
"Kenapa salam ku dari tadi enggak ada yang menyahut?" Gumam pak Jati, matanya menatap ke arah pintu rumah besannya.
Cemara masih di pelukannya.
"Ma'af! Pak, bu, tamu itu harus di temui, enggak baik itu. Seperti yang tidak punya sopan- santun saja. Memang kita punya salah, dan kesalahannya itu menurutku sudah kelewat batas. Kalau keluarga pak Jati marah, itu sangatlah wajar. Kalau kita sudah menyadari punya salah, terus dia datang dengan baik-baik malah kita biarkan. Apa itu tidak akan membuatnya lebih marah lagi? Apa itu sikap yang baik?" Kakaknya Petir yang dari tadi diam saja, akhirnya nimbrung juga.
"Ibu sama bapak malu, kak" Bu Tari tersipu.
"Kalau membiarkan tamu apa jadi tidak malu? Apalagi Cemara dari tadi di gendong sama kakeknya, tidak mungkin kita bisa ngumpet, tidak mungkin kita bisa menghindar"
Ujarnya lagi.
"Lalu, harus bagaimana?" Pak Andro bertanya seperti yang bodoh.
"Ya di temui lah! Seperti kata bapak tadi sebelum tahu siapa yang datang" Ujarnya lagi.
"Makanya apa ku bilang waktu itu? Jangan gegabah! Ini urusannya bakal panjang dan rumit! Kalau sudah sepakat bertunangan, ya tunangan saja dulu, enggak usah bawa-bawa petugas dari kua segala. Mana kita sudah tahu Anyelir itu punya kakak perempuan yang belum nikah, terus waktu ngelangkahinya enggak izin dulu, mana enggak ada tanda mata lagi untuk Cempaka sebagai ucapan terimakasih" Lanjutnya.
"Setelah itu, kalian bohongi dia, kalian manfa'at kan dia untuk mengambil arsip Guru-guru. Itu semua untuk keuntungan kalian. Di mana hati nurani kalian? Di mana perasaan kalian sebagai adik dan kakaknya?" Prima, kakaknya Petir dengan lantangnya dia mengungkapkan
kekesalan hatinya.
Dari awal juga hanya dia yang tidak setuju dengan pernikahan adiknya itu dengan cara sembunyi- sembunyi.
Tak ada yang bicara, semua pada diam membungkam mulutnya masing-masing. Semua kepala yang ada di sana tertunduk, menyembunyikan wajahnya.
" Bapak sama ibu juga, seperti bukan orang tua saja, janji mau tunangan, eh ujung-ujungnya akad nikah. Siap-siap saja kalau besok atau lusa Cempaka tahu, dan dia menyalahkan kalian!" Setelah bicara panjang lebar, dia pun beranjak ke ruang tamu hendak membukakan pintu untuk mertua adiknya itu.
Sedangkan Petir, dia diam seribu bahasa.
"Kamu mau ke mana kak?" Bu Tari khawatir, dia menghentikan langkahnya Prima dengan memegangi tangannya.
"Aku mau bukain pintu buat pak Jati, mertuanya kamu, Petir! Besannya ibu sama bapak! Enggak sopan ada tamu di biarkan saja dari tadi" Sahutnya.
"Ma'af bu" Prima melepaskan pegangan tangan ibunya.
"Pak, bagaimana ini? Aku malu, aku menyesal" Bu Tari mulai menangis.
"Bapak juga enggak tahu, bu. Kita hadapi saja bersama" Pak Andro melemah.
"Waalaikumsalam, eh pak Jati. Silahkan masuk pak! Ma'af menunggu lama" Ucapnya Sambil mempersilahkan pak Jati masuk.
"Terimakasih" Sahut pak Jati.
"Silahkan duduk pak!" Ujarnya lagi.
"Cemara, kangen ya sama kakek? Sebentar ya pak, saya tinggal dulu" Prima masuk lagi ke ruang tengah. Dia hendak memanggil kedua orangtuanya, dan juga Anyelir serta Kenari.
Setelah berada di ruang tengah,
betapa terkejutnya Prima, sa'at netranya tak melihat siapapun juga di sana.
"Ibu, bapak?" Sambil melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan, Prima memanggil ibu dan bapaknya.
"Ssst!" Terdengar suara seseorang yang memberikan isyarat supaya jangan berisik.
Prima menoleh ke arah datangnya suara itu. Ternyata ibunya yang memberikan isyarat itu.
Prima geleng-geleng kepala. Dia merasa heran dengan tingkah kedua orangtuanya.
"Astaghfirullahaladzim, ibu, bapak, kenapa malah ngumpet di sini?" Tegur Prima setelah mengetahui bahwa kedua orangtuanya ngumpet di belakang pintu ruang makan.
"Pak! Masuk saja ke sini pak! Kedua orangtua saya menunggu bapak di sini!" Seru Prima, yang tentunya sangat mengagetkan kedua orangtuanya.
"Prima! apa-apaan sih kamu ini?" Bentak pak Andro sambil keluar dari tempat persembunyiannya.
"Ayo! Semuanya pada keluar! Temuin tamunya!" Prima akhirnya menyuruh semuanya untuk ke ruang tamu.
"Ma'af pak, bu, bukannya aku tidak sopan dan tidak menghargai ibu dan bapak. Tapi, ini terpaksa aku lakukan, biar bapak sama ibu menyadari bahwa semua yang ibu sama bapak kerjakan itu salah besar! Merugikan orang lain! Mempermalukan orang lain! Dan, orang lainnya itu adalah besan ibu dan bapak sendiri"
Prima, membuka pintu ruang makan, dan mempersilahkan ke-dua orangtuanya untuk menemui besannya.
Akhirnya, dengan terpaksa dan dengan langkah yang terseok-seok, karena menahan rasa malu, pak Andro dan bu Tari, menuruti perkataan anak sulungnya untuk menemuinya tamunya di ruang tamu.
"Apa kabar pak?" Pak Jati segera bangkit dari tempat duduknya menjabat tangannya pak Andro yang gemetaran keluar keringat dingin.
__ADS_1
"Ba, baik" Pak Andro tergagap menjawabnya.
"Pak Andro lagi sakit?" Pak Jati bertanya heran.
"Ti, tidak, tidak" Bicaranya masih gugup.
"Bu" Pak Jati manggut kepada bu Tari yang salah tingkah menahan malu, menyembunyikan wajahnya.
"Ma'af, saya mau bertemu anak saya" Pak Jati langsung pada tujuan.
"Emh, emh, " Bu Tari seperti yang susah untuk membuka mulutnya.
" Mereka ada di belakang pak, sebentar saya panggilkan" Prima bangun dari duduknya, terus beranjak menuju ke belakang, ke dapur. Di mana kedua iparnya bersembunyi.
"Kak Kenari, Anyelir! Itu di tanyain pak Jati!" Tegas suaranya prima.
"Haah? Kenapa di bilangin saya ada di sini?" Kenari masih menyalahkan orang lain.
" Cemara ada di sini, enggak mungkin mamahnya di tempat lain" Ujar Prima sambil kembali lagi ke ruang tamu.
"Kak, bagaimana ini? Aku takut sekali" Anyelir ketakutan sekali nampaknya.
"Enggak tahu, kakak harus berbuat apa? Harus menjawab apa kalau nanti bapak bertanya tentang para tamu undangan itu?" Kenari menatap adiknya dalam kebingungan.
"Mana Kenari dan Anyelir nya?"
Pak Jati menatap Prima yang datang sendiri tanpa kedua anaknya.
"Di belakang pak, mereka ada di ruang makan. Silahkan saja bapak temui mereka di sana. Mungkin mereka enggan untuk datang ke sini, padahal sudah saya sampaikan barusan, silahkan pak!" Prima mempersilahkan pak Jati untuk masuk ke dalam rumahnya.
"I, iya pak, silahkan!" Pak Andro dan bu Tari pun mempersilahkannya dengan gugup.
"Mengapa mereka tidak mau ke sini?" Tanya pak Jati.
" Pasti mereka tahu alasannya pak, dan pastinya bapak juga sudah tahu apa yang jadi penyebabnya. Silahkan pak, masuk saja!" Ujar Prima.
"Baiklah kalau begitu" Pak Jati beranjak dari tempat duduknya, hendak menuju ke dalam rumah besannya. Cemara masih berada dalam pelukannya.
"Assalamualaikum" Ucap pak Jati, sambil melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan. Di mana Kenari dan Anyelir tengah bersembunyi.
" Kalau ada yang mengucapkan salam itu ya di jawab, hukumnya wajib lho! Bukannya teriak seperti yang ketakutan" Seru pak Jati, sambil melangkah mendekati kedua anaknya.
"Wa, wa, waalaikumsalam " Lirih suara keduanya. Wajahnya di tekuk habis, sepertinya tulang leher mereka tidak punya kekuatan lagi untuk menopang kepalanya. Apalagi netranya, terasa silau untuk menatap ke arah seseorang yang baru saja datang memergokinya.
"Bangun! Ayo! Sekarang juga pulang bareng bapak!" Tegas seru pak Jati.
Tidak banyak basa-basi, dia langsung menyuruh anaknya untuk pulang.
"Hah!" Kenari terlonjak kaget setengah mati, mendengar perintah Bapaknya untuk pulang sekarang juga. Mana harus bareng lagi.
" Kenapa? Tidak suka? Ya sudah kalau tidak mau pulang sekarang juga, enggak usah pulang sekalian!" Gertak pak Jati, dengan tegas.
Setelah bicara begitu, pak Jati langsung kembali ke depan lagi. Di mana kedua besannya masih duduk di sana, menunggunya dengan harap-harap cemas.
"Pak" Pak Andro menyapanya ketika pak Jati kembali tanpa Kenari dan Anyelir.
"Silahkan duduk pak!" Ujar bu Tari, sedikit menghilangkan ketar-ketir yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Terimakasih besan" Pak Jati pun duduk di hadapan kedua besannya.
"Besan, saya datang ke sini pasti besan sudah tahu apa maksudnya. Dan, perlu besan ketahui, saya sekeluarga tidak suka dengan kelakuan besan yang semena-mena, seenaknya saja dalam bertindak!" Seru pak Jati tegas.
Bu Tari dan pak Andro semakin menciut nyalinya mendapat gertakan begitu.
"Saya mau tahu apa yang menjadi maksud dan tujuan dari semua ini? Besan dengan sengaja mempermalukan keluarga saya! Apa kemarin belum cukup membuat kami sekeluarga malu, waktu akad nikah dadakan itu? Hingga di tambah dengan mengundang semua Guru-guru dan rekan saya tanpa sepengetahuan dari saya!" Pak Jati menarik napasnya sebentar, kemudian dia hembuskan dengan kasar.
"Suatu ikatan pernikahan adalah mempersatukan dua keluarga tujuannya. Apa begini caranya?
mempersatukan dua keluarga? Apa sikap yang bijaksana seorang besan mempermalukan besannya? Apa salah keluarga kami?" Pak Jati menatap tajam ke arah kedua besannya.
Telak saja, kedua besannya makin ciut nyalinya. Semakin tak bisa membuka mulutnya. Mulutnya seakan terkunci rapat.
"Apa kalian merasa senang? Sudah mempermalukan keluarga kami? Apa kalian bahagia sudah menorehkan aib di muka kami? Perlu besan ketahui, waktu Anyelir melangsungkan akad nikah dadakan itu, apa kata tetangga kami? Mereka menyangka anak kami sudah hamil di luar nikah! Makanya, akad nikahnya dadakan! Di mana harga diri kami waktu itu? Ayo jawab!" Suara pak Jati kini berubah jadi bentakan.
"Apa kalian tidak berpikir dulu sebelum bertindak? Desas-desus tetangga masih ramai di sana. Kami malu, walaupun anak kami tidak melakukan aib itu, tapi tetap saja pandangan tetangga jelek terhadap keluarga kami!" Pak Jati benar-benar emosi.
__ADS_1
"Kami sekeluarga tidak mau tahu akan hal ini. Yang kami inginkan, kalian harus membersihkan nama baik keluarga kami yang telah tercemar oleh tindakan besan tempo hari itu!" Tegas pak Jati.
"Maksudnya ba, bagaimana?" Bergetar suara pak Andro.
"Itu terserah kalian, bagaimana caranya? Yang penting, bersihkan nama baik keluarga kami! Kalian kan sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak! Seharusnya bertanya bagaimana itu kemarin, bukan sekarang!" Lanjut pak Jati, ketus.
"Ehm, ma'af pak, saya mewakili kedua orang tua saya, mau minta maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan kedua orang tua saya, InsyaAllah pak, secepatnya kami akan ke kampung bapak untuk membersihkan nama baik keluarga bapak yang sudah jelek gara-gara keluarga kami" Prima bertutur mewakili kedua orangtuanya yang masih menunduk malu.
Pak Jati tak berkomentar. Matanya mengerling kesal kepada kedua besannya.
" Malah anaknya yang minta ma'af, bukannya mereka yang punya salah yang minta ma'af"
Batin pak Jati geram.
Prima mencolek lengannya pak Andro, memberi isyarat supaya minta ma'af kepada pak Jati.
"Emh, emh, eu iya, pak Jati, kami, kami minta ma'af. Nanti kami akan ke sana mau membersihkan nama baik keluarga bapak" Ucap pak Andro tergagap.
"Iya pak, kami janji tidak, tidak akan mengulanginya lagi" Timpal bu Tari dengan kepala yang masih tertunduk.
"Kalau begitu, saya pegang ucapan kalian! Saya tunggu! Kalau sampai tiga hari ke depan
kalian tidak datang, kalian tidak mencoba membersihkan nama baik keluarga kami, jangan salahkan kami kalau besan tidak menepati janji!" Pak Jati sedikit mengancam besannya.
Dia begitu kesal dan jengkel dengan tingkah besannya itu.
"Baik pak, emh silahkan di minum dulu airnya" Prima mempersilakan pak Jati untuk minum. Karena, dari tadi pak Jati belum barang setegukpun.
"Terimakasih" Pak Jati sepertinya enggan untuk meminum air yang di suguhkan besannya.
"Kak, bapak marah-marah, ini semua gara-gara kita" Bisik Anyelir.
"Kakak takut ancaman bapak tadi benar" Kenari ketar-ketir.
" Kita ke depan saja yu! " Anyelir keluar dari kolong meja makan.
"Kakak di suruh pulang sekarang juga, kakak takut di marahi " Kenari menarik tangannya Anyelir.
"Kalau kakak enggak nurut untuk pulang sekarang juga, berarti kakak tidak takut sama ancamannya bapak tadi" Anyelir mengingatkan kakaknya.
"Kakak jadi bingung, kakak takut" Kenari mengerutkan keningnya.
"Sepertinya Kenari tidak mau pulang, kalau begitu saya pamit.
Saya tunggu kalian sebelum tiga hari dari sekarang! Assalamualaikum" Pak Jati pamitan kepada keluarga besannya. Cemara di bawanya serta.
"Waalaikumsalam" Sahut kedua besannya, juga Prima dan Petir.
Mereka mengantarkan pak Jati hingga teras depan rumah.
Semuanya tidak ada yang berani menghalangi pak Jati untuk tidak membawa Cemara ikut serta.
Bu Tari mencolek lengan suaminya.
"Itu, Cemara di bawa pulang. Bagaimana?" Bisiknya.
"Sssst! Biarkan saja!" Ujar pak Andro, dia tidak sanggup kalau harus melarang besannya yang tengah emosi karena ulah dirinya.
" Pak! Bapak!" Kenari berlari dari
ruang makan hendak menyusul pak Jati yang membawa pulang Cemara.
Mesin motor sudah di hidupkan, pak Jati pun menarik gasnya. Dan, melaju meninggalkan rumah besannya, dengan membawa Cemara ikut serta.
"Pak, bapak! Berhenti pak!" Kenari telat keluar dari persembunyiannya. Suaranya tidak terdengar oleh pak Jati yang sudah jauh berlalu.
"Anyelir, Cemara di bawa pulang sama bapak. Bagaimana ini?" Teriak Kenari.
" Sebaiknya teh Kenari segera susul pak Jati dan Cemara. Jangan biarkan emosi bapak semakin memuncak . Teh Kenari minta ma'af dengan tulus, kasihan pak Jati dan bu Sekar" Ujar Prima menyarankan.
"Tapi saya takut kak!" Ujar Kenari.
"Itu terserah teh Kenari" Prima berlalu meninggalkan ruang tamu.
***
__ADS_1