmbaca situs web hots yang menyatakan Tuan Farhan meniduri seorang model cantik juga seksi.


"Iya aku sudah melihatnya... tapi tidak mungkin Tuan muda melakukan itu bukankah ia sangat mencintai Boss kita" sahut temannya menimpali pertanyaan dari salah satu pria.


"Benar yang di katakan Wan, Tuan muda sampai rela menghabisi kita hanya untuk mencari Boss... jika Tuan muda melakukan one night stand dengan model itu... mungkinkah itu adalah jebakan?" jelas pria berambut keriting.


"Benar juga yang di katakan Zul"


"Lalu bagaimana dengan Boss kita, dia sudah kembali. Jangan sampai berita ini sampai di telinganya atau kalau tidak Markas ini pasti akan hancur"

__ADS_1


"Iya kau benar, lebih baik kita jangan bicarakan masalah Tuan muda! cari topik lain saja" Tidak tahu saja jika orang yang akan mereka sembunyikan berita Tuan muda sudah berdiri tidak jauh dari mereka dan mendengar jelas semua percakapan anak buahnya. Terlihat buku-buku kukunya yang memutih akibat kepalan tangan yang begitu kuat wajahnya berubah merah padam juga matanya menatap nyalang anggotanya.


Namun tiba-tiba wajah suram itu berubah menjadi datar berjalan maju menghampiri anggota Black Wolf yang tadi bergosip. Heh! rupanya bukan hanya emak-emak sayuran yang suka bergosip melainkan anggota mafia juga hobi bergosip seakan gosip punya keseruan tersendiri dan membuat isi topik semakin lancar nan panas-panasnya.


"Ekheem!" dehem Jons bersedekap dada menatap datar satu persatu para anggotanya. Mereka mengarahkan atensinya ke arah suara deheman, melihat Boss pembunuh itu berdiri di dekat mereka membuat semua di sana terkejut bukan main. Tubuh mereka seketika merinding dengan lidah keluh tak bisa bersuara.


"Mampus!" batin mereka semua.


"Kalian terlihat ketakutan, ada apa?" pura-pura bertanya dengan alisnya sebelah terangkat tinggi.


"Ini Boss silahkan duduk!" seorang pria memberikan kursi untuk Jons dengan wajah takut-takut. Jons menjatuhkan pantatnya di atas kursi kayu ia kembali menatap semua yang di sana dengan tatapan datarnya namun tajam.


"Tanganku terasa gatal seperti ingin... membunuh hewan kecil... katakan aku harus apa?" tanya Jons mengambil pisau di atas meja di depannya, entah milik siapa pisau itu... memainkan pisau di tangannya dengan senyum yang sungguh menakutkan.


"Dasar Jery! kenapa dia menaruh pisaunya di sana... mati! mati semua" teriak ketua Markas menatap nyalang ke arah sang pemilik pisau yang sudah berpindah tangan pada Jons. Sang pembunuh bayaran. Sedangkan Jery hanya menunduk.


"Hey ada apa dengan kalian?! kenapa wajah kalian mendadak pucat... heheheh" tertawa kecil namun terdengar seperti ledekan. Semua di sana menelan ludahnya kasar.


Tiba-tiba pisau lipat nan tajam itu mengarah pada lengan mulusnya menekannya pada daging tangannya hingga mengeluarkan darah segar di sana. "Seperti ini! aku ingin melakukan sesuatu yang menghasilkan darah... apa kalian bisa memberikan sesuatu yang kecil itu dengan darah kalian hmmm...?"


"Ampuni nyawa kami Boss! kami tidak akan bergosip tentang Tuan muda lagi! maafkan kami Boss! jangan bunuh kami" Mereka semua terduduk lemas di lantai memohon ampunan pada Jons dengan kedua tangan mengatup di depan dada. Jons terkekeh geli melihat ketakutan anggotanya padanya si tomboy geleng-geleng kepala.


Anggota Black Wolf saling melirik satu sama lain lalu kemudian menatap pada Jons. "Eh bukankah Boss akan membunuh kami?" mereka tanya balik dengan tampang bodoh.


"Apa aku pernah mengatakan begitu?" tanya Jons balik. "Kenapa kalian menjadi takut padaku? aku tidak akan memakan kalian lagipula... aku tidak suka daging manusia" sambungnya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu.


Menatap langit-langit atap di depannya.


"Huuufft... tidak ingin membunuh tapi tampang seperti ingin membunuh dan memakan habis isi daging kami" keluh salah satu pria mengelus dadanya. Menghembuskan napas berat lalu kembali duduk di kursi masing-masing.


"Aku ingin tahu apa yang terjadi saat ini" jelas Jons tanpa mengalihkan atensinya pada dinding plafon Markas, netranya masih setia menatap di sana. Terlihat guratan rindu namun juga sakit hati. Tidak di pungkiri ia takut mendengar berita yang tidak sengaja di dengarnya dari anggota Black Wolf takut hal tersebut bukanlah mimpi melainkan sebuah kenyataan. Menguatkan jiwanya untuk mendengarkan.


Dengan takut-takut ketua Markas memberikan ponselnya pada Jons yang terpampang jelas berita hots di layar ponselnya.


"Ya Tuhan! semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk hari ini... juga ke depannya" bisik mereka dalam hati.


Dengan cepat Jons meraih ponsel itu menatapnya dalam-dalam membaca satu persatu kata juga kalimat tidak ada yang terlewatkan. Matanya membulat sempurna melihat foto suami tercinta bersama seorang wanita cantik yang memperlihatkan punggung mulusnya. Posisi keduanya saling berpelukan di mana Tuan Farhan mencium kening wanita tersebut dalam keadaan mata terpejam.

__ADS_1


BUGH


Tangan Jons bergetar hebat sampai tidak mampu memegang ponsel di tangannya, jantungya berdegup kencang.


"Kau menghianatiku raja Iblis! kau berkhianat!" murka Jons mengepal tangannya kuat.


"Astaga wajah Boss terlihat sangat marah... apakah dunia akan hancur?" lirih salah satu pria dalam hati.


"Jangan sampai marah jangan sampai marah"


"Ya Tuhan berikan kesabaran untuk Boss kami" doa mereka memejam mata berharap agar sang Boss pembunuh bisa mengendalikan amarahnya.


"Jangan katakan pada siapapun aku berada di Markas! dan pantau gerak gerik Tuan muda... sekecil apapun laporkan padaku!" perintah Jons dengan mimik wajah datar. Beranjak dari kursinya lalu berlalu dari tongkrongan itu tanpa mendengar jawaban dari sang anggota.


"Apakah Boss akan baik-baik saja?" tanya salah satu pria.


"Semoga saja Boss bisa mengendalikan emosinya"


"Menakutkan sekali" gumam mereka dengan tubuh merinding.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2