
Setelah berkenalan, keduanya nampak akrab.
Ini membuat Mawar tak habis pikir. Setahu dia, saudaranya itu paling sulit untuk menyukai seorang perempuan. Apalagi yang baru di kenalnya.
Begitu pula dengan Cempaka, dulu di sekolah dia di kenal gadis yang paling cuek kepada teman prianya, hingga dia mendapat julukan si gadis jutek.
Tapi kenapa, kini dia bisa langsung akrab dengan saudaranya.
Seingat dia, waktu berkenalan dengan Buana juga dia tidak langsung akrab, malahan orang tua keduanya lah yang gencar mendekatkannya. Karena ingin
besanan.
Tapi, kini... Kok! Bisa langsung akrab begini?
Mawar jadi terheran-heran sendiri.
"Apa aku tidak salah lihat?" Gumamnya perlahan. Matanya bergantian menatap Cempaka dan Samudera.
"Mawar, kamu kenapa?" Cempaka mencolek bahunya Mawar. Dia tersadar dengan kebingungan sahabatnya itu.
"Enggak apa-apa, cuma... Aku merasa heran dengan kalian berdua" Sahutnya gelagapan, karena ketahuan oleh Cempaka.
"Kenapa merasa heran?"Tanya Samudera ingin tahu.
"Kamu kan gadis jutek, dan kamu juga pria yang menyebalkan yang tak sedikit membuat para gadis merasa kesal dengan sikap kamu yang suka acuh tak acuh itu. Tapi kenapa?... Sekarang... Kalian bisa sama-sama akrab begini?... Apa kalian sudah salah makan?... " Mawar mengungkapkan keheranannya.
Samudera dan Cempaka saling pandang tak mengerti.
"Kalau itu, aku juga tidak tahu" Sahut Cempaka dan Samudera serentak, mengucapkan kalimat yang sama.
Tapi, sejurus kemudian keduanya
berucap lagi.
"Atau mungkin karena... Cinta!" Seru keduanya menjawab lagi dengan berteriak.
"Haaah?... Kenapa bisa serentak berbarengan lagi menjawabnya"
Mawar sampai geleng-geleng kepala.
"Astaghfirulahaladziiim... Kenapa bisa begini?" Cempaka baru tersadar. Dia jadi malu sendiri.
Sedangkan Samudera tersenyum kegirangan.
Matanya tak lepas memandang wajahnya Cempaka yang berubah jadi memerah karena menahan rasa malu.
Baru sehari Cempaka tinggal di rumahnya Mawar, dia sudah bisa melupakan rasa sakit yang mengoyak hatinya.
Dia sudah bisa melupakan Buana yang telah menorehkan luka yang menganga di hatinya.
Itu semua karena adanya Samudera yang dari pertama kali melihatnya, dia sudah merasa cocok. Seakan ada sesuatu yang dia dambakan selama ini.
Dia begitu nyaman dan merasa tenang berada di dekatnya.
__ADS_1
Pembicaraan pun langsung nyambung dengan begitu saja.
Membuat Cempaka merasa betah bersamanya.
Sedangkan Mawar masih terheran-heran menyaksikan pemandangan itu.
"Cinta?... Kalian bilang cinta?" Tiba-tiba Mawar nyeletuk kaget.
Samudera dan Cempaka saling pandang dan saling melempar senyum.
"Apakah benar ada cinta di dirinya?" Gumam Cempaka perlahan.
"Apakah mungkin mereka jatuh cinta pada pandangan pertama?"
Mawar bergumam sendiri.
Sementara itu pak Jati sudah sampai di rumahnya dengan selamat.
"Assalamualaikum..." Ucapnya sebelum memasuki rumah.
"Waalaikumsalam... Bagaimana pak?... Ketemu enggak rumah sahabatnya Cempaka itu?... Dan bagaimana, apa Cempaka boleh numpang nginap di sana selama satu minggu?... Ramah enggak Orangtuanya?" Belum juga duduk pak Jati sudah di brondong oleh beberapa pertanyaan.
"Aduuh!... Ibu, satu-satu dong pertanyaannya. Bapak harus jawab yang mana dulu?"Seru pak Jati sambil duduk senderan di sofa.
"Ma'af pak, habis ibu takut anak kita tidak ada tempat buat menumpang tidur selama satu minggu di sana. Sebentar ya pak, ibu ambilkan air minum dulu, pasti bapak cape"Ucap bu Sekar sambil beranjak ke dapur.
"Naah, gitu dong! Isteriku yang cantik"Pak Jati memujinya.
Sahut bu Sekar sambil tersenyum senang.
"Nih air minumnya, silahkan diminum dulu. Setelah itu jangan lupa di jawab pertanyaan ibu tadi" Ujarnya sambil menyimpan secangkir teh hangat dan setoples kue nastar kesukaan pak Jati.
Pak Jati segera meraih secangkir teh hangat itu dan meneguknya.
Tak lupa diapun menyantap kue nastar kesukaannya.
"Sekarang bapak jawab dong pertanyaan ibu tadi" Bu Sekar seakan tidak sabar lagi. Setelah melihat suaminya itu minum teh dan makan beberapa buah kue nastar, tak menunggu lama, dia langsung menanyakan jawabannya.
"Baiklah ibu ratu, bapak jawab satu persatu pertanyaannya. Yang pertama Alhamdulillah rumahnya Mawar ketemu. Dan Cempaka diperbolehkan tinggal disana, Sahabatnya, Mawar sangat bahagia sekali dengan kedatangan Cempaka ke rumahnya. Apalagi setelah mengetahui bahwa Cempaka mau nginap selama satu mingu. Dia sangat heboh sekali, ya seperti anak kita itu. Keluarganya ramah-tamah, ibu dan bapaknya sangat baik. Itu jawabannya" Sahut pak Jati dengan panjang lebar.
"Alhamdulillah... Terimakasih ya Allah... Semoga dia bisa sedikit melupakan sakit hatinya" Ujar bu Sekar penuh harap.
"Amiin... Semoga saja bu. Bapak sengaja menugaskan dia ke sana bu, biar dia tidak murung terus. Sambil menunggu kepastian dari keluarganya Buana, Cempaka harus punya kesibukan yang bisa menghabiskan waktu senggangnya, biar tidak kepikiran terus si Buana itu" Sebenarnya pak Jati juga sudah mulai ragu dengan kesetiaan nya Buana.
Yang tengah di bicarakan, hatinya tengah bahagia dengan kenalan barunya.
Tak sedikitpun dia teringat akan Buana yang ingkar janji, dan berpindah ke lain hati.
"Allahuakbar.. Allahuakbar..." Terdengar kumandang adzan Maghrib dari masjid yang berada tak jauh dari rumahnya Mawar.
"Alhamdulillah ya Allah... Tidak terasa sudah adzan Maghrib lagi" Ucap Samudera.
"Ya jelas tidak akan terasa, habis bertemu dengan kenalan baru. Sana!... Ke Masjid dulu!" Mawar menarik tangannya Samudera supaya dia bangkit dari duduknya dan beranjak menuju Masjid.
__ADS_1
"Iya iya... Ini juga aku mau ke sana, mau shalat Maghrib berjamaah. Cempaka, aku ke masjid dulu ya, Assalamualaikum..." Ucap Samudera berpamitan pada Cempaka, sebelum dia beranjak dari rumahnya Mawar.
"Waalaikumsalam..." Jawab Cempaka lembut.
Samudera pun keluar lewat pintu samping dan menghilang di balik pintu.
"Aku ambil air wudhu dulu ya, apa mau shalat maghrib berjamaah?"
Tanya Cempaka.
Mawar menganggukkan kepalanya sambil mengikuti Cempaka, menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Ternyata Keluarganya Mawarpun setiap shalat maghrib dan shalat isya, suka melaksanakan shalat berjamaah, yang menjadi imamnya bergantian. Persis seperti di rumahnya Cempaka.
Sedangkan bapaknya Mawar dan kakaknya, shalat berjamaah di Masjid.
"Assalamualaikum..." Selepas shalat Isya, Bapaknya Mawar dan kakaknya terdengar mengucapkan salam, sebelum mereka masuk ke dalam rumahnya.
"Waalaikumsalam..." Jawab kami bertiga, yang baru saja selesai tadarusan.
Ternyata bukan hanya bapaknya Mawar dan kakaknya yang baru pulang dari Masjid.
Di belakang keduanya, terlihat Samudera ikut pulang juga ke rumahnya Mawar.
"Kok!... Tumben ikut pulang ke mari?... Pasti ada sesuatu ya!" Ujar bu Dahlia sambil tersenyum.
Dia mengerti dan faham apa yang jadi maksud dan tujuannya Samudera.
"Iya uwa... Boleh kan aku mampir dulu ke sini?" Ujar Samudera diikuti dengan pertanyaan.
"Ya boleh dong... Masa, di larang.
Kamu kan anak uwa juga. Ayo masuk!... Kita makan malam dulu , nanti keburu malam" Ujar bu Dahlia.
"Tuh!... Cempaka sama Mawar sudah nyiapin makan malamnya, mereka berdua yang masak lho!"
Ucap Bu Dahlia dengan bangganya.
"Ini mau apa lagi? Kenapa kamu pulang ke sini? enggak seperti biasanya. Paling mau ngerecokin
seperti biasanya. Sana pulang!"
Mawar nyerocos setelah melihat Samudera datang bersama bapaknya dan kakaknya.
"Mawar, enggak boleh begitu ah, itu kan saudara kamu juga. Sudah dulu ah berantemnya, mendingan kita makan malam dulu bersama" Ucap ibunya dengan lembut.
Akhirnya semua makan malam bersama dalam satu meja.
Cempaka diperlakukan seperti Keluarga sendiri. Kedua Orangtuanya Mawar dan juga kakaknya begitu baik kepadanya.
Cempaka tak merasa asing lagi.
Dia merasa tinggal di rumahnya sendiri, dia merasa betah berada di tengah-tengah keluarganya Mawar, apalagi ada Samudera yang membuat hatinya berdebar-debar tak menentu.
__ADS_1