Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Meminta bantuan Eyang


__ADS_3

Setelah kira-kira setengah jam si Bos berada di ruangannya.


"Tok! Tok! Tok!" Kenari mengetuk pintu ruangannya si Bos.


"Masuk!" Si Bos menyuruhnya untuk masuk.


Kenari segera masuk ke ruangannya si Bos.


"Duduk!" Perintah si Bos sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di sebrang meja kerjanya.


"Terimakasih" Kenaripun duduk di depan bos nya. Dia pura-pura menunduk sedih.


"Ada apa?"


"Uhk! Uhk Mertua saya meninggal, saya mau izin pulang"Kenari pura-pura nangis terisak biar di percaya sama Bosnya.


"Mertua bu Kenari meninggal? Kapan?" Tanya si Bos.


"Tadi pagi, Bos. Saya belum sempat ke sana, karena mau minta izin dulu sama Bos" Ujar Kenari lirih.


"Baiklah saya izinkan pulang sekarang! Besok bisa hadir tidak? Kalau tidak bisa, enggak apa-apa, saya izinkan. Biar yang jaga di ruang produksi satu orang saja, yang satunya lagi untuk sementara gantiin bu Kenari" Si Bos mengizinkan nya.


"Buat besok bagaimana nanti saja, bagaimana situasi di sana"


Ujar Kenari lagi.


Kalau sudah terbiasa berbicara bohong, jadi lancar dalam mengucapkan nya juga.


"Iya sudah, silahkan!" Si Bos menyuruh Kenari untuk menandatangani surat izin pulangnya.


"Sekalian panggilkan Diah suruh menghadap ke saya sekarang juga!" Ujar si Bos.


"Baik Bos, terimakasih, saya permisi dulu" Betapa bahagianya hati Kenari, akal bulusnya berjalan dengan mulus sesuai dengan rencana.


Setelah Bos nya mengangguk, Kenari segera bergegas meninggalkan ruangannya si Bos.


"Diah! Itu di panggil si Bos, sekarang!" Kenari menyuruh Diah untuk menghadap Bosnya.


"Ada apa ya?" Diah celingukan tak mengerti.


Kenari hanya mengangkat bahunya, dan berlalu dari hadapannya Diah menuju ke luar untuk segera pergi ke tempatnya Eyang.


"Akhirnya, aku bisa pulang dengan cepat. Aku harus segera pergi dari tempat ini, aku harus menemui Eyang sekarang juga" Ujar Kenari sambil tersenyum.


Setelah mengambil tasnya di ruangan kerjanya, Kenari dengan tergesa-gesa keluar dari perusahaan tempatnya bekerja mencari nafkah.


"Aku ajak si Karmin atau tidak ya?" Dia mulai berpikir.


"Sepertinya enggak usah, nanti saja aku minta air untuk si Karmin, air pengasihan. Biar si Cempaka klepek-klepek ingin segera di nikahi oleh si Karmin walaupun mereka baru pertama kali bertemu" Gumam Kenari.


Setelah sampai di tepi jalan, dia pun segera memberhentikan angkutan umum yang menuju ke rumahnya Eyang.


Kenari segera naik angkutan umum itu. Dia memilih untuk duduk di tengah-tengah supaya tidak terlihat dari luar.


"Semoga saja Eyang nya tidak lagi banyak tamu, supaya aku bisa langsung minta tolong dan segera kelar deh urusannya" Bathin Kenari.


"Ini kesempatan yang aku tunggu sekian lama, berarti usahaku ini harus berhasil, tidak boleh sampai gagal!" Bathinnya lagi


"Kiri!" Kenari menghentikan mobil angkutan yang dia tumpangi, tepat di pertigaan jalan yang menuju ke rumahnya Eyang.


Setelah memberikan ongkosnya, Kenari pun bergegas menuju ke mobil angkutan umum lainnya, yang tengah berjejer mengetem menunggu penumpang.


Mobil angkutan umum yang di tumpangi nya ini rute nya melewati rumahnya Eyang.


"Masih lama, bang?" Tanya Kenari, setelah beberapa menit dia duduk di dalam mobil angkutan umum itu.


"Nunggu mobilnya penuh dulu, bu!" Jawab sopir sekelasnya.


Kenari seperti yang tengah menghitung penumpang yangg sudah berada di dalam mobil.


"Cuma kurang tiga orang lagi, Bang. Jalan sekarang ya!" Ujar Kenari.


"Iya Bang! Tiga orang lagi nanti juga di jalan ada yang naik" Penumpang yang lainnya ikutan nimbrung.


"Sebentar lagi" Sahut sopir, tetap ingin mobilnya penuh dulu.

__ADS_1


"Kalau tidak berangkat sekarang, saya mau turun lagi saja ah, kelamaan" Kenari beranjak hendak turun dan pindah ke mobil angkutan lain yang tidak lama ngetemnya.


"Saya juga mau turun lagi" Penumpang yang duduk di sebelah Kenari, ikutan mau turun.


"Baiklah kita berangkat sekarang! Jangan pada turun! Sekarang ? Kita berangkat!" Akhirnya sang sopir mengalah.


Mobilpun melaju perlahan meninggalkan tempat pengeteman.


"Nah gitu dong Bang!" Ujar Kenari.


Beberapa menit kemudian, terlihat ada yang tengah menunggu mobil tumpangan.


"Tuh Bang! Ada penumpang di depan!" Ujar seorang penumpang.


Mobil pun berhenti untuk menaikkan penumpangnya.


Setelah mobilnya penuh, Sopir mulai menaikkan gasnya hingga mobil melaju dengan cepat, menuju ke tempat tujuan.


Para penumpang pun tak ada yang bersuara, mereka semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Seperti Kenari, yang sibuk dengan rencana niat jahatnya.


Satu persatu penumpang mulai turun. Karena, sudah sampai pada tempat tujuannya.


Lima belas menit sudah, Kenari menumpangi mobil angkutan umum itu. Hampir semua penumpang sudah turun, tinggal Kenari sama dua orang penumpang lainnya.


"Ibu turunnya di mana?" Perempuan yang duduk di depan Kenari bertanya, berbasa-basi.


"Di sana, di ujung tempat pemberhentian angkutan umum ini" Ujar Kenari.


"Ooh, berarti duluan saya nanti turunnya. Ibu mau ke mana atau pulang dari mana?" Dia bertanya lagi.


"Saya pulang kerja" Sahut Kenari, dia sengaja tidak memberitahu hal yang sebenarnya.


Yang bertanya manggut-manggut.


Beberapa menit kemudian, tinggallah Kenari seorang diri yang masih berada di dalam mobil angkutan umum itu, penumpang yang lainnya sudah pada turun lebih dulu.


"Habis bu, habis!" Teriak si Sopir


Kenaripun turun, dan membayar ongkosnya. Lalu dia berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke rumahnya Eyang.


Sekitaran sepuluh menit Kenari berjalan kaki di jalan setapak itu, tibalah dia di depan sebuah rumah panggung yang nampak paling besar di antara rumah-rumah yang lainnya.


Berandanya yang luas itu di lapisi oleh karpet berwarna hijau tua. Di sana terlihat beberapa orang tengah duduk di atas karpet itu.


"Aduh, aku harus ngantri ini. Itu ada empat orang yang tengah menunggu di sana" Ujar Kenari sambil masuk ke pekarangan rumah itu.


"Punten!" Ucap Kenari sambil duduk di pinggir beranda.


"Mangga, dari mana bu?" Tanya seorang perempuan yang duduk paling dekat dengannya.


"Dari Hujung" Sahutnya membohong. Dia menutupi alamat aslinya.


"Ooh"


"Eyang nya ada?" Tanya Kenari.


"Ada, lagi istirahat dulu katanya. Tadi kan banyak sekali tamunya"


"Giliran siapa sekarang?" Tiba-tiba terdengar suara yang berat, suara laki-laki yang lumayan sudah berumur.


"Saya Eyang" Dua orang laki-laki bangkit dari duduknya, dan masuk ke dalam rumahnya Eyang.


"Oh itu langsung berdua?" Kenari heran.


"Iya, sama yang nganter nya" Sahut nya.


"Setelah ini siapa?"


"Saya, lalu ibu ini" Ujar yang tadi bertanya kepada Kenari.


Tak lama, dua orang bapak-bapak yang tadi masuk, sudah keluar lagi. Dengan sigap si ibu yang duduk nya dekat Kenari, segera masuk untuk menemui Eyang di ruangannya.


"Cuma sebentar, pak?" Tanya Kenari.

__ADS_1


"Iya bu, saya di obatinya sesuai dengan di masukkan nya itu penyakit" Ujar si bapak yang nganter nya.


"Sakit apa?"


"Ini, jempol kaki" Jawabnya.


"Ini sudah di obati, nanti setelah tiga jam atau besok di periksa lagi" Sahutnya lagi.


Setelah hampir dua jam Kenari menunggu, barulah dia mendapat giliran untuk bertemu dengan Eyang.


"Neng Kenari, silahkan duduk nak!" Begitu melihat Kenari masuk ke dalam ruangannya, Eyang menyambutnya dengan ramah.


"Iya Eyang, terimakasih. Apa kabar Eyang?" Tanya Kenari sambil mencium tangannya Eyang.


"Kabar Eyang baik, ada apa?"


"Eyang, tolongin saya" Ujar Kenari.


"Tolong apa, coba ceritakan sama Eyang"


"Saya punya adik yang telat jodohnya, saya ingin menjodohkannya dengan laki-laki ini Eyang. Adik sayanya harus mau sama laki-laki ini, pokoknya adik saya itu harus kepincut sama laki-laki ini" Ujar Kenari sambil memperlihatkan photonya Cempaka dan juga photonya Karmin.


"Adiknya namanya siapa?"


"Cempaka, Eyang. Dan laki - laki ini namanya Karmin" Ujar Kenari.


Eyang menatap photonya Cempaka lekat - lekat.


"Dia sama sekali tidak suka sama laki-laki ini" Ucap Eyang, setelah terdiam beberapa sa'at.


"Dia kini tengah dekat dengan seorang pria, tinggi, gagah. Dia itu anggota tni, dengan pangkat yang lumayan. Tapi, pemuda itu orang sebrang, tapi beragama Islam dan dia sangat sayang sama si neng Cempaka ini. Kelihatannya dalam waktu dekat ini pemuda itu mau melamarnya"Ujar Eyang, mengutarakan apa yang dia lihat dalam mata bathinnya.


"Apa Eyang? Saya mohon itu jangan sampai terjadi! Saya tidak mau itu terjadi" Kenari berteriak tidak suka mendengar penjelasannya Eyang.


Eyang melirik ke arah Kenari sambil tersenyum. Karena dia sudah tahu sifatnya Kenari.


"Maksudnya apa? Kenapa itu tidak boleh terjadi?" Tanya Eyang sambil tersenyum.


"Saya tidak mau dia punya suami yang lebih baik daripada suami saya. Pokoknya saya minta supaya adik saya ke pelet sama si Karmin ini, bagaimana pun caranya. Tolong saya Eyang, apa pun Eyang minta asal si Cempaka ini mau menikah dengan si Karmin ini!" Ujar Kenari lagi.


"Karmin sepertinya sudah punya istri, dia itu bukan laki-laki yang baik, kasihan Cempaka kalau nikah sama pria ini, enggak akan bahagia. Mana di jadikan istri yang kedua lagi! "


Ujar Eyang, sepertinya sangat menyayangkan.


"Itu dia Eyang, saya ingin adik saya tidak bahagia dalam hidupnya, saya tidak mau dia menikah dengan pria yang lebih baik daripada mantan suami saya. Pokoknya saya ingin agar si Cempaka itu harus menikah dengan si Karmin, titik!" Kenari jadi sewot.


Mendengar penuturan Kenari seperti itu, Eyang mengernyitkan keningnya.


"Ini adik kandungmu kan?" Eyang bertanya ragu.


"Iya" Sahut Kenari.


"Sudah Eyang, enggak usah banyak nanya ini itu, pokoknya saya minta pelet yang sangat ampuh untuk Karmin biar di cintai oleh Cempaka. Enggak apa-apa tidak lama juga, yang penting Cempaka mau nikah dengan si Karmin. Ayo dong Eyang, nanti keburu sore, nanti saya pulangnya gimana?" Kenari merajuk.


Eyang sepertinya bingung dengan permintaannya Kenari.


Karena Kenari terus memaksanya, akhirnya Eyang mengambil sebotol air yang sengaja di bawa oleh Kenari.


Satu botol di beri jampi-jampi oleh Eyang dengan khusyuk.


"Ini berikan pada adikmu! Ingat! Harus di minum sampai habis! Begitu juga kedua orangtuanya harus meminumnya juga! Supaya semuanya setuju dengan apa yang neng Kenari inginkan" Ujar Eyang sambil memberikan sebotol air yang sudah di kasih jampi-jampi untuk Cempaka.


"Terimakasih Eyang, ini satu lagi buat si Karmin, supaya dia kelihatan menarik oleh si Cempaka dan juga oleh kedua orangtuaku" Kenari menyodorkan satu botol air lagi kepada Eyang.


"Ini, hati-hati jangan sampai tertukar!" Eyang mewanti-wanti Kenari.


"Baik Eyang, akan saya kasih tanda salah satunya biar tidak tertukar" Ujar Kenari semangat.


Setelah selesai semuanya, Kenari segera bergegas pulang dengan wajah yang berseri-seri. Karena, semua keinginannya di penuhi oleh Eyang.


"Sebentar lagi mimpiku akan jadi kenyataan, dan mimpimu Cempaka, adikku yang cantik itu akan musnah tergerus oleh perjodohan kamu dengan si Karmin, tak sabar rasanya" Gumam Kenari sambil berjalan melewati jalan setapak, menuju ke tempat mobil angkutan umum mengetem.


Kenari nampak tak sabar ingin segera sampai rumah.


***

__ADS_1


__ADS_2