Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 109 Ketakutan Richo


__ADS_3

Up lagi nih Beri like dan Vote Senin nya dong kak 😴😴


.


.


.


.


.


.


.


.


Saat di mana Jons memutuskan pergantian penjagaan untuk tiga kerucil yaitu Tio tidak di perkenankan untuk mengurus Aulia lagi wajah nya tampak murung namun ia tidak bisa marah pada Jons karena Jons lebih berhak atas hidup Aulia, Jons adalah ibunya Aulia, apalagi mengingat umur nya yang beda 10 tahun dari Aulia membuatnya merasa insecure, dirinya benar-benar gila menaruh hati pada gadis kecil umur 4 tahun sedangkan ia berumur 24 tahun sekarang.


Menghembuskan napas kasar dan hanya bisa memandang gadis kecilnya dari jauh. " Mungkin akan lebih baik jika aku mencari pacar" Gumam Tio membulatkan tekadnya. Ia duduk di luar ruangan tepatnya di kursi besi yang biasa di peruntukan untuk keluarga pasien setelah Jons mengeksekusi nya di dalam ruangan.


🎶 Geuraeseo nan nunnunanna


nunnununanna


Put' em up in the air


nuna nuna


Like this oh nanana


nuna nuna


eeeei.


Terdengar lagu Jessie Nunu Nana yang adalah nada dering panggilan di ponsel Jons. Dengan cepat Jons menekan layar hijau dan dari sebrang terdengar suara pria.


"Halo Boss saya sudah mendapatkan pelaku penculikan itu dan sekarang mereka sudah di tahanan bawah tanah Markas kita" Jons menyeringai setan.


"Aku akan ke sana sekarang" jawab Jons langsung memutus sambungan sepihak memasukkan ponselnya di saku celana jeans nya. Karena Tuan Farhan dan anak-anaknya belum pada bangun Jons memutuskan untuk ke Markas anggota Black Wolf sudah lama ia tidak mengeksekusi para musuh rasanya iblis dalam jiwanya kembali bangun setelah lama tertidur.


CEKLEK


Jons membuka pintu ruangan ia mendapati Tio yang bersandar di kursi besi dengan wajah di tekuk.

__ADS_1


"Masuklah ke dalam jaga mereka aku akan pergi ke Markas jika Tuan Farhan bangun bilang saja jika aku sedang mengambil pakaian ke hotel" jelas Jons menatap datar ke arah Tio. Tidak tahu saja jika Tio sangat patah hati sekarang namun walau begitu dirinya tetap menuruti perintah dari Jons.


"Carilah wanita yang seumuran dengan mu, jangan gila menyukai anak kecil apalagi itu adalah anakku" Jons menepuk pundak Tio kemudian bergegas pergi meninggalkan Tio yang tengah mematung.


"Jons tahu hal itu...?" Gumam Tio ia seperti tertohok dengan ucapan Jons padanya.


"Sudahlah lebih baik aku masuk sekarang" Tio berjalan dan membuka pintu ruangan tersebut.


Sebelum pergi Jons menyempatkan untuk masuk ke ruang VVIP B tempat di mana Amanda dan yang lainnya berada.


Jons mendapati Amanda yang tengah duduk di samping bangsal Alex sedangkan Sandy dan Richo sedang asik memainkan gadget mereka.


"Bagaimana kondisi Alex sekarang...?" Tanya Jons berdiri di samping Amanda menyentuh pundak wanita itu. Amanda melirik Jons sekilas lalu kembali menatap Alex.


"Masih belum sadar" Jawab Amanda lesu. Jons mengusap bahu Amanda memberikan ketenangan untuk sahabat nya itu. Jika dulu Amanda menaruh hati pada Jons tapi tidak untuk sekarang sepenuh hatinya sudah terisi nama Alex sekarang.


"Dia pasti akan segera sadar kata dokter mereka masih dalam kondisi obat" Amanda mengangguk pelan. "Aku pergi dulu kau istirahat lah jangan menyiksa diri seperti itu" Sambung nya lagi.


"Terima kasih Jons" Jons hanya tersenyum sebagai jawaban si tomboy lalu berjalan menuju sofa tempat di mana Richo dan Sandy duduk bermain dengan wajah serius.


"Richo! Sandy!" Seru Jons sontak keduanya menjatuhkan ponsel mereka karena terkejut. Mata Jons mengarah pada layar ponsel Richo dan Sandy yang memperlihatkan game online, mata Jons memicing lalu mengambil dua ponsel di atas lantai. Sedangkan Richo dan Sandy mendadak kaku.


"Apa ini...?"


"Emmm... Itu, anu Jons kami tidak sengaja melihat game itu di iklan karena penasaran kami mendownload nya dan memainkan nya tapi kami tidak akan seperti mereka kok" Jawab Sandy cepat ia menjadi kaku sekali saat tatapan membunuh terarah pada nya sedang Richo tersenyum kikuk karena kedapatan memainkan game *****.


Benar-benar hari sial bagi dua pria itu. apalagi mendengar sindiran menohok dari Jons bermulut pedang.


"Iya kami tidak akan melakukan nya lagi" jawab mereka hampir bersamaan.


"Good! Richo ikuti aku kita akan ke Markas, kau Sandy jaga di sini dan jangan pernah meninggalkan ruangan ini tetap waspada pada pria asing di sana" Jons mengarahkan telunjuknya pada bangsal pak Sholeh, Sandy mengangguk cepat.


"Tenang saja aku tidak akan mengecewakan mu" balas Sandy.


"Kami pergi dulu" Sandy menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jons dan Richo keluar dari ruangan tersebut berjalan menuju parkiran rumah sakit.


"Apa yang kita lakukan di sana Jons...?" Tanya Richo penasaran.


"Penculik nya sudah di temukan aku ingin melihat siapa yang berani bermain gila dengan ku" jelas Jons menampilkan smirk iblis di sana. Richo melihat itu di buat merinding.


"Berani sekali mereka menyiram bensin pada api yang menyala" batin Richo geleng-geleng kepala.


Mereka sudah berada di parkiran mobil, hendak menuju Markas Black Wolf yang berada di perbukitan Jimbaran bali tepatnya di Jalan Prabu Udayana. Prabu Udayana merupakan jalan pintas yang menghubungkan Rektorat dan Rumah Sakit Udayana. Jadi mereka akan melewati jalan pintas Prabu Udayana juga melintasi daerah horor yang terdapat gedung tua penuh mistis kabar burung mengatakan untuk tidak melewati jalan tersebut karena begitu sangat angker dan terdapat makhluk astral lainnya jika orang yang mempunyai riwayat sakit jantung di sarankan untuk tidak mendekati gedung tua tak berpenghuni atau kematian akan menjumpai kalian.


Sedangkan Markas Black Wolf harus melewati gedung horor itu baru bisa melihat Markas mereka, sebenarnya ada jalan lain tapi itu memakan banyak waktu jadi Richo memutuskan untuk berjalan pintas saja. Mereka tidak tahu jika daerah itu sungguh seram dan anggota mereka di Bali lupa mengabari untuk tidak melewati jalan Prabu Udayana.

__ADS_1


Saat hendak melintasi kawasan gedung tua itu tiba-tiba tubuh Richo dan Jons merinding bahkan kepala mereka berubah besar.


"Apa kau merasakan nya...?" Tanya Richo pada Jons, si tomboy mengangguk pelan.


"Lihatlah gedung tua itu...!! Di sana adalah markas perkumpulan makhluk astral" jelas Jons menunjuk ke arah gedung tua mistis, Richo mengikuti arah telunjuk Jons dan ia melihat gedung tua itu tampak seram semakin membuat nya takut.


"Jangan membuat ku takut Jons! Kita balik saja lebih baik menempuh jalan jauh dan selamat daripada jalan singkat tapi mendatangkan kematian" seru Richo sudah gemetar ketakutan. Jons menatap geli pada Richo rupanya pria ini sangat penakut.


"Jangan bodoh! Jika putar arah sampai nya kemalaman apalagi ini sudah sore" tukas Jons. "Keluarlah biar aku yang menyetir!" Titah Jons dan Richo langsung keluar dan saat di luar ia semakin merasakan hawa aneh pada tubuhnya padahal mereka belum sampai di gedung tua itu tapi hawa nya benar-benar terasa Richo seperti terbang ke udara.


Jons masuk dan duduk di kursi kemudi sedangkan Richo duduk di sebelahnya, Richo bahkan nyaris menangis ingin sekali Jons tertawa terbahak-bahak. Jons percaya jika hantu-hantu itu tidak bisa menampakkan diri mereka di hadapan manusia kecuali mereka melanggar aturan dunia mereka itupun mereka sendiri yang akan tersiksa.


"Nyawa ku hanya satu ya Tuhan, jangan cabut dulu aku belum ingin mati apalagi aku belum mengubah status ku sebagai seorang jomblo ngenes" doa Richo menautkan jari-jari tangan nya.


"Jika kau takut, setan akan mudah masuk ke tubuh mu dan perlahan-lahan memakan habis isi organ di dalam tubuh mu itu...!" Jons semakin gencar menakuti Richo membuat pria itu terperanjat kaget bahkan keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya. Jons santai lalu menjalankan mobil kembali.


"Pantas saja kau jomblo terus rupanya inilah penyebab nya, pria yang takut hantu di takdirkan mendapat pasangan saat umur mereka 40 tahun" jelas Jons menampilkan smirik jenaka.


Mata Richo membulat sempurna. " Kau! Kau pasti berbohong," pekik Richo.


"Ssstt jangan berisik! Daerah ini tidak aman" tutur Jons dengan wajah tegang dan hal itu membuat Richo menggigil takut karena tak tahan ia langsung melepas sabuk pengaman nya dan memutar posisi duduk menjadi membelakangi jalan dan memeluk erat sandaran kursi yang di duduki nya.


"Aku tidak mau melewati jalan ini lagi, dan tidak mau melihat ataupun terlihat oleh mereka" Isak Richo.


"Kenapa dia terpilih menjadi anggota Mafia...? Sepertinya aku akan memberikan pelatihan pada anggota Black di tempat-tempat seperti ini" Batin Jons tersenyum lebar.


"Memalukan...!!" Gumam Jons pelan.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Bersambung

__ADS_1


Vote Senin nya dong kak 😴😴😂**


__ADS_2