
Happy reading 🤗
Beri like dan vote nya yah guys 😁😁
.
.
.
.
.
.
.
Tepat pukul 10 pagi Tio sudah di bandara Internasional Soekarno Hatta karena pukul 10 : 30 menit pesawat yang ia naiki akan lepas landas. Tio di temani dua sahabatnya Richo dan Sandy ketiganya duduk di cafe mini di dalam bandara.
Matanya terus menatap ke setiap sudut bandara mencari sosok yang sangat ia ingin lihat untuk terakhir kali namun tak kunjung terlihat.
"Apa Nona Aulia tidak datang...?" Tanya Tio dalam hati dengan wajah menunduk sedih.
"Dia pasti akan datang, tunggulah sedikit lagi" jawab Richo dan Sandy menepuk pundak Tio memberikan semangat pada sahabatnya itu.
"Makan dulu makananmu..., kamu belum makan dari pagi Tio!" ujar Sandy dan Tio hanya mengangguk sebagai jawaban. Mengaduk-aduk soto di mangkuknya. Ia sungguh tidak ***** makan dengan keadaan perasaannya yang sangat kacau seperti sekarang.
"Apa aku harus belajar menahan rindu? jika aku pergi apakah Nona Aulia akan merindukanku?" gumam Tio dalam hati. Dengan sedikit paksaan ia lalu memasukkan sesendok mie dalam mulutnya.
"Kasihan sekali Tio semoga di sana ia mendapat kehidupan yang lebih baik" batin Sandy menatap wajah sedih sahabatnya. Sandy sangat shok mendengar kabar dari Richo jika Tio akan di pindah tugaskan ke negara Meksiko oleh Tuan Farhan entah apa maksud dari rencana Tuan mudanya itu, namun mereka tidak bisa apa-apa karena mereka hanyalah bawahan saja.
Sedang di sisi lain Aulia tidak bisa keluar dari Mansion atas perintah Tuan Farhan. Dan terpaksa Aulia tidak bisa bertemu dengan Tio..., ia mengurung dirinya di dalam kamar. Tuan Farhan pagi-pagi sudah di perusahan karena harus mengurus orang-orang yang sudah menggelapkan dana kantor dan itu membuatnya makin kesal saja.
Sedangkan Nyonya Mita dan Tuan Wijaya sudah berangkat ke Amerika tempat tinggal Tuan Smith subuh tadi.
Jons ingin sekali membantu putrinya tapi ancaman Tuan Farhan membuatnya tidak bisa berkutik. Dan ia harus membujuk putrinya agar tidak marah padanya dan suaminya.
"Sayang buka pintunya Mommy ingin bicara denganmu!" teriak Jons sesekali mengetuk pintu tapi pemilik kamar seakan tidak mendengar. Ia bahkan mogok bicara ataupun makan.
"Ria, buka pintunya! kamu tidak bunuh diri di dalam kan?" Azhar ikut berteriak. Sontak saja membuat Jons dan Hamas menjewer telinga Azhar.
"Jangan bicara sembarangan Azhar!" tegas Jons menatap jengah tingkah putra gondongnya yang selalu asal dalam berbicara.
"Hehehe maaf Mommy Azhal khiraf" jawab Azhar terkekeh pelan tangannya menggaruk kepalanya.
"Kalian tunggu sebentar Mommy mau ambil kunci cadangan kamar Aulia" tutur Jons pada kedua anaknya.
"Oke Mom" jawab Hamas dan Azhar kompak. Jons berjalan melewati dua kamar putranya dan masuk ke dalam kamar miliknya.
"Lia buka pintunya kita bisa menggunakan ponsel untuk menghubungi Uncle Tio! jangan khawatir sekalipun kita tidak bisa pergi ke bandara tapi kita masih menggunakan ponsel...!" teriak Hamas mengetuk pintu kamar Aulia namun tak ada sahutan yang terdengar.
Tidak tahu saja jika di dalam kamar..., pemiliknya sedang tersenyum senang padahal orang di luar sudah kehabisan suara bahkan tangannya sudah kesakitan akibat terus mengetuk pintu tapi tak kunjung berhasil.
Yah Aulia baru ingat bahwa ia sudah menyimpan nomor Tio dan sekarang ia sedang melakukan video call.
__ADS_1
"Maaf Uncle, Lia tidak datang tapi Lia akan selalu melindukan Uncle Tio...," tutur Aulia di depan layar ponselnya. Tio merasa senang pada akhirnya ia bisa melihat wajah wanita yang membuatnya sangat menderita karena menahan rindu. Walupun perasaannya sangat konyol karena menyukai anak di bawah umur.
"Terima kasih Nona sudah mau merindukan Uncle, Nona harus jaga kesehatan ingat tidak boleh marah sama Daddy yah, Uncle tidak lama di sana Uncle akan selalu menghubungi Nona..." jawab Tio dengan wajah berbinar. Richo dan Sandy hanya mampu geleng-geleng kepala melihat kebucinan sahabatnya itu.
"Lihatlah Ric tadi saja wajahnya seperti kerupuk keriting sekarang bibirnya tidak bisa berhenti untuk tersenyum" bisik Sandy di telinga Richo. Pria itu mengangguk menatap wajah bahagia Tio membuatnya ikut bahagia juga.
"Iya, dia sangat bucin..., apa kita akan sama seperti Tio jika kita telah memiliki tambatan hati?" tanya Richo berbisik.
"Aku penasaran bagaimana rasanya, aku akan mencari pacar jika tidak sesuai maka aku akan membuangnya" sahut Sandy.
"Kau benar kita bisa mencari di saat waktu kita senggang" jawab Richo. Dan kedua pria jones bertos ria memikirkan rencana mereka yang akan ke Bar nanti.
"Pokonya kalau Uncle sudah sampai harus telpon Lia!" tegas Aulia menatap wajah pria tampan di layar ponselnya.
"Pasti Nona" jawabnya dengan senyum melebar.
Di luar kamar Jons segera membuka pintu kamar Aulia yang terkunci saat terbuka mereka buru-buru masuk karena merasa begitu khawatir.
Jons, Hamas, dan Azhar menatap tajam Aulia yang tengah tertawa kecil di depan benda perseginya. Mati-matian mereka mengkhawatirkan Aulia namun si centil sepertinya sangat bahagia tidak terjadi apa-apa pada adik bungsunya.
"Ria!" teriak Azhar berkacak pinggang melotot tajam pada Aulia. Karena asyik bercerita dengan sang pujaan hati hingga tak menyadari beberapa pasang mata yang begitu menghunus menatapnya.
"Eh, Mommy, Abang" seru Aulia menyengir kuda.
"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Jons meredam kekesalannya. Aulia menyerahkan ponselnya pada Jons.
"Oh Tio, jam berapa kamu berangkat Tio?" tanya Jons melihat wajah sahabatnya di balik layar.
"Tidak lama lagi..., kurang lebih 15 menit lagi Jons" jawab Tio tersenyum kikuk.
"Dasar anak kecil! kami sudah khawatir di luar eh ternyata yang di dalam sedang tertawa bahagia hmmm..." ketus Hamas mendelik jengkel.
"Heheheh maaf Bang, Lia tidak dengal kalau Mommy dan abang mengetuk pintu" jawabnya menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.
"Jangan rakukan ragi, aku pikir kamu sudah lompat dari jendela" ucap Azhar terkekeh pelan saat Aulia menatapnya tajam.
"Lia tidak akan melakukan itu, lagian Lia kan masih walas" ketus Aulia bersedekap. Hamas dan Azhar memeluk erat tubuh adik perempuannya mencium pipinya gemas.
"Kami sayang Lia" jawab keduanya bersamaan.
"Lia juga sayang abang" jawab Aulia tersenyum lebar.
Jons melihat keakraban putra putrinya tersenyum tipis.
"Jons sepertinya pesawat yang aku tumpangi akan segera berangkat aku tutup teleponnya dulu salam buat semuanya" ujar Tio dan langsung mengakhiri sambungan video call.
Jons meletakkan ponsel Aulia di atas kasur ia ikut duduk bersama tiga perusuh.
"Mommy akan berburu hewan kalian mau ikut...?" tanya Jons menatap wajah putra Putrinya. Ketiganya nampak berpikir dan dengan kompaknya mereka menggeleng.
"Tidak Mom, kami mau belajar karena sebentar lagi kami akan masuk sekolah" jawab Hamas. Azhar dan Aulia mengangguk ikut menimpali.
"Berarti Mommy akan berburu bersama Paman-Pamam di sini..., kalian harus belajar yang rajin, kalau sudah sekolah jangan melawan ataupun membantah ucapan ibu dan bapak guru yah" jelas Jons menasehati.
"Pasti Mom" jawab Azhar.
__ADS_1
"Bagus"
"Mom kapan Bunda Ayu datang ke sini?" tanya Aulia.
"Iya Mom kami rindu sama Bunda Ayu" sahut Hamas dan Azhar.
"Mommy juga tidak tahu sayang mommy telepon terus, tapi nomor Bunda Ayu tidak aktif nanti Mommy akan ke Surabaya dan membawa Bunda Ayu kemari" jawab Jons ikut sedih karena tidak mendapat kabar tentang adiknya.
"Oke Mom kami tunggu" jawab mereka serempak.
"Oke kalau begitu Mommy keluar dulu mau siap-siap berburu" tutur Jons mencium kening ketiganya.
"Mommy pergi sama siapa saja?" tanya Hamas.
"Sama anggota Black Wolf sayang, kalian harus belajar yang rajin jangan bandel ataupun nyusahin Daddy kalian apapun yang di lakukan Daddy adalah yang terbaik untuk kalian bertiga..., ingat kalian tidak boleh cengeng harus menjadi anak yang kuat yah, apalagi abang Hamas dan Azhar harus menjaga adik kalian Aulia..." jelas Jons lagi mengelus rambut tiga perusuh Iblis.
Ketiganya mengangguk dan langsung memeluk tubuh Jons erat seakan takut kehilangan sang Mommy.
"Kami sayang Mommy" ujar ketiganya kompak.
"Mommy jangan pelgi Lia tidak mau Mommy kelual dali Mansion!" seru Aulia tiba-tiba. Jons mengernyit alisnya tinggi.
"Kenapa sayang, Mommy tidak lama kok Mommy hanya mau berburu hewan sayang...," jawab Jons terkekeh geli.
"Tapi Lia tidak mau Mommy pelgi" ujarnya lagi dengan tangan memeluk pinggang Jons erat. Hamas dan Azhar sebenarnya punya perasaan yang sama seperti Aulia.
"Iya Mom jangan pergi kalau Mommy kenapa-kenapa saat berburu gimana?" timpal Hamas.
"Mommy pergi tidak sendiri sayang, Mommy bersama Paman-Pamam saat berburu nanti" kata Jons menjelaskan dengan penuh kesabaran.
"Tapi Mommy harus hati-hati" Azhar mengulurkan kelingkingnya di ikuti Hamas dan Azhar..., Jons menggeleng kepalanya pelan anak-anaknya ini sangat menggemaskan. Ia lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking putra putrinya.
"Mommy pergi dulu, kalian jaga diri baik-baik yah" ketiganya mengangguk. Jons langsung keluar dari kamar Aulia berjalan menuju kamarnya.
Yah hari ini ia akan berburu hewan di hutan lindung milik keluarga Tuan Wijaya, hutan dengan pohon-pohon lebat, juga hewan-hewan liar di sana sangat banyak sudah lama tidak berburu jadi ia ingin pergi tanpa sepengetahuan Tuan Farhan karena jika suaminya tahu pasti Tuan Farhan tidak akan mengizinkannya itulah sebabnya ia tidak memberitahu perihal rencananya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung