
Happy reading
Beri like dan Vote Seninnya dong 😪😀😀
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tuan Farhan langsung keluar dari kamar Aulia terlihat wajahnya yang tidak baik-baik saja bahkan tangannya sudah terkepal kuat. Jons takut jika suaminya akan membuat sesuatu di luar batas ia langsung mengikuti langkah Tuan Farhan. Aulia menatap dua abangnya meminta penjelasan yang tak ia mengerti.
"Abang sebenalnya apa yang teljadi? Kenapa Daddy malah...?" Tanya Aulia polos. Hamas dan Azhar hanya menghembuskan napas kasar layaknya orang dewasa yang tertimpa banyak masalah.
"Daddy marah karena Lia berciuman bibir dengan Uncle Tio! Itu di larang Lia...! Yang bisa melakukan itu hanya orang yang sudah menikah seperti Daddy dan Mommy atau kakek dan nenek atau seperti Om Alex dan Tante Amanda" Jelas Hamas panjang lebar menatap wajah Aulia yang terlihat sangat terkejut.
" Uncle Tio bilang tidak apa-apa, kalau meleka saling cinta" Balasnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Adik Ria poros sekari sih! Itu berarti Uncre Tio cinta sama Ria" Celetuk Azhar dan itu mengundang tatapan tajam dari Hamas. Sedangkan Aulia semakin bingung. Dirinya belum paham tentang cinta-cintaan namun untuk daya tarik lawan jenis ia seringkali merasakan tapi khusus untuk pria tampan saja. Dasar gadis pemilih!.
"Jika benar Uncle Tio cinta sama Aulia, jangan sampai itu terjadi Aulia masih kecil sedangkan Uncle Tio sudah dewasa jika mereka menikah maka Aulia tidak lama akan menjadi janda" Batin Hamas sembari menaruh telunjuknya di dagunya memikirkan masa depan adik perempuannya jika menikah dengan pria tua.
Hey Hamas bukankah umur dan tubuhmu masih kecil! Kenapa pikiranmu sedewasa itu bahkan melebihi pikiran orang dewasa tingkat lanjut...!! Apakah itu karena hasil produksi dari raja iblis dan pembunuh bayaran? Sehingga mendapatkan anak cerdas yang spesial seperti tiga kerucil? Sungguh di luar dugaan.
"Apa Lia suka sama Uncle Tio...?" Tanya Hamas. Aulia menundukkan kepalanya.
"Mmm... Lia tidak tahu Lia kan masih kecil tidak tahu yang kayak gitu... Ma-maksud Lia, Lia tidak tahu sepelti apa bentuk suka itu" Jelas Aulia memainkan jari-jarinya, pipinya bahkan berubah merah layaknya buah ceri yang sangat merah.
__ADS_1
"Adik Ria kan suka centir sama cowok tampan. Uncre Tio tampan apa Ria beneran suka yah sama Uncre Tio...?" Tuding Azhar dengan mata memicing curiga. Aulia menggeleng cepat.
"No way! Jangan menuduh Lia sepelti itu! Sekalang kalian beldua kelual Lia mau istilahat jangan ganggu Lia..." Jawab Aulia cepat sembari mendorong tubuh Hamas dan Azhar untuk segera keluar dari kamarnya. Jika di biarkan berlama-lama di sana maka pikiran mereka akan semakin menjadi-jadi. Begitulah pikir Aulia.
"Baik kami akan keluar jaga diri baik-baik" Seru Hamas dan langsung menarik tangan Azhar beranjak dari atas ranjang Aulia.
"Ck, anak kecir!" Gerutu Azhar jengkel. Keduanya pun akhirnya keluar dari kamar Aulia sedang gadis kecil raja iblis menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut lantaran malu mendengar pernyataan Azhar tadi.
Azhar dan Hamas hendak menuju lift namun seketika berhenti kala mendengar suara bentakan kasar dari kamar Daddy-nya, rupanya pria itu tengah menelpon seseorang.
"Datang cepat ke Mansion sekarang atau ku bunuh kau di apartemenmu itu Tio...!!" Azhar dan Hamas membulatkan mata mereka mendengar nama Uncle Tio di sebut oleh Daddy mereka... Dan lebih terkejut lagi ketika mendengar kata membunuh.
"Bagaimana ini abang? Apa yang harus kita rakukan sekarang?" Bisik Azhar pada Hamas. Terlihat Hamas sedang berpikir.
"Kita lihat dulu sejauh mana Daddy akan bertindak... Jika sudah melewati batas baru kita akan memulai misi kita" Jelasnya dengan wajah datar, tatapannya menghunus tajam ke depan.
"Baik... Aku tidak akan bisa biarkan Daddy berbuat seenaknya pada kakak ipar atau aku pasti akan bertindak rebih..." Tutur Azhar dalam hati menyeringai licik. Sungguh tidak di ragukan mereka adalah keturunan Iblis yang sangat banyak taktik licik bahkan dengan beraninya melawan Daddy mereka yang notabenenya seorang raja Iblis sebagai julukannya tapi mereka tak takut akan hal itu.
Sedangkan di apartemen yang cukup luas Tio sudah tampak kebingungan atas apa yang di katakan Tuan Farhan padanya apalagi sampai berteriak kesetanan membuatnya benar-benar frustas.
"Apa aku sudah melakukan kesalahan sampai Tuan muda begitu marah padaku...? Apa Tuan Farhan tahu jika aku mencium putrinya?" Gumam Tio meraup wajahnya kasar sesekali dirinya meremas rambutnya frustasi. Sandy dan Tio saling menyikut memandang teman mereka yang terlihat tidak baik-baik saja. Mereka baru saja membantu Tio merapikan kamarnya dan beruntungnya mereka ternyata apartemen yang mereka beli tidak kotor semua terlihat sangat bersih dan rapi.
PLETAK
Richo menjitak telinga Sandy membuatnya meringis sakit.
"Bodoh! Kau bertanya padaku sedang aku bersamamu terus bagaimana aku bisa tahu masalahnya! Ayo kita tanya langsung pada Tio!!" Ujar Richo yang langsung menarik tangan Sandy berjalan menuju Tio berada.
"Ada apa denganmu Tio? Kau ada masalah yah...? Setelah mengangkat telepon dari Tuan muda kau langsung berubah" Tanya Richo saat sudah berada di dekat Tio. Tio menghela napas panjang tidak tahu harus berbicara apa.
"Katakanlah pada kami Tio, bukankah kami adalah sahabatmu jangan menyimpan masalahmu sendiri" Sandy ikut menimpali sebagai teman ia juga merasa sedih karena temannya yang selalu mendapat masalah tiada henti. Tio tetap diam sesekali menarik napas lalu menghembuskan kembali.
"Ayo sebaiknya kita duduk dulu di sofa" Richo mengalihkan pembicaraan. Mereka langsung menuju sofa di ruang tengah menjatuhkan bokong di atas sofa berwarna abu-abu itu.
Menatap wajah dua sahabatnya yang selalu ada di saat ia mengalami masalah "Sebaiknya aku cerita ke mereka saja" Batinnya.
"Aku di minta datang ke Mansion sepertinya kali ini mood Tuan muda benar-benar buruk, bahkan sampai mengancamku untuk membunuhku jika tidak datang ke sana" Tio mulai membuka suara membuat Richo dan Sandy terkejut dengan mulut terbuka lebar namun seketika mereka menutup kembali mulut mereka.
"Kenapa bisa Tuan muda marah? Bukankah saat kau keluar Tuan muda tampak baik-baik saja" Ujar Sandy.
__ADS_1
"Apa yang membuat Tuan muda se-marah itu padamu...?" Tanya Richo menatap wajah Tio dengan alis terangkat tinggi, memicing mata curiga pada Tio. Pria itu menelan ludah kasar..
"Mungkin karena aku sudah mencium Nona Aulia" Tuturnya pelan.
"APA?!!" Teriak Richo dan Sandy bersamaan. Tio hanya menggaruk-garuk kepalanya
"Brengsek kau Tio! Pantas saja Tuan muda marah padamu" Bentak Richo menatap tajam ke arah Tio.
"Maaf aku khilaf" Jelasnya dengan kepala menunduk.
"Aku. No koment" Sandy mendesah berat menyandarkan punggungnya di sandaran sofa memijat pelipisnya pelan.
"Kau benar-benar ingin menjadi pedofil... Jika itu orang lain tidak masalah tapi itu Nona muda Aulia" Lirih Richo ikutan frustasi. Tio tidak komentar ia mengaku salah akan itu.
"Apa seenak itu menjadi pedofil? Apa aku harus memacari anak SMP juga" Batin Sandy.
"Lebih baik kita ke Mansion segera atau Tuan muda akan benar-benar murka padamu...!! Tanggung jawabkan apa yang kau lakukan itu Tio!!" Ucap Richo menekan setiap kalimatnya ia berdiri dan langsung berjalan keluar.
Sandy ikut berdiri ia menepuk pundak Tio "Jangan takut ayo ke Mansion sekarang" Tio mengangguk dan ikut beranjak keluar dari Apartemennya.
"Huh! Semua salahku aku harus mempertanggung jawabkannya sekalipun nyawaku resikonya" Batin Tio.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1