Tak Seindah Angan

Tak Seindah Angan
Berkelana demi Cempaka


__ADS_3

"Samudera!...Hiks...Hiks... Ma'afkan aku!..."Cempaka menangis sesenggukan.


"Aku tidak berniat untuk menyakiti hati dan perasaanmu. sebenarnya aku mencintaimu Samudera... Ma'afkan aku!... Aku tidak berani melawan kedua orangtuaku hiks... Hiks... Hiks!"Cempaka tak kuasa lagi menahan tangisnya.


Ingin dia berlari mengejar Samudera, menghentikan langkahnya, dan memohon ma'af


kepadanya. Mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Dia dan kedua Orangtuanya terpaksa membohonginya, dengan tujuan, supaya Samudera tidak berada lama di rumahnya


bu Sekar. Karena takut ketahuan sama tetangga dan keluarganya bu Seroja.


"Cempaka!... Sudah jangan menangis, ingat! Kamu kan lagi menunggu janjinya Buana. Sudah!... Tenangkan hati dan pikiranmu" Bu Sekar mencoba untuk menenangkan anaknya yang terus menangis meratapi kepergiannya Samudera yang hendak mencarinya ke kota Garut sana. Padahal, dia yang di carinya berada di dalam kamar, tidak kemana-mana.


"Bu, kalau Samudera benar-benar pergi kesana mencariku, nanti bagaimana kecewanya hati dan perasaannya setelah dia tahu aku tidak ada di sana, dan itu semua hanya bohong belaka. Bagaimana kecewanya dia bu... Aku tidak bisa membayangkannya hiks... Hiks... Hiks" Cempaka semakin meratap.


Bu Sekar dan pak Jati saling pandang. Keduanya tak sempat berpikir ke sana.


Yang ada di benaknya bu Sekar dan pak Jati sa'at itu, hanyalah ingin supaya hubungannya dengan keluarganya Buana tetap utuh, tidak terganggu.


"Bagaimana bu...? benar juga apa yang dikatakan oleh Cempaka. Nanti dia pasti kecewa karena kita sudah membohonginya."pak Jati baru menyadarinya.


"Iya, benar juga. Kenapa enggak langsung saja tadi kita katakan yang sebenarnya?... Kenapa kita mesti membohonginya...?"bu Sekar pun baru kepikiran ke sana.


Tapi apa mau di kata? Nasi sudah menjadi bubur, tidak akan mungkin bubur itu akan kembali menjadi nasi lagi.


Kini tinggal rasa penyesalan yang ada di hati mereka bertiga.


"Semua ini gara-gara ibu sama bapak yang keukeuh ingin mempertahankan hubungan kekeluargaan dengan keluarganya Buana. Belum tentu juga mereka mau mempertahankan hubungan baik ini. Itu sudah terbukti dengan adanya perempuan lain yang di bawa oleh Buana ke rumahnya"


Cempaka menyalahkan ibu dan bapaknya.


Bu Sekar dan pak jati tidak bisa berkomentar apa-apa lagi, mereka telat menyadarinya.


"Ma'afkan ibu sama bapak ya nak!... semoga saja Samudera tidak langsung pergi ke Garut sana"bu Sekar berharap.


"Kalau Samudera mencariku ke sana, sedangkan aku yang di carinya berada di sini. Aku tak kan bisa mema'afkan diriku sendiri bu, aku telah bersalah kepada Samudera, aku sudah mengecewakan dia, ya Allah... Harus bagaimana aku...?" airmata yang tadi sudah mulai mengering, kini menyeruak lagi bergulir menyusuri pipinya.

__ADS_1


Penyesalan selalu datang belakangan.


Sampai larut malam, bu Sekar, Pak Jati dan Cempaka belum pada tidur, mereka terus membicarakan Samudera yang telah mereka bohongi.


Sementara itu, Samudera yang tengah mereka bicarakan tengah berada di dalam bis yang menuju ke luar kota, yaitu menuju ke arah kota Garut.


Samudera hendak mencari Cempaka, kekasih hatinya, pujaan hatinya. Dia ingin segera melamarnya untuk dijadikan Isterinya. Pendamping hidupnya hingga akhir nanti.


"Cempaka, aku akan menjemputmu, aku ingin segera bertemu denganmu, sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta padamu. Karena itu, apapun yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Aku akan mencoba mendapatkannya, semua itu hanya untukmu, hanya demi kamu. Tunggu aku sayang" bathinnya. Tanpa dia sadari bibirnya tersenyum membayangkannya.


Samudera merasakan lajunya bis yang dia tumpangi itu lambaaat sekali jalannya. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai ke Garut, kota tujuannya.


Dia ingin segera sampai ke sd Jangkurang, yang katanya di sana kekasihnya itu ngehonor sebagai pengajar.


"Cempaka pasti kaget melihat aku datang menemuinya dan sekaligus menjemputnya" Samudera bergumam sendiri.


Dia sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan sang pujaan hati.


"Garut habis!... Garut habis!" sang Kondektur berteriak dengan suara yang lantang setibanya bis di kota tujuan, yaitu kota Garut.


Teriakan Kondektur itu membuyarkan lamunannya Samudera yang tengah membayangkan pertemuannya dengan Cempaka, nanti.


"Dari sini aku harus pergi ke arah mana...? Tadi sebelum berangkat aku tidak menanyakan alamat lengkapnya kepada ibunya Cempaka. Mana sudah tengah malam lagi, mana ada orang yang mau menampungku, orang yang belum dikenalnya tengah


malam begini" Samudera celingukan sendiri.


Dia lalu berjalan ke arah sebuah warung yang masih buka. Nampak sopir dan kernet yang tadipun tengah makan di sana.


"Assalamualaikum... Nasi satu pak!" ucap Samudera sambil duduk di bangku yang masih kosong yang ada di pojok warung itu.


"Waalaikumsalam... Iya pak! tunggu sebentar ya!" ucap bapak penjual warung itu sambil mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi.


Setelah itu, sepiring nasi dan segelas air teh hangat di sajikannya di hadapan Samudera.


Tanpa menunggu lama, sepiring nasi dan segelas air teh hangat itu sudah berpindah ke dalam perutnya Cempaka.


Sambil membayar makanan yang sudah di makannya tadi, Dia menanyakan alamat yang diberikan oleh bu Sekar sebelum dia berangkat ke Garut.

__ADS_1


"Ma'af pak! Saya mau menanyakan alamat sd Jangkurang itu dimana ya...? Barangkali bapak tahu." Ucap Samudera.


"SD Jangkurang...? Saya kurang tahu pak, eh... Bapak-bapak! Barangkali ada yang tahu dimana alamatnya sd Jangkurang...?" Tanya yang punya warung nasi itu kepada bapak-bapak yang berada di sana.


"Saya tahu pak, kebetulan saya juga berasal dari daerah itu. Tapi, dari sini masih lumayan jauh pak!" Kernet yang tadi memberikan penjelasan.


"Alhamdulillah... Akhirnya enggak akan lama lagi aku bertemu dengan Cempaka"Gumamnya senang.


"Ooh... Kira-kira berapa lama perjalanan ke sana?" tanya Samudera lagi, dia tak sabar ingin segera ke sana. Ingin segera bertemu dengan Cempaka.


"Sekitar satu sampai dua jam pak, soalnya jalanannya jelek. Jadi mobil atau motor tidak bisa berjalan dengan lancar" Ucap si Kernet itu.


"Kalau dari sini saya harus naik apa...? Biar segera sampai ke sana." Samudera bertanya lagi.


"Ada angkutan pedesaan yang menuju ke sana. Tapi, kalau jam segini enggak ada pak. Paling besok pagi sampai jam lima sore" Kernet itu menjelaskan kembali.


"Ooh... Berarti harus besok pagi ya...? kalau bapak kapan mau pulang ke sana...?" Samudera bertanya kembali karena merasa tidak sabar.


"Saya tidak pulang tiap hari pak, saya pulang tiga hari sekali." Ucap sang Kernet.


"Kalau pulang tiap hari, cape di jalannya" Lanjutnya lagi.


"Kalau begitu, aku harus mencari penginapan untuk tidur malam ini. Tapi, dimana ya?" Pikir Samudera kebingungan sendiri.


"Sambil menunggu pagi, lebih baik bapak tidur di sini saja. Di sini ada kamar kosong satu, suka di pake oleh para tamu yang kemalaman seperti bapak ini" yang punya warung nasi menawarkan.


"Baiklah pak, terimakasih telah memberikan tempat buat saya menginap" Samudera berterima kasih karena telah di tolongnya.


"Sama-sama pak, emh... kalau boleh tahu, bapak ini ke sd Jangkurang mau ketemu siapa ya...?" tanya yang punya warung.


"Oh iya... Saya Samudera, saya ke sini dalam rangka menemui calon isteri saya yang kebetulan ngehonor di sd Jangkurang." Ujar Samudera dengan mantapnya.


Padahal... Cempaka, yang di carinya itu, tidak kemana-mana.


Dia masih berada di rumahnya.


Kasihan sekali Samudera. Rupanya kau terpedaya.

__ADS_1


Samudera tidak berpikir panjang dulu, karena saking cintanya Samudera kepada Cempaka, hingga dia rela melakukan apa saja demi Cempaka.


__ADS_2