Suamiku Ternyata Boss Mafia

Suamiku Ternyata Boss Mafia
Bab 149 Rugi Double


__ADS_3

Happy reading 🤗


like dan komen


.


.


.


.


.


.


.


.


Suara dering bel terdengar cukup nyaring dan anak-anak pun langsung masuk ke dalam kelas masing-masing. Tiga kerucil Iblis dan Alexa duduk di kursi belakang yang di mana Aulia menjadi pasangan duduk Azhar sedangkan Hamas bersama Alexa.


Tak lama guru perempuan datang di kelas satu yaitu kelas di mana empat keluarga besar Tuan Wijaya berada.


"Assalamualaikum anak-anak" sapa seorang wanita cantik menggunakan jilbab berjalan masuk ke dalam kelas memberikan senyum manis.


"Waalikum salam bu guru" jawab mereka serempak. Ibu guru itupun tersenyum ramah melihat semua wajah siswa yang berada di dalam kelas.


"Bagiamana kabarnya teman-teman, sehat?" tanya ibu guru lembut.


"Sehat ibu guru" jawab mereka lagi bersamaan.


"Ini kali pertama kita bertemu, teman-teman boleh memanggil nama ibu guru, Widia. Alhamdulillah teman-teman semuanya sehat. Sekarang sebelum ibu memulai pelajaran hari ini ibu akan mengabsen dulu... Shintia?"


"Hadil Bu" jawab seorang gadis kecil sembari mengangkat tangannya dan ibu guru itu mengangguk.


"Sahril"


"Hadir bu"


Regina"


"Hadir Bu"


"Hamas"


"Hadir bu"


Dan semua nama sudah di panggil oleh ibu Widia terkecuali Alexa karena dirinya belum terdaftar di sekolah karena umurnya yang belum memenuhi standar untuk masuk sekolah.

__ADS_1


"Siapa yang belum ibu sebut namanya...?" tanya ibu Widia sembari menatap satu persatu wajah anak didiknya.


Alexa pun mengangkat tangannya ragu-ragu.


"Siapa nama kamu sayang...?" tanyanya dengan senyum ramahnya.


"Aleca ibu gulu" jawabnya dengan wajah imutnya dan bahkan tubuhnya lebih mungil daripada yang lain karena umurnya yang akan baru memasuki 4 tahun.


"Alexa Putri Dinata" sahut Hamas membenarkan perkataan Alexa karena melihat raut wajah ibu Widia yang sedikit kebingungan.


"Wah cantik sekali sayang namanya... baiklah nak Lexa ibu akan menulis nama Alexa di daftar absen dulu" jelas ibu Widia dan segera menulis nama Alexa di urutan terakhir.


"Maaf ibu guru Alexa, adik saya... dia hanya sekolah ikut-ikutan apakah tidak apa-apa jika datang ke sekolah?" Hamas mengangkat tangannya sembari berujar.


"Tidak apa-apa sayang, yang terpenting Alexa tidak boleh berisik sehingga tidak mengganggu teman-teman yang lain" tuturnya lembut dan Alexa mengangguk mantap.


Setelah melakukan absensi ibu Widia langsung menjelaskan materi hari ini walau para siswa ada yang berisik namun itu bukanlah sebuah masalah baginya karena ia sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Hingga deringan bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat bagi kelas atas sedangkan kelas satu adalah waktu untuk pulang.


Ibu Widia pun mengakhiri proses belajar mengajar memberikan salam dan bergegas keluar dari ruangan kelas satu itu.


"Kita makan dulu di kantin" ujar Hamas pada adik-adiknya.


"Oke" serunya antusias.


Sebagian anak-anak sudah keluar dan sebagian lebih memilih tinggal karena mereka membawa bekal di sekolah.


"Abang kenapa tidak ikut kita saja...?" tanya Aulia dengan alis terangkat sebelah.


"Tidak apa-apa cepat pergirah ada yang ingin aku rakukan" seru Azhar tanpa melihat ia berpura-pura menggambar di bukunya dan mereka tidak menaruh curiga sedikitpun.


"Jangan membuat masalah! kami pergi dulu" ujar Hamas dan mengajak kedua adik perempuannya untuk keluar dari ruangan. Mereka menuju kantin sekolah yang tak jauh dari kelas mereka.


Saat sudah memastikan bahwa abang dan adiknya sudah keluar Azhar berjalan menghampiri seorang gadis kecil nan imut yang tengah makan di kelas. Azhar berdehem besar.


"Ekheem!" gadis kecil itu mendongakkan kepalanya menatap heran wajah Azhar.


"Ekheem! apa yang sedang kau rakukan gadis jerek?" tanya Azhar bersedekap dada memandang makanan di atas meja. Namun tidak ada sahutan dari anak perempuan itu ia masih saja fokus pada makanan di depannya tanpa perduli dengan hantu dadakan.


"Hey! aku sedang berbicara denganmu" ujar Azhar mendengus kesal menatap tajam gadis kecil di depannya lantaran tidak di hiraukan.


"Aku sedang makan jangan menggangguku!" jawabnya dingin tanpa mengalihkan pandangannya.


BRAAAAK


Azhar menggebrak meja hingga membuat kotak makanan itu sedikit bergetar hingga membuat anak perempuan itu menatap kesal pada Azhar.


"Berikan aku uangmu maka kamu seramat" ucap Azhar cepat sembari mengulurkan tangannya di depan gadis kecil.


"Ck! Apa kau tidak memiliki uang? apa ibu dan ayahmu tidak mengajarimu sopan santun" tuturnya tanpa takut, Azhar yang mendengar orang tuanya di sebut membuat darahnya mendidih seketika tangannya terkepal kuat.

__ADS_1


"Jangan menyebut Mommyku seperti itu!" bentak Azhar. Untuk hanya mereka berdua di dalam kelas atau kalau tidak mungkin masalah itu akan mendatangkan orang tua masing-masing ke sekolah.


"Bukankah faktanya seperti itu? kenapa kau sangat marah bukankah orang tuamu yang tidak mengajarimu sopan santun" sinisnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Azhar benar-benar emosi kala mendengar Mommynya di sebut apalagi sekarang ia tengah sedih atas kepergian ibunya hal itu membuatnya benar-benar marah.


"Jangan pernah menyebut orang tuaku seperti itu...!!"


BUGH


Azhar membanting kotak makanan di atas lantai dan menginjak-injak isi makanan tersebut terlihat kilatan amarah dari mata Azhar membuat gadis kecil itu ketakutan.


"Di-dia ke-napa?" aku bahkan baru makan separuh... perutku sangatlah lapar" gumamnya dalam hati.


"Jangan pernah katakan har-har buruk tentang Mommy dan Daddyku atau kau akan tahu akibatnya" Azhar mengambil uang dua puluh ribuan dari saku celananya dan memberikan pada gadis itu di atas mejanya kemudian pergi meninggalkan kelas dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Maaf Daddy, Mommy, Azhar membuat nama karian buruk" batin Azhar menyesal dengan kepalan tangan yang masih sama seperti di kelas.


"Apa aku telah salah menyebut orang tuanya sampai dia marah seperti itu?" gumam gadis itu bersedekap memandang uang di atas mejanya posisinya masih seperti semula.


Azhar berjalan ke arah kantin karena saat keluar akan terlihat jelas area kantin jadi tidak membuat Azhar kesulitan untuk mencarinya. Sesekali Azhar menendang udara merasa kesal sudah di potong uang jajannya malah dirinya merasa rugi besar ingin memalak tapi berujung rugi besar.


"Hah! Daddy hanya memberi dua puruh ribu dan marah berakhir ke tangan orang rain benar-benar menyebarkan" keluh Azhar mendengus kesal.


"Abang sini!" teriak Aulia mengulurkan tangannya ke atas dan melambai pada Azhar, si gondrong langsung mencari sumber suara hingga berakhir pada sosok yang di cari.


"Ah, aku harus berbaik hati pada mereka" Azhar berlari kecil ke arah Hamas dan lainnya.


"Ria sayang, abang boreh pinjam uang Ria yah" Azhar memberikan senyum manisnya memeluk tubuh adiknya lembut berharap agar Aulia memberikannya tanpa bertanya.


"Di mana uang kamu Azhar?!" tanya Hamas memberikan tatapan tajam membuat Azhar menggaruk-garuk kepalanya.


"Abang pesan saja mau makan apa" jawab Aulia membuat Azhar tersenyum lebar sedangkan Hamas hanya menghela napasnya kasar.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2