Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 17 Aksi Penyelamatan 1


__ADS_3

Pertarungan sengit masih berlanjut di luar gedung terdengar suara tembakan-menembak saling bersahutan anggota black wolf yang di bawah Kungkungan Jons sangat banyak sehingga sangat mudah mengalahkan anggota Carvendal yang tidak seberapa dengan black wolf. Kembali di dalam gudang Jons masih betah bermain-main dengan anggota Carvendal yang tidak ada apa-apa nya dengan kekuatan nya, sekalipun dia seorang wanita tapi tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah seorang wanita bahkan para anggotanya sekalipun terkecuali ke empat sahabatnya.


"Cih! cuma segini kemampuan kalian?" Jons berdecak mengejek, melihat musuhnya yang tergeletak babak belur di lantai dengan darah segar mengalir di area bibir dan hidung.


Jons duduk di kursi kayu kembali menyalakan rokoknya dengan kaki kanan yang bertumpu pada kaki kirinya.


"Kalian salah memilih lawan kawan, kalian sudah membangunkan singa yang sedang tidur" ujarnya menyeringai iblis. Jons masih menatap tajam ke arah lima pria yang setengah sadar itu sedang Bayu Jons tidak ambil pusing itu urusan belakangan Jons lupa satu hal bahwa Nadia masih terikat kuat di kursi kayu.


"Jons!" terdengar suara lemah dari belakang Jons, seketika membuat dirinya sadar bahwa ia melupakan sosok yang membuat dirinya berada di sini, Jons berdiri kemudian menghampiri Nadia wajahnya menyiratkan kemarahan saat ini, melihat wanita di depannya terlihat acak-acakan wajah pucat, pipinya yang lebam berwarna biru benar-benar membuat darahnya mendidih.


"Tidak akan ku biarkan kau Bayu brengsek!!"


"Kau baik-baik saja" tanya Jons lirih ia kemudian melepaskan ikatan yang melilit tubuh Nadia


"kau sudah tahu keadaan ku Jons kenapa malah bertanya, aku sedang tidak baik" Nadia berujar dengan wajah di tekuk bibirnya maju lima centi, Nadia pura-pura kesal pada Jons padahal ia sangat bahagia karena Jons selalu melindunginya.


"Maaf, apa ini sakit? tanya Jons mengelus pipi lebam Nadia.


Nadia tiba-tiba menjadi salah tingkah ia gugup dengan posisi mereka yang sangat dekat bahkan hembusan napas Jons menyapu pipi mulus Nadia wajahnya semakin merah bak buah apel merah.


Jons melihat kegugupan di wajah Nadia tersenyum apa yang sedang di pikirkan Jons saat ini. "Ada apa dengan pipimu kenapa merah sekali hmmm?" tanya Jons menggoda "Kalau saja aku pria sudah ku pacari gadis ini, dia benar-benar lucu dan menggemaskan" ya Tuhan jangan sampai aku belok" Jons memaki dirinya.

__ADS_1


"Ti-dak aku tidak apa-apa, sebaiknya kita pergi dari sini" ujar Nadia terbata-bata. Jons hanya tersenyum kemudian mengangguk kepalanya mereka berjalan hendak keluar namun langkah mereka terhenti karena anggota black wolf.


"Boss, apa kau baik-baik saja?" tanya salah satu anggotanya.


"Iya tentu saja tidak ada yang bisa mengalahkan ku" jawabnya bangga. Anggota black wolf hanya tersenyum. "Urus mereka dan bawa ke markas" perintah Jons datar melirik sekilas ke arah gudang.


"Baik Boss".


Jons dan Nadia melangkah keluar banyak dari anggota Carvendal terluka dan ada juga yang meninggal, Jons membiarkan mereka begitu saja tanpa sedikitpun merasa peduli toh mereka sendiri yang menginginkan kondisi seperti itu siapa yang berani mengusik singa maka tidak ada ampunan bagi mereka.


"Kau baik-baik saja Jons?" tanya Richo menghampiri Jons diikuti tiga orang di belakang siapa lagi kalau bukan Tio, Alex, dan Amanda.


"Tentu saja, dan kau tahu itu bagaimana hebatnya aku" seru Jons dengan nada mengejek. Ke empat sahabatnya hanya berdecak sebal namun pandangan mata seseorang yang tidak bisa artikan selalu melihat ke arah gadis di samping Jons " Gadis itu siapanya Jons, apa dia kekasihnya? adiknya? ah itu tidak mungkin setahuku Jons hanya sendiri tidak ada saudaranya".


"Ayo kita pergi!" ajak Jons.


"Tunggu! bagaimana dengan mereka? apa kita tidak mengurusnya dulu?" tanya Tio. Richo menatap tajam ke arah Tio lalu kemudian beralih melihat ke arah Jons yang memasang wajah dinginnya.


"Silahkan saja, tapi sebelum itu tanganmu akan aku berikan pada burung Nasar di hutan lindung" Jons menyeringai licik.


"Mati aku! kenapa aku bisa lupa jika ada iblis di sini" Tio mengutuk dirinya.

__ADS_1


"Hehehe, tentu saja tidak, tadi aku hanya bergurau ayo kita pulang!" Tio bergidik ngeri sedangkan Richo dan Alex menahan tawanya melihat ekspresi takut di wajah Tio. Nadia yang melihat tatapan dari wanita di depannya hanya menunduk takut. "Kenapa dia menatapku seperti iti? apa dia menyukai Jons? dia menjadi sainganku sekarang".


Ke empat sahabat Jons sudah masuk ke dalam mobil dan langsung menuju ke markas sedangkan Jons memilih mengantar Nadia ke apartemen nya. Anggota black wolf pun mengikuti untuk meninggalkan tempat permainan itu.


Di lain sisi seorang pria mengikuti motor sport merah sampai di depan apartemen Jons turun mengantar Nadia masuk ke dalam.


"Terima kasih Jons kau sudah berkali-kali menolong ku, terima kasih banyak kau adalah malaikat ku, setelah aku pergi dari panti asuhan aku tidak memiliki siapapun dan sekarang kau ada untukku" lirih Nadia memeluk erat tubuh Jons, Jons terdiam menyimak penjelasan piluh seorang gadia di pelukannya ia tiba-tiba mengingat adik kecilnya setelah pergi menemui panti asuhan tempat adiknya berada namun ia tidak melihat bangunan itu lagi semuanya terlihat rata itu membuat dirinya merasa bersalah.


"Jangan sedih lagi, aku akan selalu ada untukmu, masuklah sekarang sudah malam".


Nadia melerai pelukannya menatap dalam mata indah di hadapannya ada getaran aneh yang ia rasakan apakah itu cinta? ia juga tidak tahu namun ia merasa nyaman dan aman berada di dekat Jons apalagi dalam pelukannya.


Cup


Satu kecupan singkat mendarat di bibir Jons siapa lagi pelakunya kalau bukan Nadia, Jons terkejut namun ia tidak menanggapi nya melihat kondisi Nadia ia mengurungkan niatnya . Jons hanya tersenyum melihat Nadia masuk ke dalam apartemen nya, tak berselang lama Jons pulang mengendarai Jodie nya.


" Tadi mereka berciuman, apa mataku yang salah? apakah dia belok sekarang? gumam seseorang".


- Like


- Vote

__ADS_1


- Rate


- komen


__ADS_2