
Buana yang dinanti ternyata tidak menepati janji.
Hingga tiga hari setelah tak sengaja bertemu di gang samping rumahnya itu.
Buana tidak bertandang ke rumahnya.
Hari pertama, Cempaka masih menanti kehadirannya. Selepas Maghrib dia berdandan cantik, dia menanti dengan harap-harap cemas. Dia sengaja belum bicara kepada siapapun, rencananya dia ingin memberikan kejutan buat kedua Orangtuanya.
Sampai jam sembilan malam, yang dinanti tak kunjung datang.
Entah sudah berapa kali dia bolak-balik ke ruang tamu.
"Apakah dia masih cape gitu?... Iya mungkin dia masih cape karena perjalanan jauh dari luar kota" Gumamnya menghibur diri.
"Tapi... Kenapa tadi dia tidak menyahut sapaanku?... Malah berlari menghindar dariku. Dan...
siapa pula mereka yang mengikuti Buana, dan masuk ke rumahnya Buana?" Cempaka bertanya-tanya sendiri.
"Apakah perempuan itu calon isterinya Buana?... Apa... Buana kena tahan ktp, hingga kedua Orangtuanya perempuan itu datang ke sini... Kalau begitu, bagaimana dengan diriku?" Cempaka menduga-duga sendiri.
"Tidak!... Tidak mungkin Buana berbuat begitu. Tidak mungkin dia mengkhianati aku. Tapi..." Keraguan jelas terpancar di wajahnya Cempaka.
Hingga dini hari Cempaka belum bisa memejamkan matanya.
Dia gelisah memikirkan perubahan dari sikapnya Buana.
Sampai terdengar kumandang adzan dari Masjid, Cempaka tak sekejap pun memejamkan matanya. Semalaman dia larut dalam berjuta pertanyaan yang bergulung di dalam hatinya.
Penantian yang berujung nestapa, kini menghantui jiwanya. Namun, dia rak akan merasa jemu atau bosan. Hari ini dia akan menantinya kembali, mengharapkan sang kekasih untuk menepati janjinya.
Selepas shalat Subuh, seperti biasa dia menyelesaikan pekerjaan rumahnya, walau dengan badan yang lemas. Karena semalaman dia tidak tidur.
"Semoga saja hari ini dia menemuiku" Gumamnya sambil tangannya sibuk mengepel lantai rumahnya.
Sesekali dia menutup mulutnya yang menguap menahan rasa ngantuk.
"Cempaka!... Kamu sakit?..." Bu Sekar menanyakan keadaan anaknya yang tidak seperti biasanya.
"Tidak bu, aku baik-baik saja" Cempaka terus melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau kamu tidak enak badan, ya sudah tinggalkan saja kerjaannya, biar di lanjutkan oleh adikmu" Ujar bu Sekar.
__ADS_1
"Enggak bu... Aku enggak apa-apa" Cempaka tetap menyelesaikan pekerjaannya, mengepel lantai rumah yang lumayan besar itu.
Selesai mengepel lantai rumah, air bekasnya biasanya dia pake untuk menyiram tanaman di halaman depan dan samping rumah.
Sambil menyiram tanaman di halaman samping, matanya beberapa kali melirik ke arah rumahnya bu Seroja. Dia berharap bisa melihat Buana di sana. Dia merasa penasaran dengan sikapnya itu.
YAP!
Matanya bersirobok dengan mata seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi dirinya.
Siapa lagi yang memiliki mata itu? Kalau bukan seorang Buana.
Hanya sekian detik saja kedua pasang mata itu beradu pandang. Buana menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya. Menghindari pandangannya beradu dengan pandangan matanya Cempaka.
"Buana!..." Cempaka berteriak memanggilnya.
Buana menoleh nya dalam beberapa detik, kemudian dia pun masuk ke dalam rumahnya dengan begitu saja.
Tanpa senyuman, tanpa say hello
tanpa lambaian tangan seperti yang biasanya.
"Kenapa dia sebenarnya?... Apa salahku?... Ada apa dengan dia?
"Cempaka?... Kau lagi apa?" Bu Sekar rupanya sudah memperhatikan putrinya itu dari tadi.
"Emh... Ini bu, lagi nyiram tanaman" Ujarnya gugup.
"Kalau sudah, cepat masuk ya!... Bantu ibu nyuci beras" Katanya lagi.
"Tadi Cempaka seperti memanggil Buana, apa dia sudah pulang gitu?" Gumam bu Sekar sambil menatap anaknya dengan penuh tanda tanya.
"Apa tadi ibu tidak salah dengar ya" Bu Sekar menyapanya setelah Cempaka berada di dekatnya.
"Maksud ibu?" Cempaka pura-pura tidak mengerti.
"Tadi ibu dengar, kamu memanggil namanya Buana. Memangnya Buana sudah pulang? Kapan dia pulang?" Bu Sekar mengajukan beberapa pertanyaan kepada anaknya.
"Ibu mendengarnya?" Cempaka balik bertanya.
"Iya... Tanpa sengaja. Kalau Buana sudah pulang, kenapa dia tidak kesini menemui kamu?" Bu Sekar bertanya lagi penasaran.
__ADS_1
"Itu dia bu!... Kemarin aku ketemu Buana di depan. Dia baru pulang dari tempat tugasnya. Tapi, waktu aku panggil, dia malah lari menghindar dariku. Jangankan menyahut, menoleh pun enggak!... Bikin aku kesal saja, salah aku apa?..." Dengan agak sewot Cempaka menjelaskan yang dialaminya waktu kemarin.
"Haah?... Apa benar itu?... Rasanya tidak mungkin Buana bersikap seperti itu. Atau mungkin dia kecapean... Atau ... Bisa juga dia tidak mendengar teguranmu itu, kita jangan berburuk sangka dulu ah, enggak baik itu!" Ibunya berusaha menenangkan anaknya.
"Dan... Di belakang Buana itu ada seorang perempuan muda yang sebaya dengan aku. Dan... Sepasang suami-isteri di belakang perempuan itu. Ibu tahu enggak?... Wajah perempuan muda itu mirip dengan wajahku, bu!" Dengan penuh semangat Cempaka menjelaskan semuanya.
Bu Sekar terdiam sejenak, diapun merasakan ada kejanggalan di sana.
"Mungkin itu saudaranya Buana"
Bu Sekar masih berusaha menyembunyikan kecurigaannya.
Dia berusaha menjaga hatinya Cempaka supaya tidak terluka.
"Salah satu dari mereka Itu membicarakan tentang rumahnya Buana kok!... Jauh juga ya. Begitu bu, Aku rasa kalau mereka itu saudaranya, tidak mungkin ada yang bicara seperti itu. Iya kan bu?" Cempaka meyakinkan ibunya.
"Dan, kalau mereka itu saudaranya Buana, kenapa pula Buana menghindar dariku?... Harusnya ya di kenalin lah" Lanjutnya.
"Jangan-jangan... Itu calonnya Buana" Gumam Cempaka perlahan.
"Jangan-jangan... Buana kena kebiasaan disana, kena tahan ktp. Jadi Buana berusaha menghindar dariku" Gumam Cempaka menduga-duga.
"Jangan dulu su'udzon ah... Kita telusuri dulu kebenarannya, kita tanya dengan baik-baik jangan asal menduga-duga" Bu Sekar tetap berusaha untuk menenangkan anaknya.
Padahal di dalam hatinya, bu Sekar pun merasakan kekhawatiran yang sama. Tapi, dia berusaha untuk mencoba menenangkan hati anaknya.
"Kalau dugaanku benar, lalu... Aku gimana bu?... Aku enggak mau sakit hati" Cempaka mulai merasa cemas.
"Tenangkan dulu dirimu nak! Kita jangan sampai salah sangka" Ucap bu Sekar, tetap mengingatkan.
"Lebih baik kita sekarang siapkan makanan untuk sarapan kita semua, bukannya ibu tidak mau membahas tentang Buana. Sebelum kita tahu semuanya dengan benar, sebaiknya kita jangan salah sangka dulu ya nak ya... Biar kita tidak di salahkan"
Bu Sekar memotong pembicaraan tentang Buana.
"Iya bu... Semoga saja kecurigaan ku itu tidak benar " Akhirnya Cempaka menuruti apa kata ibunya.
Diapun segera menyibukkan dirinya membantu menyiapkan sarapan.
Setelah beres semua makanan untuk sarapan, Kemudian Cempaka menatanya di atas meja makan.
Seperti biasanya, Keluarga bu Sekar sarapan bareng dalam satu meja.
__ADS_1
Yang lain pada semangat sarapannya, hanya Cempaka dan bu Sekar yang nampak tidak fokus pada hidangan yang tengah di santap nya.