
"Iya pak Ustadz, saya sangat menyesal sekali. Karena, telah memutuskan hubungan baik Cempaka sa'at itu. Hanya karena keegoisan kami. Hingga membuat anak sendiri bathinnya menderita" Sahut pak Jati. Dia tak bisa menahan air matanya.
Pak Jati menangis sesenggukan di teras samping rumahnya, di hadapan pak Ustadz.
"Setelah itu, kami tambahkan lagi penderitaan selanjutnya, kami nikahkan adiknya secara sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuannya, ya Allah ampun Gusti" Pak Jati menyesali semua yang telah terjadi kepada dirinya Cempaka.
"Sudahlah pak Jati, semuanya sudah terjadi. Kita tidak akan bisa untuk mengulanginya kembali, do'akan saja supaya neng Cempaka segera sehat dan segera pula mendapatkan jodohnya yang baik" Pak Ustadz mencoba untuk menenangkan hatinya pak Jati.
"Amiin, baik pak Ustadz, terimakasih atas do'anya" Pak Jati mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Saya pulang dulu, Assalamualaikum" Pak Ustadz menepuk pundaknya pak Jati, sebelum beliau meninggalkan pak Jati yang terduduk lemas di teras samping rumahnya.
"Waalaikumsalam" Jawab pak Jati lirih.
Pak Jati duduk termangu sendiri, sambil menatap punggungnya pak Ustadz yang berlalu meninggalkannya.
Selama beberapa sa'at pak Jati termenung di teras samping rumahnya.
Hatinya merasa tak kuat menatap mata sayunya Cempaka.
Pak Jati merasa bersalah karena ikut menutupi rahasia pernikahannya Anyelir.
*
"Nak, kau sudah sadar sayang"
Bu Sekar membelai kepalanya Cempaka penuh kasih sayang.
Cempaka diam tak menyahut.
Perlahan terlihat titik bening di sudut kelopak matanya.
Cempaka menangis dalam diam.
Pedih!
Perih!
Jiwanya, perasaannya, hatinya
Cempaka luluh lantak tak bersisa.
Cempaka menatap langit-langit rumah. Air matanya luruh di tiap sudut matanya.
Tak ada sepatah katapun terucap dari mulutnya itu.
Pemandangan itu membuat bu Sekar jadi semakin khawatir.
Juga membuat Anyelir semakin merasa bersalah saja.
Semakin Cempaka terdiam, Anyelir semakin serba salah.
"Nak, kamu kenapa?" Bu Sekar bertanya perlahan.
"Kalau boleh ibu tahu, kamu ini kenapa? Apa yang sudah terjadi? Coba ceritakan sama ibu, barangkali saja ibu bisa membantu untuk mencarikan solusinya" Bu Sekar setengah membujuk Cempaka untuk mengatakan apa yang terjadi pada dirinya.
Cempaka tetap diam saja, matanya hanya melirik sebentar ke arah ibunya, lalu tatapannya berpindah ke arah Anyelir untuk beberapa sa'at.
Setelah itu tangisnya kian menjadi.
Cempaka menangis dengan terisak-isak.
Hatinya terasa hancur sehancur- hancurnya.
Tangisan Cempaka membuat seluruh keluarganya yang tengah berada di sana semakin tak mengerti, semakin banyak pertanyaan bergulung di dalam benaknya masing-masing.
"Nak, minum air hangat dulu sayang" Bu Sekar menyodorkan segelas air putih yang tadi di beri do'a oleh pak Ustadz.
Cempaka hanya menggelengkan kepalanya.
Tak berapa lama, diapun bangkit dan duduk di atas bale-bale itu.
"Aku mau ke kamar" Cempaka bangun dari duduknya.
"Sebentar nak, ibu ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi kepada mu, hingga kau jatuh pingsan yang lumayan cukup lama, kenapa nak?" Bu Sekar memegangi tangannya Cempaka, berusaha menghalangi langkahnya.
Mengetahui tangannya di pegangi oleh ibunya, Cempaka tidak melanjutkan langkahnya. Dia duduk kembali di bale-bale itu, di samping ibunya.
"Bicaralah sayang, seperti biasanya kau selalu bercerita tentang apapun yang kau alami,
kenapa sekarang kau diam membisu begini? Jangan kau diamkan ibumu seperti ini, nak!"
Bu Sekar memegangi kedua pundaknya Cempaka. Berharap anaknya akan menuturkan semua yang dia alami sebelum dia jatuh pingsan.
__ADS_1
"Bu, ma'af sebelumnya" Cempaka mulai buka suara, walaupun itu hanya untuk meminta ma'af.
"Kenapa minta ma'af segala? Kamu minta ma'af untuk apa?"
Bu Sekar merasa heran.
"Aku ingin menanyakan sesuatu, tadi kan kata ibu, aku harus bercerita tentang semua yang aku alami" Cempaka diam sejenak, seperti ingin mengetahui reaksi ibunya.
"Maksudnya apa? Kamu mau menanyakan apa?" Bu Sekar semakin heran dan penasaran.
"Semua yang aku alami, harus aku ceritakan semuanya kepada ibu, kepada seluruh anggota keluarga yang ada di rumah ini" Lanjut Cempaka.
"Iya, memang benar itu. Kita sebagai satu keluarga, sudah sebaiknya kita harus tahu apa yang tengah terjadi pada salah satu anggota keluarganya" Sahut bu Sekar, meyakinkan.
"Ooh begitu ya bu" Ujar Cempaka lagi.
"Iya dong sayang, lalu apa yang akan kamu tanyakan kepada ibu?" Ujar bu Sekar.
"Berarti semua yang telah terjadi di rumah ini aku juga perlu tahu, karena aku juga termasuk bagian dari keluarga besar ini, betul tidak bu?" Perkataan Cempaka mulai menjurus.
"Tentu saja anakku! Memangnya kenapa?" Bu Sekar belum menyadari kemana arah perkataannya Cempaka.
"Apa benar ibu tidak menyembunyikan sesuatu dari aku? Apa benar semua yang terjadi di keluarga ini, aku juga mengetahuinya?" Pertanyaan Cempaka membuat ketar-ketir perasaannya Anyelir.
"Maksud kamu apa, nak? Cobalah bicara yang jelas, biar ibu faham" Ujar bu Sekar, masih belum memahami kemana arah pembicaraannya Cempaka.
"Rupanya ibu belum faham akan arah pembicaraanku, baiklah aku perjelas ibu" Ujar Cempaka.
"Iya, nak! Sebaiknya kau jelaskan yang sejelas-jelasnya, biar ibumu ini tidak menerka - nerkanya" Ujar bu Sekar tak sabar
"Baiklah kalau begitu, ibu, aku mau bertanya kepadamu, selama hampir dua tahun ini, apa tidak ada yang di sembunyikan dariku di rumah ini? Di keluarga ini?" Pertanyaan yang paling di takutkan itu, akhirnya keluar juga dari mulutnya Cempaka.
"Deg!" Pertanyaan itu terasa menghujam ke dalam hati sanubarinya Anyelir, dia sudah tahu kemana arah dan tujuan dari pertanyaan kakaknya itu.
"Ampun kak! Aku minta ma'af!"
Anyelir menundukkan kepalanya sambil menangis.
"Hah? Pertanyaan macam apa itu, nak? Memangnya apa yang telah ibu sembunyikan darimu? Anyelir, kenapa pula kau menangis nak? Kau bilang ampun dan minta ma'af, minta ma'af untuk apa?" Bu Sekar mungkin sudah lupa dengan rahasia itu, atau mungkin bu Sekar tidak memahami kemana arah pertanyaannya Cempaka.
"Kakak! Ma'afkan aku! Uhk! Uhk!" Anyelir makin sesenggukan saja tangisnya.
Sedangkan bu Sekar, semakin tidak mengerti dengan pemandangan yang terjadi di depan matanya itu.
"Ibu" Terdengar suara pak Jati memanggilnya dengan lembut.
"Iya pak" Bu Sekar menoleh ke arah datangnya suara.
"Bapak, apakah bapak bisa menjelaskan semua ini?" Bu Sekar mencari jawaban kepada suaminya, setelah pak Jati berada di dekatnya.
"Ibu, apa ibu ingat waktu keluarganya Petir datang ke rumah ini untuk melamar Anyelir?" Pak Jati mencoba menggali ingatannya bu Sekar.
"Iya ibu ingat itu. Lalu, apa hubungannya dengan pertanyaannya Cempaka?" Bu Sekar malah balik bertanya.
"Di dalam pertunangan waktu itu, apa yang sebenarnya terjadi? Nah! Itulah yang ingin di Ketahui oleh Cempaka, itulah yang kita sembunyikan darinya selama hampir dua tahun! Padahal kita hidup satu atap. Tapi, kita sembunyikan semua itu dari Cempaka. Sedikitpun dia tidak di beri tahu, kita malah merahasiakannya, itu bu!" Tutur pak Jati setengah berbisik.
"Astagfirullahaladzim, ya Allah ternyata benar, kebusukan itu pasti akan tercium juga, Jadi! Jadi! Cempaka" Bu Sekar berucap dengan terbata-bata.
Matanya menatap wajah suaminya dengan wajah yang nampak panik dan cemas.
"Iya bu, anak kita, Cempaka menanyakan hal itu" Sahut pak Jati dengan menganggukkan kepalanya.
Pak Jati berusaha untuk tidak panik, dia tahan semua perasaan yang ada di dalam hatinya, dia mencoba untuk menekannya supaya tidak muncul ke permukaan.
"Iya bu, aku juga kan bagian dari keluarga di sini, kenapa hal itu aku tidak di beri tahu? Berarti, selama hampir dua tahun ini, aku sudah di anggap bukan bagian dari keluarga ini lagi. Kehadiran diriku sudah tak berarti lagi di rumah ini, aku sudah di anggap tidak ada di dalam keluarga ini, kenapa bu? Apa salahku?" Cempaka mengutarakan apa yang ada di dalam benaknya. Cempaka pun menanyakan tentang keberadaan dan kesalahannya.
"Deg!"
Bu Sekar seakan di tonjok oleh suatu benda yang sangat keras, mendengar penuturannya Cempaka.
"Hah?" Bu Sekar tak bisa menjawabnya, dia terkejut sekali. Matanya melotot dengan mulut yang menganga seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Lututnya terasa lemas, dengan keringat dingin yang mengucur dari dahinya.
"Bu" Bisik pak Jati perlahan.
"iya pak, kita harus bagaimana? Apa yang harus ku utarakan sebagai jawabannya?" Bu Sekar terperanjat kaget, dia tak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dari Cempaka.
Rahasia yang di tutupinya rapat- rapat, kini terbongkar sudah dengan secara tak sengaja.
Karena kecerobohan Anyelir sendiri.
"Bagaimana bu? Benar kan bahwa aku selama hampir dua tahun ini, sudah tidak di anggap bagian dari keluarga ini lagi kan?" Pertanyaan yang sangat tidak di harapkan sama sekali keluar dari mulutnya Cempaka.
__ADS_1
"Tidak, bukan, bukan begitu, nak! Kamu sudah salah faham" Ujar pak Jati, mencoba untuk menenangkan Cempaka.
"Tidak apa-apa bu, pak, kalau memang sudah begitu keadaannya. Aku juga mengerti karena aku tidak sama dengan yang lain, jodohpun aku telat tidak seperti anak yang lain. Biar semuanya leluasa tanpa harus merahasiakannya lagi, baiklah aku akan mundur" Ujar Cempaka dengan suara yang tercekat menahan sesuatu yang memaksa menyeruak, muncul ke permukaan.
"Maksud kamu apa?" Bu Sekar bertanya panik.
"Aku sudah ti, tidak di perlukan lagi di keluarga ini, a, aku sudah ti, tidak di anggap lagi di rumah ini, keberadaanku hanya, hanyalah membuat anggota keluarga yang lain merasa ti, tidak nya, nyaman, semua su, sudah menganggap a, aku ti, tidak ada di keluarga ini, terimakasih bu, pak karena jasa kalian, aku jadi seperti ini. Sampai kapanpun jasa ibu dan bapak, tidak akan aku lupakan" Ujar Cempaka dengan suara yang tersendat-sendat.
Cempaka merasa dirinya sudah tidak berarti lagi di keluarganya sendiri.
Dia sudah merasa di anggap orang lain di rumah orangtuanya sendiri.
Hatinya Cempaka sudah terlalu kecewa dengan semua perlakuan yang dia terima dari keluarganya.
Dia sudah merasa di anak tirikan oleh keluarganya sendiri.
Bahkan, orangtuanya pun sudah
tidak memperdulikannya sama sekali kepada dirinya.
Cempaka merasa sudah di buang oleh keluarganya.
Bagaikan sampah yang teronggok di tong sampah, di pinggir jalan.
Bagaikan hewan peliharaan yang tak bertuan.
"Kamu ini ngomong apa?" Tanya bu Sekar khawatir.
"Iya nak, kenapa kamu bicara seperti itu?" Ujar pak Jati, sepertinya pak Jati kurang suka dengan perkataannya Cempaka.
"Sepertinya tidak usah di pertanyakan lagi bu, pak. Karena, semuanya sudah nampak jelas di depan mataku"
Jawab Cempaka lagi.
"Kak Cempaka, ma'afkan aku!" Anyelir berteriak histeris.
Dia langsung memeluk kakaknya dengan sangat erat.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, Cempaka tak bergeming sedikitpun. Dia diam saja tak bereaksi.
Kekecewaan sudah melampaui batas ubun-ubun nya. Rasanya susah untuk di singkirkan begitu saja.
"Kakak! Ma'afkan aku kak!" Ujarnya lagi, tangisan pun meledak tak tertahankan.
"Terimakasih semuanya bu, pak. Aku permisi dulu, mau ke kamar" Ujar Cempaka, dia lepaskan pelukannya Anyelir, lalu beranjak menuju ke kamarnya. Meninggalkan Anyelir yang menangis meratap.
Cempaka masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan kedua orangtuanya yang terpana dan merasa bersalah.
Sedangkan Kilat dan Seruni, saling tatap tak mengerti.
Setelah masuk ke kamarnya, di tutup dan di kunci pintunya dari dalam kamarnya.
Berjuta rasa kecewa, sedih, sakit hati dan berbagai rasa yang lainnya bergulung di dalam dadanya yang terasa sesak.
Setelah mengunci pintu kamarnya, Cempaka merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidurnya.
Di atas bantal dia tumpahkan segalanya. Dia menangis dan meratap, menyesali nasib yang telah menimpanya.
"Nasib sudah tidak adil padaku! Uhk! Uhk!" Cempaka meratap di sela isak tangisnya.
"Kenapa ya Allah? Aku di takdir kan seperti ini? Kenapa aku jadi penghalang bagi adik - adikku? Kenapa? Kenapa?" Cempaka meradang.
"Pak, ibu khawatir dengan Cempaka" Bu Sekar merasa khawatir dengan kondisi Cempaka yang emosinya sedang tidak stabil.
"Bapak juga sama merasa khawatir, bu. Tapi, harus bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi" Ujar pak Jati.
"Ini semua salahku, aku yang jadi biang keladinya, aku yang salah, aku yang salah!" Anyelir berteriak histeris.
"Kak Cempaka, tolong buka pintunya!" Anyelir bersimpuh di depan pintu kamarnya Cempaka.
"Nak, buka pintunya nak! Kita harus bicara hingga tuntas, kita harus membahas ini semua sampai menemukan titik terangnya" Bu Sekar membujuk Cempaka supaya membukakan pintunya.
"Iya nak, kami minta ma'af karena sudah melukai perasaanmu, telah menyakiti hatimu, itu semua terjadi di luar kendali kami. Tolong ma'afkan kami nak" Ujar pak Jati pula.
"Kak Cempaka kenapa tidak mau membukakan pintunya?" Seruni berbisik kepada Kilat.
"Kak Cempaka marah karena kita di larang bicara dengannya oleh kak Anyelir" Jawab Kilat sekenanya.
"Kalau begitu berarti kak Anyelir itu jahat ya!" Ujar Seruni.
"Iya, nanti kalau kak Cempaka keluar dari kamarnya, kita bicara dengan kak Cempaka ya! Jangan mau kalau di larang oleh kak Anyelir" Ujar Seruni lagi. Matanya mendelik ke arah Anyelir yang masih bersimpuh di depan pintu kamarnya Cempaka, sambil menangis.
"Hampir dua tahun aku di bohongi oleh keluarga ku sendiri, sungguh tidak ku sangka sedikitpun" Cempaka bergumam, matanya jauh menerawang keluar lewat jendela kamarnya.
__ADS_1
***