Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Kabur


__ADS_3

Setelah di peuyeum semalaman dan di gigit tikus, keesokkan harinya Cempaka memaksa untuk pulang, dia tidak mau kalau harus meneruskan ritualnya lagi.


"Belum sempurna ritualnya kalau hanya semalaman, tidak akan ada hasilnya" mak Inah mencoba menghalangi Cempaka supaya dia tidak pulang.


"Biarin mak, bagaimana nanti saja, ma'afkan saya kalau saya tidak menuruti perintah dari mak Inah, terus terang, saya tidak kuat bila harus melakukan ritual seperti ini. Terimakasih mak saya permisi pulang dulu!. Assalamualaikum" Cempaka segera bergegas keluar dari rumahnya mak Inah. Tanpa menunggu jawaban darinya.


" Jangan dulu pulang neng! belum selesai ritualnya!" Mak Inah berusaha untuk menghentikan langkahnya Cempaka.


Dengan sekuat tenaga, Cempaka berlari untuk segera sampai ke pinggir jalan raya. Dia tidak menoleh lagi ke belakang, dia ingin segera menemukan mobil angkutan di jalan besar sana, agar segera sampai ke rumah


ibunya.


"Kembali neng Cempaka!..., kembali! Bereskan dulu ritualnya!" Teriak mak Inah dari pintu rumahnya.


Cempaka tidak menggubrisnya,


dia pura-pura tidak mendengarnya.


"Ya Allah..., jangan biarkan mak Inah mengejarku. Aku tidak mau tidur dengan tikus-tikus yang kotor itu" Gumamnya sambil terus berlari.


Cempaka tak mempedulikan


Keringat yang mengucur dari dahinya.


Nafasnya terengah-engah karena


berlari dalam ketakutan.


"Alhamdulillah ya Allah... Mulut gang sudah di depan mata, tinggal beberapa langkah lagi" Cempaka memperlambat larinya.


"Haaah... Haaah... Haaah!" Cempaka terengah-engah, dia lalu berhenti di mulut gang, dia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Di sekanya keringat yang mengucur membasahi mukanya.


"Alhamdulillah ya Allah..., aku sudah sampai di jalan besar ini. Semoga saja mak Inah tidak terus mengejarku" Cempaka menenangkan dirinya.


Sekali-sekali dia menengok ke belakang, dia masih ketakutan.


Tak lama dia berdiri di pinggir jalan besar itu, angkutan umum pun nampak terlihat melaju mendekatinya.


Cempaka segera menghentikan angkutan umum itu, dia segera masuk ke dalam kendaraan itu setelahnya berhenti tepat di hadapannya.


"Alhamdulillah ya Allah... Lindungi aku hingga aku sampai ke rumah orang tuaku, dan lindungi aku di manapun aku berada ya Allah, Amiin" ujarnya. Diapun kini dapat duduk dengan tenang, karena kendaraan yang di tumpanginya telah jauh melaju meninggalkan rumahnya mak Inah. Menuju ke rumahnya.


"Kiri mang! Di pertigaan depan!"


Ujar Cempaka, setelah kendaraan yang dia tumpangi sampai di pertigaan jalan yang akan menuju ke rumahnya.


"Ini mang ongkosnya"


Cempaka segera berjalan menyusuri jalanan yang akan menuju ke rumahnya.

__ADS_1


Karena belum ada angkutan umum.


"Semoga saja aku tidak akan lagi menemukan ritual aneh seperti itu lagi ya Allah. Kenapa nasibku buruk sekali? Sampai aku harus di gigit tikus segala. Terlalu berat rupanya jodoh itu" Bathinnya sambil berjalan sendiri.


Jalan yang menuju ke rumahnya mak Asih sudah terlewati. Cempaka geram di buatnya.


'Gara - gara mak Asih, aku jadi mengalami ritual aneh itu!" Dia menyalahkan mak Asih. Karena, atas rekomendasi dari mak Asih, Cempaka mesti mengalami ritual di peuyeum sampai di gigit tikus segala.


"Kak Kenari awalnya. Karena dia yang membawaku ke mak Asih. Iya benar, ini semua karena kak Kenari" dengan geramnya Cempaka menggerutu. Dia jadi merasa kesal kepada kakaknya.


Setengah jam sudah Cempaka berjalan melewati jalan setapak yang menuju ke rumahnya itu.


Tibalah dia di gang yang menuju ke rumahnya. Hatinya mulai merasa tenang. Karena sudah sangat dekat dengan rumah orangtuanya.


"Ibu harus segera tahu akan hal ini." Dia mempercepat langkah kakinya. Dia sudah tidak sabar ingin segera mengabarkan semua pengalamannya sehari semalam di rumahnya mak Inah.


Sepuluh menit dia jelajahi gang kecil itu, akhirnya diapun sampai ke depan pintu pagar halaman rumahnya.


Rasa bahagia jelas terpancar di wajahnya.


"Assalamualaikum... Buu, aku pulang buu" Ucapnya dari depan pintu rumahnya.


"Jam segini ketiga adik-adikku sama bapak, pasti masih berada di Sekolah. Di rumah paling cuma ada ibu." Gumamnya.


"Biasanya ibu berada di belakang, sebaiknya aku ke pintu samping atau ke pintu belakang saja, semoga ibu ada di sana"


Cempaka lalu bergegas ke pintu samping.


supaya di dengar oleh ibunya.


"Waalaikumsalam..., sebentar" Akhirnya salam yang di ucapkan Cempaka ada yang menjawabnya.


"Ibuuu!" Cempaka segera memeluk ibunya, setelah pintu samping rumahnya di buka oleh ibunya.


Cempaka menangis di pelukan ibunya, dia curahkan semua rasa kesalnya.


Bu Sekar merasa kaget dengan tingkah anaknya itu, dia segera melepaskan pelukannya, dia pegang bahunya Cempaka, di tatapnya wajah cantik anaknya itu.


"Kamu sudah pulang?..., bukannya kata bi Asih tiga hari atau tujuh hari?"Bu Sekar nampak agak kaget dengan kedatangan anaknya itu.


"Kamu kenapa? Datang-datang langsung menangis seperti ini. Apa yang telah terjadi?" Ibunya bertanya lagi karena Cempaka belum menjawabnya. Sambil tak lepas menatap wajah anaknya yang bersimbah dengan airmata.


"Tarik nafas dulu dan hembuskan


kembali, biar hatimu menjadi sedikit lebih tenang" Ucap ibunya.


Bu Sekar mengambilkan segelas air hangat putih untuk anaknya.


"Sekarang, kamu sudah mulai tenang, coba ceritakan ada apa sebenarnya sampai kamu menangis begitu, bikin ibu kaget dan juga khawatir" Ujar ibunya sambil menyimpan kembali gelas yang airnya sudah di minum setengahnya oleh anaknya.

__ADS_1


"Begini buu, apakah orang yang terkena guna-guna harus di peuyeum? Biar segera hilang pengaruh guna-gunanya." Tanya Cempaka, yang membuat ibunya sama sekali tidak mengerti.


"Apa maksudnya? Coba cerita yang jelas! Biar ibu tidak bingung"


"Mak Asih membawaku kepada gurunya. Yaitu mak Inah, gurunya itu menyuruhku supaya aku di peuyeum di bagian atas rumahnya. Aku kira itu tempat manusia, ternyata... Aku di suruh


tidur di atap rumah, di para-para


yang kotor banyak sarang laba-laba dan debu. Mana gelap lagi! Aku nyalakan senter kecil juga enggak boleh... Hiks... Hiks... Sampai kakiku di gigit tikus buu, karena di sana banyak sekali tikusnya... Hiks... Hiks..."


Cempaka menangis sambil bergidik ketakutan.


Pengalaman yang membuat dirinya menderita itu terlintas lagi di matanya.


"Astaghfirulahaladziiim..., sampai segitunya. Ma'afkan ibu ya nak ya. Ibu tidak tahu kalau kamu akan di perlakukan seperti itu. Di kira ibu, yang di namakan di peuyeum itu adalah diam di kamar sambil berdo'a, berdzikir.


Bukan di atap rumah yang kotor.


Kalau ibu tahu, enggak bakalan ibu izinkan" Bu Sekar mengusap airmata Cempaka yang masih saja menetes membasahi pipinya.


"Tadi itu, aku kabur buu, harusnya aku di peuyeum di tempat tikus itu paling sebentar tiga hari tiga malam buu, aku tidak sanggup buu, aku tidak mau balik lagi ke sana buu, aku tidak mau buu!" Cempaka berteriak sambil bergidik.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu yang bersih! Ganti bajunya, dan baju bekas pakainya pisahin jangan di satuin dengan baju kotor yang lainnya" Ujar ibunya.


"Iya buu, aku juga sudah enggak enak. Badanku bau banget begini


Aku mandi dulu ya bu. Sebaiknya


ibu juga di ganti bajunya, kan tadi kena sama bajuku" Ujar Cempaka mengingatkan.


"Gara-gara Kenari! Ibu juga jadi ketularan bau tikusnya!" Ujar bu Sekar merasa kesal.


"Buu, nanti kalau kak Kenari ke sini, ibu tegur dia ya buu! Marahi dia! Biar tidak seenaknya membawaku ke tempat-tempat yang seperti itu lagi! Seenaknya saja!" Cempaka ngedumel sendiri setelah dia mandi dan ganti baju.


"Iya pasti, enggak akan ibu biarkan kelakuan kakakmu itu! Dasar! Kenari... Kenari!..., kamu ini siapa yang mengajarimu begitu?" Bu Sekar begitu jengkel


kepada anak sulungnya itu, setelahnya dia tahu kelakuannya.


"Marah dan kesalnya di tunda dulu ya sayang, pasti kamu lapar,


kamu belum makan kan? Sekarang kamu makan dulu ya, biarkan soal kakakmu itu, tidak akan ibu biarkan." Bu Sekar mencoba menenangkan emosi anaknya kepada kakak sulungnya itu.


"Baik buu, terimakasih bu. Kalau begitu, kita makan bareng ya buu?"


"Ibu sudah makan tadi, bareng bapak dan adik-adikmu. Sekarang, kamu makan sendiri, nanti ibu temani ya"


"Iya buu"


Cempaka segera mengambil piring dan menyendok nasi yang terlihat masih hangat. Sungguh menggoda untuk segera di santap. Perutnya yang belum terisi apapun sejak pagi tadi, mana sudah cape berlari-lari lagi.

__ADS_1


Sungguh tidak bisa membiarkan lama-lama makanan yang sudah tersedia di atas meja di hadapannya, untuk segera di santapnya.


__ADS_2