Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 124 Membujuk


__ADS_3

Happy reading Guys


Beri like dan komen yah


.


.


.


.


.


.


.


.


Tio segera di bawa ke ruang operasi yang berada di lantai satu Mansion Utama dan beberapa dokter ahli sudah datang dan segera masuk ke dalam ruangan operasi tersebut. Sebagian anggota Black Wolf datang melihat apa yang sebenarnya terjadi namun Richo segera membubarkan mereka, anggota lainnya tidak marah mereka langsung bubar.


Sedangkan Aulia masih menangis melihat Tio di bawa masuk ke dalam ia takut jika Tio mati karena dirinya ia tidak akan memaafkan dirinya atas apa yang terjadi hari ini. Di depan mata ia melihat Daddy-nya seperti seorang monster yang menakutkan jujur saja hal itu membuat sedikit trauma membekas di ingatan Aulia.


"Huhuhuhu... Ini semua gala-gala Lia, Uncle Tio kayak gitu kalena Lia hiks, hiks" Tutur Aulia berjongkok di dinding ruangan rumah sakit menelungkupkan wajahnya di dua sisi lututnya. Richo melihat Aulia bersedih segera menghampirinya.


"Nona Aulia jangan nangis lagi Uncle Tio tidak apa-apa..." Ujar Richo berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Aulia membelai rambut Aulia untuk menenangkannya. Aulia mendongakkan kepalanya menatap wajah Richo air matanya masih menetes membasahi pipinya.


"Benalkah Uncle...? Ta-tapi Uncle Tio teluka? dan banyak dalah" Balasnya namun berharap agar Tio baik-baik saja.


"Wah... Apakah ini yang namanya cinta seluas laut dan sebesar angkasa, Tio benar-benar beruntung di cintai Nona kecil tapi sayang Tuan muda menentang percintaan mereka... Huh! Kasihan sekali cinta tulus dari kerucil pembunuh bayaran harus pudar karena tak ada pendukung dari sang Daddy" Batin Sandy yang tengah mengamati Aulia dan Richo. Ia duduk di salah satu kursi yang memang di khususkan di sana.


"Nona jangan khawatir, Uncle Tio adalah pria kuat luka seperti itu tidak ada apa-apa untuknya... Jadi tidak perlu sedih lagi yah" Kata Richo menjelaskan pada Aulia dengan lembut.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba suara bariton milik Tuan Farhan mengagetkan mereka, raja Iblis melihat putrinya yang tengah berjongkok dan dengan tetesan air mata masih mengalir di pipi sang putri membuatnya mengernyit alisnya heran.


"Apakah putriku sedang menangis karena Tio terluka...? Anak kecil ini rupanya punya perasaan juga dengan baby sitternya" Bisik Tuan Farhan dalam hati. Tuan Farhan mengisyaratkan Richo dengan tangannya untuk meninggalkan mereka dan Richo mengangguk kemudian berdiri berjalan ke arah Sandy juga Rio sekertaris Tuan Farhan yang baru saja tiba.


"Lia tidak mau lihat Daddy! Lia benci Daddy huaaaa..." Tangis Aulia pecah namun Tuan Farhan tetap mendekati sang Putri. Berjongkok kemudian membelai rambut Aulia.


"Sayang, maafin Daddy yah... Daddy tidak bermaksud melukai Uncle Tio, Daddy tidak sengaja sayang, tadi itu Daddy dan Uncle sedang belajar bertarung supaya Uncle bisa jagain Lia dari orang jahat" Jelas Tuan Farhan dengan suara lembut dan pandangan menatap lurus pada Aulia.


"Tapi kasihan Uncle Tio, kalau Uncle meninggal gimana dong?" Menunduk dengan raut wajah sedihnya.


"Daddy tidak akan mengizinkan Uncle Tio meninggal, apalagi meninggalkan Aulia... So don't be sad again okay" Aulia mengangguk kepalanya mengerti.


"Belalti Uncle Tio akan tinggal di sini?" Tanya Aulia dengan mata berbinar.


"Heh! Kalau si brengsek itu tinggal di sini yang ada putriku tidak suci lagi di umur sekarang" Bisik Tuan Farhan yang begitu menggelikan hatinya... Memikirkan sang putri yang akan selalu bersama Tio si jones predator anak kecil.


"Oh tentu saja tidak sayang, Uncle Tio kan sudah punya apartemen jadi tidak bisa tinggal di sini... Nanti jika Aulia mau jalan-jalan bisa telepon Uncle Tio untuk jemput yah" Jelasnya penuh sabar Tuan Farhan membelai rambut putrinya kemudian mengendong Aulia dalam pelukannya.


"Aku akan memasang alat penyadap suara agar aku bisa dengar apa-apa saja yang di katakan si brengsek itu pada putriku" Ujar si Jelangkung batangan dalam hati.


Tuan Farhan kemudian berjalan ke arah two jones dan Rio berada, sedang tim dokter masih belum keluar dari ruang operasi itu.


"Tuan bagaimana jika berkas-berkasnya aku bawa saja di sini Tuan" Rio tiba-tiba berujar dengan kepala menunduk hormat.


"Tidak perlu kita berangkat saja sekalian mau beli ponsel untuk tiga kerucil" Jawabnya dan itu mengundang senyum lebar di bibir Aulia.


"Benalkah Dad, Daddy akan membelikan ponsel buat kami?" Tanya Aulia antusias matanya menatap binar wajah sang Daddy.


"Yups, tapi jangan keseringan main hp oke" Aulia mengangguk dan langsung mencium hidung mancung Tuan Farhan membuat pria Iblis itu tersenyum lebar sembari mengacak-acak surai sang putri.

__ADS_1


"Oke Daddy mau keluar sama Om Rio jadi Lia sama Uncle Richo dan Uncle Sandy yah"


"Oke Daddy" Jawabnya antusias sembari turun dari gendongan Tuan Farhan.


"Ayo ke ruang keluarga dulu, aku ingin menemui Ara" Kata Tuan Farhan dan langsung di anggukin oleh Rio mereka berjalan beriringan menuju ruang keluarga dan di sana sudah ada Jons juga Tuan Wijaya dan Nyonya Mita yang sepertinya juga baru tiba.


"Kau mau kemana serapi itu sayang...?" Tanya Nyonya Mita pada putranya. Jons dan Tuan Wijaya langsung mengalihkan perhatiannya pada Tuan Farhan dan Rio.


"Aku ada urusan kantor Ma, seseorang membobol keuangan perusahaan" Jawabnya dan menjatuhkan bokongnya di samping Jons sedangkan Rio tetap berdiri.


"Duduk saja Rio gak perlu se-formal itu" Titah Tuan Wijaya.


"Ta-tapi?"


"Duduk saja Rio" Timpal Tuan Farhan dan pada akhirnya Rio duduk di sofa untuk satu orang.


"Ara aku keluar dulu sebentar, jika Tio sudah siuman kabari aku"


"Iya, kamu hati-hati di jalan jangan terlalu lelah" Jawab Jons tersenyum pada Tuan Farhan, si Jelangkung batangan mengangguk pelan dan mencium pucuk rambut Jons membuat si tomboy tersipu malu.


"Kau apakan Tio, Farhan? Kenapa kau melukainya...?" Kali ini Tuan Wijaya angkat suara.


"Hmmm... Nanti aku jelasin sekarang aku pergi dulu" Kata Tuan Farhan menghindar dari topik pembicaraan. Berjalan menghampiri Nyonya Mita serta Tuan Wijaya mencium punggung tangan orang tuanya.


"Tuan, Nyonya, Nona kami pergi dulu" Izin Rio menunduk hormat.


"Hati-hati jangan terlalu lelah jika belum selesai hari ini kerjakan besok saja" Nasehat Nyonya Mita pada dua pria di depannya.


"Baik Ma, Ara aku pergi yah" Jons mengangguk dan tersenyum tipis. Saat hendak berjalan tiba teriakan dari arah pintu lift mengagetkan mereka.


"Daddy tunggu!!" Seru Hamas dan Azhar. Yang kini sudah rapi dengan style celana jeans hitam panjang robek dan kameja longgar berwarna abu-abu, sebelah bagian kemeja di masukan ke dalam dan sebelahnya mereka keluarkan tak lupa juga dua kancing kemeja atas terbuka, dengan sepatu sneakers brand Varka berwarna hitam. Rambut Hamas yang acak-acakan dan rambut Azhar yang di kuncir kuda membuat pandangan mereka membulat sempurna.


"OMG! Hamas, Azhar kenapa dandanan kalian berbeda?" Tanya Jons dengan wajah terkejut. "Kenapa dandanan anak-anakku seperti Band rocker jalanan" Batin Jons memijat pelipisnya.


"Kalian mau kemana ini ?" Tuan Farhan memicing curiga menatap tajam pada dua putranya.


"Tentu saja mau ikut Daddy dong" Jawab Hamas dan Azhar bersamaan.


"Hey! Dengan tampilan seperti itu...? Yang benar saja kalian berdua ini" Omel Tuan Farhan berkacak pinggang melotot pada Hamas dan Azhar.


"Hey Dad...!! It's gaul style. Jaman now so, kenapa Daddy mempermasalahkannya...?" Tanya Hamas mendelik jengkel pada Daddy-nya.


"Iya Dad ini adarah trend masa kini. Ah sudahrah kami tetap akan ikut" Timpal Azhar.


"Tuan muda kecil ini benar-benar anak yang gaul" Ucap Rio dalam hati.


"Tidak boleh! Daddy bukan jalan-jalan Daddy ada urusan penting sama Om Rio" Tolak Tuan Farhan datar membuat dua kerucil itu menatap tajam pada Daddy-nya.


"Nenek, Kakek. Bantu Azhar dong prease...!!" Mohon Azhar pada Boss besar.


"Mommy Hamas pengen keluar sebentar aja tolong bujukin Daddy dong Mom" Kali ini Hamas memohon pada Jons.


"Farhan!"


"Prince!"


Seru Boss besar dan Jons hampir bersamaan membuat senyum tipis tersungging di wajah dua bocil.


"Heh! Daddy tidak bisa melarang kami" Gumam Hamas bangga.


"Huh! Apalah dayaku, ayo kalian akan ikut Daddy tapi jangan membuat masalah di luar sana!" Tegas Tuan Farhan memperingati dua bocah laki-laki itu, dan Hamas serta Azhar mengangguk antusias keduanya memeluk Jons dan bergantian memeluk Tuan Wijaya serta Nyonya Mita.


"Farhan jaga cucu-cucuku jangan sampai terluka sedikitpun atau kau akan mendapatkan akibatnya" Ucap Nyonya Mita. Dan Tuan Farhan hanya mendesah kasar.

__ADS_1


"Makasih Mom, Nenek, Kakek. Kami pergi dulu yah bye" Jons tersenyum lebar ia kemudian beranjak mengantar suami juga dua putranya.


"Ma, Pa. Aku antar mereka ke depan dulu" Izin Jons dan dua mertuanya hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalian hati-hati yah. Hamas, Azhar jangan menyusahkan Daddy kalian oke" Tutur Jons membelai rambut dua putranya saat berada di depan pintu.


"Oke Mom, Don't worry!" Jawab Hamas dan Azhar dengan jari membentuk huruf O.


"Minggir kalian berdua sekarang Daddy mau berpamitan sama Mommy" Tuan Farhan menggeser tubuh dua kerucilnya ke samping agar ia bisa berhadapan dengan sang istri.


"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal...?" Tatapan dua sejoli itu bertemu.


"Heh drama apa lagi ini?" Keluh Hamas dalam hati.


"Hmmm sepertinya Tuan dan Nona masih lama lebih baik aku ke mobil saja" Rio segera menuju mobil yang terparkir rapi di depan Mansion.


"Iya, gak papa" Sahut Jons terkekeh kecil.


"Jangan rindu yah" Jons mengangguk dengan hati geli kenapa juga raja Iblis berbicara seperti itu... Sangat menggelitik perut.


"Aku pergi..." Tutur Tuan Farhan namun tak pindah posisi seakan memberikan kode bahwa dirinya menginginkan sesuatu sebelum pergi.


"Hahaha iya pergi aja" Balas Jons yang memang tidak tahu kode dari si Jelangkung batangan.


"Yah aku pergi sekarang" Jons mengangguk lagi tapi si Jelangkung batangan mesum tidak beranjak sedikitpun, Hamas dan Azhar melihat tingkah aneh Daddy-nya memutar bola matanya malas.


"Mom Daddy minta di cium" Celetuk Azhar bersedekap dengan alis terangkat sebelah. Bocah laki-laki itu sudah sangat bosan melihat dramatis Daddy-nya dengan kode murahan.


"Dad kalau mau minta cium yah minta aja tidak perlu kode-kodean Mommy tidak akan paham... Huh! Benar-benar payah" Celoteh Hamas dan itu membuat Tuan Farhan mengelus dadanya menenangkan hatinya agar tidak keluar amarah dalam tubuhnya.


"Bocah luknut! Awas saja aku akan membuang kalian di kolong jembatan tempat penampungan sampah" Gumamnya dalam hati sediki kesal pada putranya itu.


"Jangan dengar dua bocah ini, kalau aku mau cium yah cium saja Mommy kalian adalah istri Daddy... Sono kalian pergi jangan lihat Daddy berciuman" Usirnya dengan wajah merah padam.


Tanpa babibu lagi Tuan Farhan langsung menyosor bibir Jons dengan kasar karena terlalu jengkel pada dua putranya yang membuatnya malu setengah mati.


"Sakit tahu!" Keluh Jons mendorong tubuh Tuan Farhan.


"Maaf sayang, aku khilaf aku pergi yah kamu baik-baik di rumah" Jons mengangguk dengan ibu jarinya memegang bibirnya yang sedikit terluka akibat ciuman kasar dari raja Iblis.


Tuan Farhan langsung berlalu dengan menenteng dua kerucil memegang erat kerah baju Hamas dan Azhar.


"Dad lepas" Berontak keduanya.


"Bodoh!"


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2