
Melihat keributan yang terjadi di rumahnya, Anyelir, Seruni dan Kilat hanya bisa mendengarkan sambil mengintip dari ruang makan.
Mereka tidak berani mendekat, apalagi ikut berkomentar.
"Kasihan kak Cempaka ya..." Seruni si bungsu nyeletuk.
"Ssst... Ngomongnya pelanin dikit" Sergah Seruni.
"Kayak yang enggak tahu kak Bunga saja, nanti kita kena semprot kalau dia tahu kamu ngomong begitu" Ujar Kilat mengingatkan adiknya.
"Kan kak Bunga sudah ada kak Sakti ya kak?... Kenapa pula mesti ribut?... kak Cempaka kan tidak merebut calonnya kak Bunga. Kenapa kak Bunga marah-marah?"Kilat bergumam sambil mengerutkan keningnya seperti yang tengah berpikir.
"Enggak tahu kakak juga, aneh kak Bunga itu. Kalau sudah marah bikin geger sekelurahan, sangat mengerikan!..." Ujar Anyelir sambil bergidik.
"Untung enggak sekecamatan atau sekabupaten kak!... He... He..." Kilat malah berkelakar.
"Ha... Ha... Ha..." Seruni tertawa ngakak mendengar kakaknya bercanda.
"Hap!... Pelanin ketawanya!..." Anyelir menahan tawanya dengan menutup mulutnya.
Mereka berusaha supaya suara tertawanya tidak terdengar oleh Bunga, yang tengah duduk sendirian sambil senyum-senyum dan ongkang-ongkang kaki merasa menang.
Sedangkan Cempaka masih di kamarnya bersama kedua Orangtuanya. Yang tengah berusaha menenangkan anaknya.
"Kalau seandainya Buana... Terjebak atau... Berpaling ke cinta lain, bagaimana bu?..." Cempaka mengeluhkan ke khawatirannya.
"Enggak mungkin, Buana tidak seperti itu. Kita do'akan saja supaya Buanamu itu tidak tergoda oleh perempuan lain. Sekarang, usaplah airmata mu dan tersenyumlah" Bu Sekar menenangkan.
Sebenarnya dia sendiripun merasa khawatir dan ragu. Namun, demi anaknya dia berusaha untuk tidak memperlihatkan kecemasannya.
"Nanti sore, atau selepas Magrib kita ke rumahnya Buana. Kita bicarakan tentang penundaan pertunangan kalian, yang kuat ya sayang!..." Ucap pak Jati sambil tersenyum yang di paksakan.
Cempaka hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia merasa tidak kuat untuk mengucapkan sepatah katapun.
Tenggorokannya serasa tercekat, ada sesuatu yang menyumbat di sana, yaitu perasaan yang susah untuk di ungkapkan.
Dan... Perasaan hati yang hancur
itu tak bisa lagi ditahan-tahan. Akhirnya... Meledak dalam tangisan yang mengharu biru.
"Uhk... Uhk... Uhk..." Hanya tangis kepedihan yang terdengar.
Perasaan dan hatinya Cempaka sudah hancur sehancur-hancur nya, bagaikan cermin yang jatuh menimpa sebongkah batu besar.
Hancur!... Remuk sudah.
Dan tak mungkin bisa untuk di sambungkan kembali.
__ADS_1
Bu Sekar dan pak Jati hanya bisa menghela nafas beratnya sambil saling pandang merasa buntu tak menemukan jalan keluarnya.
"Ma'af! Bu, pak... Aku ingin sendiri dulu... " Dengan deraian airmata yang susah untuk di tahannya, Cempaka ingin merenung sendiri.
"Baiklah... Bapak sama ibu keluar dulu... Yang kuat ya sayang" Bu Sekar mengecup kening anaknya, sebelum keduanya keluar dari dalam kamarnya Cempaka.
Meninggalkan Cempaka yang tengah berduka.
Sendiri menyepi mencoba untuk meredam pilu yang mengharu biru, menyesak di dalam kalbu.
"Bagaimana?..." Bunga langsung menyambut kedua Orangtuanya dengan pertanyaan.
"Adikmu di paksa untuk menunda
hari pertunangannya sampai kamu punya suami. Nanti ba'da Maghrib kita kesana ke rumah orangtuanya Buana" Sahut pak Jati sambil duduk di hadapan Bunga, yang langsung tersenyum bahagia mendengar semua yang di katakan oleh bapaknya itu.
"Naaaah!... Gitu dong pak, itu baru namanya bapak sayang sama aku. Aku kan kakaknya Cempaka, yang namanya adik ya... Harus ngalah sama kakaknya" Dengan wajah yang sumringah, Bunga berucap.
"Benar kan bu, Cempaka mau menunda hari pertunangannya?"
Seakan tak puas dengan jawaban dari bapaknya, Bunga pun bertanya kepada ibunya.
"Iya... Benar... Kamu yang akan menikah duluan, tidak akan ada yang melangkahimu. Semoga kamu bahagia" Ucap bu Sekar pula menambah yakin dan bahagianya hatinya Bunga.
Di peluknya ibunya itu, sambil di ciumnya berkali-kali saking bahagia hatinya.
"Sudah ah... Apa-apaan sih kamu ini?... Kayak anak kecil saja!" Ucap bu Sekar.
"Ayo!... Kita berangkat sekarang.
Nanti keburu malam" Bu Sekar mengajak Cempaka yang belum berhenti menangis.
"Iya... Ayo Cempaka, kamu pasti kuat dan sanggup menghadapi hal ini" Ucap pak Jati meyakinkan anaknya.
Waktu itu baru saja mereka selesai mengerjakan shalat Maghrib berjamaah.
Sengaja pak Jati tidak pergi ke masjid.
"Enggak usah pak, biarin saja " Sahut Cempaka sambil menunduk lesu. Dia tak sanggup bila harus melihat wajah kakaknya dengan senyuman sinisnya itu.
"Jangan begitu, itu tidak baik. Bagaimana pun juga kita harus menemuinya sebelum mereka datang ke sini" Bu Sekar mengingatkan.
"Cepetan!... Nanti keburu malam!" Bentak Bunga sewot.
"Sebentar lagi juga Buana mau kesini, jadi buat apa repot-repot kita kesana?" Cempaka tak kalah sewot, tapi wajahnya tetap menunduk tak mau beradu pandang dengan kakaknya itu.
"Ya sudah... Kenapa pula kita mesti ke sana, aku ke kamar dulu Assalamualaikuum" Bunga membalikkan badannya, kemudian bergegas menuju ke kamarnya sambil bersenandung.
__ADS_1
Senandungnya itu mengiris hatinya Cempaka.
"Assalamualaikum..." Tiba-tiba ada yang mengucapkan salam dari pintu depan.
"Waalaikumsalam... Itu suaranya Buana, dia sudah datang. Bapak sama ibu saja yang menjelaskan semuanya kepada Buana" Ucap Cempaka lirih.
Dia sepertinya tak sanggup harus mengatakannya.
"Ayo Cempaka... Kasihan tuh Buana nungguin" Ucap bu Sekar sambil menggandeng lengan anaknya.
Dengan sangat berat dan terpaksa, Cempaka bangkit dari tempat duduknya.
Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya, setengah di seret.
Tidak seperti biasanya kalau Buana datang, dia begitu cepat melangkah menuju pintu. Tapi kini dia begitu malas untuk menemuinya.
"Percuma kamu kesini Buana, untuk apa?... Cempaka tidak mau menerima lamaranmu" Terdengar dengan jelas suaranya Bunga dari ruang tamu.
Rupanya dia yang membukakan pintu untuk Buana.
"Bu, pak... Kak Bunga bicara apa sama Buana?" Cempaka segera bergegas menuju ke ruang tamu, dia tak mau kalau Buana nanti salah paham.
"Assalamualaikum... " Ucap Cempaka sambil menatap kakaknya.
"Waalaikumsalam..." Sahut Buana sambil berdiri dan menyalami kedua Orangtuanya Cempaka dengan penuh hormat.
"Barusan kakak bicara apa?... Jangan suka mengadu domba kak!... Itu tidak baik!... Jangan suka mengatakan yang tidak benar, itu bohong namanya. Dosa tahu!" Cempaka berujar kesal.
Dia tidak suka dengan perkataan kakaknya tadi. Seakan-akan dia menolak lamarannya Buana.
"Sebaiknya kita duduk dulu, kita bicarakan dengan baik-baik. Apa yang sebenarnya terjadi" Pak Jati berusaha menengahi.
"Begini sebenarnya Buana, Cempaka kan punya kakak yang masih belum punya suami. Dia tidak menginginkan Cempaka ada yang melamar duluan. Bunga kan kakaknya Cempaka, jadi dia ingin supaya lamarannya Buana di tunda dulu sampai kak Bunga punya suami" Pak Jati menjelaskan dengan panjang lebar.
"Maksudnya?... Cempaka tidak menerima saya?... Kenapa jadi begini?... Kemarin kan Cempaka nampak sangat bahagia mendengar niat saya akan melamarnya" Buana berkilah dengan mimik muka yang kebingungan.
"Begini Buana, kak Bunga... Tidak setuju kalau aku bertunangan denganmu, sebelum kak Bunga menikah" Ucap Cempaka perlahan.
"Berarti... Acara lusa itu dibatalkan begitu saja?... Ini tidak adil Cempaka" Ujar Buana pula.
Matanya menatap Bunga dengan kesal.
"Iya, di batalkan!... Tadinya kami mau kesana untuk membicarakan hal ini. Tapi, kamu keburu kesini duluan" Ucap Bunga kasar.
"Bapak sama ibu juga sangat menyayangkan sekali harus menunda pertunangan ini. Tapi...
Harus bagaimana lagi?..." Ucap pak Jati.
__ADS_1
"Kak Bunga mau bunuh diri kalau aku tidak membatalkan pertunangan lusa itu" Cempaka berkata dengan kesal.
"Astaghfirulahaladziiim... Kenapa begitu kak?... " Buana menatap kaget ke arah Bunga.